
Jee melangkahkan kakinya besar, ingin segera sampai ke tujuan. Wajahnya tegang dan sedikit memerah menahan sesuatu. Jantungnya berdetak lebih cepat, ia akan segera meledakkan semua ini.
Jee memandang nomor apartemen 1111. Ia sudah sampai dan segera masuk. Pemandangan pertamanya jatuh pada seorang pria tinggi tegab, duduk di atas sofa beludru. Manik mata mereka bertemu, dan secepat mungkin Jee mengalihkan tatapannya.
"Little Princess? " Sapanya riang, sudut bibit itu melengkung manis. Manik mata birunya mengkilat.
"Kamu membatalkan janji dengan Eli? " Jee duduk di sampai Dio. Pria tampan seperti dewa Yunani namun sangat dingin seperti ice prince. Dan Dio mengangguk sebagai tanda, ya. "Why? "
Dio menyelipkan anak rambut Jee kebelakang telinga. "Aku tidak harus memberikan jawaban 'kan? " Benar sekali. Itu karena bukan Dio sendiri yang meminta untuk berkencan.
"Yeah, i now. But, you should understand her feelings? " Dan sekali lagi Dio mengangguk. Masih setia memandang wajah Jee dengan damai. "Please, enjoy the date. Aku tidak mempermainkan perasaan Eli. Aku hanya ingin kalian akrab. "
Dio mencium pucuk kepala Jee dan berkata, "Aku tidak bisa, Little Princess. " Nada suara yang dingin dan kaku. Jee bergeming. "Kamu sudah dibebaskan Mr. Ren. Jika dia terlambat dua jam lagi, maybe aku akan membawa masalah ini ke ranah hukum. "
Jee masih bergeming menatap lekat manik mata biru Dio. "Jangan menatap kuseperti it--"
"Aku kecewa denganmu! Aku bahkan hanya meminta kau kencan satu kali, bukan tiga kali. " Dio mendekati Jee, memegang kedua pundaknya.
"Jangan berbicara seperti itu. Kamu tahu, aku sangat menyayangi kamu. Jangan menuntut seperti itu. "
"Terserah kau saja. Aku lelah. " Jee bergegas melangkah ke kamar, menutup pintu menimbulkan suara cukup keras. Tidak lupa menguncinya juga. Darah benar-benar naik ke atas kepala, menjadi lebih panas dari biasanya. Hormon mastrubasi.
"Apa lagi ini, " desis Dio frustasi, menyugar rambutnya.
***
"Mau kemana? " tanya Dio melihat Jee siap dengan celana jeans hitam dipadukan dengan baju kaos crime pendek.
"Pergi. " Singkat padat dan jelas bagi Jee.
"Biar aku antar, bagaimana? " Dio siap mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja. Dan Jee menggeleng.
"Aku bisa sendiri. Jangan menghalangiku. Urus kerjamu, bukannya kau harusnya di luar kota? "
"Berita sudah sangat terekspos, Jee. Jangan keluar tanpa diriku! "
Jee tetaplah Jee. Ia kecewa dengan Dio. Dan Dio memahami itu. Jee bergegas berangkat menuju kediaman Ren. Ia ingin tahu kelanjutan problem yang menimpa dirinya.
***
Menatap dedaunan gugur yang memenuhi jalan, Jee mengambil satu daun. Merasakan tangannya langsung bersentuhan dengan daun itu. Jee merasa udara semakin kencang, ia lupa membawa mantel dan semacamnya untuk melindungi tubuh dari udara dingin.
__ADS_1
Melanjutkan langkah, sampai ia berada di depan mansion Ren. Menatap lekat dua orang dari balik pagar. Pria tinggi tegab, otot-otot yang sangat menonjol juga rahang yang tegas dan seorang wanita dengan pakaian kurang bahan. Mereka bercumbu.
Siapa yang berani bercumbu di mansion milik Ren. Jika itu mungkin sang pemilik mansion sendiri. Jee melangkah hati-hati, memastikan isi dari otak pintarnya.
