M?

M?
00.06 Return or Forget? {Story Background}


__ADS_3

Jee menurut, ia membersihkan semua ruangan yang berada di mansion, kecuali kamar Ren. Kemarin memang hari buruk seorang Jee. Entahlah untuk hari ini.


Jee membuka tirai dan jendela kamar yang ia tempati, tidak lupa untuk memandang dan menikmati musim gugur ini. Musim gugur ini merupakan masa peralihan dari musim panas ke musim dingin. Dalam zona beriklim sedang di bumi, musim gugur merupakan musim panen bagi tanaman-tanaman yang ditanam atau bersemi pada musim semi, dan pepohonan peluruh meluruhkan daun-daunnya.


Mengagumi dedaunan musim gugur yang berwarna-warni sambil berjalan-jalan di hutan adalah aktivitas khas minggu sore di Negara Jee. Di perkotaan, daun-daun ini menyelimuti trotoar, menunggu disapu oleh pegawai kebersihan kota. Minggu sore di musim gugur, membuka ingatan Jee pada kedua orang tuanya. Mereka selalu menghabiskan waktu untuk membangun keharmonisan keluarga.


Bukan hanya itu, Jee dan kedua orang tuanya selalu meluangkan waktu untuk mencari jamur. Ya, jamur. Jika beruntung, bisa menemukan jenis jamur Steinpilze atau Maronen-Röhrling. Walaupun beberapa orang memang merupakan pakar jamur, kedua jenis jamur ini cukup mudah untuk dikenali, sehingga hampir semua orang bisa membedakannya dari jamur beracun.


"Kau sudah bangun. " Suara itu. Jee sangat mengenalnya.


"Ya. Ada apa? Menyuruhku lagi untuk membersihkan mansion? " Jee berbalik badan menatap wajah tenang Ren.


"Wooo ... wooow. Sudah membaik mood-mu? Hey, jangan membuka jendela. Ini musim gugur. " Berjalan ke arah jendela dan menutupnya rapat-rapat.


"B*d*h sekali. Lihat pemanas ruangan sudah aku nyalakan! "


"Kau meremehkan mansion-ku? " Ren mengangkat satu aslinya bertanya.


Jee mengangkat sudut bibirnya tipis, "Tidak. Aku tidak meremehkan, tetapi lebih baik mencegah 'kan? "


"Tetap saja tidak. Tidak ada yang namanya Stoßlüften atau apapun! " Jee hanya bisa pasrah mengangguk. Well, ini bukan apartemen miliknya!


Membuka jendela ketika memanaskan ruangan "Stoßlüften" adalah sebuah konsep Jerman yang tidak ada terjemahan langsungnya. Ini adalah ketika orang membuka jendelanya lebar-lebar selama beberapa menit untuk mengeluarkan udara di apartemennya, walaupun udara di luar sangat dingin dan pemanasnya dinyalakan. Ini dianggap sebagai cara untuk menghindari jamur di rumah-rumah yang lembab. Beberapa orang bahkan melakukannya selama beberapa jam.


"Sarapanlah! Lalu--"


"Membersihkan mansion. Aku tidak mau! Sungguh mansion ini sangat besar, walapun aku tidak membersihkan seluruh ruangan, tetapi aku sudah lelah. Lagipula masih ada maid-mu. Untuk apa mengangurkan mereka? "


Ren menunjuk wajah Jee dengan telunjuknya, "Hey! Ucapan kubelum selesai sudah kau sela dan jawaban sangat panjang sekali! "


"Ya, ya. Well, lanjutkan! "


"Sarapanlah! Kau akan pergi berbelanja dengan Ann. Belilah pakaian juga. "


"Hmm ... baiklah. " Ren mengangguk lalu mendorong Jee keluar kamar untuk sarapan bersama.


"Bagaimana kau suka? " tanya Ren saat mereka berada di meja makan. Jee mengangguk antusias.


"Ini Bratwurst. Aku menyukainya. Dio juga menyukainya. " Ren menautkan kedua alisnya.


"Siapa Dio? " Penasaran? Tentu saja.


"Temanku. Dia sangat manis. Padahal aku tidak menyukai yang manis-manis. " Apa maksud Jee? Ya, maksud Jee sifat Dio sangat manis terhadapnya. Padahal Jee anti dengan pria yang bersifat manis.


Ren mulai memanas, perasaan apa ini? Rasanya ia seperti anak-anak dengan rasa penasaran berlebihan. Jika tidak mendapat jawaban yang tepat, maka sang anak akan selalu menanyakannya.


