
"Tell me! Mengapa kau mengajakku duduk di sudut cafe seperti ini, hum? " ucap gadis dengan bibir sedikit tebal, kulitnya seputih susu dengan rambutnya panjang lurus.
"Kau sudah tau 'kan. Hotel-ku sedang hangat-hangatnya ..., " ucapan Jee terhenti melirik wanita didepannya menautkan kedua alisnya.
"Aku tidak tahu, Sista. Ada fashion show di Indonesia. " Eli melepas ikatan rambutnya, melihat raut kegelisahan tercetak jelas di wajah cantik Jee.
Bersahabat tiga tahun lamanya, membuat Eli hafal betul dengan karakter Jee. Ia tahu kekurangan juga kelebihan yang Jee miliki. Begitupun dengan Jee yang tahu tentang Eli. Mereka selalu berbagi rasa kebahagiaan dan keterpurukan bersama-sama.
Begitu 'kan namanya sahabat? Saling berbagi. Yang penting tidak berbagi kekasih 😆
Mata Jee berkeliling memperhatikan sekitar cafe. Cafe dengan desain klasik, di hari senin seperti ini memang terlihat sepi. Namun, Jee dan Eli datang tepat jam makan siang.
"Ayolah, Sista. Jangan membuatku menunggu! " Eli adalah desainer yang terkenal sejak tahun 2019. Ia mempunyai banyak kegiatan yang lebih bermanfaat daripada melihat Jee celingak-celinguk tidak bermanfaat.
Sekali lagi, Jee menyapu pandangannya. Pilihan untuk duduk di sudut cafe memang yang terbaik sekarang. Namun, tidak dengan di depan Jee. Dua orang berjenis kelamin sama, wanita paruh baya dan anak gadisnya. Maybe?
Mereka memberikan tatapan aneh kepada Jee. Entah, Jee sadar atau tidak, tetapi iya selalu memasang radar was-was kepada dua orang itu.
Jee menundukkan kepalanya, menggeleng-geleng tidak percaya. Ia tahu ini mimpi buruk di masa depannya. "Aku tidur dengan pria .... "
Eli tampak terkejut, membelalakkan matanya tidak percaya. Bagaimana bisa seorang, Jessy Nantta. Melakukan hal segila itu dan senekat itu.
'Seriously?'
Bahkan, Eli tau sahabatnya itu sangat tertutup dengan pria manapun. Jee, memeliki sedikit trauma dengan pria. Ya, pria menurutnya sangat memuakkan dan selfish!
Eli, mencoba meraih tangan mungil nan dingin milik Jee. Ini bukan saatnya untuk bertanya siapa pria itu, tetapi ia harus selalu mendukung Jee. Eli tahu Jee easy going with man hanya kepada Dio.
Yang dibutuhkan, Jee adalah kekuatan. Support dari Eli mungkin tidak mengubah alur hidup Jee. Namun, Eli akan terus membangkitkan semangat sahabat dinginnya ini.
Brukk
"Tidak! Aku tidak bisa pasrah seperti wanita lemah yang selalu diperbudak pria. Aku akan lakukan segala cara. " Jee menggebrak meja cafe, banyak pasang mata yang menyaksikan tingkahnya.
Tidak apalah, hanya beberapa pasang mata saja. Seorang Jessy, mana serius menyaring mulut rewel orang-orang disekitarnya. Jee, lebih mementingkan tujuan dan akhir dari jalan hidupnya.
Jessy Nantta Weber, adalah gadis yang berusia 22 tahun, menjabat sebagai General Manajer sekaligus owner, Nantta Hotel.
Ia adalah putri semata wayang dari, Mr. Qenan dan Mrs. Baretta. Berbakat dalam bidang perhotelan dan pariwisata seperti ayahnya, mampu mengembangkan dan menstabilkan keadaan hotel setelah kepergian ayahnya.
Terkadang, Jee harus turun tangan sendiri menanyakan bagaimana pendapat quest yang berkunjung ke hotelnya. Sekedar memperhatikan kepuasan pelanggannya, suatu kesenangan baginya. Mengartikan, Jee bisa mengembangkan terus dan terus hotelnya menjadi lebih baik.
Jee, selalu mengikuti training dari berbagai departemen. Seperti departemen house keeping salah satunya. Yang tentunya selalu terjun ke bathroom, closed, publik area dan lainnya. Setiap sore hari setelah pekerjaan semua departemen selesai, khususnya departemen house keeping harus melakukan setidaknya tiga kali training di sore hari perminggu. Didampingi kepala departemen dan General Manager seperti, Jee.
Yang benar saja?
Apa semua General Manajer harus melakukan semua itu?
Tidak! General Manajer, bisa saja menunggu laporan dari kepala departemen masing-masing. Tetapi, tidak dengan, Jee.
