M?

M?
00.11 Return or Forget? {This is a dream?}


__ADS_3

Ren sudah memberikan harapan pada masyarakat juga fans setianya untuk mencari pelaku utama yang menciumnya. Mengerahkan anak buah juga terutama mengandalkan Ernan.


Sudah hampir satu minggu, hingga akhirnya Ren mendapatkan kabar baik. Ernan tahu siapa pelakunya. Dan sekaranglah waktunya pertemuan mereka. Saat ini Ren berada di lokasi meet and great dan Ernan menemuinya di backstage pribadi.


"Sir, sesuai janji saya, " ucap Ernan. Ren mempersilakan asisten sekaligus sahabat dekatnya untuk duduk dengan tenang.


Ren mengangguk sebagai kode untuk Ernan memulai penjelasannya. "Sir, saya dan team sudah menemukan sesuatu yang janggal di sini. Saya tidak tahu motifnya untuk mengambil ponsel juga, sorry mencium, Sir. Dia tidak memiliki riwayat sebagai orang terdekat, ataupun teman masa sekolah dengan, Sir. Mrs. Sha atau Marlin Shadia adalah model go internasional pada tahun 2014 sekaligus public figure yang baru berusia 26 tahun. Ini biography-nya, Sir. "


Ren mengamati biography milik Sha. Wanita cantik juga seksi yang adalah seorang model memiliki niat untuk menjatuhkan Ren dengan membuat skandal. Maybe. Ren tampak berpikir sejenak lalu mendapatkan ide cemerlang untuk membalaskan perbuatan wanita itu.


Membisikkan sebuah kalimat juga tugas penting untuk Ernan. Ernan menganguk paham akan tugasnya. "Jangan kau lupakan untuk mencari Jee. Aku juga sudah mengerahkan semua anak buahku. Namun belum ada ini informasi detail. Cctv tidak menangkap area parkiran yang berada di samping kiri. Itu tidak terlihat dan menambah sulit dalam pencarian, " ucap Ren.


Mata Ernan meneliti ketidaknyamanannya Ren saat ini. Karena terlalu banyak masalah yang menimpa membuatnya sedikit berantakan dan tidak se-charming seperti biasanya. "Kau begitu setres beberapa hari ini. Istirahatlah, Sir! "


Menggeleng lemah Ren berkata, "Tidak. Jangan berlebihan, Ernan. Kau tahu? Aku sangat ... bingung. Ya, bingung di mana keberadaan Jee. Jangan katakan aku jatuh hati padanya. Aku hanya tertarik akan pesonanya dan itu membuat sebagian dari diriku penasaran.


Aku menyukai manik matanya ketika menatapku, aku suka bibir ranumnya yang seakan-akan menggoda untuk kukecup habis. Juga lekukan tubuh yang ... membuat diriku di tarik dalam pesonanya. Mereka melambai-lambai padaku, Ernan. "


Ernan paham betul maksud dari bos-nya ini. Ren yang sangat tertarik akan pesona Jee saat ini benar-benar ingin memiliki Jee seutuhnya. "Aku tahu, Sir kau sedang setres beberapa hari ini. Maka dari itu, apa tidak memanggil Angel, Natalie, Sara atau yang lainnya. "


"Aku tidak membutuhkan mereka saat ini. Aku hanya ingin melihat manik mata itu memandangku dengan teduh. Aku menyukainya .... maksudku aku menyukai manik matanya, " ucap Ren menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Ernan menarik sudut bibirnya tipis, melihat dengan jelas ke canggungan yang terjadi saat membahas mengenai Jee. Ernan pamit undur diri dan Ren kembali mempersiapkan diri untuk meet and great-nya di kota berbeda.


***


Eli tidak mau berdiam diri selama ini, sementara Jee di luar sana entah dengan siapa dan apa sudah makan. Jika tidak itu akan membuat masalah lagi dengan lambungnya. Eli berniat mencari Dio di apartement pria itu untuk meneruskan pencarian.


Sudah lebih dari 24 jam, maka Eli akan segera melaporkan kehilangan Jee namun dengan persetujuan Dio. Memandang nanar ke arah kamar 1111, Eli memencet bel dan tidak lama Dio keluar.


"Aku sudah katakan. Istirahat! " ketus Dio frustasi.


