MAKAM (MAriska AlKAM)

MAKAM (MAriska AlKAM)
Maukah kau menjadi papa ku, om...?


__ADS_3

Semenjak pergi bersama-sama kemarin, hubungan Alkam dan juga si kembar menjadi semakin dekat. Minimal seminggu sekali, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Terkadang, Alkam hanya pergi bertiga tanpa Mariska. Mariska sudah begitu mempercayai Alkam sehingga mengijinkan kedua anaknya pergi bertiga saja.


Hari minggu, selepas si kembar mandi sore Alkam sudah tiba di kediaman Mariska.


Dua bocah itu tampak selalu sumringah melihat kedatangan lelaki bertubuh atletis dan berwajah rupawan tersebut.


"om..om..hari ini kita mau jalan kemana?"


" hmmm..kalian maunya kemana?"


" hmmm..hmmm..kemana ya..."


" udah, main dirumah aja..om Alkam capek tuh abis kerja...gak kasian apa?" potong Mariska.


Manik mata kedua bocah tersebut spontan memandangi wajah ganteng di depan mereka


" om Alkam capek? beneran?" tanya Arden


" Retha pijitin sini deh.." ucap Aretha sembari memijit pundak Alkam. Yang dipijiti tergelak, merasa geli merasakan tangan kecil di pundaknya. Tidak seperti memijat tapi lebih seperti menggelitik.


" hahaha..enggak sayang..om gak capek..udah..udah..geli ini.." ucapnya sembari tertawa sambil meraih tangan Aretha dan memeluk tubuh gadis kecil tersebut.


" abang ambilin minum deh om.." ujar Arden sembari berlari ke arah dapur


" aretha ambilin cemilan ya om.." gadis cilik itu pun berlari menyusul sang kakak ke belakang.


Kini tinggal Alkam dan Mariska yang duduk di sofa ruang tamu. Mereka berdua sama-sama terdiam kemudian suara Mariska memecah keheningan di antara mereka


" makasih ya..lo udah bantuin gw.."


" bantuin apaan?" ucapnya tak mengerti


" bikin arden sama aretha seneng.."


" oh..kalo itu sih, gw kira bukan cuman mereka yang seneng..gw juga seneng kok.."


" serius? lo suka ama anak kecil?"


" sebenernya enggak juga sih..cuman entah kenapa..gw seneng aja ngeliat mereka berdua..rasanya hidup gw gak sepi lagi kalo ada mereka..."


" hahaa..iya sih..mereka berisik.."


Alkam hanya tertawa menanggapi ucapan Mariska. Tak lama kemudian kedua bocah itu sudah muncul kembali ke dalam ruang tamu sembari membawa segelas air putih dan setoples coklat. Lebih tepatnya itu cemilan mereka berdua.


" wuihh..buat om nih? makasih yaa.." ucapnya sembari mengambil gelas dan minuman dari tangan mereka.


" om..main bola yuk om?" ajak Arden


" ayok..bola apa?"


" bola basket.."

__ADS_1


" ayoo.." jawabnya sembari berdiri dan menggandeng tangan si kembar keluar rumah. Mariska hanya memandangi mereka dalam senyum. Ia pun beranjak dari sofa ruang tamu dan berjalan menuju kamar. Mumpung si kembar ada yang jagain, dia pun masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Tak lama, selesai mandi keramas, dia memakai daster rumahan tanpa lengan. Wajahnya pun polos tanpa make up, namun tampak terlihat segar. Dia pun keluar dari kamar menuju teras depan,tempat mereka bermain basket. Terdengar teriakan dari mereka bertiga. Sepertinya seru sekali.


Ketika dia sampai di teras, tampak Aretha berada dalam gendongan Alkam dan berusaha memasukkan bola ke dalam ring basket . Wajah sumringah terpancar jelas di wajah gadis kecil itu. Sejauh ini dia selalu berusaha untuk membuat bahagia kedua anaknya, namun belum pernah dia melihat wajah mereka sebahagia ini. Dan ini semua hanya karena sesosok lelaki bernama Alkam yang baru mereka kenal beberapa bulan ini.


Menyadari kehadiran Mariska di depan pintu, Alkam pun menghentikan aktifitasnya. Namun sepersekian detik dia memandang Mariska dengan baju santai sehabis mandi, entah kenapa aura kecantikan terpancar berkali lipat daripada biasanya. Dan dia baru menyadari jika Mariska memang cantik tanpa polesan make up. Untuk sesaat mereka berdua saling pandang , namun pandangan itu terputus ketika mendengar teriakan si kembar


" om alkam sama mommy ngapain sih? liat-liatan gitu?"


Mereka berdua pun tampak salah tingkah.


" ya ampuunn..udah mandi kok keringetan lagi.." ucapnya mengalihkan permbicaraan


" abang mau mandi lagi deh mom.."


" aretha juga.."


" oke..tapi nunggu keringetnya kering dulu ya.." perintahnya dan di sambut anggukan kepala dari kedua bocah dan sejurus kemudian mereka berdua berlari kedalam kamar mereka. Mariska pun mendekati Alkam yang tampak lelah, tubuh berbasuh peluh. Di sodorkannya air putih dingin yang sedari tadi berada dalam genggamannya.


" nih minum dulu..capek kan lo.." ucapnya sembari menjatuhkan tubuhnya di sebelah Alkam.


