
PERINGATAN!!! PART MENGANDUNG KEKERASAN DAN KEJAHATAN, DI MOHON BIJAK DALAM MEMBACA❗❗❗
JANGAN MENIRU ADEGAN DALAM CERITA INI!! HANYA KARANGAN BELAKA, DAN TIDAK BAIK UNTUK DI TIRU❗❗
DI MOHON UNTUK MENJADI PEMBACA YANG BIJAK❗❗❗
Revin dan Reynan Revin dan Reynan terlihat turun dari pesawat keduanya memakai baju biasa. Hanya celana hitam dan juga kaos putih yang di balut dengan jaket hitam. Keduanya terlihat sangat tampan walau wajah tertutupi oleh masker.
"Kita akan kemana?" Tanya Reynan.
"Menemui Hiroyuki," ujar Revin dengan santai.
Reynan yang tidak tau siapa Hiroyuki oun mengerutkan keningnya.
"Siapa dia?" Tanya Reynan.
"Salah satu pemimpin mafia, dia mempunyai pabrik senjata yang sangat bagus. Aku ingin membeli senjata darinya," jawab Revin dengan santai.
"Kita kesini beli senjata aja?!" Pekik Reynan tak percaya.
"Diamlah, kau akan tahu setelah kita menemui pria itu."
walau bingung, Reynan akhirnya lebih memilih tutup mulut.Keduanya menaiki taksi menuju suatu tempat. Setelah sampai di tempat yang di tuju, Revin segera mengajak Reynan memasuki sebuah gang yang tampak becek.
"Gak salah tempat kan lo?" Ragu Reynan.
Revin hanya diam, gang sempit itu berubah menjadi jalan yang lebar. Banyak orang berlalu lalang, terutama para wanita yang tampak seperti kupu-kupu malam.
"Eh Rev, ini tempat apaan!" Panik Reynan.
Langkah mereka terhenti ketika seorang wanita dengan pakaian minim menghadang, Revin dan Reynan akan menghindar. Namun, wanita itu malah menarik jaket Revin hingga keduanya bertatapan.
"Untuk Anda, diskon lima puluh persen. Bagaimana tampan?" ujar wanita itu dengan bahasa eropa.
Revin menepis tangan wanita itu dengan cepat, bagaimana pun juga Revin sangat enggan di sentuh apalagi menyentuh yang bukan memiliki hubungan dengannya.
"Ayo Rey." Ajak Revin.
Saat baru beranjak beberapa langkah, wanita itu kembali menghadang. Namun, tatapannya kali ini berbeda. Dia tampak terlihat sangat ketakutan.
"Kau, kau orang indonesia?!" Panik nya.
Revij dan Reynan saling tatap menatap, tak mengerti ada apa yang wanita itu mau sebenarnya.
"Tunggu, a-aku orang indonesia. A-aku mau pulang, bantu aku pulang." Paninya sambil menatap sekelilingnya.
Wanita itu menyodorkan sebuah foto pada Revin, Revin pun tak menolaknya atau mengambilnya. Dia hanya mengamati wajah yang ada di sana.
"Dia kakakku, tolong bilang padanya jika aku masih hidup. Aku belum tiada, aku ada disini. Tolong. Aku akan bayar berapapun setelah aku bertemu kakakku."
Reynan mengambil foto itu, matanya meneliti gambar yang ada di sana.
"Ini Sello bukan si?" Tanya Reynan pada Revin.
"Ya, kalian kenal kakaku?!" Wanita itu seketika menutup mulutnya, dia menoleh ke sama dan kemari.
Revin mengambil gambar itu, kemudian dia mengangguk dan kembali menatap wanita itu.
"Ya, tapi kami tidak dekat dengannya. Cari orang lain saja, maaf nona." Revin memberikan foto itu kembali dan mengajak Reyna. segera pergi dari sana.
Wanita itu akan mengejarnya, tetapi dua orang pria menahan tubuhnya. Sontak wanita itu berontak dan memanggil Revin.
"KU MOHON TOLONG KAMI! TOLONG KAMI HIKS!;"
Reynan menatapnya iba, dia menyenggol lengan Revin. "Kasihan Rev." Bisik Reynan.
Revin mengisyaratkan pada Reynan, dia melirik ke sekeliling. Tampak beberapa pria di sana menatap ke arah mereka.
"Disini ada banyak penjaga, mereka bukan pengunjung biasa." Bisik Revin.
Benar, pria di sana adalah pria penjaga. Bukan pengunjung biasa, mereka menyamar sebagai orang biasa untuk mengawasi sekitar.
