Mafia Descendant

Mafia Descendant
Akhir dari Yamamura


__ADS_3


"Prince, pasukan sudah siap. Jet sudah menunggu anda." Ujar ketua Mafioso pada Revin yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Revin tersenyum tipis, dia berdiri dan menatap anak buahnya itu dengan datar.


"Hari ini, adalah hari yang kita tunggu. Kehancuran Yamamura sudah di depan mata, aku tidak ingin terjadi kesalahan apapun saat peperangan nanti. Strategi yang kita susun tidak boleh salah," ujar Revin.


Revin berjalan keluar mansion, seketika Mafioso yang berjejer segera menundukkan kepalanya. Revin menaiki jet di ikuti oleh Reynan yang baru tiba.



Di sana, bukan hanya Reynan. Sello, Galen serta Dino turut memakai seragam lengkap Araster. Hal itu tentu membuat Revin sontak menghentikan langkahnya dan berbalik menatap mereka.


"Kami disini ingin membantumu, anggap saja sebagai balas budi." Ujar Sello menatap tatapan datar Revin.


"Gue gak butuh balasan lo." Jawab Revin dengan cuek.


"Bukan hanya balas budi, tapi tujuan kita yang sama. Tujuan kita menghancurkan Yamamura, memusnahkan kejahatan di bumi." Sambung Galen.


Revin menatap Sello, temannya itu maju melangkah mendekati Revin.


"Terima kasih atas apa yang udah lo lakuin ke adek gue, berkat lo. Gue tahu kalau adek gue ternyata masih hidup, terima kasih sudah membantu gue membebaskan dia." Sello bahkan sampai berkaca-kaca menatap Revin.


Sello memundurkan langkahnya, kembali berdiri sejajar dengan ketiga temannya. Sello mengangkat tangannya, memberi hormat pada Revin.


"Mari berjuang bersama King."


Akhirnya Revin bersama empat temannya berangkat menuju pulau yang saat ini Yamamura tempati. Kedatangan Revin serta seluruh anggota mafioso lainnya telah di ketahui Yamamura. Tentu pria tua itu bersiap menerima serangan Revin.


Yamamyra berdiri tepat di tengah pintu utama, dia menanti kedatangan Revin serta yang lainnya. Anak buahnya bersiap menyerang, kapal perang yang dia panggil pun sudah datang.


Pertempuran akan segera di mulai ...


"MEREKA DATANG!!!" Teriak seorang anggota yang di tugaskan memantau kedatangan pihak penyerang dari atas mansion.


Yamamura tersenyum tipis, dia masuk kembali ke dalam mansion. Membiarkan para anggotanya menyerang Araster.


Jet Araster menembaki kapal perang, beberapa dari kapal perang itu meledak karena di jatuhi bom.


DUAARR!!!


BOOMM!!


Jet Revin mendarat tepat di tengah-tengah kericuhan, dia langsung turun dari sana dan berlari masuk mencari Yamamura.


DOR!!


Revin, dia mendapati salah satu anak buah Yamamura menodongkan senjata padanya. Revin tentu waspada, dia menendang senjata itu dan balik menembaknya.


DOR!!


Pelajaran yang Galang berikan, dia gunakan saat ini. Gerakan khusus yang Galang ajarkan, sangat berguna untuknya.


Revin menembakkan senjatanya ke seluruh sudut mansion, anak buah Yamamura seketika tumbang. Revin akan menaiki tangga, tetapi dia melihat Altezza yang berlari ke arah sebuah kamar.


Tanpa berpikir panjang, Revin mempercepat larinya. DIa menyusul Altezza memasuki sebuah kamar.


Brak!!


Revin langsung menodongkan pistolnya ke arah Altezza, tetapi wajah datarnya berubah saat melihat Altezza yang sedang memindahkan seorang wanita paruh baya ke kursi roda.


"Re-revin." Kaget Altezza.


Altezza menatap ibunya yang tertidur setelah dia berikan obat tidur, Altezza berniat membawa lari ibunya di tengah kerusuhan yang terjadi.


"Re-revin, lo boleh bu-bunuh gu-gue setelah ini. Tapi gue mohon, biarin gue selamatin nyokap gue dulu sebelum bokap gue kembali. Gue mohon, gue bawa dia pergi dulu. Setelah ini terserah apa yang mau lo lakuin ke gue." Bahkan Altezza sampai bersimpuh di depan Revin.


