
Mariska tengah mengerjakan proposal untuk klien yang akan ia temui minggu depan. Kali ini dia mengerjakannya dirumah yang merangkap menjadi kantornya. Ketika tengah berkonsentrasi, layar ponselnya menyala. Muncul sebuah nama Miss Rania. Tampak dahinya mengernyit, tumben sekali masih jam sekolah dan gurunya si kembar meneleponnya. Perasaan tak tenang langsung menyergapnya, tak perlu berlama-lama dia langsung menyambar benda pipih yang terletak di depannya
-halo? ya miss...-
-ah iya..maaf mengganggu..-
-enggak miss..ada apa? si kembar kenapa?-
-hmm..begini..arden bertengkar dengan temannya, namun kali ini susah sekali saya tenangkan..jadi...-
-oke, saya kesana sekarang miss..-
Tanpa menunggu jawaban dari sang guru, Mariska langsung menutup panggilan dan beranjak dari tempat duduknya, masuk kedalam kamar untuk mengganti baju dan menyambar kunci mobil.
Dirinya melajukan mobil sportnya dengam kecepatan tinggi. Dirinya sudah bisa menebak, jika Arden pasti masih di bully oleh teman-temannya. Muncul rasa penyesalan dalam hatinya, kenapa dia masih belum sempat berkunjung dan menghadap ke guru si kembar guna mengadukan apa yang dirasakan Arden, semenjak anak lelakinya itu menceritakan jika dirinya sering di ejek oleh teman-temannya.
Tak butuh waktu lama, mobil sportnya sudah terparkir di halaman sekolah si kembar. Dengan langkah terburu dia berlari menuju ke arah kantor.
Tok..tok..tok..
Seisi ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Mariska melihat kedua anaknya duduk di sebuah sofa, tampak Aretha memeluk Arden yang masih sesenggukan dan Miss Rania mengelus-elus punggung anak lelakinya. Mariska melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan , tampak Miss Rania berdiri untuk menyambutnya
" abang kenapa sayang..kok nangis.." ucapnya lembut sembari menekuk lutut di depan si kembar. Bukannya menjawab, Arden langsung berhambur memeluk sang ibu.
" biasa lah mii...di kata-katain lagi sama si faraz.." jawab Aretha sambil cemberut. Gadis kecilnya tampak marah namun tak terlihat jejak air mata di wajah cantiknya. Mariska tampak memutar matanya, jengah. Faraz lagi faraz lagi. Jadi pengen liat muka orang tuanya kayak gimana.
" abang tadi di katain kalo gak bakal punya papa...trus tadi abang juga di pukul..tuh pipinya merah...aretha gak suka abang di gituin.." lanjutnya penuh emosi. Mariska tak berkata sepatah kata pun, hanya menarik anak gadisnya untuk masuk kedalam pelukannya. Sesaat setelah merasakan hangatnya pelukan sang ibu, Aretha menarik tubuhnya dan memandang wajah sang ibu.
" tapi..apa benar mi..kalo aretha sama abang gak bakalan punya papa? " tanyanya dengan mata berkaca-kaca dan sejurus kemudian tangisnya pun meledak. Mariska hanya mampu memeluk kedua buah hatinya lebih erat. Hatinya teriris, sungguh sakit melihat kedua anaknya menangis. Tampak Miss Rania yang melihat pemandangan mengharukan tersebut, menitikkan air mata. Sungguh berat perjuangan seorang single parent.
***
Mereka bertiga kini sudah berada di dalam mobil, sang ibu melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang.
" abang sama adek mau es krim? "
Tawarnya memecah keheningan. Namun kedua buah hatinya hanya terdiam. Sorot mata mereka masih terlihat sedih.
" mau permen? mau beli mainan? mau jalan-jalan?" tawarnya berkali-kali dan masih dengan jawaban sama, gelengan kepala.
" trus mau apa dong?" tanyanya menyerah
" abang mau punya papa..." ucap Arden pelan sembari menunduk
" aretha juga mau mommy...kita beli aja papa di toko mainan, gimana?" usulnya polos.
Mariska menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari tersenyum kecut.
" ngaco ah ..masak nyari papa di toko mainan...yaudah..kita makan aja dulu yaa..abis makan,kita beli mainan..oke..."
