
Tibalah hari perkemahan, semua murid berbaris memasuki bis termasuk Revin. Dengan wajah yang ceria Revin mencari kursi bisnya, dan kebetulan lagi-lagi dia duduk satu kursi yang sama dengan Anora.
"Eh ketemu lagi, emang jodoh gak akan kemana yah. Walaupun lo di bojong gede dan gue disini tetep aja kita ketemu." Celetuk Revin.
Anora tersenyum tipis menghadapi tingkah Revin yang random, senyum ketulusan bukan paksaan. Menurutnya, Revin satu-satunya orang yang selalu mengajaknya bercanda.
Reynan melirik ke arah Anora, dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kursi Revin dan Anora.
"Pindah!" Titah Reynan pada teman sekelasnya yang duduk di sebrang Revin.
Temannya itu menurut, Reynan segera mengambil alih kursi itu sehingga kini dia seperti duduk bersebelahan dengan Revin. Reynan harus menjaga Revin saat ini. ENtah itu dari Anora dkk nya, ataupun Altezza.
Semua murdi terlihat sangat bergembira, ada yang bercanda ria. Ada yabg tidur, kelakuan mereka sangatlah random.
Reynan memainkan ponselnya, terdapat GPS degan tiga titik biru. Itu artinya, orang-orang yang Gilbert kirimkan sudah mengikuti bis mereka.
Sesampainya di tujuan, semua murid langsung mendirikan tenda. Banyak yang mencari teman untuk di ajak setenda bersama. Termasuk Reynan yang kini sedang cekcok dengan Revin.
"Gak! gue gak mau!! Lo sama yang lain aja!" Ketus Revin.
"Kalau lo gak mau, gue telpon om biar dia jemput lo balik! mau yang mana?!" Ancam Reynan, seketika Revin mengerucutkan bibirnya sebal.
Reynan menyeringai tipis, tak sulit membujuk Revin karena sepupunya itu sangat takut di jemput oleh Gilbert.
"AYO ANAK-ANAK! SEMUANYA KUMPUL!!" Teriak sang pemandu.
Revin berbaris, dia di hadapkan dengan beberapa anggota berseragam TNI yang akan memandu mereka berkemah dan menjelajah alam.
"Kita akan bagi beberapa kelompok, Anastasia, Sello, Galen dan ... Jingga. Kalian satu kelompok. Selanjutnya, Reynan, Dylan, Adelio dan Olive satu kelompok. Revin, Adelio, Dino serta Anora satu kelompok ...."
Reynan sontak tak terima, jika dia berbeda kelompok dengan Revin bagaimana dia bisa menjaganya.
"Pak, saya keberatan!" Aju Reynan sambil mengangkat tangannya.
"Ya Reynan? kamu keberatan?" Tanya sang guru kelas.
"Saya ingin sekelompok dengan Revin."
Seketika Revin melototkan matanya, dia menyenggol lengan Reynan sambil berbisik pelan. "Lo apa-apaan sih!! Gue bukan anak kecil ya!!" Pekik Revin dengan kesal.
Reynan bodo amat, yang penting dia bisa mengawasi Revin.
"Gak bisa mengganti kelompok yang sudah bapak tetapkan!" Tegas guru itu.
Seketika Reynan mengepalkan tangannya, netranya menatap Anora yang sedang bertatapan dengan Sello seakan memberi isyarat.
"Sudah! masing-masing kelompok akan di temani oleh satu pemandu. Kalian harus melewati tempat-tempat yang sudah bapak tandai. Jangan ada yang keluar dari rombongan. Ingat! berhati-hatilah!!"
Dengan semangat 45, Revin mulai melangkah bersama rombonganya. Betapa senangnya dia saat ini, dia seperti burung yang terlepas dari sangkar.
KRAK!
Adelio melompat ke Revin saat mendengar bunyi ranting patah. "Apaan tuh!!" Pekik Adelio.
"Jangan lebay deh!!" Sindir Dino.
"HE DINOSAURUS! GUE KAGET PEANG!!" Sewot Adelio.
Keduanya berdebat cekcok, hingga tak sadar jika Revin berjalan beriringan bersama Anora.
__ADS_1
Saat asik menjelajahi hutan, Revin tak sengaja menangkap seekor tupai. Dia yang merasa lucu akan tingkah sang tupai akhirnya mendekatinya.
"Yaahh kabur, padahal mau gue foto." Gumam Revin.
Saat Revin berbalik, dia tak lagi menemukan temannya. Rombongannya adalah rombongan terakhir, jelas pasti tidak ada yang menyusul rombongan nya.
"Eh? kemana mereka?" Gumam Revin. Lalu, Revin memutuskan untuk melanjutkan langkahnya sesuai petunjuk.
Krett!!
Tanpa Revin sadari, petunjuk jalan berbelok. Yang tadinya menunjuk kiri seketika menunjuk ke arah lurus. Dan parahnya, Revin malah mengikutinya.
Satu jam berlalu.
Para rombongan sudah kembali, Anora dan yang lainnya belum menyadari kehilangannya Revin. Dia mengira Revin kembali berjalan di samping Adelio. Tepat di belakangnya.
Melihat rombongan Anora yang sudah kembali, seketika Reynan mendekatinya dengan sedikit berlari.
"Revin mana?" Tanya Reynan.
"Tuh Re ... loh? kok Dino?! Revin mana Del!" Oekik Anora saat tak mendapati Revin bersama Adelio.
Adelio pun baru menyadarinya. "Gue gak tau!! jangan-jangan, Revin ketinggalan!!" Pekik Adelio.
Suara keras Adelio mengundang guru kelas menghampiri mereka, dengan raut wajah penasaran ibu guru itu pun bertanya.
