Magical Trader

Magical Trader
BAB 25


__ADS_3

SETELAH mengenakan kacamata dan wireless earphone, Layla lebih dulu mengikuti Mustafa dan Kosim menuju ruang keamanan. Sementara ia memeriksa kabel CCTV yang telah putus dan tempat penyimpan harddisk yang dilepas secara paksa, Kosim menyiapkan troli cadangan Pak Dikin untuk mengangkut tabung oksigen.


Tak lama kemudian, Dennis bersama Hanz memasuki ruangan parkir. Mereka menurunkan tabung oksigen untuk diberikan kepada Kosim.


Setelah meletakkannya di belakang pintu ruang keamanan, bersama Kosim, Hanz bersiap-siap membawa satu tabung oksigen lagi ke lantai enam untuk berjaga-jaga.


Dari dalam mobil, Dennis memeriksa kembali peralatan komputernya. Setelah memastikan semuanya sudah siap, mereka pun sgera mengenakan kacamata agar bisa saling mengawasi satu dengan yang lain.


“Lantai enam aman!” ucap Dennis disusul Hanz dan Kosim masuk ke dalam pintu lift.


Setelah semuanya siap, bahkan Layla pun yakin bisa memperbaiki CCTV dengan mudah, Mustafa segera memberitahu si manajer.


Dennis memantau pergerakan sang manajer yang baru saja keluar dari ruangannya.


“Dia sudah keluar. Sepertinya tidak membawa harddisk di tangannya,” Dennis menginformasikan.


“Setelah dia melewati lantai lima, biar aku dan Kosim naik ke lantai tujuh menuju ruangannya,” sahut Hanz masih di dalam lift.


“Hati-hati, Hanz. Kemungkinan di ruang manajer masih ada Alien yang bersembunyi di dalam sana,” ucap kepala keamanan mendekat kepada Dennis agar suaranya terdengar.


“Kamu bantu Dennis mengawasi kamera CCTV, khususnya di lantai tujuh,” pinta Hanz kepada kepala keamanan.


“Siap! Jujur, ini jauh lebih menyenangkan ketimbang hanya menjaga keamanan di apartemen,” celetuk kepala keamanan.


Layla dan Hanz tertawa mendengarnya. “Taruhannya nyawa,” sahut Layla.


“Glekkk..!” Mustafa meneguk air liurnya. Sejak tadi ia sudah merasakan ketegangan dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.


“Manajer sudah di basement. Sebentar lagi dia keluar dari pintu lift. Semua bersiap-siap,” ucap Dennis khawatir jika terjadi sesuatu di luar perkiraan.


Suara telapak sepatu manajer terdengar mendekati ruang keamanan. Layla langsung berpura-pura seperti sedang memperbaiki perangkat CCTV. Sementara Mustafa berusaha sebisa mungkin bersikap layaknya petugas keamanan mengawasi Layla yang sedang bekerja.


“Dia orang yang akan memperbaiki CCTV kita?” tanya manajer langsung ketika sampai di dalam ruangan.


“Siap. Betul, Pak!” sahut Mustafa mengambil sikap waspada.


Sekilas Layla seperti sedang memperhatikan sang manajer. Padahal, ia sedang melakukan scanning melalui kacamatanya untuk diperlihatkan kepada Dennis.


“Berapa lama kamu bisa memperbaiki alat itu?”


“Kerusakannya cukup berat. Perlu waktu dua sampai tiga jam,” sahut Layla menjelaskan bagian-bagian perangkat CCTV yang rusak.


“Apakah bisa dipindahkan ke ruanganku?”


“Bisa, Pak. Setelah diperbaiki,” sahut Layla.

__ADS_1


“Maksudku, sekarang. Memperbaikinya di ruanganku saja!”


Layla berpikir keras. Jika ia naik ke atas, peluang mendapatkan harddisk lebih besar. Namun, bagaimana jika manajer itu terus mengawasinya?”


 “Maaf, Pak. Ada bagian perangkat CCTV yang hilang. Aku membutuhkannya untuk memastikan komponen bagian ini bekerja dengan baik,” tunjuk Layla pada kotak DVR yang tutupnya sudah terlepas.


“Ada di ruanganku. Itu sebabnya aku memintamu memperbaikinya di sana,” sahut manajer.


“Apakah di ruangan Anda sudah terpasang rangkaian kabel port BNC seperti ini?” Layla menjelaskan.


“Sepertinya belum. Sekalian saja kamu kerjakan.”


“Kalau begitu, aku akan kembali besok karena tidak mungkin mengerjakan sendirian sekarang. Memperbaiki CCTV dengan merancang rangkaian kabel dua pekerjaan yang berbeda.”


Sementara manajer sedang berpikir, Dennis mencoba memberitahu Hanz lewat wireless earphone. “Sepertinya Layla bisa mengulur waktu lebih lama,” ucap Dennis.


“Kamu awasi terus. Aku coba ke lantai tujuh. Barangkali sempat menemukan harddisk itu,” sahut Hanz.