"Terus kita harus apa?! mereka butuh pertolongan!!" Pekik Reynan.
__ADS_1
"Kita temui Hiroyuki dulu." Usul Revin.
Mereka melanjutkan perjalanan, hingga tibalah mereka sampai di toko roti. Terlihat seorang pria sedang membuat kue untuk para pelanggannya.
"Hiroyuki?"
Pria yang sedang menggulung adonan Roti seketika mengalihkan pandangannya pada Revin, dengan tatapan bingung dia pun berbisik."
"Siapa kamu? kenapa kamu tahu nama asliku?" Bisik Hiroyuki.
Revin tersenyum, dia duduk di kursi bersamaan dengan Reynan. Asik menyaksikan Hiroyuki yang memanggang roti.
"Bisa juga caramu mengelabui musuh," ujar Revin.
Hiroyuki tertegun sejenak, dia menatap Revin dengan sesama. "Sebenarnya, siapa kamu?"
Revin mengusap tabgannya yang terasa dingin, dia memasukkan tangannya ke jaketnya dan berbisik pada Hiroyuki.
"Keponakan teman lamamu." Bisik Revin.
Hiroyuki tampak mengerutkan keningnya. Sedetik ... dua detik ...
"Kamu ... kamu Rvin? bocah cadel yang mencukur habis rambutku!!" Pekik Hiroyuki.
Revin mengangguk, senyuman tipis menghiasi bibirnya. Kini Reynan paham siapa hiroyuki itu, ternyata pria itu adalah teman paman mereka.
"Buat apa kamu disini? bagaimana kalau musuh Galang melihatmu." Bisik Hiroyuki.
Saat Hiroyuki mendekatkan wajahnya pada Revin, netranya menangkap sebuah kalung yang Revin kenakan.
"Wah wah wah, kedatangannmu adalah sebuah kejutan. Tak menyangka jika pemimpin baru Araster bersedia mampir ke toko roti kecil ku." Sambut Hiroyuki.
Revin baru menyadari kalungnya terlihat, dia kembali memasukkan kalungnya ke dalam kaosnya.
"Kau sudah besar rupanya, apa pamanmu itu sudah bangun? katakan padanya, aku masih memiliki hutang padanya. Jadi bangun dan cepat tagihlah," ujar Hiroyuki dengan ramah.
"Justru kedatanganku kesini ingin menagih hutangmu pada om besar." Ujar Revin dengan nada pelan.
Sontak Hiroyuki berubah serius, dia mengambil kursi dan duduk di hadapan Revin.
"Kau ini b0d0h apa bagaimana? Kamu baru saja menjadi pemimpin Araster, tidak mudah menghabisi Yamamura. Dia terkenal dengan mafia yang sangat kej4m. Bahkan sudah banyak mafia lain yang bergabung dengan mafia miliknya." Ujat Hiroyiki meremehkan Regin.
"Paman meremehkanku?" Tanya Revin dengan tatapan tajam.
"Bukan meremehkan, tapi di lihat Yamamura adalah mafia senior dan kamu junior. Rasanya tidak mungkin, yang ada kamu m4ti k0nyol." Tawa Hiroyuki pecah seketika, dia menganggap keinginan Revin merupakan lelucon semata.
"Jika aku bisa membuat Yamamura koma, hadiah apa yang akan paman berikan oadaku?" Tantang Revin.
Hiroyuki menggelengkan kepalanya, dia mengambil dua buah piring berisikan roti dan menyodorkannya pada Reynan dan juga Revin.
"Jangankan koma, jika kamu berhasil membuatnya pingsan aku akan memberikan mu kapal pesiar yang aku miliki." Tantang Hiroyuki balik.
"Deal!" Seru Revin menarik tangan Hiroyuki untuk berjabat tangan dengannya.
"Tapi aku perlu bantuanmu paman, tentang club YM. AKu ingin membebaskan para tahanan wanita di sana. Kau harus membantuku." Pinta Revin.
.
.
.
.
Yamamura tengah berpikir keras, semua pengirim barang ilegalnya batal terkirim dan bahkan terkena denda karena melanggar pasal negara. Yamamura bakan harus membayar puluhan triliun untuk menebus orang-orangnya. Senjata ilegal di sita, serta obat-obatan terlarang di musnahkan.
"King."
Yamamura menoleh, mendapati anggotanya yang dayang menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Yamamura dan kembali menatap ke arah jendela besar di kamarnya.
