Magical Trader

Magical Trader
BAB 22


__ADS_3

SAMPAI di ruangannya, sang manajer langsung menuju kamar mandi. Dalam sekejap, ia langsung mengubah wujudnya menjadi sosok asli berbentuk seperti kadal berukuran besar yang memiliki ekor dan sanggup berjalan sambil berdiri laiknya manusia.


Kamar mandi yang telah disulap menjadi tempat tinggal dua Alien itu memiliki teknologi yang sangat canggih.


Dindingnya mengeluarkan hawa hangat yang membuat tubuh Alien itu tetap solid dan padat. Di bagian atas, terdapat pipa besi yang menyalurkan Hidrogen hasil penyulingan dari penguapan air.


Semua peralatan itu mereka tempatkan di lantai paling atas berdampingan dengan mesin generator diesel bertegangan tinggi dan bak penampungan air berukuran besar. Jika dilihat dari atas, tempat itu terlihat seperti sauna di ruang terbuka.


“Bangun, Zerch,” panggil temannya yang tadi baru saja masuk ke kamar mandi. “Kita dalam bahaya!” sebutnya lagi hanya lewat pikiran tanpa mengeluarkan suara dari dalam mulut.


“Setiap kali kamu yang menjadi manajer, selalu saja ada masalah,” ucap Zerch keluar dari bak mandi. “Kali ini jangan bilang kamu membuat keributan dengan pelanggan apartemen kita,” sambung Zerch merasa kesal karena baru saja beristirahat.


“Bukan masalah seperti itu. Kepala keamanan sepertinya sudah mengetahui identitas kita,” ucap Zarkum gelisah.


Mendengar itu, Zerch meminta agar Zarkum menceritakan semuanya dari awal. “Sudah kamu catat?”


“Belum. Aku langsung masuk kemari. Pikirku, nanti saja mencatatnya setelah memberitahumu,” jawab Zarku mulai menceritakan saat ia berniat memangsa kepala keamanan.


“Dasar tolol. Mangsa sudah di depan mata justru tidak terlihat. Kenapa harus mencarinya. Kamu bisa menggunakan telpon atau handy talkie. Jika itu yang kamu lakukan, kepala keamanan itu pasti ketahuan kalau bersembunyi di ruangan kita,” ucap Zerch kesal dengan kecerobohan temannya itu.


Dari awal, ia sudah berusaha menolak untuk dipasangkan dengan Zarkum untuk bertugas mencari manusia Hanz. Namun, Tuan Zorka, pimpinan mereka tetap memasangkan mereka berdua.


“Aku memang tolol sejak dulu. Jadi, aku tidak akan marah disebut seperti itu,” sahut Zarkum pasrah.


“Itu alasan kenapa aku selalu mencatat semua aktifitas kita selama di tempat ini. Agar kamu mengingat semua yang sudah kita lakukan.”


 Sudah kubilang, tugas ini terlalu berat untukku. Bergantian denganmu dengan wujud satu orang sangat merepotkanku.”


“Bukankah kamu yang memintanya agar kita bisa bergantian istirahat karena udara di bumi terlalu dingin dan oksigen membuat tubuh kita menjadi lemah?”


Zarkum terdiam. “Jadi, bagaimana sekarang?”


“Perbaiki semuanya!”


“Kamu tidak ingin melaporkan kepada Tuan Zorka?”


“Kita bisa mati kalau membuat laporan seperti itu. Lebih baik kita selesaikan sendiri saja dulu!” saran Zerch mengganti wujudnya sebagai manajer.


“Aku ingin meminta seseorang memindahkan komputer CCTV ke ruangan kita lalu memeriksa harddisk yang kamu ambil.”


“Kamu belum lama beristirahat. Biar aku saja!” pinta Zarkum.

__ADS_1


“Biar aku perbaiki dulu semuanya. Kamu tunggu di dalam kamar mandi, aku akan mencarikanmu tubuh baru sekalian.”


“Kamu serius, Zerch?”


“Demi keselamatan kita berdua. Kali ini jangan sampai ceroboh lagi.”


“Terimakasih, Zerch. Nasibku pasti sangat buruk kalau bukan karenamu!”


“Aku pergi dulu sekarang. Kumpulkan tenagamu!” perintah Zerch keluar dari kamar mandi dan langsung menghubungi petugas keamanan untuk memasang komputer CCTV di ruangannya.


***


Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah Hanz, kepala keamanan sudah siuman. Namun, ia belum bisa diajak bicara. Tatapan matanya masih kosong.


“Sepertinya dia sangat syok!”


