
"*Katakan cepat. Aku sibuk! " ucap pria di sebrang telepon. Nada dingin yang dikeluarkan pria itu menusuk sampai ke hati Eli.
"Je-Jee. Aku tidak tahu dia dimana ... " lirih Eli beberapa saat. Hening tidak ada jawaban dari Dio. Ya, Eli menelpon Dio untuk melaporkan kejadian ini.
"Kalian dimana? "
"Di konser Ren. Dia sudah 30 menit tidak kembali ke mobil. Aku menghawatirkan dirinya. Aku sudah menghubungi, namun tidak diangkat. Ak-aku--"
"Masuk cari Jee sekarang! Aku akan menyusul ke sana. Kirimkan lokasinya! " ketus Dio memerintahkan Eli. Eli mengangguk dan langsung mematikan sambungan telepon.
"Dingin sekali, huh? Kau mengajakku dinner tapi karaktermu tidak berubah! " Eli membanting pintu mobilnya, tidak lupa ia memaki-maki ponselnya.
💛💛💛*
Jee menyipitkan mata, pandangannya tertuju pada seprei putih yang berada di bawah tindihannya. Jee memeriksa mencari fakta atas rentetan kejadian yang berputar di otaknya. Dan setelah itu ia menghela nafas lega. Apa yang ia pikiran memang tidak pernah terjadi pada dirinya.
Sekali lagi Jee menyipitkan mata, nuansa kamar hitam pekat dipadukan dengan furniture berwarna emas perak. Jee juga mendengar dentingan jam dinding menunjukkan pukul 09.20 pagi, ia merasakan keanehan pada dirinya.
Ahh!
Jee baru sadar bajunya sudah di ganti dengan baju tidur berbahan satin dengan warna navy. Mengingatkan Jee pada sosok yang selalu ia rindukan. Cepat-cepat Jee menepis pikiran yang sudah ia kubur dalam-dalam. Jee tidak boleh terlena dengan masa lalu apalagi menjadi keledai yang jatuh pada lubang yang sama.
'Bodoh!'
Jee melangkahkan kakinya gontai ke arah kamar mandi. Ia tahu betul siapa pemilik mansion ini, dan ia juga tahu untuk tidak melarikan diri dari sini.
Jee menghela nafas gusar, menghidupkan shower dan membasahi dirinya dengan pakaian yang masih menempel rapi. Jee memukul kepalanya pelan, fokusnya hilang seketika dengan tatapan kosong kedepan.
"Buka penutup mulutnya, Ernan! " Ernan mengangguk dan melaksanakannya. Ernan juga melihat wajah sedih bercampur amarah jelas tercetak di wajah wanita itu.
Ren menyeringai menakutkan, "Apa kau tahu, risiko saat numpang tenar atas kesuksesan diriku? " Wanita itu menggeleng.
Ia menghapus jejak air mata di wajahnya, "Ini kesalahan. Aku bukan orang seperti itu! "
"Sudahlah! Jangan seakan-akan kau yang korban! Aku tahu pola pikir orang seperti kalian. Jangan karena diriku menolak kerjasama denganmu, Nona Jessy. Lalu kau seenaknya ingin membuat karir yang kurintis hancur begitu saja! "
Ya, wanita itu adalah Jessy. Saat ini ia terjebak dalam situasi yang cukup rumit. Menginginkan kerjasama malah menjadi petaka bagi dirinya.
Lagi, Jee menggeleng bahwa ia benar-benar bukan orang yang mencium Ren di atas panggung. "Aku bisa jelaskan! Beri aku sedikit wak--"
"Sudahlah. Kau cukup diam dan nikmati hukumanmu, " sela Ren secepat kilat. "Ernan, bawa dia ke ruang bawah tanah! " lanjut Ren lagi memberikan tugas pada Ernan.
Ernan tampak menatap gelengan lemah dari Jee, dengan mata sembab, hidung memerah. Sungguh kasihan.
Ren menunjuk dengan dagunya, "Cepatlah, Ernan! " Dan Ernan melakukannya dengan berat hati.
***
"Maaf, Nona. Aku tidak bisa membantumu! Maaf, " Ernan menunduk tanda hormat sekaligus meminta maaf pada Jee. Ia melihat jelas wajah wanita yang mencium Ren. Namun, Ernan sudah menceritakannya, tetap saja Ren keras kepala.
Saat ini mereka hanya berdua di ruang bawah tanah mansion Ren. Jee melihat dengan nanar, sebuah ruangan cukup luas dengan furniture kamar lengkap dan tentunya botol minuman berhamburan sana-sini. Seperti ruangan khusus untuk mabuk-mabukan atau membuat hal gila lainnya.
"Kau bisa membantuku, Ernan! " paksa Jee sedikit berteriak. Ia tidak mau mendapatkan hukuman yang bahkan ia sendiri tidak membuat dosa itu.
