M?

M?
00.02 Return or Forget? {This is bad!}


__ADS_3

Beberapa kali Jee mengerjapkan matanya, melihat sinar matahari menusuk penglihatannya. Siapa yang membuka tirai di pagi minggu seperti ini? Apa Eli.


Jee duduk, meregangkan otot-otot. Ia mengambil jepit rambut yang berada di atas nakas dan segera berlari keliling apartemen mencari pelaku yang mengusik tidurnya.


Jee menangkap satu sosok berada di area kitchen, menggunakan kaus motif garis-garis dipadukan dengan celana jeans hitam pekat.


Jee menghitung dalam hati sembari melangkah mendekati sosok itu. Sosok itu masih sibuk berkutik dengan spatula-nya.


'Satu, dua, dua setengah dan ti....'


"Aku mengetahuinya, Little princess! " Jee tersentak lagi-lagi gagal pikirnya.


"Cepat sekali pulang. Bukankah empat hari lagi, ya? " Jee duduk di bar kitchen memandangi pria dingin itu yang masih setia berkutik dengan spatula.


"Tidak merindukanku, Little princess. Huh? " Pria itu berbalik badan, dan sebelumnya ia sudah mematikan kompor. Menatap lekat manik mata Jee.


Pria itu menghampiri Jee, menyisipkan kedua tangannya di ketiaknya Jee. Membantu Jee turun dari duduknya. Membimbing duduk di meja makan.


"Huh! Kutebak, kau pasti memasak Bratwurst, " ucap Jee yang paha dengan karakter Dio. Ya, pria itu Dio. Sahabat baik Jee, tetangga masa kecil Jee yang kini mereka sudah tinggal seatap.


Dengan Jee yang tidur di apartemen hanya waktu libur sedangkan Dio, ketika pria itu mendapatkan tugas di negaranya. Dio adalah pengacara yang sudah terkenal sejak dua tahun belakangan ini.


"Oh, ya. Kudengar hotel-mu ... " Dio menghentikan ucapannya melihat Jee yang menopang kedua tangannya jadi tumpuan kepala.


Jee membuat puppy eyes. " Aku lelah membahasnya. " Jee memajukan sedikit bibirnya dan berkata, "Bagaimana jika kita jalan-jalan? "


"Tidak! Selesaikan dulu konflik hidupmu. Aku sudah memperingatimu malam saat kau ingin pergi, " jelas Dio lantang. "kau saja yang teledor! " lanjutnya lagi.


Jee menggeleng lemah. "Situasi yang memaksa diriku terjerumus. " Sungguh! Jika Jee mengingatnya terus akan menjadi luka batin mendalam.


"Apa kau ada saran? " tanya Jee hati-hati, memperhatikan wajah datar Dio. Dio terus menatap makanan di hadapannya tanpa melirik Jee.


"Jika aku memberikan saran. Apa kau mau untuk menerimanya dengan lapang dada? " Dio mendongak menatap mata Jee berbinar cerah.


"Oke. Tidak masalah? So ... ? " tanya Jee mulai memasukkan potongan sosis dalam mulutnya.


Dio mengedikkan bahu. "Makanlah, Little princess. Setelah iklan saja membahasnya! " Jee mengulum senyum sembari mengangguk.


***


Dio mencuci piring dengan apron yang masih menempel di tubuhnya. Dio tersentak mendapati pelukan hangat. Beberapa detik Dio membeku ditempat. Sampai suara halus nan lembut itu membuyarkan keheningannya.


"Aku merindukanmu. Jika kuhitung, mungkin kau tidak pulang dalam tiga minggu ini, " rajuk Jee masih setia memeluk tubuh kekar Dio. Tidak hanya itu bahkan tangannya sudah menoel-noel pipi kiri Dio.


'Manja sekali!'


Dio melanjutkan mencuci piring. "Jangan ganggu. Sebentar lagi selesai. Tunggulah di sofa. "


Jee mengangguk dan berkata, "Bawakan es cream vanilla! Oke? " Jee berderap menuju sofa ruang tamu.


***


Jee duduk santai di sofa empuk beludru, jam dinding terus berdenting menimbulkan kesan senyap. Pukul 08.23 masih terlalu pagi bagi Jee bangun di hari libur seperti ini. Jee mengambil ponsel mengecek berita masalah hotelnya.


Masih tranding nomor dua di Twitter. Dengan hashtag #HotelJeeNantta. Jee menarik nafas gusar, hotelnya viral di mana-mana bukannya menambah quest hotelnya melainkan menambah buruk citra hotelnya.


