
Dua hari kemudian
Ia mengelus pipi gadisnya, sesekali mencium pipinya gemas. Wajah natural memang terlihat saat wanita bangun tidur, betapa cantiknya little princess miliknya.
Dio mengecup kening Jee, dan berniat keluar kamar untuk menggantikan pakaiannya. Namun, pergelangan tangannya lebih dulu di raih seseorang.
Sudut bibirnya terangkat. "Aku mengganggu tidurmu? "
"Tidak. Kau alarm pagiku. Morning, " sapa Jee menampilkan gigi putihnya berderet rapih. Ia duduk mengumpulkan rambut dan mengikatnya asal membuat dirinya terlihat sangat sangat natural.
Dio menatap lekat setiap pergerakan yang dilakukan Jee. "Tadi malam kau pulang jam berapa? " tanya Jee.
Dio memperlihatkan wajah ngantuknya juga mata pandanya. "Aku baru pulang. " Jee terperanjat kaget.
"Mengurus pekerjaan? "
"Ya. Membuat kepala ku hampir pecah. Dan aku berada di klab sekitar pukul 4 dini hari, " jelas Dio.
Jee bergidik membayangkan dirinya berada di klab dini hari. "Selama itu? Mandilah! Kusiapkan sarapan dulu. Lalu tidur lagi. "
"Periksalah ponselku. Aku tidak sempat mengirimkan nomor telepon Ceo itu. Aku akan mandi dulu. " Jee mengangguk dan Dio berjalan gontai ke arah pintu.
Berada di ambang pintu, Dio menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap lekat manik mata Jee.
Jee memiringkan kepalanya bingung. "Apa? Ada yang tertinggal? "
Ia menggeleng. "Kau cantik pagi ini. " Dio bergegas keluar setelah mengatakan kalimat keramat itu.
"Huh. Baru sadar saat mabuk, ya? " Jee geleng-geleng kepala tahu bahwa Dio masih terpengaruh efek alkohol.
***
Jee siap dengan baju putih kerah sabrina dipadukan dengan jeans biru muda. Tidak lupa kalung di lingkaran pada leher mulusnya, sebagai aksesoris.
Jee sudah menyiapkan sarapan untuk Dio, dan setelah sarapan Dio langsung tertidur pulas. Jee mengecek ponsel Dio, melihat pesan yang tidak sempat terkirim karena baterai ponselnya habis.
Jee melihat pesan masuk dari berbagai kolega Dio, juga wanita-wanita yang bahkan chatnya saja tidak dibaca oleh Dio. Namun dia masukkan ke dalam arsip chat.
'Sungguh kasihan.'
Jee tidak sengaja melihat chat terakhir dari Eli. Jee membuka dan betapa terkejutnya dia. Jadi selama ini Dio diam-diam meminta laporan kepada Eli tentang keberadaan dirinya dan sedang melakukan apa.
'Pantas saja!'
*Apa kau tahu Jee sedang melakukan apa di mall?
Aku tidak tahu. Maaf. Aku sedang berada di London. Akan aku tanyakan pada Jee dahulu.
Y*
Begitu isi pesan singkat antara Eli dan Dio. Tepat pada hari kemarin Jee ke mall untuk membeli sesuatu barang. Jee terkekeh melihat pesan itu, scroll ke bagian atas, menambah keterkejutan Jee. Hanya pesan-pesan yang menanyakan tentang dirinya pada Eli.
Sesuatu terlintas di pikirannya. Mengirimkan kalimat keramat tanpa sepengetahuan Dio. Jee lalu menghapus, menarik pesan untuk dirinya. Namun, pesan sudah terkirim kepada Eli.
Jee mengulum senyum. "Aku akan mengirimkan pesan pada Ren. " Segera Jee mengetikkan sesuatu di room chatnya dengan Ren.
***
Jee manatap nanar mansion megah itu lewat celah pagar. Untuk kedua kalinya iya harus berbohong pada penjaga menjengkelkan itu.
Pesan yang Jee kirimkan beberapa jam lalu hanya di baca Ren. Bahkan telepon pun tidak di angkat. Begitu sibuk kah?
"Apa yang bisa di bantu, Nona? " tanya penjaga gerbang dengan ramah dan sopan.
Jee memperhatikan wajah itu sekali lagi. Benar bukan penjaga yang menjengkelkan itu lagi.
'Fyuh!'
"Aku bisa bertemu dengan Ren. Ahh, maksudku Mr. Ren? " Jee memasang wajah memelas.
__ADS_1
Penjaga itu tersenyum hangat. "Tidak ada Nona, tuan sedang diluar mempersiapkan acara manggungnya malam nanti. "
Jee mengangguk pasrah. "Terima kasih. Apa aku boleh minta nomor telepon. Hubungi aku jika Mr. Ren kembali. Bagaimana? "
"Maaf, Nona. Saya tidak bisa. Sudah peraturan di mansion ini. " Penjaga itu menunduk dan menutup pagar dengan hati-hati. Tidak apalah masih ada hari besok 'kan?
