Mafia Descendant

Mafia Descendant
Bertahanlah, jika kamu ingin menyaksikan penderitaannya


__ADS_3

DORR!!


DUGH!!


BUGH!!


"Huh, punya anak lima tak menghalangiku untuk melawan mereka." Gumam Bentley sambil menghajar habis anak buah Yamamura yang berjaga.


Bentley bergerak maju, dirinya berpapasan dengan seseorang begitu dirinya kenal.


"Kau?! buat apa kamu disini hah?!" Kaget Bentley.


"Ingin nyelamatin adek gue lah, apa lagi!" 4cuh nya.


Saat orang itu akan masuk, Bentley menariknya dengan kasar.


"Tar dulu! adek lo yang mana? Si yama?"


"Kira-kira kalau ni pistol gue tembakin ke kepala lo, lo bakalan mati apa enggak?"


"Ya matilah b3g0!" Kesal Bentley, padahal niatnya dia hanya ingin bertanya baik-baik.


Orang itu berlalu pergi, Bentley serta anak buah laninnya mengikutinya dari belakang.


"ASEP! TUNGGUIN!!" Teriak Bentley.


"Nama gue Sultan bukan Asep!!" Sentak orang tadi.


Sultan Kevano, merupakan pemimpin gangster ternama yang bernama Scorpio. Dia merupakan kakak dari Anastasia, dan kini dirinya sudah berumur 35 tahun.


Sedangkan di lantai atas gedung, Yamamura tertunduk. Dia sedang berpikir bagaimana jalan keluar semuanya.


"Kalian pikir, dengan memanggil Ateez datang saya akan kalah begitu? Hahahaha, kalian salah!!" Sentak Yamamura, berteriak Lantang pada mereka.


"KALIAN!! LEDAKKAN GEDUNG INI!" Perintah Yamamura pada anak buahnya.


Reynan dan yang lainnya benar-benar terkejut, apalagi saat anggota Black Dragon membuka peti yang berisikan rakitan bom.


"Gue gak mau metong!! tolongin dong!!" Pekik Adelio.


Reynan berpikir keras, seharusnya jika Araster sudah di aktifkan. Itu tandanya, Revin sudah berada di markas Araster. Yang Reynan pikirkan, bagaimana bisa Revin menemukan markas Araster?


Altezza hanya diam, dia ingin sekali mematikan bom itu. Hanya saja, nyawa ibunya dalam bahaya. Salah langkah saja, Yamamura bisa menyakiti sang ibu.


Galen menatap Jingga, luka di kaki Jingga belum sembuh dan kini mereka harus mat1 bersama jika tidak di selamatkan dengan cepat.


"Bagaimana ini An?" Tanya Sello pada Anora.


"Bang Ben sudah ada di bawah gedung, tapi dia gak bakalan bisa naik ke atas gedung. Anak buah Yamamura sangat banyak, pastinya dari mansion lain akan datang membantu."


"Bukannya yang penting kita lepas dulu yah? lagian Revin sudah kembali mengaktifkan Araster, justru mudah kita melawan Yamamura." Balas Sello.


"Lo salah, Lo gak kenal Yama. Dia licik."


Tak takut sedikit pun, Yamamura melihat CCTV lewat tabletnya. Dia menyunggingkan senyumnya, netranya beralih menatap Altezza yang sedari tadi diam.


Suara helikopter terdengar, Yamamura berjalan mendekati jendela. Dia berbalik dan menatap Altezza yang masih saja terdiam.


"Ayo!" Ajak Yamamura.

__ADS_1


Altezza menatap teman-temanya, terutama Reynan. Tatapan Reynan sangat tajam pada dirinya, begitu pun dengan yang lain.


Altezza berhasil masuk ke dalam helikopter bersama dengan Yamamura, melihat itu Anastasia bergerak menembak helikopter itu.


"JANGAN!!" Teriak Reynan.


"Lo b0doh hah?!" Sentak Anora.


Anastasia yang tadinya terfokus pada Reynan kembali fokus pada helikopter, dia membidik helikopter itu.


DOR!!


"ARGH!!"


Anastasia memegangi lengan kirinya, dia menatap langit seketika dia reflek memundurkan langkahnya.


PAsukan Yamamura tiba bahkan sebagian dari mereka bersiap melawan Anastasia.


DOR!!


DOR!!


"MENUNDUK!!"


Anastasia segera menghampiri teman-temannya, dia membuka ikatan mereka lalu mengajak mereka bersembunyi.


Bentley tiba dan langsung menembaki helikopter itu dari balkon gedung, bersamaan dengan Sultan.


Anora dan teman-temannya sibuk membantu, sedangkan Reynan dia mengecek bom yang berada di peti.


"Dua menit lagi." Gumam Reynan.


Galen segera menggendong Jingga yang kakinya terluka, Adelio serta Aileen mengikuti mereka. Anora, dan yang lainnya masih sibuk menembaki anak buah Yamamura.