Dio datang mengambil remote TV yang berada di samping Jee. Duduk dan menangkap ekpresi sedih Jee. "Hey! Mana semangat dan mental baja-mu? "


"Entahlah. Mungkin sedang tenggelam ke laut Afrika, " jawab Jee sekenanya. Ia bangkit dari duduk, merubah posisi berbaring di atas paha Dio menjadi bantalannya.


Dio membelai anak rambut Jee, mengecup singkat ujung kening Jee dan berkata, "Mintalah lisensi dari Belleza's Internasional! Perusahaan itu satu-satunya kunci masa depan hotel-mu. "


"Belleza's Internasional? " ulang Jee. Dio mengangguk, merampas ponsel yang berada di genggaman Jee.


Mengetik sesuatu, Dio menatap ponsel lekat. "Datang sesegera mungkin. Apa kau tidak tahu Belleza's Internasional? " Dio menunjukkan hasil searching di internet.


Jee tampak seperti berpikir. "Aku tahu. Perusahaan terbesar di Jerman. Mempunyai banyak cabang di negara lain 'kan? "


"Kau tahu ... cepatlah bergerak! " Dio membantu Jee bangun, mendorong masuk kedalam kamar. "Ganti baju cepat. Aku bisa menemanimu beberapa jam lagi, " lanjut Dio.


Kening Jee berkerut, "Jadi kau akan pergi lagi? Seriously? " Jee benar-benar merindukan sosok pria dingin ini. Ia seakan-akan memiliki sosok kakak.


Benarkah? Lalu bagaimana perasaannya Dio? Apa Dio juga menganggap sebagai saudara?


***


Jee menatap takjub ke arah depan, perusahaan besar, berbentuk oval besar dan sangat megah. Bagian depan perusahaan bertuliskan Belleza's Internasional. Hotels, Resorts & Resideces.


"Ayo! Masuk. " Dio menarik pergelangan tangan Jee membimbing masuk kedalam.


Dio mendudukkan Jee di sofa panjang berwarna perak emas. Menyuruh Jee untuk menunggu. Dio melangkah menuju meja resepsionis, menanyakan sesuatu yang tidak diketahui Jee.


Jee menatap ke sekelilingnya, sangat bagus dengan desain glamor. "Tidak ada, " ucap Dio dadakan.


Jee menatap bingung, "Hah? Apanya? " Dio berjongkok di depan Jee. Membelai lembut tangan Jee.

__ADS_1


"Ceo-nya sedang di rumah. Dan ... sorry. Aku harus mengurus pekerjaan dulu. " Tercetak jelas wajah sedih Dio.


Jee tampak berfikir, "Ceo? Di rumah? " ulang Jee. Dio mengangguk.


"Ayok cari taksi! Kau pulang saja, Little princess. Akan kuhubungi kelanjutannya. " Dio dan Jee keluar gedung Belleza's Internasional.


***


Sudah membuat yang aku minta 'kan? Langsung saja ke alamat ini XXX. Berbicara dengan baik-baik! Dan kuncinya sabar. Mengerti!


Isi pesan Dio kepada Jee. Jee sudah membuat surat seperti yang di minta oleh Dio. Dan tepat pada pukul 11.02 siang, Jee berada di halaman mansion Ceo tampan menurut hasil searching internet.


Mansion terlihat kecil, namun glamor dan lebih dominan warna perak emas. Jee masih terkesima memandang mansion itu melewati celah pagar.


"Nona! Mencari siapa? " tanya penjaga berseragam hitam dilengkapi dengan tampang sangar juga sepatu pentofel yang mengkilap.


"Selamat siang, Pak. Aku mencari pemilik mansion, " jawab Jee menatap penjaga itu sudah membuka pagar mansion.


Penjaga itu menatap Jee lekat, tatapan menelanjangi.


'Huh! Tidak sopan!'


"Apa sudah membuat janji sebelumnya? "


"Aku ti ... ahh, iya sudah. Aku adalah .... " ucapan Jee terhenti mengingat perkataan seseorang terlintas di kepalanya.


"Apa aku benar-benar harus menjawab sebagai salah satu ... wanitanya? " tanya Jee hati-hati pada Eli di sebrang telepon.


"Ya, sepertinya. Yang kudengar dari staf-ku, Mr. Zinkie suka mengoleksi wanita. " Jee berdecak kesal.


Jee menautkan kedua alisnya. "Bukankah kau tadi memanggilnya Ren. Mengapa jadi Zinkie. "


"Namanya Zinkie Adren Kingston. Apa kau tidak tahu? " Jee menggeleng walau ia tahu Eli tidak akan bisa melihat.


