Magical Trader

Magical Trader
BAB 28


__ADS_3

Pak Sodik melarikan mobilnya dengan kencang. Namun, mobil yang membuntutinya di belakang sana tak mau ketinggalan. Aksi saling kejar dan menghindar pun terus terjadi.


“”Kalau masih begini terus, bisa-bisa membahayakan kita sendiri dan pengendara lain,” ucap Hanz khawatir karena Pak Sodik belum juga mengurangi kecepatan dan terbilang agak ugal-ugalan membuat tabung gas di dalam mobil bergelimpangan.


“Mau bagaimana lagi, mereka masih mengejar kita sejak tadi,” sahut Pak Sodik.


“Bagaimana kalau putar balik, aku ingin melihat jumlah mereka. Kalau memungkinkan, maka, kita hadang saja sekalian!” saran Layla merasa dengan melarikan diri tak ada ujungnya dan hanya buang-buang waktu.


“Yakin, Mbak Layla?” tanya Pak Sodik.


“Ketimbang begini terus, mereka tetap akan mengikuti kita sampai nanti,” timpal Layla.


“Sepakat..!” sahut Mustofa dan Kosim. Sementara itu, Dennis dan Hanz hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.


“Baik, Mbak Layla. Saya mau coba seperti yang di pilem-pilem,” ujar Pak Sodik.


“Gak usah yang aneh-aneh. Cukup putar balik dan kita lihat reaksi mereka,” sahut Layla.


“Tenang saja, Mbak. Dulu waktu muda saya suka ikut balap liar. Pegangan, ya!” ucap Pak Sodik dan langsung memutar balik mobilnya ketika lengang. Terdengar suara mobil ban berdecit.


Dengan lincahnya Pak Sodik memainkan persneling mobil seperti sedang mengendarai di arena balap. Dennis dan Hanz sempat berteriak. Tabung oksigen bergulingan lagi.


“”Mobil baru langsung dibikin seperti ini. Seminggu bisa langsung buang!” ucap Hanz menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pak Sodik tertawa. “Aku mau pesan satu mobil balap, Dennis. Biar kalau terjadi seperti ini mudah melarikan diri,” pintanya.


Dennis tidak menyahut. Perutnya mulai merasa mual.


“Sepertinya bukan manajer itu dan Pak Dikin. Mereka tidak ada di dalam,” ucap Layla saat berpapasan dengan mobil yang tadi mengikutinya.


“Lantas siapa mereka?” tanya Hanz.


“Entahlah. Aku yakin masih ada keterkaitan antara mereka,” sahut Layla.


“Berapa orang?” tanya Mustafa.


“Sepertinya lima orang,” jawab Kosim yang tadi juga ikut memerhatikan.

__ADS_1


“Kalau begitu kita lawan saja!” ucap Mustafa yakin.


“Putar, Pak Sodik. Persis di belakang mereka,” perintah Layla.


Kejadian tadi pun terulang kembali. Mobil putar balik secara mendadak membuat kepala Dennis terantuk pintu mobil.


“Pepet dari belakang,” Layla memberi perintah.


“Siap, Mbak Layla,” jawab Pak Sodik memosisikan mobil persis di belakang mobil yang mengikuti mereka tadi.


Mulut Layla sambil komat-kamit menyebut nomor plat mobil mereka. “Nanti kita lacak setelah di rumah.”


“Sekarang bagaimana?” tanya Pak Sodik.


“Ikut saja terus,” pinta Layla.


Posisi sekarang sudah terbalik. Pak Sodik dengan santainya mengikuti mobil yang berada di depan. Kemana mereka berbelok, Pak Sodik terus mengikuti.


Sampai akhirnya mobil di depan berhenti mendadak. Pak Sodik terlambat menginjam pedal rem. Meski tidak keras, benturan bemper mobil membuat mereka mengelus dada.


Di depan sana, salah seorang membuka pintu mobil. Tubuh pria itu tegap dengan mengenakan kacamata hitam. Tak lama kemudian, di susul pria lainnya dengan menenteng balok kayu.


Setelah mengencangkan ikat pinggang, Mustafa langsung keluar dari mobil diikuti oleh Kosim.


“Kita tunggu di mobil saja dulu. Jika terjadi perkelahian, kaku akan turun membantu mereka,” ujar Pak Sodik sambil melemaskan otot-otot bahunya.


“Siapa kalian, kenapa membuntuti kami sejak tadi?” tanya Mustafa dengan suara keras.