"Sebaiknya kita pergi, kita akan kehabisan waktu!" Titah Bentley menarik bahu adiknya pergi dari sana


Mereka berlarian keluar gedung, menyisakan mayat-mayat yang terkapar begitu saja. Hingga Reynan yang terakhir keluar, segera melompat dengan cepat.


DUAARR!!!


Nafas mereka tersenggal-senggal, bangunan megah itu kini berubah hancur. Tubuh mereka terasa sangat sakit akibat terpental karena ledakan.


"Lo gak papa?" Tanya Galen pada Jingga yang kini berwajah pucat.


"Kaki gue sakit." Ringis Jingga.


Percakapan keduanya di dengar oleh Bentley, pria itu segera bangkit dan mengecek luka jingga.


"Kita harus cepat bawa dia ke rumah sakit." Usul Bentley.


Tak jauh dari sana, sebuah mobil mendekat ke arah mereka, Reynan yang paham dengan mobil itu segera beranjak dan mendekatinya.


"Kakek." Panggil Reyna. ketika melihat Marcel turun dari mobil.


"Dimana Revin? kenapa bisa Araster kembali di aktifkan?!" Panik Marcel, rupanya pria paruh baya itu sudah mengetahui jika Araster kembali di aktifkan.


"Dia hilang di hutan sebelum pasukan Yamamura menyerang kami, ternyata Dylan adalah putra Yamamura." Jelas Reynan.


"Apa? terus, sampai sekarang belum ketemu?" Marcel bertambah panik, tak lama datang lagi mobil berwarna silver menghampiri mereka.

__ADS_1


Gilbert keluar dari dalam mobil bersama dengan Gilang yang merupakan ayah dari Reynan. Dengan wajah panik keduanya berlari menghampiri Reynan.


"Mana Revin?!" Panik Gilbert.


"Revin hilang om sebelum penyerangan terjadi, kita harus kembali ke hutan untuk mencarinya."


"Hilang? bagaimana bisa?!"


Gilang memegang bahu Gilbert, dia tahu rasa panik yang Gilbert rasakan. BAgaimana pun, Revin adalah putra pertamanya serta penerus Gilbert nantinya.


"Yah, kita harus kembali ke hutan." Ujar Gilbert pada Marcel.


"Enggak, kita tidak akan menemukan dia di hutan. Melainkan di tempat Galang berada." Lirih Macrel dengan tatapan kosong.


"Maksudnya?" Sambut Gilbert.


MArcel menoleh pada Gilbert, dia menatap serius menantunya yang tengah menantikan penjelasannya.


"Mau tidak mau, suka tidak suka. Kamu harus menerima kenyataan, bahwa Galang ... sudah menjadikan Revin sebagai penerusnya. Ingatan Revin, sudah kembali Gil." Sontak Gilbert menggelengkan kepalanya, menolak kenyataan barusan.


"Enggak, enggak mungkin."


.


.


.


.


Revin turun dari mobil, dia menatap para bodyguard mansion yang menodongkan pistol padanya. Mobil lain yang mengikuti Revin berhenti, para mafioso turun dan membalas todongan itu.


"Anda siapa? kenapa berani berani nya anda kemari?" Tanya pemimpin bodyguard itu dengan santai.


"Saya, saya keponakan dari orang yang kalian jaga."


Sontak kepala bodyguard menatap Revin dari atas hingga bawah, dia mengerutkan keningnya ketika sedang berpikir.


"Apa saya boleh bertanya pada tuan saya?" Tanya Bodyguard itu kembali.


"Tidak perlu, karena tuanmu sudah melihatku." ujar Revin menatap Dirga yang tengah mematung di ambang pintu.


Seketika para bodyguard menepi, Revin maju melangkah dengan tatapannya yang masih datar. Langkahnya berhenti tepat di hadapan Dirga.



"Kenapa opa kaget?" Tanya Revin.


"Revin ... kamu ... kamu penerus Araster? jadi Galang memberikan tanggung jawabnya padamu?" Dirga benar-benar terkejut saat melohat Revin yang memakai jubah Galang, tak habis fikir dengan keputusan yang putranya ambil.


"Dimana om besar?" Tanya Revin menghiraukan perkataan Dirga.


"Dia, dia ada di kamar." Jawab Dirga dengan wajah yang masih terlihat syok.


Dorga membawa Revin menemui Galang, saat melihat Galang. Netra Revin mengembun, dengan tangannya dia menggenggam tangan Galang yang tidak terinfus.


"Revin kembali om besar, Revin kembali untuk membalas apa yang telah pengecut itu lakukan padamu. Bertahanlah, jika kamu masih ingin menyaksikan penderitaan dia." Ujar Revin dengan tatapan menyorot tajam, penuh dengan kemarahan.


_____

__ADS_1


__ADS_2