Magical Trader

Magical Trader
BAB 24


__ADS_3

JERITAN Pak Dikin lambat laun terhenti dengan sendirinya. Manajer itu lantas masuk ke ruangan kamar mandi. Dilihatnya Zarkum dengan rakus ******* tubuh Pak Dikin yang hanya menyisakan bagian tengkorak kepala dan pakaian yang telah robek tercabik.


Sebenarnya, tubuh manusia bukanlah makanan bagi Rustler. Namun, hanya dengan cara itu mereka bisa menyerupakan diri dalam wujud manusia.  Itu pun terpaksa dilakukan para Rustler karena Hanz terlanjur kabur.


Ketika penelitian Hanz terhenti, para Rustler tetap ingin melanjutkannya. Saat itu Hanz hanya sebatas mengganti penampilan mereka seperti manusia. Ternyata cara itu tak bisa bertahan lama, tak sampai satu jam wujud mereka akan kembali ke asal.


Saat para Rustler melanjutkan penelitian itu, mereka menemukan hasil yang lebih baik. Bisa bertahan dalam waktu cukup lama di udara panas. Itu terjadi jika mereka mau memakan tubuh manusia.


 Bertahan di udara dingin dan mampu bernapas dengan oksigen adalah tujuan utama mereka memburu Hanz sampai sekarang ini.


Dengan kemampuan yang mereka miliki itu, para Rustler bisa memboyong ras mereka yang sekarang sedang bersembunyi di beberapa planet secara terpisah-pisah.


Bumi adalah satu-satunya harapan untuk dijadikan sebagai rumah mereka sekaligus membangun peradaban baru tanpa peperangan.


Selama ini, mereka telah belajar bahwa teknologi perang yang mereka hasilkan masih jauh dibandingkan para Alien di luar sana.


Bumi sendiri sebagai planet baru telah masuk dalam perjanjian antar galaksi sebagai tempat pembelajaran bersama, bukan sebagai planet jajahan.


Semua Alien diijinkan datang ke bumi untuk membangun laboratorium dengan syarat tidak menganggu kehidupan manusia. Jika itu dilanggar, maka semua aliansi para Alien siap memberikan perlawanan.


Hal itu terjadi karena bumi sendiri memiliki banyak kekayaan yang tidak dimiliki planet lain di mana pun. Justru, kekayaan yang mereka miliki, semuanya ada di bumi. Dengan kata lain, bumi adalah masa depan bagi semua penduduk alam semesta.


Rustler, sebagia Alien yang agresif dan memiliki sifat penjajah, meski tunduk dalam aturan tersebut, mereka justru mencari celah dengan cara mempelajari manusia. Mereka menggunakan cara itu agar terhindar dari sanksi sebagai penjajah.


“Jangan sampai meninggalkan jejak,” ucap Zerch. “Kalau sampai perbuatan kita diketahui Wrangler, mereka bisa mengadu kepada pimpinan aliansi dan tamatlah kita semua.”


Tak berselang lama, Zarkum pun mengganti wujudnya menjadi tubuh Pak Dikin. “Kenapa harus tubuh orang tua ini? Sama saja kamu ingin membuatku repot seharian,” protes Zarkum kesal karena harus beradaptasi dengan kondisi Pak Dikin sebenarnya.


Zerch tertawa. Ia tak punya pilihan lain. Hanya Pak Dikin yang memenuhi syarat untuk menjadi mangsa. Jangan sampai banyak manusia heboh gara-gara kehilangan sanak saudara mereka.


“Mulai sekarang, kamu harus belajar menjadi Pak Dikin di hadapan orang-orang. Jangan sampai mereka curiga.”


“Sial. Bagaimana aku bisa bertahan dengan tubuh ini?,” Zarkum masih tidak terima jika harus menjadi Pak Dikin.


“Tenang saja. Aku akan mengatur semuanya agar tetap lancar. Kamu tetap bisa setiap hari datang kemari dan beristirahat di kamar mandi. Sekarang, bawa troli itu dan lakukan pekerjaan Pak Dikin seperti biasa.”


“Huh, menyebalkan!” sahut Zarkum mengeluarkan troli dari kamar mandi.


“O, ya. Di mana kamu simpan harddisk CCTV?”


 “Kuletakkan di laci meja. Kamu harus melihat isi rekaman itu!”

__ADS_1


“Aku masih menunggu petugas keamanan membeli perangkat CCTV baru dulu. Dari tadi mereka belum datang.”


“Aku coba turun ke ruangan mereka,” sahut Zarkum.


“Ingat, kamu adalah Pak Dikin. Jangan bertingkah aneh dan di luar kebiasaan,” Zerch mengingatkan sekali lagi.


“Iya, Pak!” sahut Zarkum menirukan Pak Dikin yang membuat Zerch tertawa.


