Magical Trader

Magical Trader
BAB 26


__ADS_3

DENNIS memperhatikan layar komputernya. Ia pun segera memberitahu Hanz setelah memastikan Pak Dikin akan naik ke lantai tujuh bersama Mustafa.


“Mereka akan naik ke lantai tujuh. Pergi dari sana sekarang juga,” ucap Dennis memberitahu agar Hanz segera menyingkir dari pintu ruangan manajer.


Mengetahui itu, Hanz meminta agar Kosim segera membawa tabung gas menuju tangga yang berada di ujung koridor.


“Kami akan bersembunyi di tangga,” sahut Hanz. “Bagaimana di lantai tiga?” tanya Hanz ingin mengetahui aktifitas si manajer.


“Dia sedang menyusuri kabel CCTV di sana. Kemungkinan besar dia akan menyusul Mustafa ke lantai enam,” sahut Dennis.


“Kamu susul si manajer, Layla. Ajak dia turun agar tidak menyusul Mustafa. Aku khawatir manajer curiga saat tak menemui Mustafa di sana,” perintah Hanz.


Perubahan rencana itu segera dikonfirmasi Layla. “Aku akan ke sana,” sahutnya sambil membawa beberapa peralatan yang mungkin diperlukan.


***


Satu pertanyaan di kepala Mustafa saat ini adalah, sejak kapan manajer mengijinkan Pak Dikin membersihkan ruangannya? Apakah ketika tadi saat memanggil Pak Dikin ke ruangannya? Pertanyaan itu terus berkelindan di kepala Mustafa.


Mereka hanya saling diam selama di lift. Tak biasanya Pak Dikin seperti itu. “Mungkin ia sedang sakit,” pikir Mustafa.


“Manajer tadi memanggilmu, bukan? Rupanya, Pak Dikin mulai diminta membersihkan ruangannya?” Mustafa memulai pembicaraan sekaligus ingin mendapatkan informasi.


“Mmm, iya. Di sana kotor sekali,” jawab Pak Dikin sambil terbatuk-batuk.


“Aku bahkan belum pernah masuk ke ruangan itu,” ucap Mustafa.


Pak Dikin menoleh memandangi Mustafa. “Sebaiknya kamu jangan ikut. AKu khawatir dia akan memarahiku karena mengijinkanmu masuk ke ruangannya,” pinta Pak Dikin.


“Tidak apa-apa. Aku akan menjelaskan kepada manajer nanti,” Mustafa tetap memaksa.


Pintu lift terbuka. Mustafa langsung menggantikan Pak Dikin untuk mendorong troli. Di belakang, Pak Dikin berpikir keras cara menyingkiran Mustafa yang masih mengikutinya menuju ruang manajer.


Napas Pak Dikin mulai terasa sesak akibat terlalu banyak menghirup oksigen. Ia perlu segera ke kamar mandi untuk memulihkan kondisinya.


Sampai di depan pintu, Pak Dikin segera mengeluarkan kunci dan langsung membukanya. Ia halangi Mustafa ketika ingin memasukkan troli. “Kamu tunggu di sini saja,” ucap Pak Dikin segera menarik troli dan segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Mustafa sempat bingung mengetahui Pak Dikin memiliki kunci ruangan manajer. Apalagi setelah tiba di dalam, ia melihat Pak Dikin langsung menuju kamar mandi. Namun, tak berapa lama kemudian, Pak Dikin kembali hanya untuk menutup korden jendela.


***


Sejak di dalam lift, Layla memikirkan cara untuk mengelabui sang manajer. Ia lantas menyiapkan tang lancip dan memutuskan singgah ke lantai dua. Dengan gerakan cepat, Layla mencari kabel CCTV dan langsung memutuskannya di beberapa bagian.

__ADS_1


“Cepat, Layla. Sepertinya manajer akan pergi ke lantai enam. Dia sudah berada di depan pintu lift,” ucap Dennis.


Tanpa pikir panjang, Layla segera menuju ke lantai tiga menggunakan anak tangga sambil berlari. Sampai di atas, Layla ternyata tidak menemukan sang manajer. “Di mana dia, Dennis?” tanya Layla gugup.


“Dia sudah naik!”


“Lantai berapa?”


“Enam.”


“Argghhh, aku akan ke sana sekarang,” Layla kesal karena terlambat dan tidak ada waktu lagi menunggu sampai pintu lift terbuka. Layla terpaksa harus berlari menggunakan tangga menuju ke lantai enam.


Napas Layla tersenggal. Ia terus berlari dengan harapan bisa mendahului si manajer. Ia baru saja mendapatkan ide untuk mengatasi jika manajer bertanya karena tak menemukan Mustafa di sana.