***
Jee menuruni Audi pink carsnya. Jee sudah melihat keberadaan Eli di cafe lantai tiga. Mereka sepakat bertemu setelah dua hari perpisahan mereka. Tidak lupa Jee menggunakan masker juga kacamata hitam.
Bukannya takut menghapi netizen yang rempong, hanya saja Jee ingin waktunya tidak sia-sia. Lebih baik mendapatkan kerjasama dengan Belleza's Internasional daripada mengurusi tanggapan warga +49 .
"Menyamar? " tanya Eli saat Jee sudah tampak duduk di tenang. Jee mengangguk dan menyapu penglihatannya. Tidak ada yang mencurigakan.
Jee melihat meja dipenuhi dengan makanan yang tidak ketinggalan adalah air putih segelas ditambahkan es batu. "Kau mentraktir diriku lagi? "
Eli mengangguk. "Oleh-oleh dariku. " Mengambil paper bag yang berada di sampingnya.
Jee tersenyum jengah. "Dress? " tanya Jee saat membuka paper bag. Tidak lupa ia melihat desainer yang merancang dress itu.
Jee memajukan bibirnya beberapa centi. "Ini bukan oleh-oleh, tetapi hasil rancanganmu. Terima kasih. Aku senang. "
"Pakai, ya nanti. "
"Pasti. Ahh, ya aku cocok tidak jika menggunakan dress ini ke acara konser? " Jee membolak-balikan dress, meletakkan pada tubuhnya sekadar mencoba.
Memutar bola mata Eli berkata, "Kau mau kemana. Urus hotelmu dulu. Bagaimana jika aku mengadakan Meet and Greet. "
"Ahh, ide yang bagus, tetapi sayangnya aku harus bekerjasama dahulu dengan Ren. Bagaimana? "
"Percuma saja! " Eli mendengus, tetapi sesaat wajahnya mendadak menjadi gelisah. Ingin mengatakan sesuatu.
"Katakanlah! "
"A-aku ... ahh, lupakan! " Jee tersenyum miring.
"Jee ... " Jee menatap dengan jenuh. Tidak bisa mengungkapkan keinginannya untuk bertanya.
Eli menggeleng-geleng. "Tidak ... lu-lupakan saja. " Jee terkekeh melihat keraguan jelas tercetak di wajah Eli.
"Apa karena Dio ingin berkencan denganmu! " tebak Jee mengenai sasaran.
Eli menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Ka-kau tahu? " Jee mengangguk.
"Temani aku datang ke konser Ren. Aku akan temani kau memilih baju yang cantik. Bagaimana? " Eli mengangguk cepat dan Jee tersenyum puas.
***
Terlihat ribuan orang hadir di konser penyanyi Latin itu. Dimana semua orang membawa ponsel masing-masing melekat di tangan sekedar mengambil moment epic untuk diabadikan atau diposting di akun sosmed mereka.
Ren saat ini mengenakan kaus hitam tanpa lengan dipadukan dengan jeans hitam panjang juga sneakers hitam. Ia siap memasuki panggung berduet dengan Madonna penyanyi Amerika dengan judul Medellín.
Lagu Medellín dirilis pada 17 April 2019, oleh Interscope Records . Lagu ini dinamai dari kota di Kolombia , tempat Ren lahir, dan merupakan lagu pop Latin dengan elemen reggaeton dan dance-pop . Secara lirik, ia menemukan Madonna dan Ren merefleksikan perjuangan masa lalu sambil bermimpi tentang perjalanan ke Medellín.
"Satu kata untuk Ren? " Eli melemparkan pertanyaan saat mereka berada hiruk-pikuk konser.
Jujur saja Jee memang terpesona melihat Ren dengan baju tanpa lengan ditambah dengan keringat yang bercucuran. Otot-otot yang ahhh sulit digambarkan bagi Jee.
'Satu kata untuk Ren, Panas'
Jee menggeleng, "Aku tidak tahu. Menurutmu? " Jee balik melemparkan pertanyaan pada Eli di sampainya.
"Panas, ya, pria seperti Ren itu panas. Tidaklah kau melihatnya? " Jee menggeleng.
Setelah menonton konser sekitar dua jam, Jee dan Eli mampir dahulu ke toilet sekadar untuk merapikan make up. Jee akan mengajukan surat kerjasama lagi bersama Ren. Ia tidak boleh mundur alon-alon begitu saja.
"Aku akan ke backstage dulu. Tunggu aku di mobil. Oke? " Eli mengangguk dan Jee mulai melangkah keluar.
"Doaku menyertaimu! " teriak Eli yang melihat Jee tersenyum manis ke arahnya.
__ADS_1
"Kira-kira Dio sedang apa yah. Ahh, lupakan. Aku tidak menyukainya! " Eli memukul pelan kepalanya. Ia tidak ingin otaknya dipenuhi oleh Dio, sosok pria panas juga dingin itu.
