Magical Trader

Magical Trader
BAB 6


__ADS_3

BARU kali ini Dennis dan dokter Ambar melihat pergerakan harga bitcoin yang begitu aneh. Hanya dalam hitungan detik, harga bitcoin anjlok dan naik kembali seperti roller coaster.


Peristwa itu terjadi berulang-ulang selama lima menit dan berakhir dengan penurunan harga bitcoin yang drastis.


Sialnya, saat itu terjadi, tombol jual dan beli tak berfungsi.


Berulangkali Dennis mencoba, namun gagal. Pasar bitcoin seperti sedang menayangkan film horor yang menegangkan. Para penonton tak bisa melakukan aksi apa pun selain mengumpat sistem yang kacau.


Hal itu juga yang dirasakan Dennis saat mengetahui semua token dan koin mengalami hal sama, termasuk token XRP.


Berulangkali Dennis mendapat notif dari sistem margin call. Harga posisi ‘Long’ XRP turun drastis dan sudah melewati 70% dari ambang batas yang ditentukan. Sedikit lagi jika harga XRP turun, maka Dennis akan kehilangan banyak uang.


Para pembenci XRP pasti sedang bersulang saat ini, bathin Dennis. Namun ia tetap yakin, informasi yang ia dapatkan tidak salah.


Bagi mereka yang sedang panik dalam situasi seperti ini, pasti memilih untuk berhenti melanjutkan posisi ‘Long’ mereka.


“Bagaimana ini, Dennis. Kalau sampai rugi banyak, aku bisa diceraikan suamiku,” dokter Ambar panik memandangi layar ponselnya.


“Tenang saja. Aku masih yakin XRP akan naik,” Dennis kembali menghadap laptopnya untuk mencari informasi lebih jauh. Namun ia justru tercengang melihat baris perintah di command prompt menargetkan beberapa alamat IP yang ia kenali.


“Kenapa laptop ini bisa meretas banyak market sekaligus?” bathin Dennis kebingungan. Ia menoleh ke dokter Ambar yang masih sibuk memperhatikan pergerakan harga XRP melalui ponselnya.


“Lihat, Dennis. Lihat…! Kamu benar. XRP naik tinggi,” dokter Ambar berteriak nyaring, suaranya memenuhi ruangan apartemen.


Dennis tak tahu mana yang harus didahulukannya. Ia ikut senang karena harga XRP mampu membalik keadaan.


Dari panel margin, Dennis bisa melihat keuntungan yang sudah didapatnya mencapai 70 BTC. Angka itu terus merambat naik membuat jantung Dennis berdebar.


“Aku jual sekarang atau nanti saja?” tanya dokter Ambar.


“Memangnya tombol jual beli sudah normal?”


“Sudah. Barusan aku coba jual sedikit dan berhasil. Tahu begini, rumah dan mobil kugadaikan semua untuk modal,” dokter Ambar tertawa.


“Sebentar, Dok. Aku ingin memeriksa transaksiku dulu,” Dennis meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali memandangi layar laptop.


Packets: Send \= XRP detect, Received \= ALL


Kode yang aneh, pikir Dennis. Ia tak pernah melihat ada yang seperti itu. Namun perhatiannya tertuju kepada baris bertuliskan XRP.

__ADS_1


“Kenapa masih naik terus. Aku¬ sudah untung tiga kali lipat,” suara dokter Ambar mengejutkan kembali.


“Pelankan sedikit suaramu, Dok. Aku butuh konsentrasi saat ini,” pinta Dennis meraih ponselnya.


“Maaf, Ya," dokter Ambar menghampiri Dennis. "Terimakasih atas keuntungan yang kamu berikan hari ini,” spontan dokter Ambar mengecup pipi Dennis. “Itu bonus,” dokter Ambar mengerlingkan matanya saat Dennis terkejut.


“Sudah dijual semua?”


“Sudah barusan…”


“Kalau begitu beli lagi.”


“Aku takut, Dennis. Ini sudah untung banyak.”


“Ini momentum mengembalikan uang yang tertipu kemarin. XRP masih bisa naik lagi.”


“Kamu yakin?”


“Buktinya aku belum jual,” Dennis menunjukkan ponselnya.


“Aku menggunakan margin market, jadi tampilannya berbeda,” Dennis menjelaskan maksud angka-angka yang tertera di layar ponsel.


“Ini keuntunganmu kalau dijual sekarang?” tunjuk dokter Ambar memperhatikan sederet angka berwarna hijau.


“Astaga, 170 BTC. Kamu benar-benar orang kaya, Dennis. Aku mau ganti suami, akh,” celetuk dokter Ambar sesuka hatinya.