"Hanya teman? Apakah wanita? " tanya Ren basi-basi menanyakan jenis kelamin. Tentu saja ia tahu, itu adalah nama pria.


"Pria. Dia adalah pria paling manis di muka bumi ini. Setelah ... ayah. Ya, setelah ayah, " jawab Jee ragu-ragu. Padahal ia tahu betul siapa yang paling manis di muka bumi setelah ayahnya.


'Aden'


"Memang kau pernah menjilat ayahmu dan Dio? " Ren terkekeh sendiri. "Ya. Mereka manis. Maybe, kau pernah menjilat mereka. "


Bummm

__ADS_1


Tawa Ren semakin pecah. Humor yang rendahan!


Jee menghentikan aktifitas makannya, meletakkan garpu dan pisau dengan menimbulkan bunyi yang bergesekan dengan piring. Wajah datar itu kembali datang.


Jee berdiri, hendak masuk ke kamar tanpa mengucapkan sepatah dua patah kata, tetapi secepat kilat Ren menarik pergelangan tangan Jee.


Berdiri sejajar dengan Jee, ia berkata, "Kau sensitif jika menyangkut orang tua. Aku tidak tahu ada kejadian apa, tetapi aku sangat tahu. Kini kau menyembunyikan semua itu dalam-dalam. "


Greppp


Dengan cepat Ren menarik Jee dalam dekapannya. Menyembunyikan wajah Jee dibalik dada bidangnya. Ahhh, bukannya itu sangat empuk?


'Aku rindu mereka. Aku rindu kebersamaan kami.'


Setelah beberapa detik Jee baru membalas pelukan Ren. Sangat nyaman jika ia mendapat pelukan dari seseorang. Seakan-akan orang tersebut merasakan penderitaan Jee. Apalagi didekap pria panas.


Ya, pria panas. Jee tersadar langsung mendorong tubuh kekar Ren. "Tidak. Maafkan aku. " Langkahnya semakin cepat memasuki kamar.


Ren menatap lenyapnya sosok Jee di telan lift. Ren melanjutkan sarapannya. Ia sangat suka makanan kesukaan yang ia buat sendiri. Mendapat kepuasaan tersendiri, apalagi mendapatkan pujian dari orang.


***


"Kau sudah siap? " tanya Ren pada Ernan yang saat ini sudah terlihat rapi dengan setelan seperti biasa. Ernan mengangguk. "Baiklah. Kau cari tahu tentang Jessy. "


"Sir, tidak kekantor? " Ren terkekeh.


"Formal sekali, huh? Kita sedang berduaan saja. Kau juga temanku, Bro! " Ren mengingatkan untuk kesekian kalinya.


"Tidak terbiasa. Saya juga sadar siapa saya, Sir. " Dan Ren mengangguk.


"Sepertinya, ketika kau terdesak atau sedang memperingatiku saja menggunakan kalimat tidak formal. Bukan begitu? " Dan itu benar faktanya.


***


Eli menatap nanar ke arah foto yang berada di mading. Itu foto mereka, ya. Foto Jee, Eli juga Dio, pertemuan pertama kali Eli dan Dio. Foto mereka di pajang di cafe Sunrise yang baru buka sekitar 2 tahun lalu. Mereka juga adalah pelanggan pertama cafe Sunrise.


Eli melangkahkan kakinya keluar cafe, berjalan tidak punya tujuan. Saat ini perasaannya sungguh kacau. Setelah kemarin meninggalkan Dio di tengah-tengah kebingungan, ia merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri.


Lari dari tanggung jawab. Dan hari ini, Eli akan menebus kesalahannya. Mengambil benda pipih di tas kecil maroon-nya, ia memencet nomor telepon Dio.


Panggilan pertama berdering namun tidak diangkat. Dan panggilan kedua nomor di luar jangkauan. Eli mendengus kesal, ini salahnya. Biarlah Dio membenci dirinya sama seperti yang lain. Tujuan hidupnya hanya untuk mewarnai dunia dan bukan sekarang waktunya untuk memikirkan pria dingin berhati batu.


Eli hendak melanjutkan langkahnya, tetapi dering ponsel menyadarkannya. Langsung saja ia menerima panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Ada apa? " tanya seseorang di sebrang sana. Dan Eli langsung tersadar, ini suara pangeran dinginnya. Secepat kilat Eli menetralkan degup jantungnya.


