
Jee menatap nanar jatuhnya dedaunan, menghiasi halaman mansion. Merasa sangat bingung akan situasi sekarang, ia juga merasa sedih beberapa hari telah meninggalkan hotel tanpa kabar. Ponselnya saat ini mungkin sedang berada di tangan Ren.
Jee selalu meminta untuk pulang bahkan hanya sekadar pergi bekerja tidak diperbolehkan. Mood selalu berubah-rubah ditambah sekarang ia mengalami menstruasi. Itu membuat dirinya semakin stres dan tertekan.
Jee mendengar derab langkah seseorang di belakangnya. Mungkin itu para maid yang membawakan makan siang. Dari pagi Jee sama sekali belum mengonsumsi apapun selain susu.
"Mengapa tidak makan? " tanya orang itu. Jelas Jee tahu siapa pemilik suara bariton itu. Jee masih memunggungi dan tidak berniat mengobrol lebih.
"Kau sedang marah padaku? " Seseorang itu tiba-tiba memutar tubuh Jee, menatap lekat manik mata hijau. "Kau marah? "
Jee hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Terlalu muak untuk meminta yang bahkan tidak sama sekali dikabulkan. Ren sangat keras.
"Kau mau bekerja? Bertemu dengan temanmu? Well ..., tetapi kau harus ingat. Berita sudah mulai terekspos aku tidak bisa menghalanginya. Cctv, maybe ... sudah keluar. "
Jee masih menatap lekat tanpa berkata dan tanpa raut senang. Apa ia tidak senang bertemu dengan Dio, Eli juga hotelnya? Apa merasakan kesepian jika besok cctv keluar, maka benar adanya akan berpisah dengan Ren? Entahlah.
"Pergilah, aku keterlaluan sudah mengurungmu beberapa hari. Yang bahkan kau belum tentu pelakunya. " Dan ketika ucapan Ren selesai Jee menarik sudut bibirnya.
"Aku sudah katakan. Kau saja yang b*d*h. Aku tidak memperdulikan berita itu. Besok cctv akan keluar, maka orang-orang akan merasakan malu sudah menghina hotelku! " Memamerkan gigi putih berderet rapi. "Baiklah, aku akan pergi. Aku sudah terlalu lama meninggalkan hotel juga teman-temanku. Thanks Ren, " lanjut Jee spontan mencium pipi kanan milik Ren. Ren bergeming tampak kaku dan terkejut.
"La ... la ... la .... " Jee berjalan masuk ke dalam mansion, bersenandung riang, namun di tengah pintu utama mansion, ia menghentikan langkahnya. Menatap Ren masih memunggunginya. "Ren, dimana ponsel milikku? "
Ren memutar tubuhnya, wajahnya kembali normal. Namun menyisakan rona merah seperti gadis yang habis di mabuk cinta. "Kau minta pada Ann. Dia menyimpannya. " Jee mengangguk patuh kembali melangkahkan kakinya masuk lebih jauh.
__ADS_1
"Apa? Mengapa ini berbeda. Huh, aku akan mencari wanita malam ini. Mereka akan menciumku lebih panas dari itu maybe akan membuatku bergairah. Ya, seperti itu. " Ren bergegas masuk dengan pikiran yang sedikit kacau bercampur gairah.
***
Gedung dengan 26 lantai berwarna abu-abu ditambah warna oranye di sisi kanan. Bersebrangan dengan jalan raya juga gedung-gedung lain. Disamping gedung ini juga terdapat gedung baru yang besar menjulang dalam tahap pembangunan.
Jee melangkahkan kakinya lebar ke arah gedung yang ia yakini sebagai separuh hidupnya. Nantta Hotel, gedung dengan tinggi 100 meter yang mempunyai banyak kenangan untuk keluarga Nantta.
"Miss? " ucap Rara tidak percaya, Jee hilang tanpa kabar seperti ditelan bumi, berita buruk tentang hotel maupun Jee beredar di mana-mana. Membuat para staf hotel bingung. "Miss kembali! " pekiknya girang. Dan siapa yang tidak mendengar suaranya yang begitu kencang di lobby khusus bellboy. Untungnya tidak ada tamu yang sedang bersantai di bawah.