Revin hanya menatap Altezza dengan tatapan datar, sampai Galen masuk dan menodongkan senjatanya pada Altezza.


"Mana bokap lo hah?!" Sentak Galen bersiap menarik pelatuk nya.


Altezza memejamkan matanya, dia tak mengelak sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. yang dia harapkan, hanyalah keselamatan ibunya.


"Sebelum lo tembak gue, selamatin dulu nyokap gue. Selama belasan tahun dia di sekap, bakan dia mengalami gangguan jiwa karena bokap gue. gue melakukan semua itu karena ancamannya, dia mengancam akan menyakiti ibu gue. Dia segalanya buat gue Rev, gue gak bisa tanpa ibu gue hiks ... gue gak bisa hiks ...,"


Altezza mendongakkan kepalanya, menatap Revin yang juga tengah menatapnya.


"Kalian gak bakal ngerti rasanya jadi gue! kalian gak bakal ngerti betapa berharganya seorang ibu. Yang kalian tahu hanyalah dendam kalian pada bokap gue tanpa tahu berapa korban yang dia buat. Gue gak ada di pihak bokap gue, semuanya gue lakuin demi nyokap. KAlau dia celaka, gue bakalan kehilangan dunia gue Revin." Altezza menangis, memohon pada Revin agar dirinya di beri jeda waktu untuk menyelamatkan ibunya.


"Biarkan dia." Uhar Revin membuat Galen tentu saja tidak terima.


"Tapi Rev, dia ...,"


"Bawa ibu lo pergi, di depan ada jet dengan lambang Araster. Berikan ini pada mereka." Revin menyerahkan dasinya, Altezza menatap tak percaya dengan apa yang ia terima.

__ADS_1


Revin mengedipkan katanya, dia berbalik dan merangkul Galen pergi dari sana. Altezza menatap kepergian Revin dengan raut wajah yang masih syok


Revin memasuki tiap kamar, tetapi dia tak menemukan dimana Yamamura. Hingga dirinya tiba di sebuah kamar yang cukup aneh, perasaannya berdebar tak karuan.


Cklek!!


Bola mata Revin hampir keluar dari tempatnya, di sana diam melihat Samantha yang tergeletak di kasur dengan bersimbah darah. Seketika Revin mendekat dan menatap oma nya itu dengan perasaan yang kacau.


"O-oma." Lirih Revin.


Puk!


Reynan yang menyusul Revij sama halnya seperti sepupunya itu, dia di buat terkejut lantaran melihat keadaan Samantha.


"Oma!!" Pekik Reynan.


Reynan segera mengecek nadi Samantha, tetapi nadinya tak lagi berdetak. Bahkan nafasnya pun sudah tiada, seketika tubuh Reynan kemas.


"Oma udah gak ada." Lirih Reynan.


Revin mengepalkan tangannya, tatapannya penuh dengan sorot kemarahan yang menggebu.


"YAMAMURAAAA!!!"


BRAK!!!


Revin sampai di lantai paling atas mansion, terpaan angin seketika menghembus ke arahnya. Dia menatap Yamamura yang berdiri di ujung bangunan sambil membelakanginya.


"Akhirnya kita bertemu, penerus Araster. Cukup aku banggakan tekadmu untuk menyerang ku."


Revin maju melangkah, dia tak waspada saat Yamamura memberikan kode pada anggotanya.


SREETT!!


Tiba-tiba bunyi baling helikopter menerpa pendengaran Revin, Helikopter itu naik ke atas dan kini berhadapan dengan Revin. Ada lima helikopter, dengan masing-masing pasukan yang tengah bersiap menembaki Revin.


"Licik." Gumam Revin ketika netranya beralih menatap ke belakang dimana pintu berada yang kini sudah tertutup.


Yamamura menatap Revin dengan seringai di bibirnya, dengan angkuh dia maju melangkah. Karena dirinya tahu Revin tak akan menembaknya dengan pasukannya yang begitu banyak.


"Kamu sama pamanmu sama sama ceroboh, kalian tidak pantas memegang mafia Araster. Mafia Araster hanya cocok di pimpin olehku saja," ujar Yamamura.