***


Hanz dan Kosim segera menghampiri Mustafa yang dari tadi mencoba membuka kunci pintu dengan pisau lipat.


“Bagaimana, bisa?” tanya Hanz.


“Pak Dikin tidak mencabut kuncinya. Ini akan sedikit memakan waktu,” jawab Mustafa.


“Aku tidak berani tanpa seijin kalian,” sahut Mustafa.


“Dia tidak ada di dalam?” tanya Kosim mengintip dari celah korden.


“Di kamar mandi!” sahut Hanz.


“Sebentar, kita sedang dalam bahaya,” ucap kepala keamanan yang hanya bisa di dengar oleh Hanz, Dennis dan Layla.


Kepala keamanan lalu menceritakan pengalamannya tadi saat terjebak di ruang manajer.


“Kamu yakin?” tanya Hanz.


“Aku mendengar dia saling berbicara. Kemungkinan ada dua orang,” sahut kepala keamanan.


“Berarti Pak Dikin juga Alien?” tanya Hanz lagi, sementara Layla hanya mendengarkan sambil mempercepat langkahnya menuju ke lantai enam.


“Ada apa?” tanya Mustafa.


“Kata kepala keamanan, kemungkinan Pak Dikin juga adalah Alien,” sahut Hanz memberitahu.

__ADS_1


“Tidak mungkin. Aku tadi sempat ngobrol dengannya dan dia sedang sakit.”


“Teruskan saja pekerjaanmu. Apa masih lama?”


“Sebentar lagi. Aku terpaksa merusak lubang kuncinya!” ucap Mustafa.


 Tak lama kemudian, Mustafa berhasil membuka pintu ruangan manajer. Hanz meminta agar Kosim membawa tabung gas ke dalam ruangan untuk berjaga-jaga.


“Hati-hati, aku akan memeriksa bagian meja. Kosim berjaga-jaga di depan kamar mandi. Mustafa cari harddisk itu di tempat lain,” perintah Hanz segera memasuki ruangan dengan berjingkat.


Saat di dalam ruangan, mereka mendengar suara air shower sedang dinyalakan. Namun, pintu kamar mandi dalam keadaan tertutup rapat.


Hanz berkomunikasi dengan Mustafa dan Kosim menggunakan jari tangan sebagai bahasa isyarat. Ia lalu menuju meja dan melihat buku catatan di atas sana. Hanz mengambil buku itu dan menyelipkannya ke dalam pakaian.


Hanz sangat senang saat menarik laci meja, benda yang dicarinya itu berada di sana. Dengan cepat Hanz menutup laci meja kembali dan meminta agar semuanya meninggalkan ruangan sambil membawa tabung oksigen.


***


Layla tiba di lantai enam persis ketika pintu lift berhenti. Ia pun berpura-pura memeriksa kabel agar sang manajer tidak curiga.


“Kamu di sini?” tanya sang manajer saat keluar dari pintu lift.


“Iya, Pak. Aku tadi memeriksa semua kabel di lantai yang lain. Ternyata ada kabel yang putus di lantai dua. Terus lanjut ke sini. Mustafa baru saja saya suruh turun untuk menunggu di basement,” jawab Layla.


Sambil berbicara itu, Layla mendengarkan ucapan Hanz yang meminta agar semua kembali ke mobil. Harddisk yang mereka cari sudah didapatkan.


“Di lantai enam semuanya aman. Bagaimana di sini?” tanya sang manajer yang mulai terbatuk-batuk.


“Aku belum memeriksa di bagian ujung sana. Kalau tidak keberatan?” Layla tersenyum berharap manajer itu pergi ke ujung sana.


“Kamu lanjutkan saja. Aku akan pergi ke ruanganku dulu sebentar. Kita bertemu lagi di basement nanti,” ucap manajer itu memegangi dadanya.


“Bapak sakit?” tanya Layla berbasa-basi.


“Tidak. Hanya perlu sedikit air hangat dan perasan air jeruk saja, napasku akan kembali lega,” sahut manajer itu.


“Kalau begitu, biar aku periksa semua kabelnya dulu. Kita bertemu lagi di basement. Semoga CCTV bisa kembali menyala hari ini,” ucap Layla membiarkan manajer itu segera melangkah memasuki pintu lift kembali.


Melalui wireless earphone, berkali-kali Hanz meminta agar Layla segera turun. “Cepat, Layla. Jika manajer itu sadar pintu ruangannya rusak, dia pasti akan mengejar kita,” ucap Hanz tampak gugup.


Layla memahami situasinya. “Iya, ayah. Aku turun sekarang,” jawab Layla sambil memutus beberapa kabel di dekatnya. Mendadak lampu di lantai enam pun mati. Layla pun langsung berlari menuruni anak tangga.

__ADS_1


__ADS_2