"A-aku berniat meminta ... persetujuan. Untuk melaporkan masalah ini pada posisi. " Dia menggeleng pelan, wajahnya pucat. "Why? Ini sudah lebih dari 24 jam? "


"Tidak bisa. Aku hari ini akan ke luar kota, dan aku akan mengerahkan anak buahku. Kau tunggu saja informasi selanjutnya. Mengerti? " Eli mengangguk lemah. Ia tidak bisa menentang keputusan Dio. Pria dingin ini punya rencana dengan jalannya sendiri.


***


Mengucek matanya, menyesuaikan pantulan cahaya yang masuk, Jee mengerjap kagum melihat postur besar tepat di depan matanya. Postur yang berisi foto dirinya dan....


"Pagi, " sapa Aden duduk di ujung ranjang dengan memamerkan deretan gigi putih miliknya. Awalnya Jee sempat speechless dengan yang ia lihat, namun beberapa detik pula memory otaknya bagai di restart.


Jee mengingatnya, mereka bertemu di area hotel Jee. Takdir yang mempermainkan mereka dan Jee tidak suka ini. "Ka-kau? "

__ADS_1


Aden mengangguk dan senyumnya terbit. "Ya, aku. Aku akan buatkan sarapan. Bersihkan badanmu dan pakai saja pakaianku yang kau rasa nyaman. Mengerti? " Ingin mengusap pucuk kepala Jee dengan segera mendapatkan tepisan kasar.


"Tidak usah menyentuhku! Dan untuk apa aku memakan sarapanmu juga memakai pakaianmu. Aku bisa pulang untuk ganti baju ataupun makan. Itu hakku! " Berdiri celingak-celinguk Jee mengambil tasnya yang berada di atas nakas juga ponsel serta jedai yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.


"Tidak bisakah kita berdamai! " Jee menghentikan aktivitasnya yang ingin pergi.


Menatap dengan jengah, Jee berkata, "Wah, wah. Berdamai, yah? Baiklah jika itu maumu. Maka izinkan aku keluar dari tempat terkutukmu ini. " Jee kembali melanjutkan langkahnya dan Aden membiarkan saja tanpa bisa berkata-kata.


Sampai di depan mansion Aden, Jee berbalik badan, matanya berkeliling mansion dari luar. Beberapa detik kemudian Aden datang, berdiri di pintu utama menyenderkan badannya. Dengan gagahnya ia berkata, "Kau yakin ingin pulang. Yang kutahu di sini sangat sulit mencari taksi atau semacamnya. Dan lebih mengerikan lagi, jika kau berjalan sendirian di tengah hutan. "


Hutan? Jee tampak berfikir sejenak. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aden. Pasti pria b*re*gs*k ini mengibuli Jee. Berjalan tanpa menghiraukan ucapan Aden, Menatap pagar tinggi hitam gold yang masih dengan gemboknya.


'Menyebalkan! '


Mengguncang pagar itu tapi nihil, tidak bisa terbuka. Jee memutar tubuhnya mendapati Aden sudah berada di depannya. "Kau mengagetkanku, B*d*h! "


Aden terkekeh dan menarik tubuh mungil Jee dalam gendongnya. Membawa masuk kembali dalam mansionnya tanpa memperdulikan ocehan dan makian dari Jee.


"Lepaskan, b*d*h. Turunkan aku. Lepaskan! " Seketika ide muncul dari otak Jee. Menggigit dengan keras dada bidang Aden, Jee terkekeh sendiri melihat tingkah Aden yang kesakitan dan melepaskan gendongannya.


"Jangan pernah bermain-main lagi denganku. Atau kau merasakan akibatnya! " Aden meringis kesakitan, dadanya membiru kemerah-merahan akibat gadis kecilnya.

__ADS_1


"Sarapanlah, aku tidak berbohong tentang hutan. Mansion ini berada di tengah hutan. Aku akan mengantarkan pulang jika kau menjadi kucing penurut bagiku. " Melangkah ke dalam kitchen, memakai apron dan segera membuatkan sarapan untuk dirinya juga untuk Jee.


'Apa yang pria ini rencanakan! Aku tidak mengerti. Sungguh! Setelah meninggalkan bertahun-tahun lalu datang membawa kasih sayang lagi! Aku terjebak! '


__ADS_2