MAKAM (MAriska AlKAM)

MAKAM (MAriska AlKAM)
Arden dan Aretha


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB artinya jam pulang sekolah si kembar telah usia. Mobil sport miliknya sudah terparkir di depan sekolah bergengsi tersebut. Tak berapa lama kedua bocah berlarian menghampirinya dengan semangat. Dirinya pun menundukkan tubuhnya kemudian merentangkan kedua tangan demi memeluk kedua buah hatinya


" Mommy...mommy..." mereka berdua berteriak bahagia bertemu dengan sang ibu.


" halo..sayang-sayangnya mommy..hari ini pinter semua??"


" aretha dong pinter...abang tuh begoo..nangis diaaa..." tunjuk gadis berpipi tembem mata bulat,rambut panjang dikuncir,sungguh menggemaskan.


" enggak..abang gak nangiss..adek tuh yang gangguin duluaann..." Arden yang lahir lebih dulu biasa di panggil abang, membela diri.


" ssstt...adek gak boleh ngatain abang **** sayang.."


" ihh..biarin emang abang **** beneran..anak begoo..."


" loh..kalo abang ****, berarti mommy juga **** dong..aretha ngatain mommy ****??"


Sang gadis kecil terkesiap kemudian menutup mulutnya


" ah enggak mom...yang **** abang aja..mommy enggak..."


" kan abang anaknya mommy dek..."


Mariska tersenyum melihat perubahan pada anak gadisnya,kemudian membelai lembut


" udah, kalian berdua jangan saling ejek ya..udah, minta maaf gih sama abang.."

__ADS_1


Kedua bocah kembar tersebut saling bersitatap kemudian berpelukan. Dan mereka bertiga pun naik kedalam mobil kemudian melajukan kuda besi tersebut menuju kediaman mereka. Membesarkan kedua anak dengan usia sama dan sendirian, sebenarnya cukup berat. Namun ketika melakukannya dengan sungguh-sungguh dan bahagia membuat segala kesulitan tak terasa sebagai sebuah halangan.


Ardan sang kakak, memiliki karakter yang moody , sedikit cengeng dan susah beradaptasi dan penakut. Sedangkan sang adik, Aretha yang lahir 5 menit setelahnya, memiliki karakter yang bertolak belakang dengan sang kakak. Dia merupakan anak yang ceria, mudah beradaptasi, pemberani namun sedikit kasar.


Mereka berdua merupakan anak kembar yang cukup akur, meski sesekali bertengkar namun tak menjadikan mereka saling bermusuhan. Pertengkaran mereka wajar terjadi, namanya juga anak-anak. Meski Arden memiliki sifat


penakut, namun ketika sang adik di jahili oleh teman sekolah, dia akan berdiri paling depan untuk melindungi adiknya. Meski berakhir dengan tangisan sang kakak dan adik yang dilindungi kemudian beralih melindungi dan menenangkan sang kakak . sungguh lucu.


Mereka berdua tidur dalam satu kamar yang luas, dengan dipan berbeda. Sisi kanan kamar berwarna biru dengan ornamen superhero kesukaan Ardan. Sisi kiri berwarna pink dengan ornamen princess kesukaan Aretha.


Mereka berdua tidur bersama setelah sang ibu selesai membacakan dongeng keduanya.


Di usia yang masih terbilang sangat kecil, mereka sudah mandiri. Mandi dan ganti baju mereka lakukan sendiri. Ketika sang ibu masuk kedalam kamar untuk membangunkan, mereka pasti sudah selesai mandi dan Mariska hanya membantu mereka menyiapkan seragam dan perlengkapan sekolah. Entah karena memahami kondisi sang ibu yang mengasuh mereka sendirian, mereka berdua tumbuh menjadi anak mandiri yang tidak pernah rewel.


Pagi ini mereka berdua sudah duduk melingkar di depan meja makan. Dirumah ada mbok nah yang selalu membantu Mariska membereskan rumah. Namun mbok nah tidak menginap dirumah. Hanya datang pukul 06.00 wib dan pulang pukul 14.00 wib.


Mbok nah hanya menyiapkan sarapan dan makan malam untuk mereka bertiga, sekaligus membersihkan dan merawat rumah.


" mommy..nanti arden di anterin masuk sampe kelas ya.."


" loh kenapa?" tanya mariska sembari mengernyitkan dahi namun sang putra hanya menunduk terdiam.


" abang takut sama si faraz mom..kelas sebelah...nakal sih.."


" nakal gimana?"

__ADS_1


" kemarin dia ngata-ngatain aretha katanya aretha gak punya ayah..abang marah, abang mukul faraz..trus di bales sama faraz..abang jatoh..trus abang nangis deh.." jelas si bungsu dengan panjang lebar dan santai.


Mariska menghela nafas. Dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat.


" abang sayang...kalo ada yang ngatain gitu..abang jangan marah ya...kan emang bener..."


" abang tau mom..abang tau ayah abang udah di surga...abang gak marah..tapi kemarin abang marah karna liat aretha mau nangis pas dikatain sama si faraz..."


Mariska memandang lembut ke arah gadisnya


" emang aretha nangis?"


" enggak lah mom..cuman mau..."


" pengen nangis maksudnya?"


Gadis kecil berkucir kuda itu mengangguk pelan. Kemudian Mariska mengelus kepala kedua anaknya bergantian


" ayah kalian sudah meninggal..kalian tau itu..waktu kalian usia dua tahun..kalian cukup bilang seperti itu kalo ada yang ngejek..meninggal itu bukan sesuatu yang hina sayang..tapi itu takdir..yang pasti, kalian punya ayah yang sangat menyayangi kalian..meski sekarang kalian gak bisa ketemu lagi..."


Mereka berdua mengangguk lemah dan sejurus kemudian Aretha mengangkat wajahnya dengan mata berbinar


" gimana kalo mommy nyari papa buat kita?? kita beli deh biar mau...gimana?"


Mariska hanya tertawa terbahak-bahak mendengar celoteh sang anak. Hal yang menyedihkan pun jika melewati pola pikir anak-anak semua akan terdengar konyol dan menggelikan.

__ADS_1


__ADS_2