“Kenapa sih dari tadi ngomongnya ngawur terus?”


“Hehehe…Aku cuma bercanda supaya tidak ngantuk,” kilah dokter Ambar mencubit lengan Dennis.


“Aduhhh…” Dennis meringis kesakitan. “Kalau ingin untung banyak, sekarang fokus, Dok. Tunggu harga XRP turun kembali, setelah itu belikan semua uangmu.”


“Siap, Bos,” jawab dokter Ambar seperti sedang menerima perintah atasan. “Kalau ini sampai larut malam, aku boleh menginap di sini?”


“Bagaimana dengan suamimu? Kamu belum membalas pesannya, bukan?”


“Akh, tolong jangan baca lagi pesan-pesanku. Bagaimana cara menghentikannya?”


“Aku belum tahu cara melakukannya. Pastikan dulu tidak ada masalah kalau ingin menginap di sini.”

__ADS_1


“Bagiku Ini soal uang yang banyak. Aku tidak berani bermain sendirian. Kalau suamiku mengijinkan, bagaimana? ”


“Terserah saja. Asalkan aku diberikan waktu untuk konsentrasi dan tetap tenang.”


“Deal…!” jawab dokter Ambar langsung menjauh ke dapur untuk menghubungi suaminya. “Dennis pasti tidak bisa mengetahui kalau langsung lewat telpon,” bathin dokter Ambar yang merasa terancam dengan kemampuan aneh Dennis.


Sementara dokter Ambar sedang menghubungi suaminya, Dennis sedang membayangkan para pembenci token XRP yang tadinya sempat gembira mulai panik di medan peperangan.


Jika harga token XRP terus melambung, posisi margin ‘Short’ mereka akan terlikuidasi secara otomatis. Saat ini pasar token XRP secara penuh sudah dikuasai orang-orang yang mengambil posisi ‘Long’, sama seperti dirinya.


***


Waktu merambat cepat. Seperti yang sudah dibayangkan sebelumnya, token XRP naik tajam. Dennis pun sudah melepaskan posisi ‘Long’ untuk mengambil keuntungan sebanyak 234 BTC.


Nilai keuntungan yang sangat fantastis dan memecahkan rekor selama Dennis menjadi seorang trader kripto.


Begitu pun, Dennis belum merasa puas. Ia tak ingin menyia-nyiakan momentum yang tak setiap bulan terjadi pada token XRP.


Cintai rupiah dan tak perlu fanatik dengan kripto, begitulah prinsip yang ia pegang selama ini.


Selama masih bisa memberikan keuntungan, jangan sia-siakan kesempatan itu. Jika harga bisa naik, sudah pasti harga bisa turun.


Setelah menarik sebagian keuntungan dan menyimpannya di dompet bitcoin, Dennis segera membalik arah dengan mengambil posisi ‘Short’.


Sementara itu, di tempat tidur, dokter Ambar benar-benar puas dengan keuntungan yang dihasilkan malam ini. Uang yang sempat hilang karena tertipu sudah kembali dan masih ada sisa keuntungan yang didapatkannya.


“Maaf, Dennis. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Coba baca berita terkini, banyak market diretas. Banyak orang kehilangan bitcoin mereka,” ucap dokter Ambar memberitahu.


“Deg…!” Jantung Dennis langsung berdebar setelah mendengar ucapan dokter Ambar. Di layar laptopnya pun baris-baris command prompt menunjukkan aktifitas aneh.


Dennis curiga angka-angka itu seperti alamat dompet penyimpanan bitcoin. Entah kenapa Dennis tak bisa mengakses angka-angka itu menggunakan kekuatan anehnya.


“Jangan-jangan bitcoin yang baru kukirim juga menjadi korban,” pikir Dennis segera memeriksa akunnya di Blockchain.


Di luar yang ia perkirakan, Dennis sempat syok mengetahui ribuan bitcoin justru sudah berada di dompet penyimpanan miliknya. Siapa yang melakukan semua ini? Kenapa harus dikirimkan kepadaku?


“Dok...kemarilah sebentar. Dadaku sesak dan tubuhku terasa ingin pingsan,” panggil Dennis hampir terjatuh dari kursi.


Sigap dokter Ambar memberikan pertolongan. Ia baringkan Dennis di ranjang tidur dan segera mengambil air hangat.

__ADS_1


“Memangnya ada apa sampai mendadak seperti ini?”


Dennis tak mampu menjawab. Tubuhnya lemas dan akhirnya jatuh pingsan.


__ADS_2