***


Setelah memborong oksigen kaleng, rombongan Dennis tiba di Cafe Kembang Setaman. Tampak Mustafa dan Kosim sedang duduk bersantai di bawah pohon sambil menikmati secangkir kopi dan kentang goreng.


Mereka langsung berdiri setelah mengetahui kepala keamanan datang.


“Bukankah ini Pak Dennis?” sebut Kosim.


“Betul, Pak. Apa kabar?”


“Baik, Pak Dennis. Kok datang bersama kepala keamanan?” tanya Kosim merasa heran.


“Nanti kami jelaskan. Silakan duduk dulu.”


Si pemilik nama yang disebut pun segera tersenyum. Layla menggandeng pelayan  perempuan itu ke pinggir. “Biar aku saja yang melayani mereka, anggap sebagai kejutan teman-teman di dalam,” ucap Layla mengambil daftar menu.


“Jangan, Mbak. Nanti aku kena marah bos!” sahut pelayan itu ingin mengambil daftar menu yang sudah direbut Layla.


“Tenang saja. Nanti aku yang bertanggung jawab.”


“O, ya, mbak. Dalam beberapa hari lalu ada seorang perempuan berbaju dokter datang ke sini mencari mbak. Aku bilang kalau mbak sudah berhenti,” kata pelayan itu memberitahu.


“Hmm, siapa ya? Oke, deh. Terimakasih atas infonya. Kamu lanjut saja melayani pelanggan yang lain,” ucap Layla langsung menuju meja tempat mereka berkumpul tadi.


“Sebaiknya langsung saja. Secara bergantian mulai kepala keamanan, baru kami yang akan menjelaskan,” pinta Hanz agar kepala keamanan menceritakan semua yang diketahuinya.


“Meski terdengar aneh dan mengada-ada, Mustafa dan Kosim juga khawatir jika apa yang diceritakan kepala keamanan itu adalah benar.


“Itu sebabnya kita harus membantu mereka mengambil rekaman CCTV di dalam sana,” ucap kepala keamanan menegaskan.


“Bagaimana caranya?” tanya Mustafa.


“Coba bilang ke manajer kalau kalian sudah mencari perangkat CCTV di beberapa tempat, namun semua habis. Setelah itu, katakan ada orang yang bisa memperbaiki CCTV di apartemen.”

__ADS_1


“Masuk akal juga idemu,” puji Hanz.


“Manajer itu pasti akan memberikan harddisknya untuk memastikan perangkat CCTV sudah bisa digunakan atau tidak. Saat itu, harddisk langsung kita bawa pergi.,” sahut Hanz melanjutkan rencananya.


“Jadi, siapa yang akan menjadi orang yang akan memperbaiki CCTV itu?” tanya Dennis.


“Layla sangat mengerti soal CCTV, dia bisa melakukannya,” ucap Hanz.


Layla pun lantas mengacungkan jempol tanda setuju. “Pastikan dulu manajer itu bersedia perangkat CCTV apartemennya diperbaiki,” pinta Layla.


Mustafa lantas menghubungi ponsel si manajer. Sementara itu, Layla pergi untuk memesan makanan dan minuman untuk dibungkus.


“Apakah orang itu bisa datang cepat?” tanya manajer dari seberang sana.


“Dia ada di sampingku. Kalau bersedia, akan aku ajak dia ke apartemen sekarang juga,” sahut Mustafa.


“Baiklah. Nanti aku akan turun ke bawah untuk menemuinya,” jawab si manajer memutuskan panggilan ponsel.


“Sip..!” ucap Mustafa.


Rencana pertama sudah beres. Sambil menunggu Layla, Hanz lantas membagikan oksigen kaleng.


“Jika terpaksa, semprotkan ini ke wajah mereka,” ucap Hanz.


“Lantas bagaimana dengan tabung oksigennya?” tanya Dennis.


“Kita bawa ke ruang keamanan,” jawab Hanz meminta Kosim yang melakukannya.


Semua rencana sudah lengkap. Layla pun sudah selesai dan kembali membawa banyak bungkusan makanan.


“Dalam situasi ini, sepertinya kamu harus menggunakan penampilan baru agar terlihat lebih pantas sebagai seorang teknisi!” saran Dennis kepada Layla.


“Kalau pakaian itu soal gampang. Layla lantas pergi masuk ke dapur cafe kembali. Tak lama kemudian, ia pun keluar dengan pakaian yang sudah berbeda.


“Dari mana pakaian itu?”


“Pakaianku sebagian masih tertinggal di sini,” sahut Layla tersenyum manis.


“Berarti semuanya beres. Sekarang kita mulai beraksi. Ingat, kita semua harus berhati-hati. Apa yang kita hadapi bukan manusia, tapi Alien!”


“Siap, 86!” sahut Mustafa dan Kosim bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2