
Motor terhenti di parkiran Sekolah, Revin segera turun dan menepi. Dia mual-mual di sana karena Anora yang membawa motor bak orang yang sedang di landa masalah.
"Lo bisa gak si bawa motornya santai? lagian juga masuknya masih lama!" Kesal Revin.
Anora menyodorkan lengannya yang terdapat jam tangan, seketika metra Revin membulat sempurna saat tau jam berapa itu.
"Kita telat!!" Revin langsung berlari masuk.
Anora hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Revin yang sangat di luar perkiraan. Dimana mana penerus mafia terkesan dingin tak tersentuh, tapi berbeda dengan Revin seperti anak yang sangat ceria.
Brak!
Revin membanting tasnya ke meja, bersyukur guru belum masuk. Bisa-bisa dia di hukum, baru saha dia menjadi murid baru.
"Tumben telat?" Tanya Adelio. Revin hanya menanggapiya dengan menepuk bahu Adelio, kemudian dia melirik ke arah kuris di sebelah Adelio yang sebelumnya di duduki Reynan.
"Mana temen lo?" Tanya Revin
"Belum dateng, mungkin bolos kali." Jawab Adelio.
Revin terdiam, tidak mungkin Reynan membolos. Apalagi dia sempat bertemu dengannya dan Reynan sudah siap dengan seragamnya.
Sementara di posisi Reynan, pemuda itu tengah berada di sebuah mansion. Dia datang bersama Marcel, saat tabu kedatangan mereka bodyguard yang berjaga segera menyambut mereka.
"Dimana Dirga?" Tanya Marcel pada salah satu dari dari mereka.
"Aku disini kakak."
Marcel serta Reynan menatap pria yang menghampiri mereka, dengan jas hitam dan langkah yang gagah membuatnya terkesan sangat tampan di usianya yang menginjak 50 tahun lebih.
"Tumben kesini?" Tanya Dirga, kakek dari Reynan itu.
Marcel melirik Reynan begitu pun sebaliknya. Mengerti tatapan keduanya, Dirga mengajak keduanya berbicara di ruang tengah.
"Ada apa? jelaskan padaku." Pinta Dirga.
"Yamamura sudah mulai mengincar penerus Araster, sepertinya dia mengira jika akulah penerus Araster itu."
"Yamamura? apakah dia mencoba mencelakaimu?" Tanya balik Dirga.
Reynan menggeleng, dia kemudian menjelaskan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Dari Mafia Ateez sampai anak buah Yamamura yang mengincarnya.
"Mafia Ateez, yang di pimpin oleh Bentley kak? anak dari Frans?" Tanya Dirga setelah mengingat nama itu.
__ADS_1
"Benar, sekolah itu juga milik Gio kakek dari Anora. Yang kakak pikirkan, kita tidak memiliki masalah ataupun kerja sama apapun sebelumnya hingga dia mengincar kita. Yamamura juga tidak menyerang Ateez." Jawab Marcel dengan kening mengerut.
"Bukan Ateez yang memiliki masalah dengan Yamamura, tapi ke empat temannya. Mafia miliki mereka di serang oleh Yamamura hingga organisasi mereka pindah kempimpinan pada Yamamura karena gugurnya sang pemimpin. Berbeda dengan kita, karena om Galang sudah menentukan pemimpinnya. Jadi, Yamamura tidak bisa mengambil alih Araster sebelum dia membuat penerus itu mengaktifkan kembali Araster."
Marcel menegakkan duduknya, posisi cucunya dalam bahaya. Bukan hanya itu saja, semakin banyak mafia yang mengincar Araster. Entah karena ingin membalas dendam, atau kekuasaan.
"Jadi bagaimana? apa yang harus kita lakukan?" Tanya Dirga.
"Apa lagi? kita harus mencari keberadaan kalung itu, dimana Galang menyimpannya. Apakah Reynan penerusnya, atau Revin. Siapapun itu, keduanya akan tetao terancam." MArcek benar-benar ada di psois sulit, bukan hak mudah untuk bersembunyi dari Yamamura saat ini.
Wajah Marcel sangat berbeda saat masih muda dulu, membuat Yamamura terkecoh dengan penampilannya yang sekarang. Apalagi MArcel terkenal dengan mertua dari Gilbert Rey Greyson sehingga identitas Marcel tidak di curigai oleh Yamamura.
"Tapi dimana kalung itu? Terakhir saat Galang sedang di operasi, setelahnya kalung itu sudah tidak tampak lagi." Ujar Dirga menghela nafas kasar.
Reynan berpikir keras, dia sedang mengingat siapakah kira kura orang yang bisa dia mintai tolong.
"Paman Hendrick."
Sontak Marcel dan Dirga menatap Reynan yang tengah menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Hendrick?" Tanya MArcel dengan kening mengerut.
"Ya! Paman Marcel, dia tangan kanan om Galang. Dia pasti tau sesuatu, siapa tagu om Galang sudah memberi tahu dia mengenai oenerus selaniutnya." Ujar Reynan sambil menatap bergantian keduanya.
"Kalau dia tahu, apa yah akan kamu lakukan? Semua usaha kita akan sia-sia kalau kalung itu masih saja belum ketemu."
Benar, Reynan terdiam. Dimana sebenarnya kalung itu? karena hilang tanpa jejak?
