M?

M?
00.09 Return or Forget? {The man of the past}


__ADS_3

Setelah melihat CCTV, Ren bergegas menyuruh Ernan untuk mengadakan Konferensi Pers. Semua wartawan datang untuk meliput. Dan Ren menjelaskan dengan detail bahwa Jee tidak bersalah, namun hal itu di tentang para wartawan. Jelas saja, bahkan Ren tidak mengatakan kebenarannya, bagaimana orang lain bisa percaya.


Tuduhan demi tuduhan di lontarkan wartawan mengenai Jee. Ren membebaskan Jee karena cantik dan mempunyai body yang cukup bagus. Bukan hanya itu, para wartawan juga mengira bahwa Jee sudah tidur dengan Ren. Yang benar saja!


Tidur dengan Jee? Ren jadi membayangkan bibir ranum Jee. Itu sangat manis rasanya. Sedangkan dengan Angel, biasa-biasa saja. Ren tidak akan melakukan ciuman lagi. Rasanya tidak enak kecuali dengan Jee, maybe?


Untungnya Ren mengatakan akan mencari siapa pelaku yang mencium dan mengambil ponselnya. Ren kesulitan melacak ponselnya, mungkin pelakunya sengaja mematikan agar tidak ada yang tahu keberadaannya.


Para wartawan sudah menyebar luaskan berita--sudah cukup membersihkan nama Jee, walapun masih ada yang membully Jee di akun sosmed. Ahh, ya, untungnya Jee belum membuka akun sosmednya. Dan Ren menepati permintaan Jee untuk tidak menyebarkan CCTV aslinya.


"Sir, Anda tidak mendengarkan saya? " tanya Ernan mencari sesuatu di wajah Ren.


Ernan saat ini menjelaskan tentang Resort yang akan mereka kunjungi dua minggu lagi, tetapi sedari tadi Ren tidak mendengarkan itu.


"Ha-hah? Kenapa? "


"Sir, kita lanjutkan nanti. Sedari tadi pikiran Anda sedang berkelana entah kemana, " jawab Ernan. Dan Ren mengangguk.


Ren berdiri melangkah menuju sofa panjang, menyuruh Ernan untuk duduk dengan kode alis dan dagu mengarah pada sofa kosong. "Ya, kau benar. Pikiran kusedang berkelana. Emmm ... bagaimana jika perusahaan kita memberi lisensi pada Nantta Hotel. Ahh, maksudku pada hotel Jessy? "


Ernan menyunggingkan senyum, "Sudah kutebak. Jadi ... Anda benar-benar ingin bekerjasama dengan Nantta Hotel? "


"Why not? Dari ciuman kusaat itu, aku merasakan bahwa Jee berbeda. " Ernan tampak melotot. Bukankah yang mencium Ren bukan Jee. Lalu? Rahasia apa yang tidak Ernan tahu tentang keduanya?


"Tidak usah melotot seperti itu. Biar kukatakan. Aku menciumnya karena kemarin aku sangat dongkol padanya. Kukira dia yang mengambil ponsel dan merampas ciuman pertamaku. Kau tahu itu kan? " Ernan mengangguk. "jadi kucium dia karena tidak mau mengembalikan ponselku. "


Tidak ada jawaban dari Ernan. "Apa rasanya saat kau berciuman? Apakah manis? Atau mereka mempunyai rasa berbeda-beda? " tanya Ren memberondong Ernan dengan pertanyaan about kiss yang bahkan Ernan sendiri tidak pernah melakukannya! 😂

__ADS_1


"Me-mereka? "


Ren mengangguk. "Ya, mereka. Apakah bibir para wanita berbeda-beda rasanya? Saat aku mencium Jee, rasanya manis. Dan sedikit ... membuatku candu. "


Ernan menelan saliva, membasahi tenggorokannya yang kering. "A-apa merindukannya? "


"Sure. Sepertinya aku tertarik dengan kecantikannya dan bibir ranum Jee. Hanya sebuah ciuman mampu membuat darahku berdesir. "


"Ba-baiklah aku tinggal dulu. Kita lanjutkan nanti. " Ernan keluar ruangan dengan tergesa-gesa. Menurutnya pertanyaan Ren sangat mengganggu akal sehatnya.