“Kalau jadi dia, aku juga pasti syok,” ujar Dennis.


“Masukkan kamar mandi, siram pakai air, pasti beres,” tukas Layla sambil merapikan peralatan kerjanya.


“Apakah komputermu masih terhubung ke apartemen?” tanya Hanz.


“Awasi terus. Kalian pasti tidak sadar ada kecerobohan dari rencana kita,” sahut Hanz.


“Apa itu, Ayah?” tanya Layla.


“Kita tidak merencanakan mematikan CCTV mereka. Dalam beberapa jam kemudian, aku yakin mereka akan mengetahui aksi kita,” ucap Hanz dengan suara bergetar.


“Astaga, kenapa aku sampai lupa merencanakan hal tersebut!” Layla panik.


“Ada dua kemungkinan, mereka akan melaporkan kita ke polisi, atau tetap diam karena memilih ingin mencari kita,” terang Hanz.


“Kita harus menepi dulu, Ayah. Sia-sia pulang jika masih meninggalkan masalah,” sahut Layla.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Dennis mendadak bingung.


“Aku akan menghubungi Wrangler dulu,” jawab Hanz segera menepikan mobil di tempat yang kosong.


“Aku akan mencari air minum untuk kepala keamanan,” ucap Layla memerhatikan tempat mereka berhenti.


“Bantu aku, Dennis. Aku ingin meremote komputer bawah tanah dari sini. Hanya dari komputer itu aku bisa terhubung dengan Wrangler,” sahut Hanz langsung pindah ke belakang.

__ADS_1


***


Zerch benar-benar kesal setelah mengetahui Zarkum telah merusak komputer CCTV yang berada di ruang keamanan.  Ia terpaksa memerintahkan dua petugas keamanan itu untuk pergi ke toko komputer untuk memesan peralatan baru.


“Kalian temui Ibu Desi di ruangannya. Bilang, kita perlu dua perangkat CCTV baru. Kali ini beli yang bisa terhubung ke ponsel saja,” perintah sang manajer agar petugas keamanan mengambil uang kepada Ibu Desi, bendahara apartemen mereka.


“Apa sekalian dengan petugas instalasinya, Pak?”


“Tidak perlu. Aku bisa memasangnya sendiri,” sahut sang manajer. “O, ya. Siapa petugas kebersihan di apartemen kita yang sudah tua itu?”


“Maksudnya, Pak Dikin?”


“Bukankah dia setiap hari ikut tidur di ruangan kalian?”


“Benar, Pak. Dia sudah tidak memiliki anak dan istri. Sanak saudaranya juga tidak peduli dengan Pak Dikin,” jawab salah seorang petugas keamanan menjelaskan. Ia cemas karena sang manajer mendadak menanyakan tentang Pak Dikin.


“Jangan-jangan Pak Dikin akan dipecat,” bathin petugas keamanan itu khawatir jika Pak Dikin dianggap membebani pihak manajemen.


Selain kasihan, selama ini keberadaan Pak Dikin sudah membuat ruangan mereka selalu besih setiap hari. Pagi, siang dan malam, kopi juga tidak pernah telat disuguhkan oleh Pak Dikin sebagai tanda terimakasihnya karena telah ditampung.


 “Jadi apartemen ini sudah seperti rumahnya sendiri?”


“Mmm.. Iya, Pak. Dia bahkan sering bekerja di luar tugasnya, demi menjaga apartemen ini agar terlihat selalu bersih.”


“Kalau begitu, perintahkan dia ke ruanganku sekarang juga!”


“Bukankah kami harus menemui Ibu Desi dulu untuk membeli perangkat CCTV?”


“Cari Pak Dikin dulu untuk menemuiku. Baru ke ruangan Ibu Desi,” jawab sang manajer.


“Baik, Pak.”


“Kerjakan tugasmu dengan cepat dan benar. Kemungkinan aku akan mengangkatmu sebagai kepala keamanan yang baru,” sambung sang manajer lagi.


Mendengar itu, petugas keamanan yang berbicara dengan sang manajer langsung sumringah. “Lantas bagaimana dengan Pak Arif, Pak?” tanyanya menyebut nama kepala keamanan mereka.


“Dia lalai menjalankan tugas. Pergi meninggalkan apartemen tanpa pemberitahuan dan meminta ijin terlebih dulu. Aku baru saja menghubunginya lewat ponsel dan langsung memecatnya,” jawab sang manajer mengarang cerita.


‘Siap..!” sahut petugas keamanan di seberang sana.


“Cepat laksanakan semua tugasmu atau kamu juga akan aku pecat!” perintah sang manajer mematikan panggilan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2