MAKAM (MAriska AlKAM)

MAKAM (MAriska AlKAM)
Gimana sih rasanya punya papa?


__ADS_3

Selesai makan, tampak arden dan aretha dengan wajah sumringah ngobrol berdua. Entah apa yang mereka bicarakan. Mariska hanya tersenyum lega memandang kedua buah hatinya sudah tidak semuram tadi.


Tampak Alkam keluar dari ruangannya, dirinya memberitahukan kepada salah satu karyawan kepercayaannya jika dia akan keluar.


" Bon..gw keluar dulu..hari ini, urusan cafe lo yang pegang.."


" siap bos.."


" nanti kalo ada yang nyari gw, bilang gw lagi keluar.."


" siap!! emang bos mau kemana? "


" kepo.."


" ahhh..aku tauuu...pasti mau keluar sama itu tuh..." ucapnya sembari menunjuk meja tempat Mariska dan anaknya duduk.


" kalo iya emang kenapa? "


" ya gapapa bos, biar kayak keluarga kecil bahagia gitu lah..hihihi.." goda bona


" bener ..bener..deh..gw kira cuman Gina aja yang hobi rumpik, ternyata lo juga.." ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.


" hehehe..eh bos..ati-ati ya, nanti ada yang cemburu..." bisik Boni sembari menunjuk ke arah meja kasir. Alkam hanya tersenyum tipis,kemudian menepuk pundak Boni dan berlalu meninggalkannya.


"udah selesai? yuk jalan..."


" bentar..gw bayar dulu.."


" udah gak usah.."

__ADS_1


" eh gak bisa gitu dong..tadi gw kesini kan sebagai pelanggan..masa iya gak bayar.."


" gak papa, udah yuk jalan.."


" enggak, gw tetep mau bayar!! kalo gak boleh, jalan-jalannya gak jadi aja.."


Ucapannya membuat kedua buah hatinya cemberut dan si Arden bersiap meneteskan air mata. Secepat kilat Alkam berujar


"oke..oke..bayar dulu gih..yuk, mommy biar bayar, kita tunggu di mobil ya.." ajakan Alkam mampu membuat Arden tersenyum.


Mariska pun menyerahkan kunci mobilnya lalu berjalan menuju kasir. Sesampainya di kasir, biasanya sang kasir menyambutnya dengan ramah. Kali ini melayani dengan wajah datar tanpa bertanya apa pun. Mariska merasa heran namun tidak ambil pusing. Setelah membayar dia mengucapkan terima kasih dan tersenyum,hanya di balas dengan anggukan kepala.


Sang kasir bernama Nindy merasakan rasa sedih yang mendalam melihat pemandangan menyakitkan yang sedari tadi tersuguhkan di hadapannya. Cemburu. Namun tidak bisa mengungkapkan, toh cintanya bertepuk sebelah tangan.


***


Mobil sport itu melaju dengan kecepatan sedang. Terdengar celotehan riang dari dua orang bocah yang duduk di belakang. Seorang pria sedang fokus menyetir sambil sesekali tertawa mendengarkan celotehan para bocah dan seorang wanita yang duduk di kursi depan sembari merekam segala tingkah polah dua bocah tersebut. Sungguh, siapapun yang melihat, akan menyangka mereka adalah keluarga kecil yang bahagia.


" hah? om sama atap rumah? ya beda dong..."


" iyaa..trus apa bedanya? tau gak?"


" hmmm..apa ya..gak tau deh.."


" bedanya, kalo atap rumah namanya genteng, kalo om alkam namanya ganteng...hahahaha.." teriaknya sembari tertawa ngakak dan ber toss ria dengan sang kakak.


" hahahaha...jago ngerayu gitu sih...yang ngajarin mommy nih pasti.." ucap Alkam sembari melirik ke arah Mariska yang sedang tertawa-tawa mendengar celoteh anak gadisnya.


" ishh..enggaakk...nonton tivi ituuu..." ucapnya membela diri.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan obrolan dengan diselingi tawa, tak terasa tujuan mereka sudah terlihat. Nampak mall besar berdesain minimalis modern berdiri tegak didepan mereka. Alkam pun memarkirkan mobilnya. Kemudian mengajak mereka turun. Setelah turun dari mobil Aretha langsung menggandeng tangan sang kakak, namun langsung ditepis. Membuatnya heran dan berteriak ke arah sang ibu


" mommy..abang ngambek lagi nih..gak mau aretha gandeng..." tunjuknya ke arah sang kakak yang masih berdiri kaku dengan wajah cemberut.


" abang kenapa sayang.." ucap Mariska lembut sembari mengelus pucuk kepala anak lelakinya yang cengeng. Arden masih terdiam sembari menunduk. Alkam pun mendekatinya dan menekuk lututnya demi mensejajarkan pandangan dengan wajah sang bocah.


" abang arden kenapa? capek? mau om gendong? " tawarnya. Sejurus kemudian senyum lebar terlukis di wajah Arden


" boleh om? Arden mau gendong di pundak om bisa? om boleh? kata Faraz, gendong di pundak tu enak banget om..katanya Arden gak bakal bisa ngerasain itu soalnya gak punya papa..." ucapnya panjang dengan suara lirih. Mariska menghela nafas panjang. Faraz lagi faraz lagi.


" boleeehh dong...ayo sini, naik sini..kita jalan-jalan sambil gendong di atas ya.." ajak Alkam sembari mengarahkan Arden agar menaiki pundaknya. Setelah Arden duduk dipundak, dia berpegangan ke kepala Alkam


" udah siap? om berdiri ya?"


Alkam pun bangkit perlahan hingga akhirnya berdiri ttegak membuat Arden berteriak kegirangan


" wooww..tinggi bangeett..tinggiii..seruuu...ayo jalan omm.."


" pegangan yaaa...lets goo...." ucapnya sembari tangan kanannya meraih tangan mungil milik Aretha. Sang gadis kecil pun tersenyum riang, sembari menarik tangan sang ibu agar berjalan beriringan.


" aretha seneng deh..tangan kanan kiri aretha bisa gandengan sama Mommy sama Om...rasanya sungguh menakjubkan..." ucapnya sembari tersenyum senang. Dua orang dewasa di kanan kirinya hanya tersenyum kikuk, bingung mau berkata apa.


" mungkin rasanya punya papa kayak gini ya bang..menyenangkannya banyak banget..." ucapnya seraya mendongakkan kepala ke atas melihat sang kakak yang sedang di gendong


" abang..digendong enak gak?"


" enaak bangeett..enaknya bangetnya banget banget...kamu di gandeng enak gak?"


" enaakk banget..nanti gantian ya bang.."

__ADS_1


Mereka berdua asyik mengobrol tanpa menyadari bahwa dua orang dewasa yang berjalan bersama mereka, sedang merasakan rasa kikuk yang tiba-tiba menyerang. Mau dilihat dari sudut manapun, mereka berempat memang tampak seperti ayah,ibu dan kedua anak yang sedang menghabiskan waktu bersama.


__ADS_2