“Serahkan barang yang kalian curi dari apartemen,” ucap salah seorang yang tubuhnya lebih besar ketimbang Mustafa.


“Kalian siapa?” Mustafa masih tetap menanyakan identitas mereka.


“Tidak usah banyak tanya. Serahkan harddisknya sekarang. Kalau tidak, kalian semua akan kami bunuh di tempat ini!” gertak lelaki bertubuh besar tadi.


Empat orang lainnya pun segera maju sambil memainkan balok kayu di tangan mereka. Mustafa dan Kosim mundur beberapa langkah sambil memperhatikan mereka satu-persatu.


“Sepertinya kita harus membantu mereka sekarang!” ucap Layla membuka pintu mobil.

__ADS_1


“Aku akan melindungi, Mbak Layla!”


Sementara Hanz hanya diam, Dennis bingung dengan tindakan yang harus diambilnya. Ia lantas mengambil beberapa kaleng oksigen dan menyelipkannya di celana bagian depan. Setelah itu, Dennis pun ikut turun.


“Aku berjaga-jaga di mobil saja. Kalau kalian kalah, aku akan menabrakkan mobil ini ke mereka,” ucap Hanz. Ia pun lantas berpindah duduk ke kursi depan sambil mengamati ketika salah seorang sedang mendorong tubuh Mustafa.


Mendapat dorongan yang keras di tubuhnya membuat Mustafa tidak terima. Ia melayangkan satu pukulan keras ke rahang lelaki itu


Serangan Mustafa mengawali perkelahian yang tak terhindarkan lagi. Masing-masing saling menyerang dengan kekuatan dan kemampuan masing-masing. Termasuk Layla. Ia bergerak dengan sangat lincah.


Berkali-kali serangan lawan bisa dihindari oleh Layla dengan mudah. Ia lantas menoleh, memperhatikan Dennis yang tampak kewalahan mendapat serangan yang bertubi-tubi.


Dengan gerakan cepat, Layla lantas segera memberikan bantuan kepada Dennis. “Lebih baik kamu bersembunyi di dalam mobil,” ujar Layla meminta Dennis.


“Bagaimana mungkin aku membiarkan kalian bertarung sementara aku hanya menonton,” jawab Dennis berada di belakang Layla.


“Awas kalau tanganmu macam-mcam lagi. Aku akan mematahkan kedua lengan tanganmu,” ancam Layla mengingat kejadian di dalam mobil tadi.


Ia pun segera menunduk saat mendapat serangan dari depan. Namun, cara Layla menghindari serangan itu justru berakibat fatal. Tendangan keras yang mengayun kuat tadi justru telak mengenai wajah Dennis.


Badan Dennis terhuyung ke samping dan pandangannya mengabur. Melihat itu, Layla memberikan serangan balasan tanpa ampun yang membuat orang tadi langsung terjungkal.


“Bantu Dennis, Ayah!” teriak Layla.


Hanz terperanjat. Ia memperhatikan Dennis yang sudah duduk di tanah. Dengan gerak cepat, Hanz keluar dari mobil untuk memberikan bantuan.


Setelah itu, Layla pun segera membantu Kosim yang sedang terpojok karena lawannya bertubuh lebih besar.


Ia langsung berlari dengan cepat dan langsung melakukan tendangan sambil melompat hingga mengenai leher lawan Kosim.


“Terimakasih, Mbak Layla. Dari mana mbak belajar tendangan seperti itu?” tanya Kosim tak percaya.


“Nanti saja bicaranya. Lebih baik sekarang kita bantu Mustafa,” ucap Layla yang melihat Mustafa sedang dikepung oleh tiga orang.


Sementara itu, setelah membantu Dennis masuk ke dalam mobil, Hanz berinisiatif untuk mengikat kedua lengan lawan mereka yang telah tumbang dan tidak berdaya. Hanz mencabut ikat pinggang yang mereka kenakan sebagai tali pengikat.


Layla, Kosim dan Mustafa masih bertarung dengan sengit. Mereka berlarian dan saling mengejar. Kesempatan itu dimanfaatkan Hanz untuk mengendap-endap menuju mobil yang membuntuti mereka sejak tadi.

__ADS_1


Hanz memeriksa seluruh isi laci dashboard mobil. Satu-satunya petunjuk yang bisa ia dapatkan hanyalah kartu identitas. Setelah memastikan tidak ada hal lain yang bisa dijadikan pentunjuk, Hanz mengendap-endap kembali menuju ke dalam mobil untuk memeriksa keadaan Dennis.


__ADS_2