
Sejak pagi, Dian Hartanto tampak sibuk di kantornya. Ia meminta semua karyawan agar datang lebih cepat untuk menyiapkan semua bahan presentasi. Rencananya, para investor akan datang untuk meminta penjelasan sekaligus memastikan dana yang mereka investasikan tetap aman setelah kejadian tadi malam.
Salmah, sekretaris Dian Hartanto sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Ia menyiapkan setumpuk salinan buku rekening dari bank, data transaksi sejak malam tadi, dan memeriksa ruang pertemuan untuk menjamu para investor.
Bagi Dian Hartanto, tidak ada masalah dengan para investor. Ia tidak menjadi korban pencurian bitcoin, hanya saja dirugikan karena server market mengalami gangguan.
Peristiwa itu sangat merugikan karena Dian Hartanto tidak bisa melakukan transaksi baik menggunakan robot trading maupun secara manual. Keputusan untuk tetap menjualnya saat ini tergantung hasil pertemuan para investor nanti siang.
Dari data para analis, seharusnya tidak menjadi masalah menjualnya sekarang. Hal itu seperti yang juga disampaikan oleh Dennis sebelumnya.
Ia masih memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan jika menjualnya sekarang dan bersiap untuk membeli lagi di harga lebih murah. Namun kejadian tadi malam di luar perkiraan.
Ia sangat memerlukan informasi Dennis untuk memberinya saran. Barangkali ada perubahan tentang pergerakan bitcoin dalam beberapa hari ke depan. Lagipula, Dennis juga belum memberinya laporan tentang dana lima ratus juta kemarin.
Ia mencemaskan terjadi sesuatu dengan Dennis karena tidak biasanya susah dihubungi. “Masih ada waktu,” pikir Dian Hartanto memutuskan untuk pergi ke apartemen Dennis.
***
Setelah malam tadi meninggalkan apartemen, dokter Ambar tidak ada pilihan lain kecuali membawa Dennis ke rumahnya. Ia tidak tega membiarkan Dennis sendirian menginap di hotel. Bisa saja terjadi sesuatu yang tak terduga saat sedang sendirian.
Sebagai seorang dokter, ia menilai ketakutan Dennis sudah berlebihan. Ia seakan-akan melihat seseorang sedang membuntutinya. Kondisi itu jika dibiarkan, bisa membuat Dennis bertindak nekat untuk mengusir ketakutannya sendiri.
“Siapa, Ma?” tanya suaminya ketiga bangun dari tidur. Tadi malam, ia sudah tidur lebih dulu dan tidak menyadari kepulangan istrinya bersama Dennis.
“Dia, Dennis yang pernah kuceritakan,” jawab dokter Ambar berbisik di telinga suaminya. ”Dia sedang depresi, jadi terpaksa kubawa ke rumah.”
“Kenapa harus ke rumah. Rumah sakit ‘kan banyak?”
“Ssstt…bitcoin sedang anjlok. Lebih baik sekarang jangan membuatnya tersinggung dulu,” pinta dokter Ambar seolah-olah Dennis sedang rugi besar. Ia terpaksa mengarang cerita karena tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya.
“Katamu dia hebat analisa. Kenapa kali ini malah rugi?”
__ADS_1
“Nanti saja aku ceritakan. Kamu mandi dulu sana.”
Perintah istrinya itu tak ia hiraukan. “Terus bagaimana dengan tradingmu. Rugi juga? Sudah kubilang jangan lagi berurusan dengan bitcoin. Kalau mau investasi yang jelas. Beli emas atau tanah. Keliatan barangnya.”
Mendengar omelan suaminya di pagi hari membuat suasana hati dokter Ambar tidak nyaman. Apalagi mengungkit soal penipuan yang telah mereka sepakati untuk saling melupakan.
Seandainya saat ini Dennis tidak sedang berada di rumahnya, dokter Ambar memilih untuk segera pergi meninggalkan rumah untuk menenangkan pikirannya.
“Nih, lihat..! Hari ini juga aku kembalikan semua uangmu yang kupinjam,” dokter Ambar menunjukkan ponsel kepada suaminya.
“Kenapa bisa sebanyak ini?” ucap suaminya tidak percaya.
“Dia yang bantu agar aku untung banyak,” tunjuk dokter Ambar ke ruang kamar di sebelah mereka.
“Kalau kamu untung besar, kenapa dia malah rugi dan harus depresi?”
Dokter Ambar bingung menjawab. Ia seperti terjebak dalam situasi yang rumit. Jika ia ceritakan kejadian sebenarnya, sudah bisa dipastikan suaminya akan mengusir Dennis karena tidak ingin dituduh menyembunyikan pelaku pencurian.
“Ya, sudah. Kalau kamu keberatan dia tidur di sini sekarang juga aku bawa dia ke rumah sakit. Beres, kan?”