“Bagaimana menurutmu, Layla?” tanya Dennis.


“Bagaimana, Pak? Anda bisa duduk di sini sementara saya memperbaiki perangkat CCTV. Besok baru kita pindahkan dengan membuat rangkaian kabel baru?” ucap Layla menanyakan kepada manajer sebagai jawaban kepada Dennis.


Sang manajer tampak gelisah. Ia ingin melihat CCTV itu sekarang juga. “Apa boleh buat. Perbaiki saja sekarang.”


“Ada kerusakan yang cukup parah. Untungnya masih bisa diperbaiki,” ucap Layla langsung mengeluarkan peralatan kerjanya.


“Boleh kumatikan ACnya? Aku mengidap penyakit tidak tahan dingin,” sahut sang manajer meminta Mustafa mematikan mesin AC.


“Tidak masalah, Pak. Selama pintu tetap terbuka, udara di dalam ruangan tetap terasa segar,” sahut Layla menyadari alasan sebenarnya dari manajer itu.


Di lain pihak, Hanz dan Kosim segera naik ke lantai tujuh sambil membawa tabung oksigen. “Awasi terus, Dennis. Beritahu jika ada orang yang menuju ke lantai tujuh,” ucap Hanz cemas.


Dennis benar-benar sibuk. Perhatiannya terpecah menjadi dua bagian. Matanya mengawasi CCTV dan telinganya mendengarkan percakapan Layla dengan sang manajer.


“Sial, pintunya terkunci,” ucap Hanz kemudian setelah sampai di depan ruangan manajer.


“Bagaimana, sekarang?” Dennis juga ragu memberikan saran.


“Mustafa bisa membuka kuncinya dengan pisau lipat,” sahut kepala keamanan.


Layla tahu mereka kebingungan untuk memberitahu Mustafa agar bertukar peran dengan Kosim.


“Bagaimana bisa rusak separah ini? Apakah aku bisa meminta tolong agar memeriksa kabelnya?” ujar Layla.


Si manajer langsung berdiri. “Aku mengerti soal CCTV. Biar kubantu memeriksanya. Kabel yang mana maksudmu?” tanya manajer.

__ADS_1


“Deggg..!”


“Ehmm, sepertinya ada gangguan di sambungan kabel lantai tiga,” jawab Layla ragu-ragu.


“Aku coba periksa ke sana,” jawab sang manajer keluar dari ruangan.


Layla langsung memberitahu Mustafa kalau Hanz sedang memerlukan bantuan. Kabel rusak hanya alasan agar Mustafa bisa pergi meninggalkan ruang keamanan menuju lantai tujuh.


Mengetahui itu, Mustafa langsung menyusul manajer. “Aku bantu, Pak. Sepertinya ada masalah kabel juga di lantai enam.”


“Baik. Setelah dari lantai tiga, aku akan menyusulmu ke lantai enam,” jawab manajer.


“Kenapa manajer itu merepotkan sekali,” celetuk Dennis.


“Periksa lantai enam, apakah ada orang di sana?” jawab Layla.


“Ada petugas kebersihan. Sepertinya dia baru saja sampai,” kata Dennis memberitahu.


“Tenang saja, Itu Pak Dikin. Dia orang baik.”


“Semoga saja Mustafa bisa mengerti situasinya,” jawab Hanz berharap setelah manajer keluar ke lantai tiga, Mustafa langsung menekan tombol ke lantai tujuh, tanpa harus berhenti di lantai enam.


“Seberapa cepat Mustafa bisa membuka kunci pintu ini?” Tanya Hanz lagi.


“Paling cepat lima menit. Itu kalau dia tidak gugup!” sahut kepala keamanan.


“Awasi terus lantai enam dan tujuh, Dennis!” perintah Layla.


“Sepertinya Pak Dikin sedang kelelahan. Dia hanya duduk bersandar di dinding apartemen,” tukas Dennis. “Tunggu sebentar, dia berdiri sekarang, tapi kenapa dia ingin masuk ke dalam lift lagi?”


“Dia menuju ke mana?”


Suara pintu lift lantai enam berbunyi. Mustafa ingin melanjutkan ke lantai tujuh, namun saat melihat Pak Dikin masuk ke dalam lift, Mustafa ragu-ragu.


“Mau membersihkan di mana lagi, Pak Dikin?” tanya Mustafa.


“Lantai tujuh di ruang manajer,” sahut Pak Dikin dengan suara serak dan terbatuk-batuk.


“Pak Dikin, sakit? Tanya Mustafa memeriksa wajah Pak Dikin.


“Tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sebentar?”


“Biar aku bantu Pak Dikin!” tawar Mustafa mengingat Pak Dikin akan ke lantai tujuh.


“Aku akan memastikan tidak terjadi apa-apa dengan Pak Dikin. Mari aku antar.” Mustafa menarik troli ke dalam lift dan langsung menekan tombol angka tujuh. Pak Dikin tampak kebingungan mencari cara agar Mustafa tak mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2