
NAPAS Zerch dalam wujud sang manajer sudah mulai tersenggal. Setelah keluar dari lift, ia segera bergegas menuju ruangannya. Namun, setelah mendapati knop pintu ruangannya telah rusak, Zerch langsung menghambur masuk ke dalam dan memperhatikan seisi ruangan.
Pertama-tama yang ia periksa adalah kamar mandi. Mengetahui Zarkum sedang lelap tertidur, ia langsung meminta agar Zarkum segera bangun.
“Astaga..! Tak bisakah kamu biarkan aku beristirahat sebentar,” ucap Zarkum kesal.
“Kenapa harus merusak pintu, bagaimana jika ada orang masuk dan mengetahui rahasia kita?” cecar Zerch.
“Apa maksudmu dengan merusak pintu?”
“Coba kamu lihat sendiri!”
Zarkum langsung mengubah wujudnya menjadi Pak Dikin. Setelah itu, ia pun segera mencari tahu permasalahan yang dituduhkan Zerch kepadanya.
Zarkum mengamati knop pintu. “Apakah kamu bertemu dengan Mustafa tadi?” selidik Zarkum.
“Tidak ada siapa-siapa. Saat aku datang, knop itu sudah rusak,” jawab Zerch.
“Pasti ulah Mustafa. Dia tadi mengikutiku,” terang Zarkum. “Ia pikir aku adalah Pak Dikin dan dia bermaksud ingin membantuku. Namun, saat masuk ke dalam ruangan, ia tak kuijinkan ikut masuk dan pintunya kukunci dari dalam,” lanjutnya menjelaskan.
“Kalau begitu, cepat kamu cari Mustafa,” perintah Zerch.
“Katamu bisa lewat telpon?” singgung Zarkum ingat ketika Zerch pernah menyalahkannya saat mencari kepala keamanan untuk dijadikan mangsa.
Zerch sadar kalau Zarkum sedang menyindirnya. Namun, sekarang bukan saatnya untuk berdebat.
Tergesa-gesa Zerch merogoh kantong celana dan segera menghubungi Mustafa. Panggilan itu berhasil terhubung. Namun, beberapa kali mencoba melakukan panggilan, Mustafa tak menerima panggilan tersebut.
“Dia tak menerima panggilanku. Kamu cari dia, sekarang,. Jika ada hal yang menurutmu mencurigakan, aku ijinkan kamu ingin memberi pelajaran manusia itu hingga sebatas pingsan,” ucap Zerch marah.
Setelah menghirup hidrogen di kamar mandi sepuasnya, Zerch tidak sabar ingin melihat isi rekaman CCTV. Ia akan memberikannya kepada Layla lalu meminta perempuan itu pergi setelah CCTV bisa diperbaiki.
Zerch melenggangkan kakinya menuju meja kerja. Dengan santai, ia membuka laci meja dan mendadak perasaannya menjadi gugup saat mengetahui benda yang dicarinya tidak ditemukan. Bahkan, buku catatan pun juga sudah tidak ada.
“Mustafa sialan. Beraninya ia mencuri benda itu. Jangan-jangan…” ucap Zerch curiga. Ia pun langsung menghambur keluar pintu dan berlari menuju lift. Perasaannya mulai tidak nyaman.
***
Dennis melajukan mobil langsung menuju ke rumah Hanz. Wajah tegang yang tadi sempat mereka rasakan berganti dengan keceriaan. Mereka seperti baru saja merayakan kemenangan bisa mengambil harddisk tanpa harus terjadi keributan.
“Tapi tadi itu sangat menegangkan,” ucap Dennis mengingatkan saat Hanz masih berada di lantai tujuh.
“Jujur, aku belum yakin Pak Dikin itu Alien?” timpal Mustafa.
“Faktanya memang begitu, bukan?” sahut Dennis.
“Tidak ada yang melihat kalau Pak Dikin Alien! Memang, dia tadi terlihat aneh. Selama ini dia belum pernah diijinkan membersihkan ruang manajer,” Mustafa menjelaskan.
“Kalau benar Pak Dikin sebelumnya adalah manusia, kita harus menyelidiki bagaimana mereka bisa menyerupai Pak Dikin. Kalau sampai mereka melanggarkan perjanjian antar galaksi, kita bisa memberitahu para Wrangler untuk melaporkan kejahatan mereka,” ucap Hanz serius.
__ADS_1
“Perjanjian antar galaksi?” kepala keamanan tampak bingung.
“Bagi para Alien, bumi ini adalah tempat mereka melakukan penelitian. Kita saja para manusia tak menyadari aktifitas mereka. Namun, penelitian mereka tidak boleh menganggu dalam artian sebenarnya, menjajah dan ingin menguasai bumi,” terang Hanz menjelaskan.
“Ini seperti di pilem-pilem saja. Aku bahkan tidak percaya Alien itu ada,” sungut Kosim masih ragu-ragu dengan penjelasan Hanz.
“Aku sudah melihat sendiri bentuk mereka,” sahut kepala keamanan.
“Bahkan sampai terkencing-kencing,” timpal Layla.
Wajah kepala keamanan memerah merasa malu mengingat kejadian tersebut.
“Siapa yang tidak takut setelah mengetahui manajer yang selama ini kupanggil bos ternyata seorang Alien,” ujar kepala keamanan membela diri.
Layla hanya tersenyum dikulum dan tak menanggapi lagi peristiwa di dalam lift itu. “Sebenarnya siapa pemilik apartemen itu dan bagaimana mereka bisa ada di sana?”