Semua staf keluar, memperhatikan Jee dari bawah sampai atas. Tidak ada lecet fisik namun jiwa. Jee kembali menyapa stafnya ramah, membincangkan sedikit salah paham yang terjadi antara dirinya dan Ren juga niat untuk berkerjasama.
Setelah dari hotel, mengurus sedikit dan besar permasalahan hotel, mengetahui sumber kekurangan yang di akibatkan oleh berita-berita terbaru, Jee berniat untuk mengunjungi butik Eli. Memberikan suprise kedatangannya.
***
"Jessy berhenti! Berhenti mengikutiku! " geram Eli tanpa sebab. Jee hanya mengikuti Eli, karena ia tidak menghiraukan Jee sedari tadi. Ia hanya sok sibuk menata gaun.
"Kenapa? Kenapa seperti ini? Aku baru bisa keluar sekarang, tetapi kenapa kamu marah? " Eli pasrah, ia melangkah duduk di sofa beludru maroon.
"Aku muak dengan semua ini. Kau tahu? Sifatmu sangat kekanak-kanakan! Kau mempermainkan perasaanku. Kau mengirimkan pesan yang bahkan Dio tidak ingin. Itu menyakitiku! "
Habis sudah kesabaran Eli, ia menitikkan bulir bening. Jatuh tanpa diminta. "Aku hanya ingin menjodohkan kalian. Bukan mempermainkan perasaaanmu, Sista! "
__ADS_1
"Aku iri padamu. Kau mendapatkan segalanya, kau smart, hotelmu terkenal, kau selebgram, kau punya Dio. Aku? " sarkas Eli lagi. Jee manatap nanar ke arah Eli. Ini bukan Eli! Sahabat satu-satunya tidak seperti ini!
"Eli ... ini bukan kamu! "
"Ya, ini bukan aku. Aku yang selalu menurut padamu dan selalu mendukungmu pun kadang harus menyembunyikan perasaan kusendiri. Pergilah, aku ingin sendiri! " usir Eli sekali lagi. Dan Jee hanya bisa menatap dengan kaku.
Eli memanggil penjaga butik mengeluarkan Jee. Apa benar ini Eli? Sungguh tidak punya perasaan!
Jee keluar butik, masih menatap dengan kekosongan, seketika dunianya runtuh. Ia membutuhkan seseorang saat ini. Ya, seseorang. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menghubungi Dio.
***
"Mom, aku ingin menikah. Aku tidak mau bekerja lagi! " pekik seorang wanita dewasa. Rambutnya panjang bergelombang pirang, dengan tubuh yang berisi.
Seseorang yang disebut mom hanya diam, melanjutkan membaca majalah yang terletak di tangannya, sesekali menyesap kopinya. "Mom! Aku capek. Aku mau nikah, mau berkeluarga. Kaya mom sama dad! "
"Diam! Jangan sesekali kamu memikirkan untuk menikah. Kamu itu ATM berjalan mom. Dan mom tidak mau kamu menjadi singgle perenst seperti mom dulu ... kamu gak ngerti pahitnya berumah tangga, mom tahu usia kamu udah matang, tetapi
mom gak mendukung itu. Kamu cukup bahagiakan mom dulu! "
Wanita itu mulai menangis, iya tahu keinginan momnya, tetapi iya juga memiliki hak untuk menikah, membangun keluarga kecil. Iya sudah memiliki tujuan hidupnya dan membahagiakan orang tuanya.
Terlahir dari keluarga sederhana membuat dirinya harus bekerja keras, ayah seorang penjudi dan candu alkohol membuat tekadnya semangat terus.
__ADS_1
Kali ini ia mengalah untuk kesekian kalinya. Mungkin ini belum waktunya. Ia akan menanti hari dimana ia menikah dengan seseorang yang ia puja-puja.