"Siapa yang ketinggalan?" Tanya nya.
"Revin bu." Jawab Adelio.
Pikiran Reynan sidah tidak jelas-jelas, dia akan beranjak masuk kembali ke dalam hutan tetapi guru kelasnya mencegahnya.
"Saya harus cari adek saya bu!! dia masih di dalem!!" Pekik Reynan, mengatakan jika adiknya masih didalam. Bagaimana oun, Revin adalah sepupunya yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri.
"Pokoknya saya mau cari REVIN!!"
Kedua tentara menahan tubuh Reynan yang berontak ingin mencari adiknya. Suasana yang tadinya bahagia, senang berubah menjadi mencekam karema rasa panik.
Reynan menghampiri Anora, demgan tatapan tajam dan rahang yang mengeras. Seakan, Reynan tengah mencurigai Anora.
"Ini ulah lo kan? lo dan teman-teman lo ngerencanain ini semua?! belakangan ini kalian deketin Revin biar apa?! biar kalian bisa memanfaatkan dia gitu! gue tau rencana licik kalian deketin sepupu gue!!" Bentak Reynan dengan keadaan emosi.
Sello maju ke depan Anora, dia menghalangi Revin berteriak pada temannya.
"Turunkan nadamu, kamu ingin mereka tahu tentang kita hah?! Asal lo tahu, kita gak pernah menjebak Revin,"
"BOHONG!! KALIAN SENGAJA JEBAK REVIN!!" Teriak Reynan dan akan memukul Sello.
Untung saja, para TNI segera menghalanginya. Mereka menahan Reynan yang akan memukul Sello.
"Ihh di hutan kan banyak hewan buas, mana mau malam lagi."
"Iya, gue takutnya gak ketemu. Malah di umpetin sama setan."
Reynan mendengar jelas teman-temannya berbicara hal yang membuatnya takut. Gilbert telah mengamankan Revin padanya. Namun, kini dia gagal menjaganya.
Reynan segera membuka ponselnya, dia mencari posisi orang-orang suruhan Gilbert. Namun, tanda biru itu hanya terhenti di sekitar tenda. Itu artinya, orang-orang suruhan Gilbert hanya menjaga mereka dari dekat tenda saja.
"Argh!! si4l!! kenapa mereka tidak mengikuti kami hingga ke dalam!!" Batin Reynan.
__ADS_1
Reynan pergi dari sana, dia menuju arah berbeda dan melihat tiga mobil terparkir disana. Reynan menatap dalam mobil itu, sebab dia melihat kaca mobil itu bolong karena peluru.
Reynan berjalan pelan, sangat pelan. Jantungnya berdebar keras, dia mulai memberanikan diri untuk mengintip kaca mobil.
Gelap, dia tidak bisa mengintipnya. Sehingga Reynan memutuskan untuk membuka pintu mobil tersebut.
CKLEK!
BRUGH!!
Reynan sontak mundur saat tubuh supir mobil itu terjatuh di kakinya. Dia membulatkan matanya saat melihat luka tembak di kening pria itu.
"Ada apa ini." Gumam Reynan dengan suara bergetar.
Reynan beranjak mengelilingi mobil, dan benar saja seperti dugaannya. Bodyguard yang Gilbert perintah untuk mengawasi mereka sudah tergeletak tak bernyawa dengan kening yang terluka.
Krak! krak!
Reynan menangkap suara kecil itu, dia segera menoleh dan mendapati seseorang yang berada di balik pohon sedang mengarahkan senjata padanya.
Dia menarik revolver dari dalam jaketnya, lalu mengarahkannya pada lawan.
DORR!!
"ARGHH!!"
Mendengar suara senjata milik Reynan, membuat semua murid panik. Mereka berteriak histeris, dan kondisi menjadi kacau.
DOR!!
DOR!!
Revin menembaki setiap pria bertopeng yang muncul dari segala arah, para tentara pun turut membantunya. Anora dan kawan-kawannya juga ikut membantu Reynan dengan senjata yang mereka bawa
DOR!!
"ARGHH!!" Jingga terjatuh saat kakinya tak sengaja tertembak.
Mendengar pekikan jingga, Galen segera mendekat. Dia melindungi Jingga dari tembakan senjata yang tak beraturan.
"Bangun!!" Sentak Galen sambil menarik lengan Jingga.
"Kaki gue sakit hiks ... kaki gue sakit." Tangis Jingga pecah.
Galen terpaksa menggendong Jingga menjauh, dan menyembunyikannya di balik pohon. Jingga kesakitan, tidak mungkin juga di bawa ke rumah sakit dalam kondisi yang seperti ini. Pastinya akan memakan waktu yang lama keluar dari hutan ini.
"Sakit hiks ... sakit ...."
Ternyata bukan hanya Jingga, banyak murid yang menjadi korban sasarnya peluru. Pria bertopeng itu bukan lagi yang beberapa orang, tapi kini mereka berpuluh-puluh orang melawan Reynan.
"Serahkan dirimu pada kami dan pertarungan ini akan selesai." Ujar pria bertopeng pada Reynan.
"Tidak akan!" Sahut Reynan dan menendang pistol yang musuh pegang hingga terjatuh.
Reynan menarik pelatuknya, dia mengarahkannya pada pria bertopeng itu dengan tatapan datar dan menghunus.
"Katakan bye pada dunia." Senjata Reyna. mengarah pada pria bertopeng itu
DOR!!
__ADS_1
_____
Wah detik detik mau masuk puncak konflik nih🤭 maaf yah kalau ceritanya ngebosenin😌. Author usahain up setiap hari di tengah kesibukan lebaran ini😭😭.