Magical Trader

Magical Trader
BAB 23


__ADS_3

SELAMA Hanz berkomunikasi dengan para Wrangler, Dennis hanya duduk diam mendengarkan pembicaraan mereka. Dari situ ia tahu bahwa Wrangler belum siap jika harus melawan gempuran para Alien Rustler.


Masih banyak pekerjaan untuk menyelesaikan proyek membuat bumi agar lebih dingin. Secara teknologi, mereka membuat alat untuk meredam panas bumi, sementara tugas Hanz adalah mengkampanyekan bumi hijau.


Sementara ini, apa yang terjadi di apartemen, membuat situasi sudah keluar dari yang direncanakan. Tak ada yang tahu kalau para Rustler bersembunyi di sana. Tindakan Hanz pun dianggap ceroboh karena meninggalkan jejak berupa rekaman CCTV.


Pilihannya ada dua. Kembali ke apartemen untuk merebut rekaman CCTV atau bersembunyi dan melakukan penyamaran.


Hanz mengakhiri pembicaraan mereka sambil tertunduk lemah. “Kenapa menjadi seperti ini?” Tak biasanya ia ceroboh dalam bertindak. Hanya soal melumpuhkan CCTV di apartemen saja ia bisa lupa.


“Bagaimana menurutmu, Dennis.  Apakah kamu sanggup kembali ke apartemen untuk merebut rekamanan CCTV?”


“Ruang kemanan ada di basement. Kita bisa masuk ke sana. Namun, pasti tidak mudah melumpuhkan para petugas keamanan.”


“Bukankah sudah berkurang satu,” Hanz menatap kepala keamanan. “Kalau urusan perkelahian, kita tidak bisa hanya mengandalkan Layla. Kita perlu orang tambahan.”


Pintu mobil terbuka. Layla datang membawa dua botol air mineral dingin. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan memercikkan air itu ke wajah kepala keamanan dengan jari tangannya. Setelah itu, Layla lantas mengarahkan mulut botol agar bisa diminum oleh kepala keamanan.


“Jadi, bagaimana keputusannya?” tanya Layla.


“Agar semuanya aman, sepertinya kita harus kembali ke apartemen untuk mengambil rekaman tersebut,” jawab Hanz.


Layla tersedak ketika mendengar keputusan itu sambil minum. “Melawan Alien dan kita belum memiliki senjata khusus untuk itu.”


“Bagaimana kalau mereka sudah melihat rekaman CCTV? Mereka pasti sudah mengenali wajah kita?” sahut Dennis.


“Terus, berikan pertanyaan demi pertanyaan agar keputusan kita kali ini tidak lagi memiliki cela,” ujar Hanz sambil memperhitungkan semua kemungkinan yang terjadi.


“Kalau soal mereka sudah melihat rekaman, kita masih sempat, asalkan rekaman tersebut belum dikirim ke pimpinan mereka,” lanjut Hanz.


“Dari mana kita tahu mereka sudah melihat rekaman dan belum mengirimkannya?” pungkas Layla menyerahkan botol air mineral ke Dennis.


“Satu-satunya jalan adalah kembali ke apartemen,” ucap Dennis.


“Terus, bagaimana kalau berhadapan dengan para Alien itu. Aku tidak jamin bisa mengalahkannya sendirian,” Layla ragu.


“Tunggu sebentar. Coba kita kaitkan dengan proyek para Wrangler…” ucap Hanz tampak berpikir.


“Proyek bumi dingin. Kenapa tidak kita coba menggunakan bahan yang menghasilkan dingin untuk melemahkan Rustler itu,” jawab Layla.


“Seperti es batu, maksudmu?” pungkas Dennis asal bicara.


Layla tersenyum kecut dan Hanz langsung mengurut keningnya setelah mendengar pertanyaan Dennis.

__ADS_1


“Kenapa tidak gunakan tabung oksigen saja?” ucap seseorang mengagetkan mereka bertiga.


Secara berbarengan mereka pun memandangi kepala keamanan yang sedang tersenyum. Hanz, Layla dan Dennis seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi.


“Aku sudah mendengar pembicaraan kalian sejak tadi,” ucap kepala keamanan memperbaiki posisi duduknya.


“Bukankah kamu tadi masih seperti orang linglung?” tanya Hanz.


“Itu hanya strategi menyelamatkan diri jika sedang disandera musuh. Sebagai petugas keamanan, kami terlatih dalam urusan seperti itu,” ujar kepala keamanan menjelaskan kondisi yang sebenarnya.


Layla tersenyum karena merasa tertipu. “Jadi, Anda sudah tahu apa yang terjadi saat ini?”


“Aku sudah mendengar semua dan kurasa kalian adalah orang yang baik. Itu sebabnya kenapa aku berhenti melakukan penyamaran,” jawab kepala keamanan dengan santai.


“Kalau soal ngompol di lift?” tanya Layla lagi.


Kepala keamanan langsung memegangi celananya. “Kalau ini di luar kemampuanku. Bahkan saat kalian masuk ke dalam lift, pandanganku sudah samar melihat kalian.”