"Ren!? " Sapa Jee dengan suara yang bergetar nada tinggi. Pria itu menoleh kebelakang dan mengelap bibirnya yang habis mencium wanita seksi itu.
"Kau? " Ren tampak terkejut. Ia ketahuan berciuman dengan wanita, bahkan iya mengatakan bahwa Jee yang mendapatkan ciuman pertamanya. Yang mana yang benar? Bukannya Ren seorang laddy-killer. Pasti saja sudah mencium dan meniduri wanita acak.
Dan itu membuat aliran darah Jee berdesir, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak suka jika melihat adegan seperti ini lagi. "Ahh, sorry. Aku tidak tahu jika itu kau. Oh, ya, aku kesini untuk menanyakan CCTV-nya. Bagaimana? "
Wanita seksi itu menatap Ren seakan-akan bertanya siapa Jee, tetapi Ren menyuruh wanita itu masuk lebih dulu ke mansion. Dan Jee melihat dengan jelas wajah kecewa wanita Ren.
"Sebentar akan kuhubungi dulu! " Jee mengangguk paham dan Ren melangkah menjauhi keberadaan Jee.
Setelah beberapa menit, Ren kembali dan mengabarkan bahwa CCTV-nya sudah keluar. Ren meminta Jee masuk ke dalam mobil dan menunggu. Ren kembali membawa wanita yang sempat bersamanya. Dan lebih menjengkelkan, wanita itu memilih duduk di samping Ren dan sangat terpaksa Jee duduk di belakang.
Jee POV
Ish! Ini menyebalkan!!! Dia bilang itu ciuman pertamanya, tetapi aku baru saja melihatnya berciuman dan tangannya bergerilya di ... arghhhhh.
Apa ini, aku tidak suka perasaan ini. Aku tidak menyukainya! Dan tidak akan pernah! Dia pria Jee. Ingat itu. Ya, siapa yang bilang dia gay. Huh?
Sungguh! Perasaan apa ini. Wanita itu terang-terangan menggoda Ren. Bukan hanya itu, dia juga tidak punya malu mencuri-curi cium pada Ren. Situasi apa ini!
Apa? Apa? Apa itu! Dia mengecup bibir Ren. Dan Ren masih diam hanya sesekali membalas dengan senyum yang menawannya. Itu menjijikkan! Dan aku sudah mengambil kesimpulan! Ren memang punya pesona kuat menaklukkan wanita, dia seorang laddy-killer dia meniduri wanita acak, menciumnya di mana saja dan kapan saja. Aku tertipu! Kalian semua tertipu! Ya, kalian semua juga tertipu dengan topeng seorang Ren!
Dan kejadian itu membuat diriku membuka memory saat berada di mansion Ren, ... pertama kali. Dia menciumku. Ya, itulah keadaannya. Aku akui itu adalah ciuman pertamaku, dan aku menyesal sempat menikmati ciuman itu.
Apa ini! Aku mengingatnya lagi! Aku tidak mau. Itu akan membuat wajahku merona. Aku tidak mau!
Jee POV End
Jee mengambil cermin yang berada dalam tas kecil hijau toscanya. Becermin sesaat dan setelah itu ia bergeming. "Kau sedang apa? "
Jee menggeleng, "Aku hanya becermin. Aku ingin melihat apakah dalam diriku masih ada urat malu. " sindir Jee. Dan wanita itu mendelik tidak suka.
"Sepertinya kau tidak pernah melihat seseorang bercumbu. Lihat wajahmu merona! " Wanita Ren membalas dengan ketus. Dan itu benar adanya. Jee merasa sudah mengibarkan bendera peperangan maka ia akan menyelesaikan ini!
"Ya. Itu benar. Dan itu menjijikkan! Bercumbu dimana saja dan dengan pria acak! Bukankah lebih menjijikkan? " Dan Ren tahu kemana arah pembicaraan ini.