Brukkk
"Hhhh, bisakah kau membantuku, Nona?Hhhhh. " Wanita asing itu mendadak masuk dengan nafas tidak terkontrol. Seperti habis dikejar-kejar anjing saja.
'Mana ada anjing liar saat konser. Jika ada mungkin ia menyukai sosok panas Ren.' Eli terkekeh dalam hati.
"Nona. Cepatlah. " Wanita asing itu tiba-tiba menarik Eli masuk ke dalam bilik toilet berdua. Dengan dirinya yang berjongkok di atas toilet dan Eli berdiri menatap bingung.
"Bantu apa? " tanya Eli membuka suaranya. Sosok ini sangat mencurigakan. Membuat Eli bergidik jika terjadi sesuatu dengan wanita ini di dalam toilet. Hanya berdua. Ya, berdua.
"Tadi ak-aku ... hhh. Tolong periksa, apakah ada binatang kecil yang menempel di belakang dress milikku? "
Eli ber-oh ria dalam hati. Ternyata ada binatang, maka dari itu wanita ini lari terbirit-birit.
"Permisi, ada orang? " tanya suara bariton dalam toilet. Eli bertanya-taya dalam hati. 'Siapa? '
"Ahh, sebentar. Sepertinya ada orang. " Wanita itu mengangguk lemah.
"Ada apa, Tuan. Mengapa masuk dalam toilet wanita? " tanya Eli penasaran. Ternyata bukan hanya satu orang pria berserah hitam. Mereka lebih dari satu.
"Tidak, Nona. Kami hanya mengecek. Ternyata hanya ada, Nona. Maaf mengganggu. " Eli bingung dengan maksud pria itu.
"Mengapa pintunya tertutup, bukankah Nona sudah kelu--"
"Penjaga 1. Wanitanya sudah ditemukan tuan besar. " Lapor seseorang pria itu terdengar lewat Handy Talky yang berada di tangan kanan pria yang bertanya pada Eli.
"Baiklah. Kami segera kesana. " Pria itu membungkuk tanda hormat pada Eli. Mereka langsung bergegas keluar toilet wanita itu.
"Aneh. Wanita. Mr. Ren? " Eli tampak acuh dengan kejanggalan itu, lalu ia melihat wanita yang bersamanya tadi keluar dengan senyum semringah dan melambaikan tangan pada Eli. Dia keluar begitu saja meninggalkan Eli dengan kebingungan.
"Aku seperti pernah melihat dress itu. Dimana? " pikir Eli. Entahlah dia tidak mau ambil pusing. Cukup pria asing dan wanita itu saja.
***
"Jadi kau yang mengambil ponsel juga meraup bibir sexy milikku. Huh? " tanya Ren melirik tajam pada wanita yang berada didepan nya.
Wanita itu menggeleng lemah, ia diikat dan mulutnya diberikan lakban hitam. Saat ini ia duduk di samping Ren, di dalam mobil. Entahlah mereka menuju ke mana.
"Kau akan tahu akibatnya, jika numpang nama dengan ketenaranku. Menciumku? Membuat skandal, Huh?! " bentak Ren. Wanita itu menggeleng lagi dan lagi. Bahwa bukan ia pelakunya.
"Cepatlah sedikit, Ernan. Aku akan memberikan hukuman bagi wanita ini. " Ren menyeringai menakutkan.
***
"Kemana Jee? Lama sekali. Aku sudah menunggu 30 menit di mobil sendirian. " keluh Eli. Ia tampak berpikir meminta bantuan.
Dengan berat hati Eli menekan nomor keramat itu, ia sudah mulai gelisah tidak adanya Jee disisinya. Bahkan nomor telepon Jee saja tidak aktif.
"Katakan cepat. Aku sibuk! " ucap pria di sebrang telepon. Nada dingin yang dikeluarkan pria itu menusuk sampai ke hati Eli.
"Je-Jee. Aku tidak tahu dia dimana ... " lirih Eli beberapa saat. Hening tidak ada jawaban dari Dio. Ya, Eli menelpon Dio untuk melaporkan kejadian ini.
"Kalian dimana? "
"Di konser Ren. Dia sudah 30 menit tidak kembali ke mobil. Aku menghawatirkan dirinya. Aku sudah menghubungi, namun tidak diangkat. Ak-aku--"
"Masuk cari Jee sekarang! Aku akan menyusul ke sana. Kirimkan lokasinya! " ketus Dio memerintahkan Eli. Eli mengangguk dan langsung mematikan sambungan telepon.
"Dingin sekali, huh? Kau mengajakku dinner tapi karaktetmu tidak berubah! " Eli membanting pintu mobilnya, tidak lupa ia memaki-maki ponselnya.
Ren lagi konser 😋👆
***Dress rancangan Eli👆
__ADS_1
FYI : Daddy nya Ren itu orang Spanyol tetapi beliau pernah menetap di Kolombia saat menikah dengan Debby dengan alasan tertentu. Dan sekarang mereka tinggal di Spanyol***.