“Baiklah. Sekarang masalah sudah terpecahkan. Kita pun sudah mendapatkan tenaga bantuan dan menurutku sarannya tadi bisa kita coba,” ucap Hanz meminta Dennis untuk kembali ke kursi sopir.


“Aku bisa bantu kalian untuk mengambil rekaman CCTV itu. Sebentar…” ujar kepala keamanan merogoh kantong celananya. Ia pun segera mengambil ponsel. Ada beberapa panggilan tidak terangkat dari manajer dan dua orang anak buahnya.


Nada dering ponsel itu sengaja ia matikan sejak bersembunyi di bawah meja ruangan sang manajer.


“Halo, Mus. Kamu di mana?”


“Siap. Manajer memerintahkan untuk membeli CCTV baru,” jawab Mustafa anak buah kepala keamanan.


“Memangnya kenapa dengan CCTV di ruangan kita?”


“Siap. Rusak, Pak!”


“Kalau rekamannya?”


“Siap, hilang. Kemungkinan manajer yang menyimpannya.”


“Aku mau minta tolong. Kamu batalkan saja untuk membeli CCTV baru. Saat ini aku sedang menuju apartemen.”


“Tapi, Pak! Maaf…manajer bilang Anda sudah diberhentikan.”


“Itu bohong. Ada yang ingin kuceritakan kepada kalian, tapi tidak lewat ponsel ini. Kita semua sedang dalam bahaya. Manajer yang selama ini menjadi pimpinan kita bukan manusia.”


“Maksud, bapak?” terdengar suara di seberang sana tampak bingung.

__ADS_1


“Sekarang kamu hubungi Kosim, suruh dia tinggalkan apartemen. Kita bertemu di luar,” ujar kepala keamanan sambil berpikir.


Layla menyela. “Cafe Kembang Setaman,” ucapnya lirih memberitahu kepala keamanan.


“Di Cafe Kembang Setaman. Kalian pesan saja dulu, aku akan segera ke sana.”


“Bagaimana kalau aku dipecat gara-gara tidak jadi membeli CCTV?” Mustofa masih ragu.


“Itu soal gampang. Banyak pekerjaan lain untuk kalian. Aku jamin!” Kepala keamanan memandangi wajah Hanz seperti meminta persetujuan. Hanz pun hanya mengacungkan jempolnya.


“Baik, Pak. Asal ada yang menjamin, sekarang aku akan menghubungi Kosim,” ujar Mustofa mematikan panggilan ponsel.


“Rekaman CCTV sudah tidak ada di ruang keamanan. Manajer masih menunggu perangkat CCTV baru untuk melihat rekaman di dalamnya,” ucap kepala keamanan memberitahu mereka.


“Bagus..! Sekarang kita berangkat sekarang untuk memborong tabung oksigen dan menuju café kembang setaman,” perintah Hanz menepuk pundak Dennis untuk segera menyalakan mesin mobil.


***


Pak Dikin, petugas kebersihan apartemen tampak tergopoh-gopoh menuju ruangan manajer. Dari tadi ia cemas kalau manajer itu akan memarahinya gara-gara pekerjaan.


Kondisinya yang sudah tua dan sakit-sakitan membuat Pak Dikin lamban dalam menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah mengetuk pintu, manajer itu lantas meminta Pak Dikin masuk ke dalam ruangan.


“Bawa saja peralatanmu masuk ke dalam,” perintah sang manajer.


Pak Dikin tergopoh-gopoh mendorong troli berisi ember, pel lantai dan sabun cair. Setelah menempatkan di sudut ruangan, ia pun lantas menunggu perintah manajer selanjutnya.


“Tolong bersihkan kamar mandiku, Pak Dikin. Di sana kotor sekali,” ucap sang manajer membuat Pak Dikin merasa lega. Ia pikir akan kena marah, ternyata hanya untuk membersihkan kamar mandi.


“Sekarang, Pak?”


“Iya, sekarang. Kamu bersihkan dan tidak usah berteriak kalau melihat kadal,” ujar sang manajer.


“Kadal?” tanya Pak Dikin heran. Selama bekerja di apartemen ini, ia belum pernah menemukan kadal di dalam kamar mandi.


“Aku tidak tahu apa namanya. Pokoknya bersihkan saja!” ucap sang manajer tidak sabar agar Pak Dikin segera masuk ke dalam kamar mandi.


“Baik, Pak. Akan saya bersihkan kamar mandinya sekarang. Kalau memang ada kadal, akan saya tangkap untuk obat gatal,” ujar Pak Dikin segera mendorong trolinya menuju kamar mandi.


Seperti biasa, Pak Dikin lantas membuka pintu kamar mandi terlebih dahulu agar trolinya bisa dibawa masuk. Ia lantas masuk ke kamar mandi untuk menarik trolinya dari dalam.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbanting. Pak Dikin sempat berteriak meminta tolong sambil menggedor pintu.

__ADS_1


__ADS_2