Ucapnya sembari mengarahkan laju kendaraannya ke arah cafe milik Aktam. Tak butuh waktu lama, dia segera memarkirkan kendaraannya. Tampak si kembar memandang cafe tersebut dari dalam mobil
" kita beli papa disini?" tanya Arden polos
" hahaha..enggak sayang..kita makan dulu ya..biar punya tenaga buat nyari papa buat kalian.." ucap Mariska agar si kembar mau turun dan makan. Karena ini jam makan mereka, tadi Miss Rania sudah mengatakan jika mereka berdua belum makan siang karena sehabis bertengkar Arden hanya menangis dan Aretha selalu menemaninya.
" serius mommy?? kalo abang makan, nanti abang bisa dapet papa???"
Mariska tercekat mendengar pertanyaan anak lelakinya. duh..tadi kayaknya salah ngomong deh.
" hmmm..enggak gitu juga bang...maksud mommy..kita harus makan banyak..biar sehat..biar kuat..kan tadi abang ama adek belom makan kan?"
" kalo sehat dan kuat, bisa nyari papa? gitu kan?" tanya aretha
" iyaaa..benar sekali..yaudah yuk..turun yuk.."
Akhirnya bujuk rayunya berhasil. Yang penting sekarang kedua anaknya mau turun dan makan. Selanjutnya,pikir sambil jalan.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke dalam cafe, Mariska mengedarkan pandangan mencari kursi kosong yang sekiranya nyaman untuk duduk mereka bertiga. Tepat pada saat itu, Aktam keluar dari arah dapur, mengecek bahan-bahan makanan yang baru saja tiba.
Dan sejurus kemudian terdengar teriakan riang dari kedua bocah yang mampu membuat seluruh orang di ruangaan tersebut menoleh ke arah mereka.
" oooommmmm alkaaaammmm......" teriak Arden dan Aretha dengan suara maksimal. Tampak wajah bahagia dari kedua bocah tersebut melihat sosok lelaki di depan mereka. Sang pemilik nama pun mendongakkan wajah dan sejurus kemudian senyumnya mengembang, dia membuka kedua tangannya lebar-lebar dan dua pasang kaki kecil di depannya berlari sekuat tenaga menghamburkan tubuh mereka ke arah tubuh kekar yang ada di depan.
Karena kerasnya kedua tubuh kecil itu menubruknya, Alkam pun jatuh terduduk membuat kedua bocah itu tertawa senang.
" wuiihhh....lama gak ketemu, makin kuat aja nih kalian.. om ampe gak kuat.."
" iya dong..kita kan udah 5 tahun om..udah gede dong.." jawab Arden
Obrolan belum berlanjut, tampak sepasang kaki putih berbalutkan flatshoes warna hitam sudah berdiri di depan mereka bertiga. Menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan sedikit melototkan mata indahnya.
" im so sorry mommy..." ucap Aretha sembari melepaskan pelukan dan berdiri tegak
" abang juga sorry mommy..abisnya tadi kita seneng banget liat om aktam.."
Melihat kedua anak kecil menunduk takut, Alkam pun berdiri dan merapikan bajunya
" udah..gak usah di marahin..namanya juga anak kecil.."
" ishh..siapa juga yang mau marahin?"
" lah itu..mukanya galak begitu..."
" ihh....gw malu tau, liat tuh semua orang ngeliatin...berisik banget sih..tau gitu tadi gak usah gw ajak kesini..." omelnya perlahan
Aktam tampak mengedarkan pandangan dan tersenyum ke arah para pengunjung yang memandang mereka. Kemudian pandangannya kembali tertuju kepada dua bocah di hadapannya.
" yuk..duduk di ujung sana yuk..kalian mau makan apa?" ucapnya sembari menggandeng si kembar di tangan kanan dan kirinya,melangkahkan kaki meninggalkan Mariska yang masih bersidekap di tempatnya.
" kalian mau makan apa?" tanya Alkam setelah mereka berempat menjatuhkan tubuh mereka di kursi yang terdapat di sudut ruangan.
" apa aja yang om alkam pilih, kita makan..ya kan bang?" jawab aretha sembari meminta persetujuan ke arah Arden yang kemudian mendapat anggukan kepala dari sang kakak.
