
Bagi Dennis, bertemu kembali dengan orang-orang yang baru dikenal dalam beberapa hari terakhir, bukanlah sebuah kebetulan. Hanya saja, ia belum siap menerima kenyataan yang dihadapinya sekarang.
Bagaimana bisa pelayan perempuan yang ia temui di café kemarin, kini ada di hadapannya dengan memanggil sebutan ayah kepada orang yang menguntitnya selama ini?
“Kenapa dia berada di sini, Ayah?” tanya perempuan itu penasaran sambil menatap Dennis.
“Ketimbang nanti kalian menghabiskan waktu dan kata-kata untuk saling beradu tanya, lebih baik kalian duduk. Biar aku jelaskan sekarang,” ucap lelaki itu.
Mereka akhirnya duduk. Posisi mereka seperti sedang rapat untuk membahas permasalahan penting dan serius.
“Kata ayah, belum waktunya semua ini dibongkar!” celetuk perempuan itu tak sabar.
“Orang-orang di luar sana sudah heboh. Bahkan dia pun sudah sangat penasaran. Aku tidak ingin ada yang keluar jalur. Jadi kupercepat saja!” lelaki itu beralasan.
“Apakah dia bersedia membantu kita?” perempuan itu masih terus bertanya.
“Itu yang sedang ayah bicarakan sekarang. Dengarkan saja dulu!”
Dennis yang sejak tadi bingung dan penasaran akhirnya berbicara. “Kalian tidak sedang reuni keluarga, bukan?”
“Maksudmu?” tanya lelaki itu.
Dennis menunjuk mereka satu-persatu. “Kalian bertemu dan mendiskusikan tentang diriku. Padahal semua ini sudah kalian rencanakan sebelumnya dan aku sudah di sini sekarang.”
Lelaki itu paham jika Dennis merasa tersinggung.
“Ini hanya salah paham. Dia tidak tahu kalau kamu ada di sini karena aku tidak menceritakan kepadanya. Tugasnya hanya mengawasimu dari cafe sana. Sementara kamu, tidak menyangka kalau dia terlibat, bukan?
“Itu maksudku. Tolong jelaskan ada apa semua ini? Aku pikir urusan kalian berdua bisa dibicarakan nanti!”
Perempuan itu ingin menanggapi namun dihentikan oleh ayahnya. “Cukup. Biar ayah saja yang menjelaskan. Perdebatan seperti ini hanya akan menguras banyak waktu dan tenaga.”
“Terserah ayah. Setelah ini selesai, aku minta waktu bicara dengannya berdua saja,” ucap perempuan itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
“Aku setuju. Kita perlu bicara,” tandas Dennis menanggapi.
“Tidak perlu. Nanti kalian justru membahas yang tidak-tidak. Kita fokus dengan urusan kita sekarang.”
Dennis ingin protes namun enggan melakukannya. Ia baru saja berada di tempat ini dan masih berusaha mengenali mereka.
“Kalau begitu aku mundur,” ucap perempuan itu berdiri dan ingin meninggalkan ruangan. “Bagaimana dengan kamu?”
Dennis bingung. “Aku belum maju, bagaimana bisa mundur?”
__ADS_1
Perempuan itu terlihat kesal. Tidak seperti kemarin, dari tadi Dennis belum melihat senyum perempuan itu.
“Sebenarnya demi apa kalian ini?” Lelaki itu mulai tidak sabar. “Aku berusaha ingin menjelaskan masalah ini dengan cepat. Malah jadi lambat seperti ini. Layla, kamu duduk!” Perintah lelaki itu dengan suara tegas.
Suasana menjadi tegang. “Kujamin kalian akan banyak waktu untuk saling bicara. Nanti kamu bantu Dennis mengambil barang-barang di penginapan dan apartemennya. Bawa kemari seperlunya,” ucapnya kepada Layla anaknya itu.
“Tunggu. Kenapa dibawa kemari?” tanya Dennis.
“Sejak hari ini kamu tinggal di sini untuk membantuku menyelesaikan semua permasalahan ini.”
Baru kali ini Layla menampakkan senyumnya. Terlihat manis sama seperti kemarin.
“Sebelum itu, jawab pertanyaanku dulu. Maukah…”
Lelaki itu belum selesai bicara. Namun, Layla langsung memotongnya. “Dia pasti mau!” ucapnya yakin.
Lelaki itu menarik napas panjang. “Biar ayah menjelaskannya dulu.”
“To the point saja, Ayah. Tidak perlu sesopan itu. Begini, kalau kamu tidak bersedia membantu, informasi pencurian bitcoin tadi malam akan kami sebar. Siapa yang melakukannya, di dompet siapa bitcoin curian itu di simpan. Paham?”
