Mafia Descendant

Mafia Descendant
Tidak di izinkan, ngambek sajalah


__ADS_3

ENGGAK! POKOKNYA DADDY TIDAK IZININ KAMU KEMAH!!"


"Daddy!"


Sepulang sekolah, Revin langsung saja membicarakan tentang Kemah yang di adakan oleh sekolah. Dengan pedenya dia meminta izin oleh Gilbert, dirinya tak menyangka jika Gilbert memberi izin padanya.


"Daddy gak mau ambil resiko, pokoknya kamu di rumah!"


"Daddy! Rev kan cuman mau ...."


"Tidak ada bantahan!!" Marah Gilbert dan berlalu pergi dari hadapan putranya.


Revin mencak-mencak sebal, dia memberengut kesal. Impiannya hancur seketika, bayangan pergi berkemah seperti di sinema yang dia tonton hancur sudah.


"Bunda." Rengek Revin pada Emily yang duduk di sofa ruang tengah.


"Bunda gak ikut-ikutan, kamu bujuk daddy mu sendiri." Balas Emily dengan santai.


Revin yang kesal pun pergi ke kamarnya, Gilbert yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku putranya.


"Anak kamu yang."


"Anak aku doang? kan bikinnya berdua!" Ketus Emily membuat Gilbert menggaruk tengkuk lehernya.


"Emang dasar laki-laki cuman mau enaknya aja!" Emily beranjak pergi dengan perasaan yang kesal.


Sementara di kamar, Revin tengah mencak-mencak kesal. Dia sangat ingin ikut, dia tengah memikirkan cara bagaimana bisa di izinkan.


"Oke! gue mau mogok makan, ngomong, keluar! pokonya gue mau di kamar terus! Ya! pokonya gue gak bakalan mau kelua!!" Yakin Revin.


Malam pun tiba, tak ada tanda-tanda Revib akan keluar. Gilbert tengah berada di halaman belakang, kepalanya cukup pusing karena belakangan ini kantornya sedang mengalami masalah akibat karyawan yang melakukan korupsi. Gilbert harus mencari dalang dari semuanya hingga membuat dirinya sedikit stres.


KArena kepalanya pusing, dia mengisap rokoknya. Dia memang bukan perokok, tapi sesekali dia akan menghisapnya di kala dirinya tengah banyak pikiran.


(Jangan di tiru kawan, rokok gak bagus😌)


Saat asik menghisap rokoknya, tiba-tiba Cila datang dengan memegang botol susunya. Sebenarnya sudah waktunya dia tidur, tapi entah mengapa bocah gembul menggemaskan itu justru berkeliling mencari daddynya.


"Daddy ngelokok?" Tanya Cila.


Sontak Gilbert terkejut, buru-buru dia menoleh ke belakang Cila khawatir Emily menghampirinya. Bisa-bisa dia di suruh tidur di luar kalau ketahuan.


"Syutt jangan keras-keras bilangnya, nanti bundamu dengar." Panik Gilbert.


Cila mengerlingkan matanya, satu bibirnya terangkat ketika otaknya merencanakan sesuatu.


"BUNA!! DADDY ...."


Gilbert menyodorkan uang lima puluh ribu pada Cila, hingga membuat Cila diam seketika.


"Nanti buna malah kalau daddy ...."


Gilbert kembali memberikan uangnya, tapi Cola rasa itu belum cukup.


"Daddy ngelokokna di lual aja, nanti buna da ..."


Gilbert memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Cola, seketika mata anak itu berbinar dan menatap Gilbert dengan semangat.


"Ngelokokna janan lama-lama yah, buna lagi tidul. Buluan yah." Ujar Cila sambil tersenyum lebar.


Cila berbalik pergi sambil menatap beberapa lembaran uang di tangannya.


"Bica buat beli cempol becok." Senang CIla.


Gilbert menghela nafas lega, dia kembali menyelipkan beda panjang itu di bibirnya. Saat dia akan membakarnya, tiba-tiba saja telinganya di tarik.


"AAA!! sakit! sakit!"


"Bagus yah! ngerokok lagi! kamu berharap banget aku jadi janda yah!!" Pekik Emily yang memergoki suaminya merokok.


Gilbert meringis ketika telinganya di tarik, dia mengusap telinga nya yang memerah setelah sang istri melepasnya.


"Perasaan tadi Cila udah di buat tutup mulut deh." Gumam Gilbert.


Tatapan Gilbert beralih pada pintu, seketika netranya membulat sempurna saat menyadari ada yang terlupa olehnya.


"Lupa kalau anak ku kembar." Batin Gilbert sambil memasang ekspresi frustasi.


.


.


.


.


Revin benar-benar tidak keluar kamar dari kemarin, Emily Khawatir dengan putranya itu. Sedari tadi dia membujuk Revin lewat depan pintu.


