M?

M?
00.10 Return or Forget? {Swallowed up by the earth}


__ADS_3

Sore berganti malam dan malam berganti pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 11.34 dan selama ini juga Jee sudah menghilang entah ke mana. Sebenarnya Eli merasa dirinya sangat kejam tidak memperbolehkan Jee masuk dalam butiknya dan bertemu dirinya.


Siapa di sini yang kekanak-kanakan. Umur mereka hanya beda dua tahun dengan Eli yang masih sangat muda. Eli merasa bahwa ialah yang bersifat seperti anak-anak. Ambegan sampai berhari-hari. Merasa terhibur untuk candaan garing dari Jee, mengingatkan dirinya pada sosok Jee yang amat ceria.


Eli memutuskan untuk menghubungi Jee dan panggilannya sudah terhubung namun tidak di angkat. Dari sore hingga malam, dan pagi ini pun masih tidak ada sama sekali kabar dari Jee. Apa yang sebenarnya terjadi, seakan-akan dirinya hilang di telan bumi dalam sekejap.


Eli memutuskan untuk mengunjungi hotel Jee, mengingat ini masih hari kerja. Kemungkinan ia akan menemukan sosok yang ia rindukan.


"Widya. " Panggil Eli dan wanita yang berseragam serba hitam dengan name tag Widya melangkah menuju Eli.


"Ya, Nona Eli. Ahh, aku akan mengatakan jika Nona mencari Miss Jee. Nona datanglah ke apartement, kemungkinan Miss Jee sedang beristirahat. " Eli mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu akan meneruskan perjalanan menuju apartement milik Dio.


Menyakut pria dingin itu, Eli berusaha untuk mengubah perasaannya. Dua pilihan yang akan di jalani Eli. Berusaha menghilangkan perasaannya atau memendam sampai Dio tahu dan melamar dirinya. Sungguh kasihan, mengaharapkan seseorang pria, tetapi pria itu jelas-jelas tidak mengharap kehadirannya.


Ya, lebih baik berharap besar pada Sang Pencipta. Dari pada berharap pada makhluk ciptaan-Nya.


Eli sudah sampai di kamar 1111, membunyikan bel dan menatap lekat tanda-tanda lewat door viewer. Suasana hati Eli saat ini senang bercampur dengan perasaan kecewa pada dirinya sendiri yang bersifat kekanak-kanakan.


Memainkan jarinya, Eli masih menatap door viewer, seseorang pria yang tidak ia inginkan kehadiran namun menginginkan hatinya. Dio berjalan, membuka knob pintu perlahan tapi pasti.


Menaikkan satu alisnya Dio berkata, "Ada apa? " Mata Eli meneliti sesuatu yang tidak beres terjadi pada Dio. Kantung mata yang terlihat, kemeja putih yang kusut, dasi yang masih terpasang namun arahnya sudah miring tidak jelas. Dan lebih mengagumkan mata adalah Dio yang hanya memakai boxer Avengers.


Segera Eli menutup mata dengan kedua tangannya. "Kau tidak jelas. Pergilah! Jee sedang di luar. " Menutup pintu namun di cegah oleh kaki mungil Eli.


"Ak-aku. Boleh masuk ... ? " Dio tampak berfikir keras dan setelah itu dia menggeleng cepat.


"Tidak. Kita hanya berdua. Kau tahu 'kan? Wanita dan pria tidak boleh tinggal satu atap .... "


Eli merasa aneh pada sikap Dio. Seperti seseorang yang habis mabuk, sangat menguar memenuhi penciuman Eli aroma alkohol. Menoleh sedikit pada sela-sela kaki Dio, Eli menangkap tiga botol minuman berserakan di bawah lantai.


Tanpa di suruh Eli masuk menerobos tubuh kekar Dio. Mata biru itu menyala menandakan ia sedang marah, merasa terusik dengan kedatangan Eli.


Berjalan menuju dapur, membuka lemari pendingin. Eli tidak menemukan sesuatu yang ia pikirkan. "Hey? Keluarlah! "


"Apa tidak ada Kokosnuss? Die Birne? Limette? " tanya Eli beruntun. Entah akan membuat apa.