Lelaki itu menahan senyumnya. “Terus, lanjutkan saja,” ucapnya setuju dengan cara anaknya itu.
“Kita di sini bukan sebagai penjahat. Justru kita akan menyelamatkan banyak orang di dunia ini dari rencana-rencana jahat,” ucap perempuan itu bersemangat.
“Aku merasa kalian sedang menjebakku,” jawab Dennis.
Menjebak bagaimana? Justru itu karena kesalahanmu sendiri,” ucap Layla
“Jangan pakai kata itu, Layla. Tepatnya, dia terpilih,” sanggah lelaki itu meluruskan.
“Aku khawatir dia akan besar kepala jika menggunakan kata itu,” Layla beralasan.
“Faktanya dia memang terpilih. Para Allien itu yang mengatakannya sendiri.”
“Baiklah. Alam semesta sudah memilihmu untuk menjaga keseimbangan bumi. Di dalam tubuhnya tersimpan kekuatan yang teramat dahsyat jika dilakukan dengan benar!” terang Layla.
“Aku merasa seperti ada di dalam pilem, komik bahkan novel superhero. Padahal ini hanya skenario kalian saja untuk memuluskan cara untuk mendapatkan bitcoin yang kusimpan, bukan?” Dennis curiga.
Lelaki itu tersinggung. Layla sudah begitu bersemangat menjelaskan justru tak menyangka mendapat tanggapan seperti itu.
“Cukup sampai di situ, Layla. Biar ayah lanjutkan! Sekarang kita gunakan pendekatan ilmiah.” ucap lelaki itu.
Dennis mengangguk tetap menerima apa yang akan dijelaskan lelaki itu.
__ADS_1
“Berapa nomor kamar apartemenmu?”
“Anda punya CCTV di kamarku dan dia juga sudah tahu. Untuk apa lagi ditanyakan?” jawab Dennis
“Jangan mulai lagi. Jawab saja,” ucap lelaki itu tampak kesal.
“Tiga..!”
“Lantai berapa?”
“Enam..!”
“Berapa lantai apartemenmu?”
“Sembilan..!”
“Sudah jelas? Kamu tidak bisa lepas dari tiga bilangan tersebut. 369!”
“Bagaimana kalau itu hanya sebuah kebetulan saja? sahut Dennis belum puas.
“Kita kembali dengan Nikola Tesla. Jika kamu mempelajari numerology 369 Fibonacci, seharusnya kamu juga mengetahui tentang rasio emas, bukan?
“Aku pernah mempelajari itu,” jawab Dennis.
“Berarti kamu percaya bahwa alam semesta ini memiliki sistem yang sangat matematis?”
“Dalam teori rasio emas memang begitu penjelasannya. Lantas apa hubungannya denganku?”
“Kamu tahu matematika vortex? Di sana ada pola angka yang berulang: 1, 2, 4, 8, 7, dan 5. Sementara angka 3,6 dan 9 tidak ada,” terang lelaki itu.
“Memangnya kenapa?”
“Angka 3,6, dan 9 adalah angka penjaga keseimbangan dari angka lainnya. Para Allien yang kamu lihat di CCTV tadi bilang rahasia penemuan Nikola Tesla ada di dalam tubuhmu. Jika diaktifkan, kamu bisa menjaga keseimbangan bumi dari kerusakan.”
“Menurutku itu terlalu berlebihan. Aku tidak merasa seperti itu. Begini saja, kita tunda penjelasan secara ilmiah dan angka-angka. Biar aku melihatnya sendiri dengan menyentuh tanganmu!” tawar Dennis.
Lelaki itu memandang Layla yang sejak tadi hanya diam. Pilihan sulit. Padahal masih banyak ajaran Nikola Tesla yang belum ia sampaikan.
Namun, ia sadar jika hanya berbicara tentang angka, akan banyak waktu dan energi terkuras. Menurutnya, tak ada yang perlu disembunyikan dari Dennis. Ia harus tahu semuanya. Tanpa Dennis, semua pekerjaannya pun akan sia-sia.
“Baiklah. Aku yakin ini akan jauh lebih mudah. Seperti kata Nikola Tesla, Jika ingin menemukan rahasia alam semesta, pikirkan dalam hal; energi, frekuensi, dan getaran. Lakukanlah!” ucap lelaki itu menyodorkan lengan tangannya.
Tanpa berlama-lama, Dennis menyambut tangan lelakti itu. "Seandainya sejak awal langsung begini, tidak harus pusing soal angka-angka," ucap Dennis dalam hati.
__ADS_1