Magical Trader

Magical Trader
BAB 21


__ADS_3

RUANGAN lift yang ditumpangi oleh Hanz dan Layla mendadak bau pesing. Sejak tadi, kepala keamanan itu tak berbicara apa pun. Bahkan, menyapa atau membalas tatapan mata Layla pun tidak dilakukannya.


Hanz dan Dennis ikut menyaksikan kejadian aneh itu hanya lewat kacamata, hasil penglihatan Layla.


Sejak awal, mereka sangat ingin berdiskusi lewat wireless earphone. Namun, mereka saling menahan diri karena khawatir kepala keamanan akan curiga.


Hanz mencari cara untuk memastikan kepala keamanan yang berada satu lift dengan mereka itu bukan termasuk para Rustler.


“Tali sepatumu sepertinya longgar,” ucap Hanz menyikut tangan Layla agar berjongkok dan berpura-pura memperbaiki ikatan tali sepatunya sambil memerhatikan cairan di bawah sana.


 “Semoga di basement ada toilet. Aku sudah kebelet ingin kencing,” celetuk Layla sengaja mengeraskan suaranya ketika menyebut kata ‘kencing’. Setelah itu ia mengarahkan tatapannya ke arah lantai, persis di antara dua sepatu milik kepala keamanan.


“Apakah ada toilet di basement?” tanya Hanz memancing agar kepala keamanan berinisiatif memberitahu mereka.


Layla dan Hanz menunggu jawaban. Namun, kepala keamanan hanya diam.


“Sepertinya kita harus menanyakannya kepada seseorang. Mungkin ada petugas keamanan atau kebersihan di basement yang bisa kita temui,” sahut Layla berdiri kembali.


“Apakah Anda tahu letak toilet di basement, Pak?” tanya Layla menanyakannya kepada kepala keamanan.


Saat itulah, kepala keamanan tiba-tiba ambruk dan kepalanya membentur dinding lift. Ia tersungkur lemas dalam posisi terduduk.


“Kenapa dia?” tanya Hanz refleks.


Layla pun mengguncangkan bahu kepala keamanan. Namun, tak ada reaksi apa pun. “Sepertinya dia pingsan,” ucap Layla.


“Pingsan?” tanya Dennis menyahut.


“Bagaimana ini, Ayah?”


“Segera nyalakan mobil, Dennis. Kita akan bawa kepala keamanan,” Hanz memutuskan.


“Sebentar. Dari layar CCTV aku melihat manajer saat ini menunggu di depan pintu lift. Sepertinya dia juga akan turun,” jawab Dennis memberitahu mereka.


“Kami sebentar lagi sampai. Apakah di bawah aman?”

__ADS_1


Dennis ragu untuk keluar dari mobil. “Sepertinya aman!” sahut Dennis setelah memperhatikan sekeliling ruangan parkir.


“Jalankan mobil menuju pintu lift, kami segera sampai dalam hitungan menit,” ucap Hanz memberikan perintah.


Dennis pun langsung menyalakan mesin mobil. Ia segera memalingkan mobilnya agar persis berada di depan pintu lift.


Saat pintu lift terbuka, tampak Hanz dan Layla kerepotan mengangkat tubuh kepala keamanan itu. Dennis langsung turun membantu. Tubuh kepala keamanan itu cukup berat. Bertiga mereka mengangkatnya dan langsung memasukkan ke dalam mobil lewat pintu belakang.


“Ayo cepat naik,” ajak Dennis terburu-buru.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan mengikat tangan dan kaki kepala keamanan. Mereka khawatir, saat siuman nanti, kepala keamanan itu justru akan berontak dan membuat keributan di dalam mobil.


“Biar aku saja yang menyetir. Aku sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi dengan kepala keamanan,” ujar Hanz meminta Dennis agar duduk di belakang dan mencari informasi dengan menyentuh tubuh kepala keamanan tersebut.


***


Sementara itu, si manajer baru saja masuk ke dalam lift menuju basement. Ia merutuki udara dingin AC yang keluar dari dinding atas.


“Orang-orang bumi memang aneh. Di mana-mana selalu saja ada alat pendingin ruangan,” bathin sang manajer tidak sabar menemukan kepala keamanan.