"Lemari yang di pojok. " Menunjukkan lemari pendingin yang berada di sudut ruangan dengan lemari pendingin yang lebih kecil di sampingnya.


"Hey! Bukan yang it--"


"Kau menyimpan minuman alkohol sebanyak ini? " sela Eli membuka lemari pendingin yang lebih kecil. Berbagai macam merk dengan kadar alkoholnya yang berbeda-beda.


"Buka yang satunya! "


Eli menurut, membuka lemari pendingin yang lebih besar dan menemukan yang ia cari. Hanya Kokosnuss yang tidak ada. Menutup kembali lemari pendingin dan menekan nomor seseorang di ponselnya.


"Bawakan aku dua Kokosnuss, akan kukirim alamatnya. "


Begitu ucapan Eli yang di dengarkan oleh Dio. Melangkah maju mendekati Dio, "Mandilah! Kau masih mabuk. "


"Ya, ya, ya. Terserah kau saja! " Dio masuk ke kamarnya, meninggalkan Eli di kitchen sendirian.


Tidak lama, pesanan Eli sampai. Langsung saja ia mengambil buah lainnya, pelengkap ramuannya. Ramuan yang berisi buah-buahan seperti: pir, air kelapa, dan jerut nipis.


Mengolahnya menjadi minuman, meredakan mabuk. Setelah itu ia akan mencari keberadaan Jee. Ya, Jee di mana wanita itu sekarang. Eli tiba-tiba mengetuk pintu kamar Dio.

__ADS_1


"Ada apa? " Menatap dengan wajah garangnya. Eli jadi menciut.


"Jee? Di-dimana? " Terdengar helaan nafas kasar dari Dio. Dan Dio berjalan menuju kitchen tidak menghiraukan pertanyaan Eli.


Eli dengan polosnya, mengikuti Dio. Mereka duduk di bar. Dan Dio yang melihat ada minuman di atas, langsung saja ia meminumnya dengan cepat. Dan secepat itu pula ia menyemburkan minumannya ke arah depan.


Menuju wastafel Dio mengumpat. "S*it. Minuman apa ini? "


Eli menarik sudut bibirnya tipis, minuman yang ia racik sudah terminum sedikit oleh Dio. Ya, walapun sedikit itu sudah cukup membuatnya senang. "Itu ramuan. Kau akan sembuh beberapa menit lagi. Istirahatlah, " pinta Eli. "Ouh, ya. Aku ingin bertanya di mana Jee saat ini? "


"Di rumah temannya. Memang dia tidak menghubungi? " Dio kembali membaik, tidak sekesal tadi. Berhubung ia sedang membahas tentang Jee. Kesadarannya sedikit membaik dan itu membuat Eli tampak teriris hatinya.


"Temannya? Apa sudah lama perginya? " Dio mengangguk, berjalan mengambil minuman dingin dalam lemari pendingin. Meminumnya, meneguk sedikit demi sedikit.


Eli memperhatikan dengan detail pria pujaannya sedang minum saja terlihat sangat seksi. Tenggorokannya tercekat, seperti sulit mengeluarkan ucapan. Pelan-pelan ia menelan saliva dengan susah payah akhirnya Eli membuka suara. "Bu-bukannya teman Jee ... maksudku dia tidak punya temen baik selain aku dan ... dan kau. Ini terdengar aneh, tetapi tidak mungkin Jee sampai tidak pulang? "


Benar dengan ucapan Eli. Jee hanya mempunyai teman dekat seperti Dio dan Eli. Teman-teman sekolahnya dulu mungkin ada, tetapi Jee tidak pernah main selama ini. Apa karena dia kecewa dengan Eli lalu memutuskan untuk menginap di rumah teman yang lain.


Seketika itu jua Dio meremukkan botol minum, melemparkannya asal ke dinding. "Mengapa aku s*bod*h itu. Aku terlalu gila kerja kemarin sampai-sampai aku pusing lalu aku minum sangat banyak. Ya, Tuhan. " Menyugar rambutnya frustasi. Eli tahu, ramuannya sudah mulai berjalan.


"Bagaimana ji-jika kita mencarinya. Aku takut jika terjadi se--"


"Ya. Tunggu di sini! Aku akan bersiap! " Eli mengangguk senang. Akhirnya salah satu impiannya terwujud. Ia akan satu mobil dengan Dio. Pria panas dan dingin. Astaga membayangkannya saja membuat Eli bergidik ngeri.


