M?

M?
00.05 Return or Forget? {Wrong Punishment}


__ADS_3

Eli menundukkan kepala, melihat tali sepatunya yang terlepas. Bukan hanya itu, lututnya juga mengeluarkan darah, ya, walaupun sedikit. Perasaannya kini campur aduk, gelisah dan takut.


Setelah berpergian dengan Jee malam itu, ia sulit tidur dan selalu menjadi sasaran kemarahan Dio. Pria dingin itu menelfon Eli pagi-pagi saat sedang jogging. Dan alhasil Eli lari menuju apartemen Dio dengan waktu yang ditentukan Dio.


"Telat 20 menit! " Dio melangkah mendekati Eli, memutari tubuh wanita di hadapannya yang sekarang mandi keringat.


Eli menunduk, "Maaf. " Tubuh Eli sedikit bergetar karena takut mendapatkan amukan dari Dio lagi.


Dio melangkah masuk dalam kamar apartemen lalu tidak lama, keluar dengan membawa pakaian wanita. "Mandi, dan pakailah! Ini baju Jee. Aku tidak punya banyak waktu. Besok aku sudah harus berangkat ke luar kota, jika Jee masih tidak ditemukan aku akan melaporkan kehilangan Jee dan membuat surat missing person . " Eli mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar Jee.


Dio melihat dengan jelas, Eli berjalan dengan sedikit pincang dan tertatih-tatih. Namun, Dio tidak ingin mengambil pusing, bukan ia 'kan yang terluka? Buat apa peduli dengan wanita.


***


"Sudah bangun? " tanya Ren pada Jee. Saat ini Jee sedang menyisir rambut basahnya. Setelah menghabiskan waktu satu jam untuk mandi.


Jee melirik sekilas ke arah Ren yang berada di belakangnya. "Aku lapar, bolehkah aku makan? "


Senyum Ren terbit, "Tentu saja. Aku tidak mau kau mati di mansion-ku. "


"Lalu apakah aku boleh pulang? "


"Tentu. " Dengan spontan Jee langsung berbalik badan menghadap Ren. Menatap penuh harap. "tetapi, kau harus membayar semuanya. " lanjut Ren.


Jee menaikkan satu alisnya, "membayar apa? Bahkan aku tidak membuat dirimu mendapatkan kerugian! "


"Kau lupa? Ahh, biar aku ingatkan. Kau mengambil ponsel serta mengambil frist kiss milikku, Nona. Kau ingat? " Jee menggeleng cepat.


Waw, frist kiss benarkah? Bukannya dia seorang candu wanita. Apa tidak pernah berciuman?


Ya, tentu saja. Ren adalah salah satu pria yang pilih-pilih. Melakukan **** bebas memang dia rajanya. Namun, ia juga tidak mau berciuman dengan wanita manapun.


Sedikit menjijikkan baginya.


"Kau b*d*h! Coba kau periksa, aku sudah tidak memakai pakaian kemarin 'kan. Apa kau mendapatkan ponsel-mu? " Jee benar, maid Ren yang menggantikan pakaian itu tidak mendapat ponsel milik Ren.

__ADS_1


"Aku smart! Bisa saja kau langsung melemparkan ponselku saat kejadian itu. Aku tahu orang-orang seperti dirimu! " Jee tersenyum meremehkan.


"Tidak apalah kau tidak percaya, tetapi kau tidak berhak menahanku seperti ini. Jika kau menahan hewan saja harus ada izin. Ini tidak adil! "


"Izin ke siapa? Orang tuamu? Well, aku akan izin ke walimu, lalu mengatakan bahwa anak tercinta mereka sudah mengambil ciumanku juga ponsel milikku. Bagaimana? " Jee tersentak, ia sangat sensitif berkaitan dengan orang tua.


Jee berbalik menghadap cermin, wajahnya datar dan tidak menjawab sama sekali ucapan Ren. Ren yang sadar melihat perubahan Jee, lantas ia berdehem memecahkan keheningan.


"Aku tunggu di bawah. Kita sarapan, " ucap Ren. Sekali lagi, ia memperhatikan wajah datar Jee dari balik cermin. Ia lalu keluar dengan penuh tanda tanya.


***


Sudah setengah jam berlalu, Jee belum turun dari kamarnya. Ren juga sudah menyantap sarapannnya, buat apa menunggu wanita itu 'kan?


Setelah sarapan, Ren bergegas memasuki kamar Jee lagi. Memeriksa keadaan Jee tentunya.


"Kau tidur? " tanya Ren melihat punggung Jee. Sebenarnya Jee belum tidur, hanya saja ia terlalu lelah saat ini untuk memikirkan dunia.


Tidak ada jawaban dari Jee, Ren lalu berisiniatif untuk melihat ke posisi kepala Jee. Dan ternyata benar saja, Jee belum tidur.