"Rev, ayo dong bang. Makan yuk, Semalem udah gak makan. Nanti abang sakit, gimana?"


Tok! Tok! Tok!


"Rev."

__ADS_1


"REVIN GAK MAU KELUAR, GAK MAU MAKAN JUGA SAMPAI DADDY IZININ REV KEMAH!!"


Emily menghela nafas pelan, netranya menatap Gilbert yang berjalan menghampirinya.


"Belum mau keluar juga?" Tanya Gilbert.


Emily menggeleng lesu, tubuhnya sedikit bergeser ketika Gilbert akan mengetuk nya.


"Rev ayo keluar, kita bicarakan lagi yuk." Ajak Gilbert.


Hening, tak ada sahutan dari Revin.


"Kalau Rev sakit gimana? pokoknya salah kamu!!" Seru Emily tak terima.


Gilbert bukan tak mengizinkan, hanya saja rasa khawatir nya lebih besar. Sejak kecil, Revin tidak pernah dia lepas. Apalagi kemah, harus menginap di hutan. Bagaimana jika anaknya di lukai hewan buas? atau tersesat?


"Yang, hutan itu luas. Kalau dia kenapa-napa gimana?"


"Kan hutannya di batesin! lagian Revin udah besar, izinin dia akan Reynan juga bakalan ikut dan jaga dia kok!" Emily ikut membujuk suaminya itu.


Dengan berat hati, Gilbert terpaksa mengiyakan. Benar juga kata istrinya, Revin bersama dengan Reynan. Mungkin dia akan mengirim beberapa anak buahnya untuk memantau keadaan Revin.


"Revin, keluar sekarang atau daddy berubah pikiran untuk mengizinkan mu mengikuti kemah itu?"


BRUGH!


TAP! TAP!


Cklek!!


HAP!!


Revin menloncat ke gendongannya Gilbert, hingga membuat kedua orang tuanya terkejut dengan tingkahnya.


"MMMWAAAHH!! I LOVE YOU DADDY!!" Seru Revin setelah mengecup pipi daddynya.


Revin turun dari gendongan Gilbert dan kembali masuk ke dalam kamar, dia harus segera mandi agar bisa berangkat ke sekolah.


"Yaaangg!!" Rengek Gilbert sambil mengusap pipinya yang habis di cium oleh putranya sendiri.


Emily terkekeh di buatnya, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku keduanya yang sangat mirip.


.


.


.


.


Brum!!


BRUUMM!!


Sesekali Reynan melihat ke belakang, ternyata dia bukan di ikuti oleh satu mobil. Melainkan tiga mobil sekaligus.


Reynan menghentikan motornya dan memutar nya hingga dia berhadapan dengan tiga mobil itu.


Reynan menantang mereka dengan suara motornya, hingga dia kembali menarik gas motornya sambil melakukan atraksi dengan menjalankan motornya dengan satu roda belakang.


Brumm!!


Motor Reynan kembali ke posisi semula setelah berhasil melewati ketiganya. Dengan cepat Reynan kembali menarik gas motornya dan menghilang dari jangkuan mereka.


Tiga mobil itu terhenti, orang yang mengendarai mobilnya sempat melirik ke spion untuk memastikan apakah Reynan masih berada di dekat mereka. Nyatanya Reynan sudah menghilang dari pandangan mereka.


"Maaf king, kami gagal menangkapnya. Dia berhasil lolos." Adunya pada seseorang yang terhubung pada alat komunikasi mereka yang tertempel di telinga.


Reynan berhasil mengelabui mereka, dia memasuki gerbang mansion Greyson dan memarkirkan motornya di depan teras pintu utama.


"Ngapain lo?"


Reynan menatap Revin yang menatap judes ke arahnya. Dengan santainya Reynan berjalan melewati Revin begitu saja membuat Revin melongo seketika.


"What? gue di lewatin gitu aja? gak di bujuk gitu? gue kan lagi marah." Gerutu Revin.


Revin memutuskan untuk ke sekolah sendiri, dengan mengendarai motor kesayangannya.


Saat asik mengendari motornya dengan santai, netra Revin menyipit saat melihat Anora yang sedang berkacak pinggang sambil melihat mobilnya.


Revin memutuskan untum berhenti, dia melihat jika ban mobil Anora sedang kempes. Mendengar suara motor, Anora menoleh ke belakang.


"Kenapa mobilnya, kempes?" Tanya Revin, padahal dirinya sudah tahu.


"Iya." Jawab Anora singkat, doa sudah sedang datang bulan dan malah ada kejadian yang membuat moodnya rusak.


"Kawan lo pada kemana?" Tanya Revin ketika tidak melihat teman Anora di sana.


"Udah berangkat duluan ." Sahut Anora dengan kesal.


