
Terlihat helikopter mendarat sempurna di sebuah tanah lapang, Yamamura turun di ikuti oleh Altezza yang sedari tadi memikirkan nasib teman sekelasnya.
Yamamura berbalik dan menatap sosok wanita paruh baya yang turun dari helikopter. Tampak wanita itu begitu modis dengan kaca mata hitamnya Walaupun kulitnya sudah sangat berkeriput.
"Ucapkan terima kasih padaku Yama, aku sudah menolongmu," ujar wanita itu dengan angkuh.
"Sombong sekali kamu, kalau bukan karena aku yang memalsukan kematianmu. Mungkin saja saat ini kamu sudah busuk di penjara Samantha."
Yah, 12 tahun lalu di kabarkan sel yang Samantha tempati terjadi kebakaran. Polisi menemukan jasad dengan DNA yang Samantha miliki sudah habis terbakar dan hanya tersisa tulang belulang.
Tentu saja keluar sangat syok mendengarnya dan menganggap jika Samantha memang sudah tiada. Maka dari itu, saat melihat sosok Samantha di samping pilot dirinya sangat terkejut. Belasan tahun lamanya, Reynan tak akan pernah lupa rupa sosok Samantha.
"Altezza, masuk kamar!" Titah Yamamura.
"Papah belum menepati janji! papah bilang jika aku berhasil bawa Reynan, kau akan mempertemukanku dengan ibuku!" Tagih Altezza.
"Perjanjian itu batal! Seharusnya yang kamu bawa ke hadapan saya itu Revin! bukan Reynan!" Balas Yamamura mematahkan keinginan Altezza.
"Ta-tapi ...,"
"Aargh! gak ada tapi-tapi, nasuk kamar dan lacak dimana keberadaan bocah ingusan itu!" Yamamura mengibaskan tangannya di hadapan Altezza lalu berlalu dari sana di ikuti Samantha.
Altezza mengepalkan tangannya, sia-sia dia mengikuti Yamamura kesini jika ujung-ujungnya dia batal di pertemukan.
Altezza menatap sekelilingnya, dia tidak akan bisa kembali ke tanah air. Sebab dirinya tengah berada di tengah pulau milik sang papah.
Yamamura memasuki mansionnya, mansion lain yang ia miliki. Sangat jarang orang yang tahu bahwa di tempat itu terdapat pulai yang berisikan para mafia.
Pria paruh baya itu berjalan menuju sebuah ruangan, di sana para anggotanya tengah bekerja mengecek penjualan senjata ilegal dan barang-barang terlarang.
"Tuan, pengiriman senjata kita ke negara Itali di tahan oleh aparat negara." Ujar salah sayu dari mereka ketika menyadari kehadiran Yamamura.
"Seperti biasa, suap mereka." Jawab Yamamura dengan enteng.
Anak buah Yamamura saling bertatapan dengan teman di sebelahnya, lalu kembali menatap Yamamura.
"Masalahnya, ada anggota mafia lain pada salah satu aparat itu." Ujar nya dengan takut.
Yamamura mengerutkan keningnya, dia berjalan mendekati layar komputer dan menyipitkan katanya ketika melihat gambaran aparat yang di maksud.
"Perbesar!" Titah Yamamura.
__ADS_1
Gambaran di perbesar, Yamamura bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di gambaran itu.
"SI4L!!! HENTIKAN SEMUA PENGIRIMAN HARI INI!!" TEriak Yamamura dengan lantang.
Seketika semua anggota yang ada di sana bergerak, suara keyboard menenuhi ruangan itu. Yamamura menatap layar besar di hadapannya yang menampilkan sebuah Video barang-barang yang sedang di turunkan dari kapal.
Beberapa orang berbaju aparat menahan orang-orang yang menurunkan barang itu dan mengecek nya, terlihat jelas orang-orang Yamamura sudah berusaha memberikan suap tapi aparat itu menolaknya.
"Cepat sekali Araster bertindak. Gak, ini enggak bisa di biarin." Gumam Yamamura.
"ALTEZZA!!"
Altezza yang akan masuk ke kamarnya seketika berdecak kesal. Dengan hati yang dongkol dia menghampiri Yamamura yang berada di ruangan khusus itu.
"Ada apa?" Cuek Altezza.
"Cepat kamu urusi masalah ini, papah akan memerintahkan anggota kita yang di italia untuk mengurus razia barang yang terjadi di sana." Titah Yamamura.
"Ck, seenaknya papah nyuruh aku buat kerja! aku gak mau bekerja untuk papah kalau setelah ini kamu mengingkari janjimu lagi!!" Ancam Altezza.
