
Gilbert, Reyban, Gilang serta Marcel mendatangi mansion yang Galang tempati, mereka berniat ingin menemui Revin karena sudah di pastikan Revin berada di sana.
"Oh, sudah datang rupanya."
Sontak ke empat nya terkejut lantaran mendengar suara dari salah satu sofa yang membelakangi mereka di ruang tamu.
"Revin?" Panggil Gilbert.
Revin berdiri saat namanya terpanggil, dia berbalik dan menatap ke empat anggota keluarganya yang tengah syok dengan penampilannya.
"Jadi, kalung itu selama ini ada bersama Revin." Batin Marcel.
Marcel maju mendekat pada Revin, matanya menajam ke arah kalung yang Revin kenakan.
"Siapa yang telah memberikanmu kalung itu?!" Marcel terlihat sangat marah.
"Tanpa atau adanya kalung ini, aku akan tetap membalas Yamamura kek." Balas Revin dengan tatapan tak kalah tajam.
"LEPAS KAN KALUNG ITU!!" Titah Marcel.
Revin memundurkan langkahnya, sontak anggota Araster yang turut berada di sana segera menodongkan senjata mereka ke arah Marcel. Tak peduli jika Marcel pernah menjadi ketua Araster, bagi mereka pemimpin mereka saat ini lah yang harus mereka lindungi.
Revin mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar anggotanya menurunkan senjatanya.
"Sebelum aku membalas dendam pada Yamamura, aku tidak akan pernah menyerahkan kalung ini pada siapapun. Termasuk Reynan."
"Nyawamu taruhannya Revin!! Yamamura pasti akan menghabisimu! dengan begitu, Araster akan berpindah tangan padanya!!" Marcel benar-benar di landa rasa takut saat ini, Yamamura mempunyai banyak koneksi. Sedangkan cucunya, baru pertama kali menggeluti dunia bawah.
Revin terlihat enggan membalas, dia malah menatap Gilbert yang menatapnya dengan tatapan sendu. Dia tahu bagaimana daddy nya itu mengkhawatirkan dirinya.
"Revin tau, kenapa daddy saat itu lebih memilih mengikuti saran kakek untuk menghilangkan ingatan Rev. Tapi disini Rev perlu tau tentang masa lalu Rev. Dan Revin sudah mengetahui semuanya, semua yang Yamamura lakukan pada keluarga kita."
"Rev hanya ingin keadilan bagi semuanya, keadilan bagi paman besar dan juga para mafia lain yang merasa di rugikan dengan kehadiran mafia milik Yamamura."
Revin menatap Reynan, sepupunya itu sudah sangat lama menjaga dirinya. Revin meyakinkan dirinya sendiri, jika sekarang adalah saat yang tepat untuk melindungi Reynan.
"Terima kasih karena lo sudah menjaga gue, tapi sekarang lo gak harus jaga gue lagi. Gue bisa jaga diri sendiri," ujar Revin
"Terserah lo mau bilang apa Rev, tapi ada satu hal yang harus lo tahu!"
Reynan maju melangkah mendekati Revin, dia menatap wajah Revin dengan tatapan yang serius.
"Oma belum meninggal, ternyata jasadnya itu palsu. Dan Yamamura yang merencanakannya."
"Apa?! apa maksudmu?!"
Gilbert menarik Reynan, menatapnya dengan serius. Begitu syok mengetahui fakta barusan. Sedangkan Marcel, malah terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Maaf om, Rey baru mengatakannya sekarang. Saat kejadian kemarin, Yamamura pergi dengan helikopter. Dan salah satu orang yang berada di helikopter itu adalah oma."
"Mungkin kamu salah liat Rey," ujar Gilbert mencoba membantah.
"Enggak mungkin Rey lupa wajah oma! bagaimana perilakunya dengan kita, aku merekam jelas dalam ingatanku!" Ujar Reynan dengan tegas.
Revin mengepalkan tangannya, dirinya tahu cerita masa kecilnya. Dirinya menyaksikan sendiri bagaimana Samantha berusaha menyingkirkan Emily serta Revin dari kehidupannya.
"Wanita tua itu masih hidup?" Tanya Revin dengan aura yang berbeda.
"Revin, kendalikan emosimu." Peringat Gilbert.
"Wanita tua itu harus m4ti." Gumam Revin.
Gilbert menyentuh pundak putranya, tubuh Revin terasa bergetar. Gejolak amarah di d4d4nya membuat emosinya tak stabil.
"Revin, berhentilan nak. Non aktifkan segera Araster, daddy gak mau kamu kenapa-napa. Apalagi bunda kamu, sepanjang malam dia menangis memikirkan nasib kamu." Ujar Gilbert dengan suaranya yang lemah, berharap Revin akan luluh.