"Kamu tahu, aku sangat membenci kakekmu. Mungkin dia belum jujur padamu, jika sebenarnya kami ini sedarah. Ayah kami sama, karena dia dan ibunya. Aku dan ibuku menderita. Ibunya yang sebagai pelakor, membuat hidup ibuku hancur."


"Aku membenci semua wanita selain ibuku, karena semua wanita tak jauh berbeda. Mereka hanya ingin kebahagiaan diri mereka sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Bahkan, ibu Marcel tak perduli saat itu jika ibuku tengah mengandung adikku. Dengan kej4mnya dia bermesaraan dengan ayahku di depan ibuku."


Revin mengepalkan tangannya, dia mengangkat senjatanya bersiap akan menembak Yamamura.


"Hei hei, sebelum kamu menembakku. Mereka akan menembakmu lebih dulu. Bersabarlah, nikmati cuaca cerah hari ini dulu." Seru Yamamura.


"Oh, kenapa? tidak mau? yasudah, hei kalian! tembak dia! Sepertinya dia tidak sabar menyusul paman nya."


Orang-orang Yamamura bersiap menembak Revin, Revin merasa dirinya kalah telak. Revin menyalahkan dirinya, mengapa dia bisa terkecoh dengan Yamamura.


BOOMM!!!


Saat Revin akan memejamkan matanya, dia kembali membuka matanya lebar-lebar saat mendengar bunyi ledakan. Semua Helikopter di hadapannya meledak, Yamamura bahkan sampai terpental ke hadapan Revin.


Suara helikopter kembali terdengar, helikopter itu naik mensejajarkan tingginya dengan lantai atas yang Revin tempati.


"KALAHKAN DIA!!"


Revin mendongakkan kepalanya, tangannya bergetar ketika melihat siapa yang menolongnya.


"Om.besar." Gumam Revin dengan suara bergetar.


Helikopter itu mendarat, tampaklah seorang pria berusia matang turun dari helikopter dengan di papah oleh Anora.


Pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Galang, dia kembali sadar dari tidur panjang nya. Anora yang memang saat itu berada di mansion Galang, segera membicarakan tentang rencana yang Revin lakukan.


Galang kekeuh ingin menghampiri Revin, Walaupun semua orang melarangnya di karenakan kondisinya yang masih lemah.


Akhirnya Anora, Anastasia, dan olivia membawa Galang bersama mereka. Keadaan pria itu masih lemah, tapi dia ingin melihat sendiri bagaimana keponakannya itu menghabisi Yamamura.


"Om akan memantaumu, ingat apa yang om ajarkan." Lirih Galang yang mampu fi dengar oleh Regin.


Revin akan menghampiri Galang, tetapi Galang memberi isyarat padanya menggunakan tangannya.


"Jangan, fokus pada tujuan mu dulu." Titah Galang.


Revin mengangguk, dia kembali menatap Yamamura yang kini sudah kembali bangkit. Revin mengangkat revolvernya, mengarahkan senjatanya pada Yamamura.


"Dengan s4dis kamu membuat nenekku terbunuh, kau hampir melenyapkan kakekku. Dengan kej1, kamu membuat wanita seperti sampah. Ku tanya, ibumu seoranf wanita kan? kenapa kau menyakiti wanita? menjualnya dan menjadikannya wanita bayaran. Bagaimana jika di saat itu, ibumu di perlakukan dengan cara yang sama?"


"Mungkin kejahatanmu berasal dari kejahatan orang lain, tapi disini ... kakekku tidak salah. Dia hanyalah anak, jika kau marah. Marahlah pada ayahmu, bukan kakekku. Dia tidak bisa memilih ingin di lahirkan dari rahim siapa."

__ADS_1


Revin menarik nafasnya pelan, kemudian kembali dia hembuskan. Dia menjatuhkan Revolvernya, seketika Yamamura menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Aku tidak akan membunuhmu, nyawamu bukan ada di tanganku. Rasanya, menghabisimu tidak sebanding dengan segala yang sudah kamu lakukan."


"Tanggung jawabkan perbuatanmu pada mereka yang kamu buat menderita. Bukan demi kebebasan, tapi deki ibumu yang sedih melihat putra yang dia besarkan dengan penuh kasih harus tumbuh dengan dendam di hatinya."