Mereka bertiga kembali bercengkerama dengan asyik, Mariska merasa tak di hiraukan. Dia pun meraih ponselnya kemudian dengan iseng mulai memotret dan merekam tingkah polah ketiga manusia di depannya.
Tak lama pesanan mereka datang.
" loh..kak Mariska...lama gak kesini kak..." sapa Gina sembari meletakkan berbagai menu pesanan mereka.
" haloo gina...long time no see..."
" sama ponakan kak? kok akrab banget sama si bos.." tanyanya sembari melirik sang bos yang masih asyik bercengkrama dengan kedua anak kecil tersebut.
" enggak..itu anak gw..."
" what?? kak Mariska udah punya anak? gak keliataaann ihh..aku pikir masih single.." ucapnya kaget sembari menutup mulut dengan satu tangannya karena tangan lainnya memegang nampan.
" ya emang masih single..." jawab Mariska santai sembari tersenyum. Aktam yang mendengar obrolan mereka, menyahut
" oh..ternyata yang sering bikin kamu lama anterin pesenan tuh karena kamu ngerumpi dulu?"
Gina tergagap kemudian tersenyum kecut dan langsung kabur ke belakang.
" hahahah..galak banget sih sama karyawan.."
" itu bukan galak, tapi tegas.."
" ya lah..okelah..tapi btw thanks ya..udah bisa bikin si kembar ketawa hari ini.." ucapnya perlahan sembari melihat kedua buah hatinya yang sedang memakan makan siang mereka dengan lahap. Alkam memandang Mariska tak mengerti
" sebenernya hari ini hari yang berat buat mereka..gw tadi sebenernya kepikiran ngajak mereka makan disini karena menurut gw tempatnya enak..cuman ternyata malah ketemu elo, yang bikin mereka jadi bisa ketawa lagi.."
" emang kenapa? "
" biasa lah..gw abis dari sekolah, arden di bully lagi.."
__ADS_1
" masih masalah yang dulu itu?"
" iya..apalagi..cuman gw udah kasih peringatan ke pihak sekolah, kalo ini terulang lagi, gw bakal pindahin mereka.."
Alkam memandang kedua bocah di depannya satu persatu, mereka tampak lahap. Tangan kekarnya menjulur mengelus kepala mereka satu persatu. Kemudian dia bertanya
" abis makan, kalian mau ngapain ? mau jalan jalan?"
" emang kalo jalan, om alkam mau ikut?" tanya Aretha
" emang kalian mau ngajak om?"
" mau..mau..mau.." teriak mereka antusias
" emang kalian pengen kemana?"
" abang mau ke toko mainan.."
" oh ya? pengen beli apa?"
" abang pengen beli papa...abang pengen punya papa om.."
" aretha juga..aretha juga pengen punya papa.."
Alkam tercengang mendengar perkataan lucu si kembar, dia menoleh ke arah sang ibu meminta penjelasan. Mariska hanya tersenyum kecut sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" yaudah...makannya di abisin, nanti om ajak kalian ke toko mainan.."
" beneran om???"
" bener..." jawabnya sembari tersenyum
" ayo bang..makannya di abisin..kita jalan ama om alkam.." ajak aretha.
" emang kerjaan lo udah kelar?" tanya Mariska
" udah..baru aja kelar..jadi gw ada waktu buat nemenin mereka.."
" yakin?"
" yakin.."
" gak ada yang marah?"
" siapa?"
" pacar misalnya..."
" lah..lo tau gw jomblo..pake nanya.."
" ya kan basa basi..siapa tau lama gak ketemu lo udah punya pacar.."
" hahaha..enggak lah..ntar gw beli pacar dulu di toko mainan..barengan ama arden.."
" hahahah..sial lo.."
" lo emang bilang gitu ke mereka? kalo nyari papa di toko mainan?"
" nggak lah..itu tadi masih rewel, trus mereka punya pikiran kayak gitu, cuman gw gak jelasin, gw iyain aja dulu biar rewelnya udahan.."
" hmm..trus lanjutannya gimana? kalo tar mereka masih minta papa di toko mainan?"
" ntar lah..pelan-pelan dikasih tau..tapi jangan hari ini.."
Alkam pun mengangguk tanda setuju. Entah kenapa, melihat si kembar bersedih ,hatinya pun ikut sedih. Perasaan apa ini...
entahlah..
__ADS_1