
Revin telah menghabiskan makanannya, saat dia akan minum. Ternyata airnya sudah habis, sehingga dia berniat akan membelinya kembali.
"Nih!" Anora menenyerahkan gelas minumnya, seketika Revin menatap Anora dengan tidak enak hati.
"Gue beli aja."
"Minum punya gue aja, gak liat antriannya panjang? keburu jadi batu tuh nasi di usus." Cetus Amora.
Melihat antrian yang cukup panjang, membuat Revin terpaksa menerima gelas yang Anora sodorkan. Dia meminumnya hingga habis setengah.
Anora menarik gelas itu dan turut meminumnya, seketika teman-temannya pada melotot ke arahnya begitu pun dengan Reynan dan Adelio. Sedangkan Revin, remaja itu memegangi bibirnya dengan tatapan terkejut.
"Kenapa?" Tanya anora yang bingung ketika mendapat tatalan melotot dari mereka semua.
"Itu ... itu lo sama Revin kesannya kayak ..." Belum selesai olive menjelaskan, tiba-tiba ponsel Revin berdering.
"Halo, iya bun? oh, Dylan udah pulang, Emangnya udah sembuh?"
Mendengar nama Dylan di sebut, membuat tatapan kaget beralih menatap Revin. Termasuk Anora yang langsung menatap Revin dengan serius.
"Oh oke deh bun kalau misal dia udah mau pulang, terima kasih hun." Revin mematikan ponselnya, dia menaruh ponsel nya itu ke atas meja dan barulah dia menatap mereka semua.
"Kenapa? liatinnya gitu amat " Celetuk Regin.
"Dylan? dia Dylan anak baru itu?" Tanya Reynan dengan serius.
"Iya." Sahut Revin santai.
"dia ngapain ke rumah lo?" Tanya Reynnan dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
Revin menceritakannya dengan detail, Reynan menyerah cerita Revin dengan berbagai pemikiran.
"Revin! lo gak bisa seenaknya bawa orang ke rumah! gimana kalau Dylan ternyata punya niat jahat sama keluarga kita?!" Sentak Reynan, dia begitu khawatir dengan keselamatan keluarga Greyson.
__ADS_1
"Gimana dia mau nyelekaian keluarga gue, orang dia pingsan sampe 2 hari kok." Bantah Revin.
"Lo tuh kalau ngelakuin apa-apa di pikir dulu dampaknya!! Lo gak tahu seperti apa Dylan!" Marah Reynan sampai-sampai dia bangkit dari duduknya.
Revin menatap aneh Reynan, dia turut berdiri seperti Reynan. Suasana semakin tegang, seisi kantin menatap ke arah mereka.
"Gak usah lebay deh nan! kalau semua orang lo anggep jahat, lo gak bakalan punya temen! lagian, Dylan butuh bantuan, orang sekarat masa lo anggurin gitu aja! gue punya hati! gak kayak lo." Selesai mengatakan itu, Revin pergi begitu saja dengan emosi yang menggebu.
Reyna. terduduk kembali dengan hati yang kesal, Adelio menepuk bahu Reynan pelan untuk menangkan emosi temannya itu.
Anora segera pergi mengikuti Revin, dia harus memastikan apaa yang Revin katakan tadi. Jika benar, Anora khawatir tujuan nya akan hancur.
"Revin." Panggil Anora saat dirinya mendapati Revin sedang berada di taman sekolah dan sedang duduk di bawah pohon.
Revin hanya melirik sekilas, dia beralih menatap lurus ke depan. Tanpa perintah, Anora duduk di samping Revin, dan turut melihat hamparan rumput.
"Gue gak salahin lo, tapi apa yang Reynan katakan benar. Gak semua orang sebaik lo, mereka punya niat jahat dan rencana sendiri. Dunia itu keras, lo gak bisa terima orang lain begitu aja di rumah lo. Tanpa tau asal usul yang jelas." Nasehat Anora tidak membuat Revin berbicara.
"Reynan sepupu lo, dia khawatir dengan keselamatan lo." Lanjut Anora.