***


Dio dan Eli sudah berada di parkiran apartement. Eli masih setia mengekori tanpa beban. Dio berbalik menatap Eli tanpa dosa dan berkata, "Kita mulai dari hotel dan cafe biasa Jee nongkrong. Kau cafe aku akan ke arah hotel. "


"Tapi kau masih mabuk? Bagaimana jika--"


Tetap menjadi angan-angan saja, bermimpi terlalu tinggi untuk naik mobil berdua, ya, hanya berdua dengan Dio. Dan semunya tidak akan bisa terjadi.


***


Cafe, hotel, MRT, dan semua tempat sudah mereka kunjungi. Terutama rumah teman-teman terdekat Jee saat sekolah. Hasilnya nihil. Jee tidak di temukan. Kemana wanita itu?


"Aku sangat pusing. Kau tidak tahu di mana Jee sama sekali?! " sarkas Dio.


Eli menggeleng. "Terakhir kali dia ke butikku. Ta-tapi aku tidak sempat berbicara dengannya. Aku kekanak-kanakan. "


Dio tahu maksud dari kata kekanak-kanakan. Eli dan Jee sedang bertengkar masalah dirinya tentunya. Dio jadi teringat dengan Ren. Bagaimana jika Ren lah yang mengurung Jee di mansionnya. Jika itu terjadi, terkutuklah Ren!


"Pulanglah. Aku tahu kau lelah. " Dio bergegas pergi meninggalkan Eli di cafe sendirian. Melanjutkan pencarian Jee sendiri. Menuju rumah tersangka pertama.


***


Menatap mansion dari celah pagar, Dio mencoba mencari penjaga dan segera meminta untuk masuk. Sayangnya Ren saat ini tidak ada di mansionnya juga di lokasi manggung, tetapi berada di kantornya. Tanpa menunggu lama, Dio bergegas menancapkan gas full menuju Belleza's Group.


Hampir lima belas menit sudah Dio menempuh perjalanan menuju kantor Ren, dan akhirnya ia berdiri menatap tajam ke arah ruangan paling atas. Yang ia pernah pijak--ruangan milik Ren yang terhubung langsung dengan rooftop.


"Bisa bertemu dengan Mr. Ren? " tanya Dio to the point pada resepsionis cantik itu. Tampak terpesona dengan mata biru mengkilap milik Dio, namun dengan cepat resepsionis itu menormalkan kesadarannya.


"Pengacara Clo. Selamat datang kembali di Belleza's Group. Kemungkinan Mr. Ren sedang meeting, tetapi mungkin saya bisa menghubungi sekretarisnya. Tunggu sebentar, Sir, " ucap resepsionis dengan nada lembut selembut kain sutra.


"Sir, Mr. Ren baru saja selesai meeting. Saya sudah sampaikan jika Anda ingin bertemu dengannya. Saya bisa antarkan menu--"

__ADS_1


"Terima kasih. " Dio berjalan dengan angkuh menuju lantai atas ruangan Ren. Resepsionis itu sangat centil padanya. Bahkan Dio tidak menyebutkan ingin bertemu dengan Mr. Ren. Beruntunglah dengan ketampanan Dio saat ini. Semua terasa lebih mudah.


***


"Ada apa? Sepertinya sangat penting? " Ren mengubah posisinya, memutar kursi kejayaannya dan menatap dingin ke arah Dio. Dio tidak kalah dingin menatap seorang Ren.


"Kembalikan Jee! "


"Jee tidak denganku. Ouh, c'mon Bro, aku sedang bekerja. Tidakkah kau melihatnya? "


"Cepat kembalikan Jee. Atau aku akan menuntutmu. Aku terlalu sabar karena kau memenjarakan Jee berhari-hari di mansion-mu. Tapi tidak sekarang! "


"Sudah kukatakan. Aku tidak menyembunyikannya. Aku saja berharap untuk bertemu lagi dengan modus kerjasama. Sayangnya tidak hari ini, maybe besok. " Tawa yang tidak diharapkan Dio keluar keras dari mulut Ren.