Eli memutar bola matanya, ia tahu sahabatnya ini memang memiliki mental seperti baja. "Waiter! "
Waiter cafe menghampiri meja Jee dan Eli. Dengan apron cafe, dipadukan dengan name tag yang berada di sebelah kanan dadanya. Pelayan pria itu tersenyum manis ke arah Jee dan Eli.
Manik matanya menatap lekat ke arah Jee dan berkata, "Ada yang bisa saya bantu? "
Jee mendongak menatap pelayan dengan wajah datar. Sedangkan Eli memperhatikan setiap detail wajah pelayan pria itu. Hidung mancung, manik mata Amber dan tubuh yang lumayan bagus.
"Bawakan menu favorit dan mahal di cafe ini, makanan dan minuman tidak terlalu manis! " Jee menyusuri mata Eli. Mencari kebohongan yang ada.
__ADS_1
Bukannya sok tahu, tetapi menurut Jee, Eli adalah orang yang selalu menjaga makanannya. Faktornya mungkin karena ia seorang desainer.
Jee menatap dengan jengah, "Benar-benar memesan menu yang mahal? Ahh, kau mentraktir diriku? "
"Ya, katakanlah seperti itu. Aku tahu kamu sangat malas untuk makan enak, tetapi untuk benda yang melekat pada tubuhmu. Hmm ... membuat dirimu berkorban. "
Pupil matanya membesar. "Ya, buatlah dirimu senang dengan ejekan realita. "
'Salah satu konspirasi yang benar! '
Selebgram dengan endorse di mana-mana, owner hotel, sekaligus general manajer, masih saja tidak berkecukupan bagi seorang Jessy. Karena uang dari hotelnya ia tabung untuk masa depannya, membangun hotel dari jerit payahnya sendiri.
***
"Bagaimana? Apa sudah siap mewarnai hidupmu. Dio akan pulang beberapa hari lagi. Berkencan? " Alis kiri Jee naik turun, menggoda sahabatnya.
Eli dan Dio memang hanya bertemu sekali dua kali. Itupun tidak saling menyapa, Dio terlalu dingin terhadap wanita. Dan Jee sudah sepakat untuk menjodohkan kedua sahabatnya itu tanpa sepengetahuan sang sahabatnya.
Mereka keluar cafe, berjalan menelusuri taman kota. Terlihat orang berlalu lalang. Suara percikan air mancur di tengah-tengah taman bunga dan cuaca siang yang tidak terlalu panas. Mengingat bulan ini adalah musim gugur.
"Aku belum ... belum memikirkan. Ya, aku sibuk. Beberapa hari lagi berangkat ke London, " jawab Eli gugup.
Jee memajukan bibirnya beberapa centi. "Aku jadi meragukan niatmu untuk mewarnai dun--"
"Hey lihat, Mom. Bukannya wanita itu di cafe yang sama seperti kita tadi. Ahh, aku baru ingat. Dia pemilik Nantta Hotel, Mom. "
Wanita paruh baya yang disebut Mom itu menatap Eli dan Jee, matanya cokelat menyala. "Ya, Mom tahu. Membangun hotel hanya untuk kesenangannya. Bukan begitu sayang? " Terbit simpul yang menarik bibirnya ke atas.
Jee berusaha mencerna ucapan sang ibu. Kesenangan? Kesenangan apa yang dimaksud wanita paruh baya yang sudah sangat keriput berlebih itu.
"Pulang saja. Aku masih ingin bersenang-senang denganmu! " Eli yang mengerti dengan situasi. Ia mengajak Jee berdamai dengan meninggalkan dua wanita gila itu.
Jee mengangguk, mencoba melangkah meninggalkan tanda tanya. Tatapi, baru langkah kedua Jee, wanita gila itu masih mengalunkan suara cempreng-nya.
"Apa maksudmu, Ratu Lucifer? " Habislah sudah kesabaran Jee.
"Mom, look! Aku hanya tertarik, Nona. Aku ingin membuat satu ATM berjalan dengan niat kesenanganku, " jawabnya lantang.
"Berapa harga dirimu, Nona? " tanya pria asing datang menimpali percakapan mereka.
'Ini sudah keterlaluan!'
Jee menarik sudut bibirnya tipis, "Aku bukan bagian mereka, Tuan! " Mata pria itu membulat sempurna.
"Baiklah. Lalu berapa harga hotel-mu per malam, tetapi paket komplit dengan dirimu? " Bersikeras merayu Jee.
"Sudah. Kita pulang saja! " sela Eli di kesunyian. Orang yang melihat mereka berkumpul, menarik minat pejalan kaki yang lain ikut berkerumun.
"Ada apa? Apa kecelakaan? " Penjaga taman berulang kali mengatur nafasnya. Ia berlari hanya untuk melihat kerumunan.
