
Sore ini Eli di kagetkan dengan message yang masuk pada ponsel pintarnya. Hanya satu message singkat namun membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Apa mungkin Jee sudah pulang ke apartemen atau hotel? Ya, yang mengirimkan message itu adalah Jee.
Cafe PPM pukul 17.20 :)
Begitu isi pesan dari Jee kepada Eli. Dan sekaranglah Eli menapakkan kakinya di depan Cafe PPM atau yang sering di sebut Prinzessin Cafe. Salah satu tempat favorit bagi Eli dan Jee.
Mata Eli berkeliling mencari sosok Jee, namun ia tidak menemukannya di lantai bawah. Menaiki lantai dua, finally--menemukan keberadaan Jee yang duduk manis memangku kepalanya dengan wajah frustasi.
"Jee .... " lirih Eli. Menghambur ke arah Jee, menyuguhi dengan pelukan hangat seperti sepasang kekasih yang sudah LDR dua tahun lamanya.
Jee terkekeh, kemarin adegan ambegan, marah-marah, dan sekarang malah merasakan menjadi sosok penting bagi Eli. "Hey? Kau menangis? Cengeng sekali, huh? "
Mengusap kasar air matanya. "Sekarang aku mengerti. Aku yang kekanak-kanakan, Sister. " Jee menggeleng tidak membenarkan ucapan Eli. Usia memang boleh berbeda, tetapi bagi Jee sikap kekanak-kanakan memang harus membumbui kisah persahabatan mereka.
Ada kalanya saat seseorang sedang sakit maka ia akan bersikap lebih manja dan kekanak-kanakan. Seperti yang biasa Eli alami ketika sedang menstruasi. Gadis itu akan bertingkah meminta perhatian lebih dari Jee. Dan Jee tidak mempermasalahkan itu.
"Tidak apa, hanya satu sifat kekanak-kanakan. Bukan selfish berlebihan dengan jangka waktu lama. Jangan bersikap kau seperti adikku. Bersikaplah seperti wanita dewasa dan sahabat gilanya. Oke? " Dan Eli mengangguk patuh.
Selama ini yang terlihat memang Eli yang memiliki sifat dewasa dari pada Jee, tetapi untuk semangat tinggi dalam hidup Jee yang punya.
Mereka melanjutkan perbincangan hingga Eli mengetahui fakta bahwa Aden yang membawa paksa Jee untuk bersamanya. "Lalu? " tanya Eli ketika Jee terhenti menatap wajahnya sembari bercerita.
"Ad-Aden mengajukan sebuah pertanyaan. Yang ... bahkan aku tidak tahu harus menjawab apa. " Eli menautkan kedua alisnya tidak mengerti. "Dia ingin aku mencintainya lagi. "
Seketika itu juga Eli menyemburkan jus yang baru beberapa detik masuk melewati tenggorokannya dan keluar melewati tenggorokannya kembali. Untungnya Jee sempat menghindari serangan mendadak itu. Eli hanya mampu memamerkan gigi putihnya berderet rapi.
Pertemanan mereka memang terbilang masih sangat muda, namun Jee percaya pada Eli hingga menceritakan roda hidupnya selama ini. Siapa yang pernah singgah menjadi cinta pertamanya namun juga menjadi pria pertama yang menyakitinya. Eli tahu semua itu.
"Apa sekarang dia sudah sukses. Ahh, maksudku mungkin dia sudah merasa siap mendampingi kamu, lalu berniat menjemputmu kembali. " Jee sepemikiran dengan Eli, tetapi jika di pikirkan lagi untuk apa? Sedangkan mereka putus sudah terlalu lama, mungkin saja Aden sudah mendapatkan yang lebih baik dari Jee atau bahkan sudah mendapatkan lebih dari satu.
__ADS_1
Memikirkannya saja membuat kepala Jee pusing, mengaduk-ngaduk jus tanpa minat untuk meminumnya membuat pikiran Jee berkelana kembali pada masa lalu.
"Jelaskan saja, aku akan mencoba mengerti dan memahaminya, Ad, " ucap Jee sembari menarik sudut bibirnya.
Mereka saat ini berada di atas rooftop hotel milik ayah Jee. Tepat setelah kepergian ayahnya tiga hari lalu, Aden meminta bertemu dengan Jee di atas rooftop hotel.
Sepertinya pembahasan kali ini sedikit serius, melihat raut wajah datar milik Aden membuat Jee sedikit bingung. Biasanya jika sudah seperti ini ada saja yang harus mengalah untuk sesuatu.
"Aku bingung. Mengatakan ini sungguh sulit dari pada memarahi dirimu yang selalu telat makan. " Terselip kalimat garing membuat Jee terkekeh mencairkan suasana.
"Katakan saja. Aku akan memahami dan mencoba mengerti kemauan kamu, Ad. " Jee memeluk tubuh Aden dari depan. Mendengarkan degup jantung tidak beraturan adalah kegiatan favorit lima lamanya hingga sekarang.
Karakter yang mereka miliki sangat bertolak belakang. Jika ada masalah selalu saja harus ada yang mengalah, mungkin karena cinta Jee yang terlalu besar, apa harus Jee yang selalu mengalah? Buktinya Jee lah orangnya, dia selalu mengalah dalam situasi apapun. Melakukan apapun, berkorban, menyimpan perasaannya sendiri, harus selalu memahami dan mengerti sifat Aden.
