
Naya dan Rish sangat gugup.
Jika mama membuka pintu salah satu lemari Naya, mama pasti akan menemui baju-baju Naya dan mama akan membuka lemari lain untuk mencari baju Rish untuk meletakkan baju Tish yang ia pegang.
Lumayan keringatan. Rish mendekati Mama.
Mama, “biar Rish aja”
“kamu, udah tau istri sakit, bantu memasukkan kemari dalam lemari pun tidak bisa”
“Ma, Naya yang minta mas narok disitu,”
Rish kaget!
“kenapa memangnya?” tanya Mama.
“biasa kan, kalao berangkat kerja, bajunya Naya yang pilih kan, sekarang Naya lagi sakit. Makanya Naya minta mas keluarin baju biar Naya pilihkan baju mana yang dia pake”
“itukan baju sanatai semua, bukan baju kerja” sela papa.
“liatlah Pa, anak Papa, istrinya minta tolong liatin baju kerjanya, malah baju santaia yang dia keluarkan”
Papa tertawa, “Rish, Rish, baru aja sakit kayak gitu istrinya, dia udah gak bisa bedakan baju kerja dengan kaos santai” tawa papa.
Mama dan papa veserta Naya tertawa.
Rish hanya cengengesan, tidaka ada rasa malu atau marah atas tertawaan yang ia terima, ia malah senang, merasa di bantu oleh istrinya.
“tak apa Ma, tarok di situ aja… kan mas Rish yang salah ambil jadi dia yang harus ngembalikannya lagi” Naya sambil senyum.
__ADS_1
“iya,” mama sambil menumpukkan baju-baju tersebut ditangan Rish.
Melihat Rish bingung Naya langsung berkata,
“mas, mau minum”
“oh, tapi mas mau nyimpan baju ini dulu”
“sini bajunya sama Naya dulu” Naya sambil menarik baju-baju tersebut dari tangan Rish.
Rish mengambil gelas minum Naya dan memberikan ke Naya.
Saat Rish memberikan minum, sengaja Naya menggeser bibirnya, dan air tumpah mengenai baju-baju Rihs yang ada dipelukan Naya.
“eh, maaf mas, Naya gak sengaja” Naya sambil mendongak ke Rish.
“gak apa,”
“nanti mas taro di luar, biar mas jemur”
“iya tidak apa Naya,”
Mama sambil mengambil baju tersebut dan membawa keluar kamar untuk dianginkan di ruang belakang.
Baya dan Rish sedikit tenang.
Beberapa jam setelah becerita, mama dan papa pamit pulang.
Setelah menghantar mana dan papa sampai ke mobil, Rish kembali ke kamar Naya.
__ADS_1
Naya sudah berbaring… sedikitboenasaran dengan hiku hitam disampingnya. Buku Notis Rish. Saat ia ingin membuka tiba-tiba Rish masuk, Naya langsung pura-pura berusaha meminggirkan file dan buku tersebut.
Rish mendekati, “serak ya? maaf ya” sambil mengambil barang-barang kerjanya dan memindahkan ke ruang kerjanya.
Kemudian ia balik lagi dan merapikan tempat tidur Naya yang sedikitbia berantakkan tadi.
“biar aja, tidak apa” kata Naya lembut.
“udah aktingnya Nay”
Kata Rish sambil menepikan bantal jauh dari Naya.
Naya terdiam.
Sedikit kaku, diam beberapa saat, kemudian Rish balik ke kamarnya.
Entah apa yang Naya fikirkan, saat ia memanghil Rish dengan sebutan ‘mas’. Apakah itu dari hati atau sekedar ‘akting’ seperti yang dituduhkan Rish padanya.
Rish sedikit gelisah dikamarnya.
Ada rasa risau sat Naya iabtinggalkan sendiri.
Dua hari ini ia hampir tidak ada berpisah dari Naya. Mereka ada di dalam satu kanar bersama selama di rumah sakit.
Sedikitbragu, ia mencoba kembali ke kamar Naya.
Ternyata Naya sudah tidur. Ia mencoba merasakan dahi Naya dengan telapak tangannya, “sudah mendingan, semoga nakin stabil” harapnya dalam hati.
Rish menghidupkan lampu tidur dan memastikan keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Setelahbitu ia balik ke kamarnya untuk tidur.