Sampai di basement, ternyata orang yang ia cari tidak ada. Ia lantas pergi ke ujung ruangan, tempat kepala keamanan berkantor. Di ruangan itu ia hanya menemui dua orang sedang tertidur pulas.


“Bangun, kalian!” perintah sang manajer.


Dua orang tadi pun tersadar siapa yang berada di hadapan mereka. Dengan sigap mereka lantas bangun untuk siap menerima perintah.


“Di mana kepala keamanan kalian?” tanya sang manajer memandangi sekeliling ruangan.


“Dari tadi tidak ada di sini, Pak!” sahut salah seorang.


“Sekarang aku perintahkan kalian cari dia sampai dapat. O, ya. Perintahkan bagian kebersihan untuk membersihkan lantai lift. Ada orang yang kencing sembarangan tadi,” ujar sang manajer.


“Siap, laksanakan,” dua petugas keamanan itu pun langsung mengenakan seragam dinas yang mereka sampirkan di belakang pintu. Setelah semuanya siap, mereka lantas berbagai tugas untuk menghubungi petugas kebersihan dan mencari kepala keamanan.


Sang manajer sengaja tetap tinggal di ruang keamanan. Ia segera mematikan alat pendingin ruangan. Udara panas membuat tubuhnya terasa segar.

__ADS_1


Ia lantas menuju meja yang terdapat komputer untuk memantau kamera CCTV. “Di mana kepala keamanan itu?” tanyanya dalam hati lantas memerhatikan satu-persatu tayangan di layar komputer.


“Kenapa tidak ada?” Ia pun lantas memutar rekaman beberapa menit lalu. Satu-persatu ia saksikan pergerakan di layar komputer. Ia pun menemukan keanehan di bagian pintu lift.


“Bukankah dua orang itu yang tadi berpapasan denganku di lantai enam?” sang manajer semakin penasaran. “Apa yang mereka lakukan di mobil itu?”


“Astaga, mereka menculik kepala keamanan!” sang manajer lantas memundurkan rekaman lagi. Dari situ akhirnya ia sadar, bahwa mereka tidak sedang menculik kepala keamanan.


“Sialan! Kepala keamanan itu ternyata sejak tadi berada di ruanganku. Dia pasti melihat dan mendengar semua yang kuucapkan.” Sang manajer mendadak panik rahasia mereka akan terbongkar.


Ia lantas memutuskan kabel CCTV dan menyimpan harddisk rekaman video ke dalam saku celananya. Sang manajer langsung menuju pintu lift.


“Aku harus melaporkan kejadian ini segera,” pikirnya terburu-buru.


***


Hanz ragu-ragu membawa kepala keamanan ke rumahnya. Ia masih berputar-putar melintasi jalanan tanpa tujuan jelas.


“Dia pasti syok setelah mengetahui kalau manajer tempatnya bekerja itu ternyata bukan manusia,” ucap Hanz.


“Lantas bagaimana? Kita sudah mendapatkan semua informasi yang dia ketahui,” tanya Dennis ingin memastikan langkah selanjutnya.


“Apa kita turunkan saja dia di jalan?” saran Layla.


“Aku khawatir dia akan bercerita ke orang-orang tentang manajer itu. Bahaya jika ada yang percaya. Jakarta akan heboh seketika. Aku yakin, para Rustler akan memburu mereka,” ucap Hanz mengkhawatirkan sesuatu.


“Bagaimana kalau kita bawa saja ke rumah. Anggap sebagai tahanan, siapa tahu dia mau membantu kita?” saran Dennis.


“Aku ragu dia tidak mau bekerjasama dan kita disibukkan hanya untuk mengurus orang itu. Padahal, masih banyak orang yang harus kita selamatkan,” pungkas Hanz.


“Dian Hartanto juga dalam bahaya. Mereka akan bertemu besok,” ucap Dennis mengulang informasi yang dia dapat saat menjelajahi pikiran kepala keamanan.


“Biar aku saja yang mengurusnya nanti. Bawa saja dia ke rumah sekarang. Kita tidak bisa berlama-lama seperti ini!” ucap Layla berharap ayahnya setuju.


“Baiklah. Kita sekap dia di ruang bawah tanah. Kalau nanti macam-macam, ambil tindakan seperlunya,” jawab Hanz tak ada pilihan lain.

__ADS_1


__ADS_2