
Satu berhalan, Keadaan rumah tanngga Rish dan Naya terasa kacau.
Rish belum bisa meninggalkan tabiat buruknya, hura-hura bersama teman-teman entah itu teman kuliah atau teman jalanan.
Nasing-masing menunjukkan ego. Entah siapa yang mau mengalah.
Rish bersiap untuk ke kantor, tidak seperti hari biasa, sarapan suddah disiapkan. Pagi ini, suasana dapur sepi. Batang hidung Naya pun belum terlihat… “kemana tu orang?”
Rish mencoba mengecek keberadaan istrinya.
Tiba didepan kamar Naya, sedikit ragu Rish mengetuk pintu kamar istrinya tersebut.
tk…tk….tok
“kemana? sepi?”
Rish mencoba membuka pintunya “oh tk di kunci”
Naya masih rapi berbalut selimut.
“tumben, biasa jama segini dia udah kelayapan di semua ruangan. Kenapa pagi ini masih betahan selimut ya?”
Rish mendekati, “Naya.”
Berkali-kali ia memanggil, Naya hanya diam.
Rish mencoba menepuk punggung istrinya, “Nay”
Dalam keadaan lemas, Naya membalikkan tubuhnya kehadaoan Rish.
Dudahinya terlihat beberapa tempelan koyok.
“lu sakit Nay?” Rish sedikit kaget.
“gak, gue cuma pusing. Maaf gur gak sempat buatkan sarapan”
__ADS_1
“gak masalah. Gimana? Masih pusing?”
“udah lumayan”
“yakin?”
“udahlah, lu berangkat aja. Gue gak papa”
Sedikit khawatir, tetapi Rish tetap memutuskan untuk berangkat.
Tiba di kantor, Rish berniat memulai pekerjaannya….
“????” ada suara dari dalam perutnya, “lapar”
Rish mencoba meneruskan tetapi rasa lapar semakin kuat, “biasanya gue gak kayak gini. Bisa nahan lapar kalo gak darapan. Kenapa sekarang bisng aja perut gue? apa karena sejak nikah ini gue terbiasa sarapan???”
Rish menuju ruang pantri untuk membuat susu.
“iya sayang, mas janji, mas gak telat makan. Kamu hati-hati, nanti pulang kerja mas jemput” Baiim sedang menelfon istrinya.
Sambil lewat, Rish memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan Baim bersama istrinya lewat telfon.
Baim mengejutkan Rish.
Rish hanya senyum.
“berantem lu sama istri lu?”
“nggak. Kenapa emangnya”
“gue ni ya, klo pas brantem malas sarapan di rumah. Tapi pas di kantor makin diang gue makin kebayang ama masakan itri gue. Rmang masakan istri gak ada tangannya emang”
“lebay lu”
“kok lebay? lu belum tau rasanya. Sabar aja lu, ntar pas siang, lu rasakan nikmatnya merundukan masakan istri lu”
__ADS_1
“ah udah! ngaco lu” Rish sambil meletakkan gelas bekas minumnya dan keluar dari ruang pantri.
Naya mencoba duduk, tetapi rasa pusingnya semakin kuat.
“mati gue. Gimana bisa masak?”
😔😣
😕
Karena pusingnnya makin kuat Naya kembali berbaring.
Sudah pukul setengah dua. Rish memutuskan untuk keluar mencari makan.
Beberapa menu ia pesan.
Saat menu yang ia pesan tiba dihadapan, laparnya semakin mengguli tetapi selera makannya langsung menghilang.
Untuj beberapa menit, Rish hanya dian dan memeprhatikan makanan di hadapannya, ia benar-benar tidak berselera.
Tetiba bayangan kursi makan bermain di bayangan kepalanya.
Rasa masakan istrinya bermain-main di rasa tenggorokannya. Sesekali Rish menelan ludah.
“kenapa sih gue?”
Rish mencoba menyup makanannya, “puih” Rish langsung meneguk minum… “kok hambar ya”
Rish hanya diam dan sesekali meneguk minumnya. Hampir satu jam ia berdiam dihadapan makanan yang ia pesan.
Teringat yang dikatakan Baim tadi pagi “maskan istri tiada tandingannya”
Seketika ia teringat… “eh! Apakabar Naya? apa dia udah bangun?”
Rish memperhatikan jam tangan… “hampir setengah tiga? ngapain gue disin?”
__ADS_1
Rish berjalan menuju ruangannya. Sepanjang jalanan tersebut ia terus memikirkan apakah Naya sudah bangun atau masih sakit.
😇😇😇😇