Tidak apalah ia menjadi bucin tingkat dewa, toh pria di hadapannya ini adalah pria manis yang menjadi pacar pertama dan cinta pertamanya. Bukankah memang cinta membuat sepasang kekasih buta dan b*d*h karenanya.
Angin behembus sedikit kencang menerpa rambut panjang bergelombang milik Jee hingga membuat rambut itu tersangkut di wajah Aden. Aden yang tingginya melebihi kepala Jee, menumpu kepalanya pada kepala kekasih lima tahunnya itu.
Deg
Seketika itu Jee melepaskan pelukannya , mendorong tubuh Aden sedikit menjauh dari tubuhnya. "Haha, tidak usah bercanda. Aku tahu, Ad kau tidak pandai membuatku tertawa. Tapi jangan gunakan lelucon ini. " Rajuk Jee melangkah menuju sudut rooftop menatap langit malam penuh bintang.
"Apa aku boleh meminta sesuatu? " tanya Aden setelah beberapa menit hening. Bahkan kini lengan kekarnya sudah melingkar di perut rata Jee.
Menatap sebentar tangan kekasihnya yang melingkar itu Jee berkata, "Katakan saja. Bukannya aku selalu menuruti kemauanmu. Aku tidak bisa membedakan mana perintah mana perhatianmu. "
Sangat menohok ucapan Jee, tetapi sayangnya Aden sama sekali tidak terganggu. Ia sudah biasa mendengarkan kalimat itu hingga Jee nantinya akan memberikan apa yang dia mau.
"Selama ini aku tidak pernah melewati batas denganmu. Aku selalu sopan dan menghormati kamu, Jee. Kamu memegang prinsip itu kuat, dan aku mencoba memahami itu. Aku hanya meminta ... kiss me? " Aden memutar tubuh Jee menghadap dirinya. Menunjukkan bibir dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Mata Jee terbelalak kaget, ini memang pertama kalinya Aden meminta ciuman bibir dengannya. Hanya saja, Jee masih menganut prinsip before merried no ****. Maka dari itu selama lima tahun mereka menjalani hubungan sehat wal afiat.
Cium pipi kanan, kiri dan kening sudah cukup bagi kedua pasangan ini. Aden juga dapat menghormati Jee, walau hampir terlewat batas Jee atau Aden tersadar dengan sendirinya di tengah jalan.
"Aku besok akan pergi ke London. Dan ... aku tidak bisa menjanjikan kapan aku pulang. Ini sulit. Mengertilah? Kiss me, maka itu membuat kepergianku tidak begitu berat. "
Menggeleng lemah, perasaannya campur aduk. Jee berlari secepat mungkin meninggalkan Aden, menuruni anak tangga satu persatu. Setelah sampai di depan lift, Jee segera masuk dan menekan tombol lobby.
"Hey? Jangan melamun. Lalu kau menjawab apa? " seru Eli yang penasaran. Sedari tadi ia hanya melihat Jee mengaduk-ngaduk jus tanpa minat untuk meminumnya.
"Aku tidak terlalu ambil pusing. Lupakan saja. Hanya lelucon, " jawab Jee. "Aku ingin makan steak. Kau mau biar ak--"
"Jee? " sapa seseorang. Jee kenal siapa pemilik suara bariton itu. Siapa lagi jika bukan seorang Ren yang menggunakan masker hitam juga pakaian yang di gunakannya berwarna hitam pekat. Dan Jee mengenal dirinya hanya dengan mendengar suara pria menyebalkan ini.
"Kau sudah kembali. Mengapa tidak menghubungiku? " Eli dan Jee saling tatap. Ren lalu manarik kursi di belakangnya lalu duduk di samping Jee.
"Kapan pulang? " tanya Ren sekali lagi. Dan Jee juga Eli saling melemparkan pandangan satu sama lain.
"Memang kita pernah bertukar nomor ponsel? "
Ren menggeleng. "Kita memang tidak bertukar nomor ponsel. Sayangnya aku sudah save di contact-mu saat ponselmu kusita. " Aissh! Benar-benar menyebalkan! Jee menatap dengan jenuh.
"Siapa? " tanya Eli akhirnya membuka suara. Jee tampak acuh mengedikkan bahunya.
"Nona, kau pulanglah. Aku ingin berbicara sebentar pada Jee. " Ren membuka maskernya saat berbicara dengan Eli. Menatap lekat, Eli akhirnya tahu siapa pria ini.
"Jangan mengaturnya. Ini pertemuan kami! " sarkas Jee yang tidak terima. Eli menggeleng seakan-akan menyetujui untuk pulang. Dan benar saja, Eli melambaikan tangannya dan bergegas pergi meninggalkan keduanya.
Terbit simpul yang menarik bibirnya ke atas. "Temanmu sangat baik. " Jee mengalihkan pandangannya. "Aku sempat berpikir kau di culik. Semua orang mencari keberadaanmu. Dan jangan khawatir aku sudah mengirimkan banyak CCTV untuk hotel-mu. Semoga saja staff-mu sudah memasangnya di sekitar parkiran. " jelas Ren panjang lebar.
__ADS_1
"Aku lelah. " Setelah mengatakan kalimat itu Jee pergi begitu saja meninggalkan Ren seorang diri. Tak apalah masih ada hari esok untuk menatap manik mata indah milik Jee.
Dan satu masalah yang membuat pikiran Ren terganggu sudah selesai. Ren membayar semua tagihan milik Jee dan temannya tadi lalu pergi meninggalkan cafe itu dengan perasaan yang sedikit lega melihat Jee sudah pulang dengan selamat.