Ren menatap manik mata hijau milik Jee lekat. "Hentikanlah! Pembahasan kalian tidak bermutu. "
__ADS_1
Mendekati telinga Ren, Jee membisikkan kalimat yang tentu saja itu di dengar wanita Ren. "Benarkah? Lalu apa dengan bercumbu itu sangat bermanfaat? "
"Hentikan! Kau sangat kekanak-kanakan Jee. " Dan Jee kaku saat mendengar kalimat itu. Ya, dia kekanak-kanakan. Ya, itu Jee. Setelah Eli orang pertama yang mengatakannya dan sekarang Ren. Pria yang paling menyebalkan!
Ren dapat melihat Jee tampak murung, ketika ia mengucapkan kalimat itu. Apa yang salah. Bukankah itu benar? Dan wanita Ren tersenyum miring seperti otaknya!
Ren menjadi sangat tersindir dengan ucapan Jee. Ia memang candu wanita, tetapi untuk mencium wanita itu baru kedua kalinya dia lakukan.
"Ernan! " Panggil Ren. Ernan siap di hadapannya setelah beberapa menit.
"Ya, Sir? "
"Hubungi Angel, aku ingin merasakannya. " Ernan mengangguk dan langsung keluar ruang kerja Ren.
"Apa berciuman itu rasanya manis? " Monolog Ren pada dirinya sendiri. Saat ciuman pertamanya di ambil itu hanya kecupan singkat dari wanita asing itu, tetapi kemarin ia mencium Jee dan rasanya manis. Apa memang rasanya berbeda-beda?
Entahlah!
"Turunlah, kita sudah sampai, " ucap Ren. Hening untuk Jee beberapa menit perjalanan menuju tempat konser. Sedangkan wanita Ren? Ya, pasti selalu merecoki Ren.
Mereka bertiga turun dari mobil menuju pintu utama gedung. Bertemu dengan pemilik gedung, dan di arahkan menuju ruang CCTV.
"Bagaimana? " Ren dipersilakan duduk di depan layar monitor. Dan juga Jee yang berada di sampingnya sebagai pihak yang terkait.
"Saya sudah menemukannya, tetapi bukan wanita yang berada disebelah Anda, Sir. Saya akan memulainya, " ucap penjaga cctv. Jee sudah tau jawabannya, ia hanya memastikan bahwa setelah ini, tidak akan di penjarakan oleh Ren. Pria menyebalkan!
Penjaga itu mulai memainkan CCTV-nya, menunjukkan titik posisi dimana kejadian berlangsung. Ren melihat dengan jelas, rambut panjang bergelombang dan dress. Iya mengingatnya, dan itu bukan Jee. Ya, bukan Jee. Dan wanita itu melewati posisi Jee yang membelakanginya.
Ren menatap wajah tenang Jee, "Bisa bicara? " tanya Ren.
***
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa. " Mereka sudah berada di luar gedung, duduk di taman menikmati pemandangan musim gugur.
Sorry. Dasar b*d*h! Tidak bisa mengatakan sorry, huh? ketus Jee dalam hati.
"Kau cukup hilangkan beritanya, bersihkan namaku. Dan aku minta, jangan sebarkan cctv aslinya. " Jee hendak berniat pergi namun tangannya di cekal oleh Ren.
"Why? Bukankah dengan adanya cctv asli namamu jadi bersih? " Jee mengangguk.
"Aku tahu. Cukup aku yang rasakan. Kau cukup adakan klarifikasi maka semua akan selesai. Aku pergi dulu. " Akhirnya Jee pergi meninggalkan Ren yang speechless dengan penuturan Jee.
__ADS_1
Ren menyadari ini kesalahannya, tetapi ia tidak bisa mengucapkan kata maaf. Mengapa? Biarlah nanti saja ia pikirkan untuk meminta maaf.
Yang terpenting ia tahu bahwa itu bukan Jee. Dan ia akan segera mencari keberadaan wanita asing itu.