Revin turun dari motornya, dia mengecek keadaan mobil Anora. Berhubung dia tidak pandai mengganti ban mobil, Revin pun menelpon orang bengkel untuk menyusul mobil Anora.


"Gue udah nelpon orang bengkel, mereka akan benerin mobil lo. Tenang aja."

__ADS_1


"Masalahnya, sekarang gue udah telat!!" Geram Anora.


"Kalau bisa terbang, gue lebih milih terbang dari lada ngeliatin ban mobil bocor!" Gerutunya.


Revin menggaruk tengkuknya, apakah ada yang salah dari perkataan nya? mengapa perempuan itu sangat sensi.


"Berangkat sama gue mau?" Tawar Revin, namun ketika melihat Anora yang menatap datar padanya membuat Revin seketika meralat ucapannya.


"Oh eh ... gue gue pesenin taksi oke." Ujar Revin dan mulai mengecek ponselnya.


Saat Revin sibuk memainkan ponselnya, tiba-tiba dia mendegar suara deru mesin kotornya. Dia mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya dia melihat Anora yang sudah baik di atas motornya dengan helm yang sudah cantik menghiasi kepalanya.


"Kenapa bengong? ayo berangkat!" Ajak Anora.


Dengan masih antara sadar dan tidak sadar, Revin naik ke motornya. Dia merasa ada yang salah, tapi belum menyadarinya.


"Pegangan, gue mau ngebut!" Titah Amora sebelum ia menutup kaca helmnya.


Dengan ragu, Revin memegang tas Anora dengan erat.


BRRRUMM!!


"EH ANAK S3T4N!! GUE MASIH BELUM MAU METONG!! KALAU LO MAU DEAD, SONO SENDIRI!! JANGAN AJAK GUEEEE!!!"


.


.


.


.


Hari ini Gilbert meliburkan dirinya, entah mengapa dia malas ke kantor. Kepalanya sedang pusing dan ingin beristirahat di rumah. Alias bersantai sambil bermanja ria dengan sang istri.


"Mas, aku gerah lo! dari tadi di peluk terus!" Kesal Emily.


Bahkan keduanya berbaring di kasur dengan Gilbert yang tak memakai baju.


"Aku kangeeeenn!!" Rengek Gilbert membuat Emily seketika memutar malas bola matanya.


BRAK!!!


"DADDY!! DADDY!!"


Cila dan Cela masuk dengan raut wajah panik, Gilbert dan Emily yang melihat mereka sontak menjadi ikutan panik.


"Ada apa?!" Panik Gilbert dan segera bangkit dari kemagerannya.


"Itu, di depan ada bapak-bapak cali daddy."


"Iya! dia mau ketemu daddy!"


"Siapa?" Tanya Gilbert menanggapi ucapan kedua putrinya.


"Enggak tahu namana, olangna galak! cakit kali ku laca!" Pekik Cila.


"Iya, dia malah-malah!" Heboh Cela.


Gilbert buru-buru berjalan ke arah lemari, dia menarik asal kaosnya untuk segera memakainya.


"Cepetan daddy!! mau macuk lumah dia!!" Sentak Cila.


"Sabar dulu nak! daddy pake baju dulu!" Panik Gilbert.


Setelah memakai baju, Gilbert segera keluar menemui orang yang putrinya maksud. Selepas kepergian daddy mereka, keduanya tak segera beranjak. Mereka mengambil ponsel Gilbert dan memainkannya.


Emily mengelus sayang rambut pendek Cila, poni putrinya hampir menutupi kedua mata nya. Sepertinya Emily harus segera memotong poni putrinya itu.


Cklek!


Gilbert kembali dengan wajah tertekuk kesal dan terkesan datar, setelah dia kembali menutup pintu kamarnya Emily segera bertanya mengenai siapa yang suaminya temui.


"Siapa mas? dia cari kamu buat apa?"


CIla dan Cela mencuri pandang pada Gilbert yang menatap mereka datar.


"Noh, anak kamu. Beli sempol belum bayar, jelas marah lah penjualnya!"


Cila dan Cela berlari ke pojok kamar, mereka menghadap tembok untuk menghindari tatapan maut sang daddy.


"Sempol? HAHAHA!!? Terus kamu bayar gak?"


"Bayar lah! malu banget aku yang, di ketawain bodyguard." Rengek Gilbert.


"Aku jual aja lah mereka, aku tuker tambah sama yang baru." Omel Gilbert melirik tajam keduanya yang sempat memutar kepala mereka untuk meliriknya.


"Minta di sunat lagi nih suami!" Kesal Emily tak terima anaknya akan di jual.


____


panjang gak? apa kurang panjang🤭🤭🤭 1600 kata nih.


Aku lagi buat ekstra part buat cinta yang belum usai, hampir selesai di tunggu yah🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2