"Kau tidak pandai berbohong! " ketus Dio. Menarik kerah baju Ren dengan cepat Dio berkata, "Katakan cepat! Atau aku menghabisimu sekarang! "


"Wait, wait, wait. Kau serius kehilangan Jee? Bagaimana bisa? Lepaskan! " Ren ikut menaikkan nada bicaranya. Ia kira Dio hanya bercanda. "Dimana terakhir kali kau melihat Jee? "


Dio melepaskan cekalannya pada kerah baju Ren. "Jangan memanipulasiku Ba*ing*n! " Ren menggeleng. Setelah itu dia mencoba menghubungi Ernan untuk datang ke ruangannya.


"Sir, ada yang bisa saya bantu? " Ernan datang.


Ren mengangguk. "Cari informasi mengenai Jee. Temukan dia! Kau tanyakan pada pengacara hebat ini. Apa terakhir baju yang Jee gunakan, dan di mana terakhir telihat! " Dio menggertakan gigi, menatap nyalang ke arah Ren. "Aku akan keluar. Laporkan informasi sekecil apapun padaku, Ernan. "


Ren pergi meninggalkan Dio dan Ernan. Ernan yang tidak enak hati lalu menawarkan untuk mengantarkan ke luar namun di tolak mentah-mentah oleh Dio. Sungguh sia-sia niat baiknya.


***


"Ad ... Aden .... " Jee tergagap mengatakan nama pria di depannya, bukan karena ketampanan dan kemewahan mobil yang ia miliki dan bukan juga karena terkekeh dengan warna pink mobil yang ia naiki.


Tapi pria di depannya memiliki sebuah problem dan meninggalkan jejak di hatinya. Takdir menemukan mereka, dan sekaranglah waktunya.


"Ya, aku. Apa kabar? "


Aden adalah mantan terindah sekaligus cinta pertama Jee. Mereka sudah mengenal sejak pertukaran pelajar dan usia mereka hanya terpaut satu tahun.


Pria yang di katakan tidak terlalu tampan juga tidak terlalu famous di sekolah, tetapi lihatlah kondisinya saat ini. Berubah 180° derajat. Membuat Jee sedikit pangling dengan jangka tiga tahun tidak berjumpa.


"Kau sedang apa di sini? " tanyanya pada Jee yang masih speechless dengan kehadiran dirinya. "Masuklah. Kita ke cafe dahulu. Bagaimana? " Entah ini sebuah mantra atau perintah, tetapi Jee mengangguk patuh dan Aden membuka pintu mobilnya. Sangat lembut sifat Aden saat ini.


Jee masuk dan masih terpana dengan kehadiran Aden yang begitu mendadak baginya. Duduk dengan tenang masih menatap Aden yang berada di samping pintunya.


Aden mengeluarkan sapu tangan navy di kantong celananya. "Maafkan aku atas segalanya. "


Setelah mengatakan kalimat keramat itu, Aden menempelkan sapu tangan navy-nya pada mulut Jee. Dan setelahnya Jee tidak sadarkan diri. Aden mengangkat sudut bibirnya puas.


***


Aden selalu saja di ganggu oleh panggilan yang masuk di ponsel Jee. Tertera nama Sista Eli dengan emoticon hati, sedikit membuatnya kesal walaupun tahu bahwa itu nama wanita.


Masih setia menatap pujaan hatinya tertidur pulas akibat obat bius yang berada di sapu tangan. Menyakiti dengan cara salah untuk mendapatkan dengan cara instan tidak masalah 'kan?


Tidak lama panggilan berubah nada dering dan nama yang tertera juga berbeda. Kali ini tertera nama Lawyer Dio dengan emoticon singa dan love berwarna yellow.


Menatap dengan jengkel, Aden membuka ponsel Jee. Dan beruntunglah dia, tahu password masuk ke ponsel itu. Mengetikkan sesuatu pada Dio dan segera menutup ponselnya.

__ADS_1


Aden melangkah naik ranjang king size miliknya, merebahkan diri menghadap Jee. Menumpu kepalanya untuk lebih leluasa menatap wajah cantik ya ia amat rindukan. Tidak lupa untuk ikut memasukkan kedua kakinya ke dalam selimut. Dan tidak lama Aden ikut terlelap di samping Jee.


__ADS_2