Yamamura berdecak sebal. "Baiklah, lakukan sekarang. Setelah pekerjaanmu selesai, aku akan mempertemukanmu dengan ibumu." Putus Yamamura.
"Enggak, Al mau papah pertemukan Al dengan mamah sebelum Al melakukan tugas dari papah," ujar Altezza dengan tegas.
"KAUU!!" Yamamura menahan amarahnya, Altezza satu-satunya harapannya menghadapi kesalahan kali ini.
"Baiklah, ikuti papah." Pasrah Yamamura.
Yamamura membawa Altezza keluar dari ruangan itu, Altezza pikir papahnya akan membawanya keluar menuju helikopter. Rupanya Yamamura membawanya ke ruangan lain, lebih tepatnya ke sebuah kamar.
Cklek!
Pertama kali, pertama kalinya setelah berminggu-minggu lamanya dia tidak melihat ibunya lagi. Kini, dirinya kembali melihat sosok bidadarinya tengah tertidur nyenyak dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Jangan pernah mengatakan namamu, jika kamu tidak ingin dia mengamuk lagi." Pesan Yamamura.
"Kenapa? kenapa Al tidak boleh memperkenalkan diri Al? Al anaknya mamah!" Altezza tak terima.
"Silahkan, jika kamu mau melihatnya kembali tidak waras." Ujar Yamamura tanpa memikirkan perasaan Altezza yang tersinggung atas ucapan nya.
Yamamura pergi dari kamar iyu, dia memberi waktu beberapa menit untuk Altezza bertemu dengan ibunya.
__ADS_1
"Mah." Panggil Altezza.
Mendengar suara seseorang, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu membuka matanya. Dia terkejut saat mendapati Aktezza berdiri di sebelahnya.
"Ka-kamu siapa?!" Panik mamah Altezza. Bahkan wanita itu langsung duduk untung berjaga-jaga.
Altezza berjongkok, dia memegang tangan mamahnya dengan penuh kelembutan. Tangan yang tak pernah memeluknya di kala dingin menyapa, tangan yang tak pernah mengusap kepalanya di saat dirinya tengah menyapa dunia. Tangan yang selalu mendorongnya menjauh, bahkan hampir mencelakai nya.
Tapi, Altezza tidak marah sama sekali. Justru semakin mamahnya mendorongnya menjauh, semakin ALtezza ingin tetap tinggal di samping sang mamah.
"Mah,"
"Mamah? siapa mamah kamu?" Tanya wanita itu.
ALtezza tak kuat menahan tangis nya, matanya memerah. D4d4nya terasa sangat sesak seperti di timpa sebuah batu besar.
Altezza memejamkan matanya, bersiap jika sewaktu-waktu ibunya kembali mengusirnya. Sama seperti kejadian sebelumnya.
"Apa kamu salah ruangan? Mungkin mamah kamu di ruangan sebelah."
Sontak Altezza menatap wajah teduh itu, tak lagi tatapan penuh kebencian. Hanya tatapan bingung dengan sorot katanya yang lembut.
"Kenapa menangis?" Altezza menitikkan air matanya ketika usapan pertama kali dia rasakan. Usapan pertama yang mamahnya lakukan, mengusap kepalanya dengan penuh kasih seorang ibu.
Ini yang Altezza inginkan, ini yang Altezza rindukan. Setiap saat, Altezza selaku berharap dapat merasakan. Iri melihat anak lainnya selalu di manja oleh ibunya, dan kini Altezza mendapatkan nya walau hanya sekedar usapan di kepala.
"Jangan berhenti, aku mohon. Usap lagi kepalaku, mamah." Pinta Altezza ketika sang mamah ingin menarik tangannya dari kepala Altezza.
Wanita itu terlihat kebingungan, tapi tetap dia kembali mengusap kepala Altezza dengan penuh kasih sayang.
Altezza meletakkan kepalanya di pangkuan sang mamah, air matanya mengalir cepat di pipinya hingga selimut yang di pakai ibu Altezza.
"Ini yang aku inginkan, akhirnya keinginanku terwujud. Terima kasih mamah, terima kasih sudah memberikan kasih Sayang mu padaku." Batin Altezza seraya memejamkan matanya.
Cklek!
Yamamura kembali ke kamar, dia tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Entah mengapa, darahnya berdesir saat melihat adegan ibu dan anak itu.
"Ekhem! sudah cukup dan cepat lakukan tugasmu!" Titah Yamamura, kembali menjauhkan Altezza dari ibunya.
______
__ADS_1