
Mama dan papa Rish masuk ke ruangan perawatan Naya.
Rish duduk di kursi tidak jauh dari tempat tidur istrinya.
Melihat mama dan papa ia langsung menyambut dan menyalami kedua orang tuannya tersebut.
“gimana kamu Rish. Harusnya dijaga istrinya”
“Mama, sudahlah. Istrinya lagi sakit, gak usah dimarah terus anaknya, kasian”
“kali gak di kasi tau, ni anak gak mau tau Pa. Dia gak tahu, istri harus dijaga”
“Mama, “
“gak apa pa, Rish emang salah. Kalo Rish jaga, tentu Naya gak ada disini” akau Rish.
“Rish gak salah. Ini udah ketentuan. Kalo kata Allah saki ya kita harus terima” nasehat Papa.
“tapi kedepannya kita harus hati-hati. Sekarang udah tau kan? istrinya ada penyakit”
“iya Ma” terdengar suara Rish benar benar menyesal dan tahu kalo dirinya memang bersalah.
Sebenarnya Rish juga tidak bersalah. Apa yang terjadi antara Naya memang belum bisa ia atasi. Sikao cuek mereka, ego mereka. Semua itu terjadi karena memang pernikahan mereka terjadi karena tiada rasa cinta dan sampai hari ini mereka tetap jadi suaministri bukan sepasang kekasih.
Namun juka benar mereka bukan sepasang kekasih, kenapa ada rasa bersalah yang menghantui fikirannya? apa karena ia merasa tidak bertanggung jawab sudah menjadi suami? dan apa benar rasa itu akan ada jika tidak ada cinta dihatinya?.
__ADS_1
Ditambah lagi rasa khawatir. Kenapa ia harus khawatir. Jika sekedar merasa diri adalah suami, mungkin rasa khawatir tidak sebesar itu, tapi rasa khawatirnya seoertinya berlebihan, khawatir mendekati ketakutan. Takut Naya kesakitan, takut Naya kenapa-kenapa. Benarkah rasa itu timbul jika tidak ada rasa cinta?.
Naya. Sejak mama paoa Rish masuk, dirinya sudah sadar dari tidurnya dan ia mendengar pembicaraan antara Rish dengan mama dan papa mertunya.
Ada rasa bersalah, saat mama menyalahkan Rish. Ada rasa sedih, saat Rish mengakui bahwa ia yang salah. Ada rasa iba saat Rish berjanji kepada mama untuk menjaga dirinya. Benarkah rasa itu ada jika tida rasa cinta?.
Mama dan papa Naya datang.
Rish beserta mama papa menyambut dengan baik.
Mama mendekati tempat tidur Naya.
“sayang, “ mama sambil memeluk putrinya.
“kamu gak salah nak” jawab mama.
“Rish salah ma”
Air mata Naya jatuh. Ia merasa, seolah semua orang menyalahkan Rish saat ia sakit.
“tidak ada yang dalah, ini memang telah terjadi dan kita tidak perlu saling menyalahkan” kata mama.
Papa merangkul Rish, “kenapa Rish harus merasa bersalah? Naya memang ada penyakit maag”
“Rish belum hisa jaga Naya dengan baik Pa, maafkan Rish”
__ADS_1
Air mata Naya semakin kaju. Tidak ada yang tahu, disebelah sana wajahnya di hadapkan. Menyembunyikan air mata agar tiada saksi tentang air matanya tersebut.
“sudahlah Rish, kita berdia saja nak, semoga Naya cepat sembuh”
Papa Rish mendekati, “suami istrisaling menjaga Rish. Ingat itu nak” nasehat papa.
Papa Naya membawa mereka ke pembahasan lain. Sementara Naya masih lagi dianggap tidur. Padahal dirinya sudah sedaribtadi terjaga.
Hampir satu jam, Naya memberanikan diri, memperlihatkan ke keluarga kalo dirinya sudah mulai baik-baik saja.
Mama langsung memeluknya.
“cepat sembuh ya nak” bisik mama.
Naya mengangguk.
Rish mendekati, “Naya mau minum?”
Naya mengangguk.
Rish segera mengambil kinum dan memegangkan botol minum yang isinya sedang diminum istrinya.
Keluarga mereka merasa senang melihat ke akraban mereka berdua.
Entah itu hanya sandiwara atau memang tulus didalam hati, hanya mereka berdua yang tahu.
__ADS_1