Tanpa sadar, Yamamura menjatuhkan air matanya. Dirinya kembali teringat pada ibunya. Ibunya yang mengasuhnya dnegan tangannya yang penuh kelembutan.


Tubuh Yamamura luruh, dia menangis mengingat kembali masa kecilnya. Bagaimana sang ibu menyayanginya, mengasihinya.


Tapi, ingatan tentang pedihnya kehidupan dia bersama dengan ibunya kembali terngiang. Dimana dia melihat sang ayah berselingkuh dengan ibu MArcel. Semuanya di rekam jelas dalam ingatannya, tujuannya mengambil Araster agar dirinya di takuti oleh dunia.


Yamamura mengambil revolver Revin yang ada di dekatnya, dia bangkit berdiri dan berniat akan menembak Revin.


DOR!!


Semua orang menatap kaget ke arah pintu, tepat di sana Sello berdiri dengan memegang sebuah pistol. Matanya memerah dengan rahang mengeras.


BRUGH!!


Mereka kembali menatap Yamamura yang kini sudah tumbang dengan tembakan di jantungnya.


"Sello, apa yang lo lakukan!!" Pekik Olive.


"Dia pantas mendapatkannya, dia pantas!! dia udah buat adek gue kehilangan masa depan, harapan dan dunia. Dia pantas tiada." Marah Sello.


Tatapan Sello beralih menatap Revin yang masih terdiam menatap Yamamura yang tengah kesakitan.


"Negara kita punya hukum, tapi seorang kakak juga punya perasaan. Melihat bagaimana adiknya hancur oleh laki-laki itu, dia tidak akan tinggal diam." Lirih Anora.


Revin mendekati Sello, dia memeluk temannya itu dan Sello pun membalasnya. Keduanya saling menguatkan, mereka semua tersenyum.


"Maaf." Ujar Revin setelah pelukan mereka terlepas.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk melampiaskan kesakitan adikku."


Yamamura menatap langit yang cerah, kepalanya sangat pusing karena darah yang keluar dari tubuhnya sangatlah banyak.


"PAPAH!!."


Entah bagaimana bisa Altezza kembali, dia segera menghampiri sang ayah yang tergeletak tak berdaya.


"Papah!" Teriak Altezza memangku kepala Yamamura.


"Al." Panggil Yanmura dengan lirih.


Dengan menahan tangis, Altezza mengangguk lirih.


"I-ibumu ...,"


"Ma-maaf."


Yamamura memejamkan matanya, Altezza memeluk erat kepala Yamamura dengan air mata yang mengalir deras. Biar bagaimana pun, Yamamura adalah ayahnya. Ikatan batin di antara keduanya masihlah kuat.


"PAPAAAAH!!!"


.


.


.


.


Suara helikopter terdengar dimana-mana, para polisi dan tentara berdatangan untuk mengamankan tkp. Revin membantu sang paman berjalan keliar dari gedung.


"Galang."


Gakang mendongakkan kepalanya, dia mematap sauadar kembarnya yang menatapnya dengan penuh haru.


Gilang mendekati Galang dan memeluknya, Revin membiarkan kedua kembaran itu saling memeluk. Netranya beralih menatap Anora yang sepertinya sedang di omeli oleh sang daddy.


"Bandel!! daddy sudah bikang di rumah saja kan!!"


"Diam lah dad, aku tidak lecet sedikit pun kan." Cuek Ajora.


"Kamuu!!"


Marcel menatap kanting jenazah yang berisikan jenazah Yamamura, dia hanya dian mengamati jenazah itu di bawa memggunakan helikopter.


"Kenapa kakek tidak pernah memberi tahu aku jika kakek memliki saudara?" Entah kapan Revin sudah berada di sebelah Marcel.


"Apakah masih bisa di sebut saudara? ketika masing-masing dari kami menginginkan saat ini terjadi?"


"Dia tetap saudaramu kek." Ujar Revin mematap Altezza yang masih sedih dengan kepergian Yamamura.

__ADS_1


"Itu artinya, Altezza adalah paman kecil ku." Kekeh Revin.


......Tamat......


__ADS_2