***


"Pak, ijinkan saya masuk! " pekik Jee pada penjaga butik.


Sekali lagi Jee menatap keberadaan Eli yang sedang menata gaun atau sedang berbincang-bincang dengan para stafnya lalu ia masuk kembali ke ruangannya. Jee mencoba menghubungi Eli namun hasilnya nihil. Selalu menolak panggilan dari Jee.


Kenapa aku tidak bisa masuk?


Pulanglah! Aku masih ingin sendiri.


Kau tidak sendiri. Kau bekerja, Sista. Ada stafmu.


Ya, maksudku itu. Aku bekerja. Pulanglah. Aku sedang sibuk tidak ingin di ganggu.


Tapi, tapi aku--


Pipp

__ADS_1


Panggilan di putuskan oleh Eli. Menghela nafas gusar, Jee berjalan menuju mobilnya. Ia akan pulang saja untuk beristirahat. Memulihkan pikiran, dan akan mencoba membujuk Eli lagi.


Melajukan kecepatan mobil, Jee memutar lagu sekadar menghibur moodnya. Sesekali ia juga bersenandung mengikuti lirik lagu. Ahhh, Jee lupa. Ia harus mengurus sedikit masalah di hotel. Akhir-akhir ini hotel sudah sedikit membaik.


Dimana para guest sudah mulai meningkat. Rating untuk hotelnya juga sudah membaik. Dan sekali lagi Jee bersyukur untuk hidupnya yang mulai normal seperti biasa.


Jee berharap planning yang sudah lama ia siapkan, tercapai dua bulan lagi. Tabungannya sudah mencukupi, berita tentangnya pun sudah mulai pudar seiringnya waktu. Jee akan membangun hotel dengan hasil jerit payahnya sendiri.


Lalu planning selanjutnya, Jee akan pindah ke negara lain. Kemungkinan ia akan menduduki negara Indonesia setelah 5-6 tahun hotel barunya berkembang.


Mencari salah satu anggota keluarga ibunya yang menetap di sana. Setelah kepergian orang tuanya, Jee sama sekali tidak pernah bertukar kabar lagi dengan adik angkat ibunya. Ya, ibunya mempunyai seorang adik angkat asal Indonesia.


Kabarnya Maya--tante Jee berada di kota Jakarta yang sangat terkenal dengan macetnya. Jee jadi berandai-andai untuk menabung lebih keras, membangun satu hotel lagi di Indonesia.


Usia masih 22 tahun, apa tidak memikirkan untuk menikah? Jawabnya tidak. Karena Jee sadar untuk hal itu. Ia tidak ingin menyalahkan dirinya, membuat hatinya sakit, dan bahkan tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri jika ia benar-benar akan mencintai sosok pria lagi.


Biarlah hidupnya mengalir seperti air yang punya tujuan. Ia akan sukses dulu. Masalah menikah serahkan saja pada Tuhan.


Jee melihat Bugatti car pink terparkir rapi di halaman hotelnya. Bukan pecinta warna pink namun Jee sedikit tertarik dari dulu untuk membeli mobil itu. Ya, walapun ia juga sudah mempunyai BMW sunset orane--kado ulang tahun ke-17 dari Ayah dan Momnya.


Melangkah masuk ke dalam hotel, mencoba menghiraukan Bugatti car. Baru langkah kedua Jee menjauh dari Bugatti itu, mundur perlahan. Jee memperhatikan mobil itu sekali lagi, menatap lekat penuh kekaguman.


Dan pintu kacanya terbuka, Jee terpenjarat yang hampir saja menjatuhkan dirinya. Sekali lagi Jee menatap Bugatti juga pengemudinya yang menggunakan kacamata hitam dan kemeja casual navy.


"Ad ... Aden .... " Jee tergagap mengatakan nama pria di depannya, bukan karena ketampanan dan kemewahan mobil yang ia miliki dan bukan juga karena terkekeh dengan warna pink mobil yang ia naiki.


Tapi pria di depannya memiliki sebuah problem dan meninggalkan jejak di hatinya. Takdir menemukan mereka, dan sekaranglah waktunya.

__ADS_1


__ADS_2