"Baiklah terima kasih. Katakan jika ada hal penting menyangkut penyanyi Latin itu. " Eli bergumam dan segera mematikan sambungan telepon.


Zinkie Adren Kingston, seorang penyanyi Latin asal Spanyol yang sekarang menetap di Jerman untuk meneruskan bisnis ayahnya. Ia adalah anak kedua dari Mr. Diemer dan Mrs. Debby.


Menyanyi dan membuat lagu adalah hobinya, lalu menjadi Ceo? Tidak. Ia tidak menginginkan itu. Ia hanya membantu perusahaan ayahnya.


Ren adalah pria yang candu akan wanita. Iya tidak bisa hanya menggenggam satu wanita dalam hidupnya. Ren juga seorang yang humoris dalam bergaul, suka menyapa fansnya. Tampan, kaya, famous. Siapa yang bisa begitu mudahnya mengabaikan sosok Ren?


"Aku salah satu wanitanya Mr. Ren, Pak! " jelas Jee cepat dan lantang. Sekali lagi penjaga itu melirik dari atas sampai bawah penampilan Jee. Ya, katakanlah Jee saat ini berpakaian tomboy dan serba hitam.


Akibat Dio yang memaksa dirinya, Jee jadi lupa untuk memakai pakaian yang setidaknya menarik minat mata yang memandang.


"Kau berbeda Nona. Maaf aku melecehkan dengan memandang dirimu seperti itu, tetapi kau sungguh bukan tipe Mr. Ren. Jika kulihat lagi ... kau memiliki body yang lumayan. Silakan masuk! "


'Itu salah satu tindakan melecehkan, Pak!' Geram Jee dalam hati.


Jee mendengus menatap wajah sangar penjaga itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Jee sudah memasuki mansion milik Mr. Ren. Para maid yang berada di mansion mempersilakan Jee untuk menemui Mr. Ren di kamar.


Tok tok tok


Jee mengetuk pintu kamar milik Ren. Beberapa menit hening tidak ada suara. Jee mengetuknya lagi. Nihil.


Jee membuka knob pintu itu, disambut dengan aroma maskulin menyeruak memenuhi indra penciuman. Mata Jee tidak lepas dari semua penjuru ruangan.


Menelan saliva, Jee menutup pintu kamar itu. Dan betapa terkejutnya merasakan bahunya disentuh seseorang.


Pria itu berdehem. "Kau siapa? " Jee menutup mata, sadar sebentar lagi akan berjumpa dengan seorang Laddy-killer.


"A-aku Jee. Jessy Nantta, " jawab Jee gugup. Perlahan-lahan tapi pasti membalikkan badan.


"Sepertinya aku tidak meminta seorang wanita pada Ernan hari ini. " Ren menatap Jee dengan tajam. Manik mata mereka bertemu. Cepat-cepat Jee memutuskan, mengalihkan pandangnya.


"Sir, aku bukan wanita seperti itu, tetapi--"


"Tetapi ini pekerjaan. Baiklah kita mulai saja--"


"Tidak, Sir. Jangan memotong ucapanku dahulu! " sarkas Jee. Iya tidak mau dianggap sebagai wanita tidak baik-baik. Cukup berbohong saja di depan penjaga menjengkelkan itu.


"Heh! Tadi kau sudah memotong ucapanku. " Ren mendekat ke arah Jee. Memenjarakan tubuh mungil Jee di balik pintu.


Jee menggeleng, menetralkan detak jantungnya. "Ayolah, Sir. Jangan seperti ini. Niatku baik datang kesini. "


Mengangkat alis kirinya. "Apa? Niat baik, katakan! " Jee menarik sudut bibirnya puas.


"Menjauhlah dahulu. Akan kukatakan. Sungguh! " Mohon Jee menyatukan kedua tangannya didepan Ren. Dengan mudahnya Ren menuruti kemauan Jee.


'Mengapa aku mau-mau saja menurut padanya!'


Ren menjauh menuju ranjangnya. Duduk dengan melipat kedua tangan di depan dada. "Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu. Masih banyak fans-ku diluar sana yang meminta tanda tangan. "

__ADS_1


'Percaya diri sekali, Tuhan!'


"Aku meminta bantuan, Sir. Ak-aku ingin perusahaan kita bekerjasama. " Jee mengeluarkan berkas di dalam tasnya. "lihat dulu! " tambah Jee.


Ren mengambil berkas, membaca sekilas. "Aku kira kau meminta tanda tanganku! " Jee terkekeh.


"Bagaimana, Sir? "


"Pulang! " usir Ren terang-terangan.