" olah raga nih..seger.." jawabnya sembari menghabiskan segelas air putih yang berada di genggaman tangannya.


" lumayan lah..olah raga sambil momong..gw jadi bisa lama-lama di kamar mandi.." jawabnya sembari memegang rambutnya yang masih basah dan mengibas-ibaskannya perlahan. Alkam memandangi wajah Mariska dari samping, hidungnya yang mancung tampak indah dilihat dari samping, alisnya, matanya, rambutnya. ahh...kok tiba-tiba terlihat mempesona di matanya.


Merasa diperhatikan, Mariska menolah. Netra mereka bertemu.


" kenapa?" tanya Mariska


Pujian pertama yang keluar dari mulut Alkam membuatnya tersipu malu.


" kemarin-kemarin gak cakep dong?"


" gak tau, gw gak merhatiin.." jawabnya sembari tertawa lepas. Mariska pun mendelik sebal sembari melayangkan cubitan di pinggang Alkam.


" aduh..duh..udah..udah..sakiitt banget sih cubitannya.." ucapnya sembari menahan tangan Mariska agar menghentikan cubitannya. Mariska pun merengut


" abisnya..lo tuh abis buat gw terbang, abis itu dijatohin.."


" cieee...yang dipuji langsung terbangg...cieee..."


" ihhh..apaasiiihh..."


Ketika sedang asyik mengobrol, tiba-tiba si kembar muncul dengan wajah segar dan tubuh wangi. Mereka berdua langsung berlari dan menghambur duduk ditengah Alkam dan Mariska


" wuiihh..wanginya anak Mommy..udah mandi sehari 3x ini.." ucapnya sembari menciumi pucuk kepala Arden dan Aretha bergantian. Mereka berdua tersenyum sumringah.


" om alkam gak mandi?"


" kan keringetan om.."

__ADS_1


" hmm..om gak bawa baju...lagian ni keringetnya udah ilang...gak bau juga kan? coba cium sini..." ucapnya sembari mengangkat kedua lengannya dan mengarahkannya ke arah Arden Aretha membuat kedua bocah tersebut lari terbirit - birit sambil berteriak


" ogaaahhh...."


***


Sementara Alkam menghabiskan waktu bersama si kembar, Mariska sibuk memasak untuk makan malam mereka. Dan mereka berempat pun makan malam di rumah dengan penuh kebahagiaan. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wib. Tampak Arden dan Aretha sudah mengantuk dan lelah.


" udah malem nih..om pulang dulu ya?"


" om gak bobok sini aja? nemenin kita bobok.." rengek Aretha dan mendapat dukungan dari sang kakak.


" hmmm..gak bisa sayang.."


" kenapa gak bisa?"


" om kan punya rumah...jadi om harus pulang.."


" ya rumah om pindah kesini aja.." masih ngeyel


" gak bisa dong..kasian rumahnya om sendirian.."


" kalo gitu, kita aja yang bobok disana..gimana?"


" waduh..rumah om kecil tuh..gak muat nanti.."


" kalo kecil, pindah aja kesini, kan rumah kita besar om.."


Alkam terdiam kehabisan kata-kata, menoleh ke arah Mariska meminta bantuan. Mariska pun mendekati kedua buah hatinya dan berkata perlahan.


" Om alkam gak boleh nginep sini sayang, nanti dimarahin Pak Rt.."


" emang kenapa pak rt marah-marah? emang om alkam nakal sama pak rt?"


" hmmm..bukan begitu sayang..maksud mommy..om Alkam kan lelaki, mommy perempuan, nah gak boleh tuh nginep di satu rumah..soalnya bukan keluarga.."


" oh gitu..." Alkam dan Mariska tampak menghela nafas lega melihat si kembar paham dengan penjelasannya.


" kalo gitu, om Alkam jadi keluarga kita aja mommy, biar bisa nginep sini.."


Kedua orang dewasa itu kembali tercekat. Kelegaan yang mereka rasakan baru saja, ternyata hanya mampir.


" Om..mau gak om jadi papanya kita? biar kita bisa jadi keluarga.." ucap Arden dengan mata berbinar. Disusul sorot mata Aretha yang menatap Alkam penuh harap. Alkam tampak tercekat sesaat sebelum kemudian dia berhasil mengendalikan ekspresinya. Dia tersenyum manis, menekuk lututnya agar bisa bertatapan dengan dua pasang mata tanpa dosa itu.


" kalian hari ini capek kan? nah sekarang bobok, kalo kalian pinter,patuh sama mommy, enggak nakal, nanti om bakal jawab, om mau gak jadi papa kalian..gimana? setuju?"


Mata mereka berdua berbinar-binar. Kepala mereka mengangguk-angguk dengan semangat. Sejurus kemudian mereka berdua sudah berlari masuk kedalam kamar.


Kini tinggal Alkam dan Mariska di ruangan tersebut.


" udah..gak usah terlalu di pikirin omongan si kembar..namanya juga anak-anak.."

__ADS_1


Alkam hanya tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya,mengusap lembut pucuk kepala Mariska.


" yaudah..gw balik dulu ya..lo istirahat gih.." ucapnya sembari melangkahkan kaki keluar. Mariska tampak termenung sesaat, memegang kepala yang baru saja di usap oleh Alkam. Ada sedikit getaran aneh ketika merasakan usapan lembut di pucuk kepalanya.


__ADS_2