Jika itu memang dirimu, bersiaplah menerima ganjarannya! Ahh, sekarang kau bersihkan mansion-ku dahulu, Ann akan menemanimu. "


Ann adalah kepala maid di mansion ini. Jee menatap manik mata Ren dengan wajah datarnya. "Apa? " tanya Ren penasaran saat di pandang oleh Jee seperti itu membuat jantungnya memompa lebih cepat.


"Cepatlah sarapan. Ann sudah menunggumu! " Akhirnya Ren keluar dengan jantung yang tidak karuan.


Jee masih bergeming di tempatnya. Tidak terasa bulir bening jatuh menetes di pipi chubby-nya tanpa di minta. Sekarang perasaannya kalut, benar-benar merindukan sosok orang tua.


***


"Bagaimana? " Eli menggeleng, mereka sudah menanyakan di sekitar gedung konser, nihil. Tidak ada yang melihat keberadaan Jee sama sekali.


Dio menyugar rambutnya frustasi, ia bahkan tadi malam tidak bisa tidur. Untungnya dengan aroma khas tubuh Jee masih berbekas di kamar Jee, maka Dio tidur di sana untuk beberapa jam. "Ini salahmu, El! Arghhhh ... "


Eli menundukkan kepala, hanya itu yang bisa ia lakukan. Dio berjalan sebentar dan diekori oleh Eli tentunya. Mereka duduk di trotoar jalan. Dio mengecek ponselnya, dan itu membuat tubuhnya mendadak tegang seketika.

__ADS_1


Tweet teratas hari ini tentang Jee. Dengan kalimat #WanitaJ*langJeeNantta . Siapa? Siapa yang berani memulai perang ini. Apalagi kebanyakan dari mereka adalah fans-nya Ren. Dio langsung memamerkan ponselnya pada Eli.


"Lihat! Kau bahkan tidak tahu, Jee mencium Mr. Ren juga mengambil ponselnya. Yang benar saja. Saat itu kau di mana? Tidak mengawasinya, huh?!" Dio menaikkan nada bicaranya. Ia sudah benar-benar geram dengan semua ini.


Eli jenuh, selalu ia disalahkan. Ya, iya salah waktu itu, tetapi bukan hanya Eli 'kan? Eli sudah tidak tahan menjadi target sasaran kemarahan Dio.


Langsung saja Eli berlari sejauh mungkin. Meninggalkan Dio ditengah kebingungan dan kalut tentunya. "Apalagi ini, Tuhan ... " lirih Dio.


***


"Aku bodoh! B*D*H! " pekik seorang wanita cantik dan seksi. Saat ini ia sedang berada di jembatan, berdiri seorang diri.


"Mengapa aku harus mencium Ren saat itu, dan wanita malang itu ... " Ia sangat menyesal memindahkan dengan tidak sengaja dosa yang ia lakukan. Merasa bersalah? Tentu saja.


Wanita itu menatap lekat kedalaman air yang berada di bawah jembatan. Membuka memory-nya sedikit demi sedikit.


"Aku harus lakukan sekarang. Aku ingin Ren cepat menyadari keberadaanku. Semangat dan lakukan! " Wanita itu langsung berjalan anggun menuju kerumunan Ren dengan para fans di atas panggung.


Saat langkahnya semakin mendekati Ren, semakin dekat juga ia melihat dengan jelas ada sosok wanita yang menghampiri Ren. Wanita yang memakai dress yang sama dengannya.


Tidak boleh berhenti di sini. Ia sudah melangkah sejauh mungkin dan sudah menetralkan jantungnya, namun disatu sisi ia takut melihat wanita di depannya. Takut akan terjadi masalah besar.


'Hanya feeling. Kamu bisa! '


Dan ia langsung mempercepat langkahnya, membelah kerumunan yang riuh, dan dengan gerakan cepat menempelkan bibir miliknya pada bibir milik Ren. Ren bergeming, mengerjap-ngerjap.


Tangannya mulai bergerilya ke arah celana Ren. Mengambil benda pipih itu. Dan langsung kabur terbirit-birit. Ia juga sempat melihat wanita yang berpakaian sama dengannya, langsung membalikkan badan.


Entah ini kebetulan tidak ada yang melihat aksinya atau memang ia sedang mendapatkan mukjizat, seketika menghilang saat melakukan aksinya. Padahal nyatanya, para fans Ren melihat jelas.


Menarik nafas gusar, wanita itu membuang salivanya sembarangan di bawah jembatan. Ia dapat melihat dengan jelas, salivanya jatuh dengan cepat, tidak ada pergerakan sama sekali. Menghilang pun tidak ada.


Apakah cintanya pada Ren akan seperti itu. Mengagumi seorang Ren sejak lama, jatuh cinta, perasaan yang semakin menggebu-gebu lalu akhirnya Ren tetap saja tidak melihat dirinya. Tidak ada perkembangan sama sekali.


Biarlah cintanya ia pendam dahulu, sampai ia akan benar-benar bertemu dengan Ren dengan status berbeda.

__ADS_1


__ADS_2