"Hah? La-lalu bagaimana. Setuju 'kan? " tanya Jee memastikan. Apa apaan disuruh pulang, bahkan belum dapat kepastian.


"Tidak. Kau bukan salah satu fans-ku 'kan? Jadi pulanglah! Tonton semua video acara ku nyanyi atau sedang manggung. Kemungkinan 1% kita akan bisa bekerja sama. " Jee melotot. Mencerna keberadaan 99% nya lagi. Dimana?


"Lalu 99% nya dimana? " tanya Jee polos.


Ren tersenyum penuh kemenangan. "Kau harus jadi wanitaku! "


"WHAT! " pekik Jee.


"Tidak. Percaya diri sekali kau! " Ren tertawa puas. "99% nya pasti tidak bisa kau dapatkan. Kau mempunyai tubuh yang ... tidak menarik dan tidak membangunkan Alex kecilku. "


"Alex? " ulang Jee.


Ren mendorong pelan tubuh Jee ke arah pintu. "Lupakan! Pergilah! "


"Tuan. Beri aku kesempatan! " pekik Jee menggedor pintu kamar Ren. Para maid yang berada di sekitar kamar, melirik sekilas ke arah Jee sambil berbisik satu sama lain.


'Susah sekali bekerjasama dengannya!'


***


"Sir, sudah waktunya Anda mengunjungi Hotel Pyramid, " lapor asisten pada tuannya.


"Baiklah. lima menit lagi aku menyusul. " Asisten itu mengangguk dan meninggalkan tuannya.


Pria yang disebut tuan menggunkan tuxedo navy dan di tangan kanannya ada figura. Foto seorang wanita cantik dengan kulit sedikit kecoklatan juga gaya rambut panjang bergelombang dan manik mata hijau.


Pria itu menggerakkan jari telunjuknya menyentuh pipi chubby milik wanita di foto itu. "Aku akan pulang, Ssy. "


***


"Pria macam apa dia? " protes Jee terhadap Eli. Saat ini mereka berada di salah satu cafe.


Eli menatap sangar pada Jee. "Menjauh darinya. Aku punya cari lain, Jee. Jangan meminta padanya. Dia bukan Ceo yang becus menjalankan perusahaan. Dia saja masih aktif didunia entertainment. "


"Cara apa, Eli? Saran dari Dio sudah kupikirkan matang-matang. Jika nanti hotelku resmi mendapatkan lisensi dari Belleza's Internasional, maka berita tentang aku hilang. Akan semakin menipis setelah peluncuran berita Nantta Hotel mendapatkan lebel. " jelas Jee panjang lebar.


Eli menatap dengan jenuh. "Coba kau fikirkan lagi! Kau berurusan dengan Ceo yang jarang sekali di kantor. Hotel-mu mungkin akan jadi hotel yang tidak terurus nanti dan paling penting mungkin hotelmu akan terombang-ambing."


Jee meraup kedua tangan Eli. "Jangan berkata seperti itu. Aku butuh dukunganmu! " Jee mengulum senyum. "Jangan rubah keputusanku, Eli! " ucap Jee lembut. Eli mengangguk pasrah.


"Ini pesanannya, Nona! " Waiters membawakan pesanan Jee dan Eli.


"Terima kasih, " ucap Eli. Waiters itu tersenyum hangat.


Jee memotong daging dan berkata, "Jadi bagaimana? Kau tahu kepribadiannya Ren? "


"Aku akan cerita sedikit. Hasil interview-ku kepada staf butik. " Jee mengangguk antusias.


"Mr. Ren itu pria yang tidak bisa memiliki satu wanita, ia selalu melakukan--"


Jee melotot, "Aku tidak ingin mendengar kepribadian seperti itu. Katakan semisal iya pria yang keras kepala, sombong atau penakut. "


"Hum. Dia pria ganas. Dia ... selalu minum-minum, candu rokok, candu wanita, dan humoris. "


"Lalu ... apa dia sering .... " ucapan Jee terhenti saat sebuah panggilan masuk.


"Ya. Ada apa Dio? "


"... "


"Ya, meluncur ke TKP. "


"Siapa? " tanya Eli penasaran.


Jee meminum minumannya. " Seperti biasa Dio. Kau ingin ikut ke apartemen? " tawar Jee.


"Tidak. Pergilah! Hati-hati. "


"Bayar, ya. Kuanggap ini menjadi 6%, " canda Jee. Mencium pipi kanan dan kiri Eli dan melambaikan tangan.


Eli geleng-geleng kepala. "Ada-ada saja. "


__ADS_1



__ADS_2