Namun, di luar dugaan. Revin malah menurunkan pelan tangan Gilbert dari bahunya dan memandang daddynya dengan sorot kata yang penuh akan dendam dan ambisi.
"Apakah jika aku berhenti, om akan kembali sadar?" Tanya Revin.
Semuanya bungkam, tak ada yang berani menjawab.
"Enggak, om gak akan sadar. Sebelum dia tidur panjang, dia ingin aku membalasnya sebelum Yamamura yang menghancurkan aku. Aku akan menjalankan pesan om besar, dengan atau tanpa izin dari daddy serta bunda."
"Kamu jangan egois Revin!!" Sentak Gilbert yang tak tahan dengan perkataan putranya.
Revin menatap anggotanya, dia mengedipkan matanya dan kembali menatap ke arah Gilbert.
"Maaf daddy, aku harus kembali ke markas. BEberapa hari ke depan. Mungkin aku tidak akan pulang, sampaikan salamku pada bunda dan adik-adik. Rev mencintai kalian."
Revin beranjak pergi, di ikuti oleh para anggotanya. Seketika Gilbert lemas mendengarnya, putranya sangat keras kepala sama seperti dirinya.
"Rev, aku ikut denganmu!!"
Seketika Gilang menatap putranya, dia menatap tajam putranya dan tak terima dengan keputusan yang putranya ambil.
"Benar kata Rev, jika bukan dia yang hancur. Maka, kitalah yang akan hancur." Ucap Reyna. saat menyadari tatapan sang ayah padanya.
Reyna berjalan menghampiri Revin yang sempat berhenti, kemudian dia menatap Revin dengan tersenyum singkat.
"Ayo, aku temani kamu berjuang. Untuk om besar kita."
***
Anora tengah di marahi habis-habisan oleh ayahnya yaitu Frans, sedari tadi sang ayah terus mengomelinya lantaran melakukan keputusan tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
"Pokoknya daddy gak mau tahu, kamu diem di rumah! biar daddy dan abangmu yang mengurus semuanya! paham!" Anora tak mengangguk, tak juga menggeleng. Malahan justru dia asik memakan kacang bawang buatan mommy nya.
"Nora!!!"
"Ya?" Sahut Anora dengan santai.
Frans memijat pangkal hidungnya, dengan cara apalagi dia bisa mengajari putrinya? bahkan putrinya jauh lebih sulit dia arahkan di banding putranya.
"Kamu tahu, daddy cuman punya satu putri. Daddy gak mau kamu kenapa-napa." Frans mulai melunak.
"Justru daddy punya satu putri, aku putri daddy akan membanggakan dunia." Jawab Anora dengan santai
Frans sungguh gemas, ingin sekali dia meremas wajah putrinya yang terlewat datar itu.
"Sabar love." Seorang wanita paruh baya yang terlihat awet muda itu mengelus d4d4 suaminya.
"Sayang, dia anak perempuan. Beri dia pengertian, bukankah perempuan dan perempuan akan lebih mudah mendengarkan dan menerima nasehat?"
"Dia sama seperti kamu, keras kepala. Biarkan saja, semakin kita larang dia akan semakin berontak." Ujar wanita bernama Aqila itu dengan santai.
"Kay ...,"
"Cinta ku, aku tahu dia putri kesayanganmu. Tapi dia tidak bisa terus berada dalam zona nyamannya. Dia ingin menyingkirkan kejahatan di dunia, dukung dia. Bukan kita malah mematahkan semangatnya."
Frans memijat pangkal hidungnya, tak habis pikir dengan pemikiran istrinya. Bagaimana dia bisa tenang, putrinya akan berada dalam bahaya.
"Cukup percaya dengan putri mu saja. Aku yakin, dia bisa menjaga dirinya." Ujar Aqila.
Frans lelah, dia berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Aqila tahu suaminya tengah merajuk, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya menghadapi tingkah suaminya.
"Mommy bujuk daddy dulu, kamu istirahat hm." Pamit Aqila seraya mengelus rambut putrinya.
Aqila menyusul suaminya, dia menghampiri Frans yang duduk di tepi ranjang. Dia duduk di samping Frans kemudian memeluknya.
"Kau marah?" Tanya Aqila.
"Aku gak marah, aku hanya khawatir dengan putri kita." Lirih Frans.
"Anora sudah besar, dia berhak menentukan pilihannya." Ujar Aqila sambil menaruh dagunya pada pundak kekar sang suami.
"Kita sudah mempunyai cucu, sebentar lagi putri kita akan beranjak dewasa dan menikah. Kenapa kamu selalu merajuk hm?"
Yah, Bentley sudah berumah tangga. Dia menikah dengan putri seorang mafia kelas menengah. Dan sudah mempunyai 5 anak di usianya yang ke 30.
"Sayaangg!! aku gak merajuk, aku hanya kesal." Bantah Frans.
"Sama aja." Ledek Aqila.
__ADS_1
________