"Kita harus temukan kalung itu, kalau bisa kita nonaktifkan permanen Araster agar Yamamura tak lagi memiliki impian itu menguasainya." Sahut MArcel.
Kreeett!!
Terlihat seorang pria terbujur lemah di atas brankar dengan banyak sekang di tubuhnya. Mulutnya terdapat oksigen, untuk membantunya bernafas.
"Delapan tahun Galang koma, aku sangat merindukan celotehannya." Ujar Dirga menatap lemas ke arah putranya yang tak kunjung bangun.
Tidak ada perkembangan dari Galang, kondisinya semakin lama semakin memburuk. Enggak sedikit dokter mengatakan tidak ada harapan, tapi Dirga sangat yakin suatu saat nanti putranya pasti bangun. Masalah biaya dia tak pernah masalah, dia berharap putranya kembali sadar.
"MAafkan kakak Ga, jika saja Galang ...."
"Tidak kak, itu semua kemauan Galang. Dia sudah nyaman menjadi mafia, dengan menjadi mafia dia bisa menolong banyak orang. Dia bisa menghalangi kejahatan, dia bahagia dengan kedudukannya." Sela Dirgaa cepat, dia tidak ingin Marcel kembali merasa bersalah.
Dirga menyisir rambut Galang dengan jari-jarinya, wajah Galang masih terlihat sangat tampan walau lebih dewasa.
__ADS_1
"Kamu harus cepat bangun, buat papi marah lagi. Papi rindu." Lirih Dirga.
Reynan bisa merasakan kesedihan kakeknya, bagaimana oun Galang. Tetap saja pria itu anak dari kakeknya, yang dulunya satu satunya harapan Dirga untuk meneruskan Aratser menggantikan sang kakak.
"Apa harus kalung itu sebagai bukti penerus Araster?" Tanya Reynan.
"Ada dua cara untuk kita mengetahui penerus Araster, satu dengan kalung itu yang kedua ... sadarnya sang pemimpin ..." Ujar Marcel sambil menatap dalam ponakamnya yang masih tetap memejamkan matanya.
Yamamura tengah menatap tajam putranya, dia memerintah Altezza untuk menculik Reynan. Namun, Altezza menolak. Dia tidak mau menjalankan rencana papahnya sebelum sang ayah mempertemukan dia dengan ibunya.
"Sudah aku katakan, aku tidak akan mengikuti kemauan papah sebelum aku bertemu mamah." Ancam balik Altezza.
"Kamu berani mengancamku?! Altezza! kamu tidak akan bisa membayangkan apa yang akan papah lakukan terhadap ibumu!!" Ancam balik Yamamura.
Yamamura melempar sebuah ponsel pada Altezza yang segera di tangkap oleh pemuda itu. DIa melihat sebuah video dimana sang ibu di kurung di sebuah kamar dengan tubuh yang terlilit kain.
"BAYIKU!! DIMANA BAYIKU? dimana dia? dia belum ku susui, pasti dia lapar."
Air kata Altezza luruh seketika, ibunya di baut seperti tahanan. Hanya tatapan kosong Yang Altezza liat dari kata ibunya.
BRAK!!!
"Kembalikan ibuku! kembalikan dia!! papah jahat!! kamu membuat ibuku seperti hewan!! dasar suami br3ngs3k!!!"
Yamamura mendorong keras tubuh putranya, terlihat Altezza menatapnya dengan tangan terkepal dan tatapan tajam.
"Ingat, nyawa ibumu berada di genggamanku. Jika kamu berani membantah, akan ku suruh anak buahku untuk membuang ibumu ke lautan lepas."
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Altezza. Menyebutnya papah saja Altezza sudah sangat sakit. BAgaimana bisa seorang papah memanfaatkan anaknya deki keuntungannya.
"Bawa Reynan kepadaku!! kita harus cepat mengaktifkan kembali Araster dan menguasai dunia!" Ambisi Yamamura terlihat jelas di matanya saat mengatakan hal itu.
Altezza berdec1h dalam hatinya. "Kamu bukan siapa-siapa jika bukan karena mereka yang bekerja padamu papah." BAtin Altezza.
"Baik, saat kemah nanti persiapkan semuanya. Aku akan membawa Reynan padamu tanpa membuat Anora dan teman-temannya curiga. Mereka pasti akan mengira jika Reynan hilang, intuk meminimalisir terjadinya penyerangan balik mafia lain." Putus Altezza.
"Bagus! jika kali ini berhasil, papah akan membuatku bertemu dengan ibumu." Sebelum pergi, Yamamura menepuk ragu bahu putranya sambil menatapnya sebagai sesosok ayah.
Bisakah Altezza merasakan kasih sayang yang lengkap? Dia tidak perlu kekuasaan menjadi mafia, dia hanya ingin tenang bersama ibunya. Tapi, ibunya berada di genggaman sang papah, ibunya di buat alat ancaman untuknya.
"Jika kamu gagal, papah akan membawa ibumu semakin jauh dari negara ini." Bisiknya tepat di telinga Altezza sambil tersenyum sinis.
____
__ADS_1
Maaf yah kemarin gak up, pokoknya mau deket lebaran sibuk gaes. Kemarin 12 jam lebih di dalam mobil, macet parah😭 jadi gak sempet up.