Suami dokter Ambar beranjak menuju kamar mandi. Sementara itu dokter Ambar ingin melihat kondisi Dennis.
“Dennis..? Dennisss, kamu di mana Dennisss…!” panggil dokter Ambar saat mengetahui Dennis tidak berada di dalam kamar. Tas dan jaketnya pun sudah tidak ada.
Ia lantas berlari menuju ruang depan dan memeriksa pintu. Mengetahui masih terkunci, ia pun kembali lagi ke kamar tamu tempat Dennis menginap. Ia yakin Dennis sudah pergi saat melihat jendela di kamar itu tidak terkunci.
“Sungguh pagi yang berantakan,” pikir dokter Ambar. Berulangkali ia berusaha melakukan panggilan ponsel, namun tetap tidak bisa tersambung. Ia segera menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan menyisir rambut. Setelah menyimpan dompet dan ponselnya ke dalam tas, ia raih kunci mobil di atas meja.
“Ada apa sih teriak-teriak?” ucap suaminya keluar dari kamar mandi.
“Ini gara-gara kamu. Dennis pasti mendengar ucapanmu tadi dan sekarang dia sudah tidak ada di kamarnya.” dokter Ambar tidak ingin berlama-lama. Ia langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Dalam hati, suami dokter Ambar mengumpat kepada Dennis. “Dasar orang tidak tahu diri. Datang baik-baik, pergi tanpa permisi.”
***
Sementara Dian Hartanto berada di dalam lift apartemen menuju pintu kamar Dennis, dan dokter Ambar menyusuri jalanan mengendarai mobil, Dennis pergi menuju kantor Dian Hartanto menggunakan jasa ojek yang ia temui di persimpangan jalan tak jauh dari rumah dokter Ambar.
Sengaja Dennis meminta ojek itu memilih jalan yang sulit dilalui roda empat. Ia menduga dokter Ambar akan mencarinya di sepanjang jalan. Setelah singgah ke konter pulsa dan mengganti ponselnya dengan nomor baru, Dennis langsung meminta ojek itu mengantarnya ke lokasi yang ia tuju.
Dennis tidak berhenti persis di depan kantor Dian Hartanto tempat dulu ia bekerja. Sambil menundukkan wajah, Dennis memperhatikan google map di ponselnya. Ada tujuh tempat penginapan yang harus ia pilih segera.
Dennis sudah merencanakan nanti malam untuk mendatangi rumah yang menjadi awal tempat ia menemui banyak keanehan. Dennis yakin rumah dan sumur itu memiliki jawaban. Ia sudah siap menghadapi apapun yang terjadi.
“Turun di sini saja, Pak,” pinta Dennis di depan sebuah penginapan yang jaraknya tak jauh dari kantor Dian Hartanto. Setelah membayar jasa ojek, Dennis langsung masuk ke penginapan tersebut untuk memesan kamar selama beberapa hari ke depan.
***
Berkali-kali Dian Hartanto mengetuk kamar apartemen Dennis namun pintu itu tak menunjukkan tanda-tanda akan segera dibuka.
“Dennis, kamu di dalam?” panggil Dian Hartanto. Saking penasaran, Dian Hartanto berusaha mengintip di balik celah pintu kamar, namun usahanya sia-sia. Ponselnya berdering, Salmah menghubunginya menggunakan telpon kantor.
“Halo, Salmah. Ada apa?”
“Hanya ingin melaporkan kalau semua bahan sudah disiapkan. Sekitar satu jam lagi para investor akan datang ke kantor. Apakah semua baik-baik saja?” jawab Salmah.
Dian Hartanto memperhatikan jam tangannya. “Ada apa denganmu, Dennis?” bathin Dian Hartanto tak tahu lagi cara mengetahui keberadaan Dennis.
“Baiklah, Salmah. Pastikan semua analis untuk hadir mengikuti rapat. Jangan sampai para investor meragukan laporan kita,” ucapnya menutup panggilan telpon.
Di waktu bersamaan, terdengar suara lift apartemen sedang berhenti. Dokter Ambar keluar dari lift itu dan terburu-buru menuju kamar Dennis. Langkah kakinya langsung terhenti menyadari ada seorang lelaki di depan sana.
“Bukankah ia mengetuk kamar Dennis?” bathin dokter Ambar. Agar orang itu tak curiga, dokter Ambar berpura-pura berjalan pelan sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
“Aku akan kembali lagi dan membawa orang-orang untuk mendobrak pintumu,” ucap Dian Hartanto merasa kesal.
Mendengar itu, kecemasan dokter Ambar semakin bertambah.”Keselamatan Dennis terancam, aku harus membantunya,” pikir dokter Ambar mencari agar bisa menemukan Dennis.