“Soal itu kami tidak tahu. Selama ini hanya manajer itu saja yang berurusan dengan kami dan mengatur semua kegiatan di sana,” sahut kepala keamanan.
“Apakah setelah ini kalian akan kembali ke sana?” tanya Dennis kepada kepala keamanan, Mustafa dan Kosim.
“Loh, bukankah Pak Sodik berjanji akan mempekerjakan kami?” sahut Mustafa menyebut nama kepala keamanan.
“Itu karena Hanz menyetujuinya,” lempar Sodik kepada Hanz.
“Biar nanti Dennis saja yang mengatur pekerjaan kalian,” jawab Hanz.
Dennis memalingkan wajahnya sebentar. “Kok aku?”
“Tanah di Jakarta tidak ada yang murah,” sahut Pak Sodik.
“Itu urusan Dennis. Dia seorang magical trader. Semua urusan biaya dan yang berhubungan dengan aktifitas kita yang memerlukan uang, termasuk gaji kalian, aku minta Dennis yang menyiapkannya!” ucap Hanz.
Di depan, Dennis hanya menggaruk kepala. Ia hampir saja sudah melupakan aktifitas tradingnya. Bahkan, memantau pergerakan harga pun tidak dilakukannya sama sekali.
“Bagaimana dengan Layla?” tanya Dennis menoleh ke samping kiri tempat Layla sedang menyandarkan tubuhnya di kursi depan.
“Dia akan menciptakan beberapa teknologi baru dengan bantuan para Wrangler sebelum para Rustler menyerbu kita,” jawab Hanz.
“Nanti aku akan memberikanmu rincian dana yang diperlukan,” sahut Layla kepada Dennis.
“Boleh. Semua urusan danamu akan aku urus dengan satu syarat,” ucap Dennis.
“Syarat apa?” tanya Layla.
“Aktifkan kamera di moncong sepatu ini,” jawab Dennis mendekatkan kaki kirinya ke arah kaki Layla.
Spontan Layla menjitak kepala Dennis. “Dasar otak mesum!” sungut Layla.
Dennis meringis kesakitan sambil tertawa melihat reaksi Layla yang langsung merapatkan kedua lututnya.
__ADS_1
Ketika mereka masih asyik ngobrol di dalam mobil, Dennis baru menyadari ada yang membuntutinya dari kaca spion. “Sepertinya mobil di belakang itu mengikuti kita sejak tadi!”
Sontak tatapan mereka langsung memperhatikan ke arah bagian belakang mobil.
“Kamu yakin, Dennis?” tanya Hanz.
“Ya dan tidak. Namun, mobil itu dari tadi selalu berada di belakang sana,” jawab Dennis.
“Kalau begitu cari jalan lain. Jangan sampai mereka mengikuti kita dan akhirnya tahu rumahku!” perintah Hanz sambil sesekali memperhatikan mobil di belakang sana.
Layla pun segera mempersiapkan diri dari segala kemungkinan yang terjadi. “Coba sambil perhatikan wajah orang yang mengendari mobil itu?”
Dennis memperlambat laju mobil sambil memperhatikan kaca spion. “Mobil itu juga ikut melambat sekarang,” ucap Dennis memberitahu.
Tak beberapa lama kemudian, Dennis lalu menghentikan mobil yang dikendarainya.
“Kenapa berhenti?” tanya Hanz panik.
“Hanya untuk memastikan mobil di belakang sana,” jawab Dennis dan benar mobil itu pun ikut berhenti.
“Fix, kita sedang dibuntuti. Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Dennis menunggu jawaban Hanz.
“Kabur saja dulu sambil kita pikirkan langkah selanjutnya?”
“Kabur ke mana? Aku tidak tahu jalan!”
“Aku saja yang menyopir,” pinta Sodik dan bergegas ingin menggantikan Dennis tanpa harus turun dari mobil.
Mengetahui itu, Dennis pun lantas menggeser duduknya membuat Layla harus memiringkan tubuhnya mepet ke pintu mobil.
“Cepat ke kebelakang,” pukul Layla ke pantat Dennis. Ia merasa kesal ketika pantat itu menghadap ke wajahnya.
“Maaf, ini darurat,” sahut Dennis.
Setelah itu, Sodik langsung menjalankan mobil tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Tubuh Dennis oleng dan jatuh persis di pangkuan Layla.
“Pelan-pelan dulu, Pak Sodik,” Dennis segera bangun ingin pindah ke belakang. Tangannya langsung di raih Hanz.
Layla hanya diam saja. Namun, wajahnya sudah merah padam.
“Maaf, Layla. Tadi itu benar-benar tidak sengaja,” ucap Dennis lirih mendekati Layla dari arah belakang.
Layla masih tetap diam dan tak menggubris Dennis yang persis berada di belakangnya.
“Semua pegangan. Kita akan ngebut dengan kecepatan tinggi,” Pak Sodik memberi peringatan. Mobil spontan melaju cepat. Dennis lagi-lagi kehilangan keseimbangan. Kedua belah tangannya langsung merangkul kursi di depannya.
Layla langsung terkejut saat dua lengan tangan Dennis sudah mencengkeram dadanya dengan keras.
“Dennisssss…!” teriak Layla mengejutkan semua orang di dalam mobil.
__ADS_1
Menyadari kesalahannya, Dennis langsung menggeser tangannya berpindah ke bagian bahu Layla.
“Maaf, Layla. Sungguh tidak sengaja,” ucapnya. Namun, Dennis melihat jari-jari tangan Layla sudah mengepal kuat. Ia pun langsung mundur hingga terjungkal mengenai tubuh Hanz.