"Tidak, Pak. Hanya salah paham. Ayo pergi! " Eli dengan cepat menarik pergelangan tangan Jee. Jee menyerah dan akhirnya mengikuti langkah Eli.
***
"Eli, look! Mereka menghina hotel daddy! " Jee bersuara menirukan bahasa gadis gila yang menghinanya beberapa menit lalu.
"Lupakan. Nanti juga artikelnya mereda. Akan terganti oleh berita hasil desain-ku. Tembus 1500 pengiriman ke negara London. "
Menautkan kedua alisnya. Jee berkata, "Sebanyak itu? Pantas saja kau mentraktir diriku. Aku hanya dapat 5% saja, " rajuk Jee. Membuat Eli gemas untuk mencubit pipi chubby milik Jee.
__ADS_1
"Akan kubelikan sesuatu jika nanti pulang dari London. Mintalah? "
"Belikan aku sesuatu yang mahal dan terkenal di sana. Oke? " Eli mengangguk. Wajah Jee tampak semringah, namun beberapa detik kemudian berubah murung.
Menarik nafas gusar. Jee bermonolog, "Andai saja aku tidak ikut reuni malam itu. Andai aku tidak mengikuti permainan itu. Truth or Dare! Tunjukkan kebenarannya ... siapa pria yang membawa diriku kedalam kesengsaraan ... "
Jee mengalami pertengkaran batin. Ia tidak tahu harus menerima tantangan dari Barbara atau tidak. Sebelumnya ia tidak pernah mengikuti permainan Truth or Dare. Setahu Jee, permainan ini sangat menjebak dan banyak memakan korban jiwa dalam artian banyak yang tidak mengakui kebenarannya lalu meminum segelas alkohol dengan kadar tinggi.
Terkutuklah Barbara! Jee tidak pernah meminum Schneider Weisse dengan kadar alkohol tinggi dan kuat. Bisa-bisa langsung tidak sadarkan diri.
"Bermainlah! Member lain tidak akan menggigit dirimu, Jee! " ucap Barbara tenang diselingi tawa.
"C'mon, babe! " Albert menarik paksa--bokong Jee sepenuhnya sudah mendarat di kursi beludru.
Gotcha!
***
Tibalah dimana Jee sudah mabuk parah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Setelah disesap seteguk demi seteguk dengan 4 gelas meminum Schneider Weisse, membuat tubuhnya melayang.
Jee keluar gedung, berjalan sempoyongan menuju parkiran. Sampai Jee sadar. Ada pria asing yang mengikutinya dari belakang.
Jee mulai menancapkan gas mobilnya menuju apartemen milik Dio. Tidak mungkin 'kan Jee tidur di hotel miliknya dalam keadaan mabuk. Apa kata karyawannya?
Awalnya Jee membawa mobil dengan tenang, namun lama kelamaan, Jee kehilangan konsentrasi. Tanpa melihat di hadapannya ada lampu merah.
Cittttttttt
Suara decitan rem. Jee menghentikan mobilnya mendadak, melihat kemunculan lampu merah.
Kemunculan? No!
Jee saja yang baru melihat. Hanya beberapa centi saja maka mobil Jee akan menabrak mobil di depannya.
Lampu hijau menyala. Semua mobil sudah bersiap akan meneruskan perjalanan. Tetapi, mobil Jee sama sekali tidak bergerak. Ada apa?
Pengemudi yang berada di belakang mobil Jee, turun dan mengecek langsung keadaan Jee. Saat pria itu melihat kaca jendela Jee yang terbuka, betapa terkejutnya melihat Jee tidak sadarkan diri. Kepala mungil Jee terbentur stir, walapun tidak mengeluarkan darah.
Pria itu lantas memasuki mobil Jee dan menggantikan posisinya sebagai sopir. Membawa mobil Jee malaju menuju ke suatu tempat.
***
"Aku pesan satu kamar! " pinta pria itu kepada resepsionis hotel.
Wajah tegang, jelas tercetak di wajah cantik resepsionis itu. Mungkin hotel mereka tidak pernah melihat wanita mabuk lalu di bawa pria tampan check-in ke hotel. Maybe?
Dengan cepat, resepsionis melakukan tugasnya. Setelah selesai, dengan punggung yang sudah menjauh dari penglihatan, resepsionis itu masih sempat mengambil potret Jee dan pria asing itu melangkah memasuki lift.
Jee mengelengkan kepala. "Aku lelah, kita pulang saja, " ucap Jee kepada Eli setelah beberapa menit hening. Membiarkan fikiran Jee berkelana jauh.
Eli mengangguk mengerti dan mereka melanjutkan perjalanan pulang.
Zinkie Adren Kingston or Maluma
Jessy Nantta Weber or Jessy Hartel
__ADS_1
***tbc
Banjarmasin 2020***