__ADS_1
Ernan menundukkan kepalanya, "Nona, aku sudah katakan, tetapi Mr. Ren sangat keras kepala. "
"Akan kujelaskan. Lalu kau harus menceritakannya pada Ren. Aku tidak mau mendapatkan hukuman. "
Ia mengangguk, "Ceritakan, Nona. Waktumu hanya 25 menit maka Mr. Ren akan kembali dari kamar mandinya. " Dan Jee mengangguk mantap.
"Waktu itu aku sedang .... " Jee membuka kembali memory beberapa jam lalu.
Jee POV
"Aku akan ke backstage dulu. Tunggu aku di mobil. Oke? " Eli mengangguk dan aku mulai melangkah keluar kamar mandi.
"Doaku menyertaimu! " teriak Eli yang melihat Aku tersenyum manis ke arahnya.
Jantungku sungguh tidak terkontrol saat ini, bagaimana bisa pria panas itu membuat setengah diriku menginginkannya, yang benar saja. Aku langsung melangkah masuk ke arah backstage dan kulihat banyak sekali orang berlalu-lalang.
Mungkin mereka akan menyiapkan kepulangan, konser sudah berakhir sekitar delapan menit yang lalu. Aku menanyakan pada sosok pria berbadan tinggi tegab. "Sir, kau tahu dimana keberadaan Mr. Ren? " tanyaku padanya. Dia mengangguk dan menunjukkan arah, tangannya tertuju pada arah panggung.
Bukankah acaranya sudah selesai. Aku ingin mengucapkan terima kasih namun ia sudah memalingkan wajahnya. Sungguh dingin!
Langsung saja aku menuju ke arah tujuan, kakiku melangkah lebar, jantungku semakin berdetak lebih cepat, dan harus ku akui. Pesona pria panas itu memang memabukkan setengah dari diriku. Tidak lupa aku akan memamerkan gigi putihku yang berderet rapi ini.
Supaya apa? Supaya ia tertarik lalu dengan mudahan mengatakan 'Iya' untuk kerjasama ini. Aku berhenti sebentar, aku lupa mengecek sesuatu sebelum memamerkannya.
Aku mengambil cermin di dalam clutch cokelat milikku. Melihat ke sekitar, memantau-mantau lalu aku mengarahkan cermin pada wajahku. Huh, aku bernafas lega tidak ada chili yang menetap di sela-sela gigiku.
Kembali aku melanjutkan langkahku, dan dari jarak dua meter aku sudah dapat melihat keberadaan Ren dan ... para fans-nya.
Aku kembali mendekatkan langkahku, aku dapat melihat punggung seksi nya yang ... arghhhh. Aku juga mendengar para fans-nya berteriak histeris bisa berfoto bersama juga ... tanda tangan yang berada di jidat masing-masing dari mereka.
Aku juga menginginkannya!
Langkahku semakin dekat sampai aku bergeming di tempatku. Aku baru melihat wanita cantik juga seksi memasuki, menerobos kerumunan para fans dan langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Ren. Ahhh! Aku juga sempat melihat wanita itu memasukkan tangannya pada kantong celana Ren.
Seketika itu juga aku membalikkan badanku. Dan menutup kedua mata dengan tanganku rapat-rapat. Dan setelah itu, aku merasa pendengaranku seketika tidak berfungsi.
Jee POV End
"Apa? Siapa wanita yang mencium Mr. Ren. Mengapa ada dua wanita. " Ernan gelisah. Iya melihat kejadian dari awal sampai akhir. Ia berada tidak jauh dari panggung tersebut.
"Cari wanita yang berambut panjang, ia baru keluar dari arah panggung, " Ernan melaporkan lewat Handy Talky.
"Berhenti di sana, Nona. Atau kau akan menerima konsekuensinya! " sarkas Ren. Saat ini iya sudah melihat pelaku yang menciumnya membalikkan badan akibat malu. Maybe?
Ernan yang melihat itu, langsung saja ia menghampiri para fans yang sudah siap ingin menyerang wanita yang menggunakan dress. Cepat-cepat Ernan memanggil penjaga keamanan dan langsung memisahkan para fans.
Sedangkan Jee masih focus menutup matanya, bahkan sekarang mungkin pendengarannya sudah tidak berfungsi. "Nona. Kemarilah. Kau salah satu fans-ku 'kan? " tanya Ren pada Jee yang masih setia memunggunginya.
Tiba-tiba saja Jee menagngguk lalu secepat kilat pula ia menggeleng. "Tidak. Aku ke sini untuk bekerjasama. " Jee membalikkan badan menatap lekat ke arah Ren.