"Club kita yang ada di eropa mendapat razia, semua wanita penghibur berhasil kabur." Ujarnya sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Mata Yamamura terbelalak kaget, dia menghampiri anggotanya itu dan menodongkan pistol padanya.
"Ulang apa yang kamu bicarakan tadi."
Dengan suara bergetar, anggota Yamamura kembali membuka suara.
"Siapa dalangnya?" Tanya Yamamura.
"A-araster king, di-dia membebaskan para wa-wanita bayaran kita."
DOR!!
Seketika anak buah Yamamura mat1 di tempat, dengan teganya pria tua itu melampiaskan amarahnya pada anggotanya yang hanya menyampaikan pesan.
"B3D3B4H!!" Teriak Yamamura.
"Awas kamu Revin, ku pastikan kamu sama seperti pamanmu." Geram Yamamura dengan sorot kemarahan di matanya.
Mendengar suara tembakan, Altezza buru-buru menghampiri kamar ayahnya. Di lihatnya mayat tergeletak di sana dengan tembakan di kening.
"Apa yang papah lakukan!!" Pekik Altezza.
"Araster membuat beberapa club kita terkena Razia, dan bahkan mereka berhasil membuat kabur para tahanan kita!"
"Aku sudah bilang kan, berhenti menjual perempuan itu!! Kembalikan mereka pada keluarga mereka! Kenapa papah selalu menculik anak perempuan dan menjualnya tanpa rasa bersalah!!"
Bukannya sadar, Yamamura malah menatap marah Altezza. Altezza tak gentar sedikit oun, dia berusaha untuk menyadarkan sang papah dari kelakuan jahatnya.
"DIAM!! Kamu tidak tahu apapun!!" Sentak Yamamura.
"Aku tahu makanya aku bicara!! apa yang papah lakukan salah! papah sangat jahat!!" Lawan ALtezza.
Tangan Yamamura terulur, dia mencekik leher Altezza hingga membuat Altezza kesulitan bernafas. Tatapannya terlihat sangat marah, dan rahangnya juga mengeras.
"Ughh!!"
"Sekali lagi kamu membantahku, tak akan ku biarkan kamu bertemu dengan wanita gil4 itu. Bila perlu, ku lempar saja dia ke lautan lepas. Aku tidak pernah main-main dengan ancamanku." Yamamura mendorong kasar leher Altezza.
"UHUK! UHUK!
Altezza memegangi lehernya yang terasa sakit, dirinya tak pernah menyangka jika Yamamura mencekiknya hanya karena dirinya yang berusaha menyadarkan sang papah dari tindakan jahatnya.
"Jangan berani-beraninya papahmenyentuh mamah!!" Teriak Altezza dengan suara seraknya.
"Jika tidak ingin wanita gil4 itu aku buang, lakukan tugasmu!!" Titah Yamamura.
"Aku tidak mau! apa yang papah lakukan adalah kesalahan fatal! tahanan papah masih memiliki keluarga, tak seharusnya papah menculik mereka dan menjadikan mereka pemu4s nafsu para pria hidung bel4ng!!" Altezza masih berani.
Yamamura menyeringai, dia menatap tajam Altezza yang kini berani menatap nyalang padanya.
"Mulai berani kamu, baiklah ... YOHAN!!"
Yohan merupakan kepala mafioso, dia yang selalu di tugaskan Yamamura untuk melakukan segala hal.
"Ya king." Sahut Yohan.
"Seret wanita Gil4 itu keluar dan buang ke laut! biarkan anak dari wanita itu menyaksikan karena kesombongannya ini." Ujar Yamamura sambil menatap wajah putranya.
Aotezza mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya memejam erat seraya menguatkan hatinya untuk mengambil keputusan.
"Baik king."
Saat Yohan akan berbalik, suara Altezza membuat langkahnya terhenti.
"OKE! AL AKAN LAKUKAN APA YANG PAPAH MAU!"
Dengan mata memerah, Altezza menatap Yamamura yang tersenyum puas. Lalu, Yamamura menepuk bahu putranya seraya berkata. "Ini baru anakku."
Yamamura pergi dengan Yohan, menyisakan Altezza yang merenungi keputusannya.
"Aku harus apa? Mereka wanita, dan ibuku juga seorang wanita. Sampai kapan ini akan berakhir." Lirih Altezza.
Altezza mengalihkan pandangannya, dia memandang ke arah luar jendela. Pulau yang ia tempati sangat indah, tapi tidak penghuninya yang begitu kejam.
__ADS_1
"Sabar yah mah, Al akan berusaha untuk membawa mamah pergi dari penjara ini." Gumam Altezza.
___