"Ya, a-aku hanya ingin minta ma-maaf ... soal kemarin pagi. Kau dimana? Bisakah bertemu? Mencari keberadaan Jee? "


"Aku masih di luar kota. Kemungkinan satu minggu lagi akan pulang. Kau sudah menghubungi Jee? Kemarin aku menghubungi ponselnya, tetapi tidak dia angkat. Dan aku hubungi lagi ternyata sudah tidak aktif. "


"Oh, benarkah. Aku sudah menghubunginya juga dan, ya, memang tidak aktif. Apa tidak bisa pulang cepat. Kau tidak mengkhawatirkan Jee. Lalu dengan--"


"Aku sangat sangat mengkhawatirkannya, tetapi aku punya rencana lain. "


"Lalu dengan dinner kita? " Hening beberapa detik.

__ADS_1


"Kau mengajakku dinner. Tidak mungkin kau lupa 'kan? " tanya Eli mengulangi kalimatnya.


"Aku tidak mengajakmu dinner. Mungkin itu salah satu keusilan Jee. Aku tutup dulu. "


Pipp


Dan panggilan diputuskan sepihak. Lagi-lagi Eli kecewa. Kemarin ia sudah di salah-salahkan perkara Jee. Dan sekarang apa lagi. Eli bahkan sudah membuang rasa malunya untuk menanyakan dinner. Yang benar saja. Siapa yang harus di salahkan?


Eli kecewa terhadap sifat kekanak-kanakan Jee. Mempermainkan hati sahabatnya sendiri! Eli sangat iri terhadap Jee. Jee selalu mendapatkan apa yang dia mau, semua orang menyukai Jee. Apa yang unik dari Jee?


Ia desainer terkenal, mengapa tidak ada yang mau berteman dengan dirinya? Mengapa harus Jee yang mendapatkan perhatian khusus dari Dio? Kenapa Dio sangat dingin padanya? Dan mengapa ia harus menyukai Dio secepat itu dan selama ini.


***


Ting


Satu pesan masuk dari Ernan. Sesuai permintaan Ren, file story background Jee sudah ada di depan matanya. Membuka file dan membacanya dalam hati.


Jessy Nantta Weber, anak semata wayang dari Mr. Qenan seorang tour guide lokal asal Jerman juga pemilik hotel dan travel Nantta. Istrinya bernama Mrs. Baretta, juara pertama chef internasional Jerman yang terkenal dengan Chef Etta.


Kedua orang tua Jee sudah meninggal sejak ia berusia 19 tahun. Dan Jee kembali memegang kendali penuh untuk hotel ayahnya. Dan travel sudah dijual untuk alasan tertentu.


Jee mulai terekspos saat hotel-nya sudah mulai berkembang pesat. Ia mencapai puncak setelah berkecimpung tiga tahun lamanya. Jee juga adalah salah satu siswa Sekolah Menengah Kejuruan dengan jurusan Usaha Perjalanan Wisata.


Saat ini Jee tinggal di apartemen XXX bersama dengan sahabat prianya. Clodio Rafe, seorang pengacara asal Jerman yang merupakan tetangga dan sahabat Jee. Mereka tinggal bersama dalam satu apartemen.


Begitulah file yang berisi story background milik Jee. Lampiran foto masa kecil Jee sampai dengan foto terbaru.


"Waw ... menarik. Clodio Rafe .... " Ren teringat dengan suatu skandal yang menimpa-nya dahulu. Ya, skandal yang menyebabkan dirinya harus mencari pengacara untuk mengurus masalahnya. Sayangnya pengacaranya memegang kuat kejujuran.


***


Ting


Satu pesan masuk dari orang yang baru ia pikiran. Sungguh lucu!


Selamat siang


Apa bisa bertemu, sir?


Sure. Tentukan saja tempatnya.


Baik


***


"Maaf sudah membuatmu menunggu, Sir, " jelas Dio. Mereka saat ini berada di cafe Safron.


"Tidak masalah. Apa yang ingin dibicarakan? " Tampak to the point.


"Mungkin kau sudah mencari tahu informasi mengenai Jessy Nantta. Dan aku ke sini tentu, Anda tahu. "


"Ya, aku tahu, tetapi aku tidak akan mengembalikan Jee. Dia pelakunya. Well, belum pasti karena masih menunggu perbaikan cctv konser. " Ren berdiri hendak keluar cafe.


"Apa ini karena masalah kita? Jangan mengikut campurkan masalah Jee dengan masalah pekerjaan! "

__ADS_1


"Tidak! " Ren kembali melanjutkan langkahnya.


Ia tahu Jee belum pasti pelaku sesungguhnya, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan Jee keluyuran sedangkan berita mulai terekspos di mana-mana.


__ADS_2