Ren menaikkan satu alisnya, "Apa? Kerjasama? Ayolah kau baru menciumku dan secepat kilat mengambil ponsel milikku, Nona! "
Jee menggeleng, "A-aku ti-dak. Tidak mencium. Bagaimana bisa. Aku sedari tadi berdiri di sini ... di belakangmu. "
__ADS_1
"Ernan, bungkus dia. Jangan lupa gunakan lakban. Agar bibirnya tidak menyentuh bibirku lagi. " Ernan dengan segera menghampiri Ren. Ia bingung untuk menjelaskan dari mana.
"Mr. Ren. I-ini tidak benar. Aku mel--"
"Jika kau tidak bisa membereskannya. Maka aku akan memberikan perintah untuk yang lain. " Ren celingak-celinguk mencari sesuatu. "Kau kemari! Bawa dia kedalam mobilku. Lakban mulutnya! " perintah Ren pada anak buahnya yang baru memasuki area panggung. Jee menggeleng hendak kabur. Dan terlambat. Iya sudah masuk dalam konflik yang tidak sengaja ia ciptakan.
"Ren. Kau dengar aku 'kan. Bukan dia yang melakukan. Mereka hanya memiliki pakaian yang sama. "
"Lalu siapa, Ernan! Semua itu terjadi begitu cepat. Aku memang tidak melihat wajahnya. Tapi aku melihat postur tubuh, gaya rambut juga pakaiannya. " Langsung saja Ren melangkah keluar panggung.
***
"Jadi kau yang mengambil ponsel juga meraup bibir sexy milikku. Huh? " tanya Ren melirik tajam pada Jee yang berada didepan nya.
Jee menggeleng lemah, ia diikat dan mulutnya diberikan lakban hitam. Saat ini ia duduk di samping Ren, di dalam mobil. Entahlah mereka menuju ke mana.
"Kau akan tahu akibatnya, jika numpang nama dengan ketenaranku. Menciumku? Membuat skandal, Huh?! " bentak Ren. Lagi, Jee menggeleng lagi dan lagi. Bahwa bukan ia pelakunya.
"Cepatlah sedikit, Ernan. Aku akan memberikan hukuman bagi wanita ini. " Ren menyeringai menakutkan.
Ernan dapat melihat kegelisahan Jee yang saat ini akan mendapatkan hukumannya. Setelah selesai bercerita dengan tersedu-sedu seperti bukan pribadi seorang Jee. Namun, Jee juga tersenyum beberapa detik berikutnya. "Katakan kebenarannya pada tuanmu, please .... "
"Katakan apa? Ernan kembali ke kamarmu! " Ernan menjawab dengan terbata-bata, tetapi tetap saja Ren tidak mau mendengarkan semua itu.
Sekarang Jee dan Ren hanya berdua setelah kepergian Ernan, yang beberapa menit lalu mengalami cekcok dengan Ren.
Ren mengamati Jee dari atas sampai bawah, "Dimana ponselku? "
Jee menggeleng lemah. "Sungguh, aku tidak mengambil apapun. " Jee menundukkan kepalanya. Posisinya saat ini duduk diikat dengan tali tanpa lakban yang menutupi bibir merah ranumnya.
"Katakan! Jangan mempersulit semuanya! "
"Aku tidak tahu Ren! Tidak tahu! Kau tiba-tiba menyeret diriku masuk dalam konflik yang kau ciptakan. Aku tidak membuat dosa itu! Lepaskan! Lepas--"
"Hmpppp .... "
Ren membungkam bibir ranum milik Jee dengan bibirnya. Awalnya hanya ciuman biasa, sampai Jee makin memberontak, Ren lalu menggigit bibir bawah Jee hingga berdarah. Dan Jee bereaksi membuka mulutnya, dan disambut dengan lidah Ren yang menerobos masuk. Mengabsen setiap inci rongga mulut Jee.
Ren melepaskan ciumannya, sadar udara yang ada sudah menipis. Keduanya mengatur nafas masing-masing. Ren dapat melihat jelas, bibir ranum milik Jee saat ini sedikit membengkak dan itu semakin memabukkan.
Sadar atau tidak, Ren mengusap bibir Jee dengan ibu jarinya, membersihkan sisa pertukaran saliva mereka.
"Au ... au au. Sakit sekali. " Jee merintih sakit di bagian ulu hati. "Ja-m jam berapa sekarang? " tanya Jee kemudian pada Ren. Ren melihat tangannya yang dipasang jam tangan mewah.
"Pukul 23.20. "
"Tuhan ... " Dan detik berikutnya juga Jee tidak sadarkan diri. Membuat Ren tampak bingung dan juga banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya.
Apa ini salah satu rencana Jee, supaya dia tidak mendapat hukumannya malam ini. Jika itu terjadi terkutuklah Jee.
Ren dengan terpaksa menggendong Jee untuk masuk dalam ruangan yang lebih layak dari pada ruangan ini.
tbc
__ADS_1