Anora menatap Revin dengan seksama, benar apa yang di katakan abangnya. Keluarga Revin berhasil menghilagkan memori masa kecilnya. Keluarga Gresyon mendidik Revin dengan cara yang baik, hingga anak itu tidak mengenal namanya bentuk kejahatan di balik seseorang yang terlihat baik.
"Suatu saat lo bakalan mengerti maksud dari Reynan, kita gak bisa selalu menganggap semua orang baik Rev."
"Kakek gue pernah ngomong, kalau orang jahat akan senang berteman dengan orang baik. Karena orang baik akan selalu menganggap semua orang itu baik. Sehingga orang jahat, akan mudah menghancurkan orang baik."
Revin hanya menyunggingkan senyumnya, dia tak menatap Anora yang kini tengah menatapnya dengan serius.
"Jika di dunia ini, orang baik akan berteman dengan orang baik. Dan orang jahat akan berteman dengan orang jahat. Lalu, siapa yang akan menyadarkan orang jahat?" Barulah kali ini Revin melirik Anora, perkataan Revin membuat Anora menelan balik kata-katanya.
"Termasuk lo, gue gak tau sebenarnya lo orang baik atau bukan. Tapi yang jelas, di mata gue lo orang itu baik. Satu hal yang harus lo tahu, sejahat apapun orang terhadap gue. Gue paling benci pengkhianatan."
Revin bangkit dari duduknya, dia menepuk belakang celananya yang kotor akibat tanah. Dia menoleh ke belakang, menatap Anora yang terbengong dengan pemikirannya.
__ADS_1
"Ayo, sebentar lagi masuk kelas." Ajak Revin.
Revin berjalan lebih dulu, meninggalkan Anora yang entah mengapa merasa jika Revin bukanlah orang yang tepat untuk dia bodohi.
"Benar kata abang, jangan tertipu dengan sikap Revin. Bisa jadi dia sama seperti pemimpin Araster sebelumnya, siapa yang sangka jika orang yang humoris bisa menjadi buas dalam sekejap." Batin Anora.
Mereka pun akhirnya masuk kelas, Revin mencueki Reynan. Dia masih kesal dengan sikap Reynan tadi, yang menurutnya terlaku mengekangnya.
"Oke anak-anak, ibu guru ada pengumuman penting. Pekan depan kita akan mengadakan perkemahan sebagai perayaan liburan setelah ujian. Jadi di mohon untuk kalian ahar segera mendaftarkan diri kalian."
Banyak murid berteriak heboh, akhirnya mereka akan mengadakan perkemahan yang sebelumnya tidak pernah di lakukan di sekolah.
"Yes! kita kemah woy!!" Seru Jingga memeluk Aileen. Aileen pun hanya bisa pasrah di peluk oleh sahabatnya seperti itu.
"Kemah kemana buk!!" Seru salah satu murdi kelas itu.
"Oh iya, hampir saja lupa. Kita akan kemah ke hutan Green Area! Menarik bukan!!" Seru guru itu dengan netra berbinar.
Murid murid tidak lagi heboh, mereka jutsru berisik-bisik mengenai hutan itu. Konon katanya hutan itu merupakan hutan yang jarang sekali di kunjungi, banyak dari warga yang berkunjung ke sana. Namun sayangnya, mereka pulang tinggallah nama. Tapi sekarang, hutan itu justru menjadi tempat kemah, dan sudah banyak sekolah yang berkemah di sana.
"Baik anak-anak, waktunya pulang sekolah. Terima kasih dan selamat sore."
"Selamat sore buu!!" Seru semua murid.
Pulang sekolah, Revin langsung pulang dengan keadaan hati yang baik. Akhirnya dia bisa merasakan kemah bersama sekolah, dia tidak sabar ingin memberitahukannya pada sang daddy.
Berbalik dengan Revin, Reynan jutsru merasa khawatir. Hutan adalah tempat terbuka, dimana musuh dari segala arah bisa menyerang mereka dengan mudah.
Reynan buru-buru pulang, sepertinya dia akan pulang ke kediaman Greyson untuk bertemu Marcel. Dia akan membicarakan soal Altezza dan juga rencana sekolah. Dia tidak mau Revin dalam bahaya jika sampai musuh mengincarnya.
.
.
__ADS_1
.
.