MAKAM (MAriska AlKAM)

MAKAM (MAriska AlKAM)
Entrepeneur Muda


__ADS_3

Tiga tahun sudah Mariska menjadi seorang single mother. Dia benar-benar menjalani peran doublenya sebagai seorang ibu dan juga seorang ayah. Beruntung mendiang suaminya masih meninggalkan sebuah rumah, setidaknya ia dan anak-anaknya tidak perlu kesulitan mencari tempat untuk bernaung. Usaha suami yang di jalankan selama hidupnya adalah sebuah CV yang bergerak di bidang jasa. Sebuah biro wisata yang memfasilitasi sebuah instansi atau pun karyawan perkantoran untuk melakukan wisata atau pun outbond yang bertujuan untuk merefresh otak sehingga diharapkan setelah melakukan refreshing semacam ini, kinerja para karyawan menjadi lebih baik lagi.


Ketika sang suami masih hidup, Mariska terkadang membantu pekerjaan suaminya. Karena dia hidup berdua dengan sang ayah, masa mudanya selalu dihabiskan untuk membantu ayahnya bekerja. Dia memang tidak hidup kekurangan, usaha ayahnya yang memiliki sebuah percetakan kecil-kecilan, mampu menghidupinya hingga dia menyelesaikan bangku kuliahnya di usia muda. Sehingga,ketika dia memiliki seorang suami yang merupakan seorang entrepeneur sama seperti ayahnya, dengan senang hati dia pun ikut membantu pekerjaan suaminya. Meski itu hanya menyusun proposal dan perencanaan dana karena sisanya akan dikerjakan oleh tangan kanan sang suami, yang bernama Kukuh. Namun semenjak dirinya hamil dan melahirkan, dia nyaris tidak pernah membantu pekerjaan suaminya lagi karena lebih sibuk mengurusi kedua buah hatinya.


Dan kini, ketika sang suami telah berpulang dan dia diwarisi usaha sang suami, dia tidak merasa kebingungan. Meski dirinya pun belum terlalu menguasai, Kukuh selalu siap membantu segala kesulitannya . Dan dia pun bertekad akan meneruskan usaha sang suami dengan segenap tenaganya. Demi keberlangsungan hidup kedua buah hatinya, dia harus mampu mengembangkan usaha yang ditinggalkan mendiang suami, untuk anak-anaknya.


Mariska melakukan semuanya sendiri, mulai dari mengetik proposal, rincian pembiayaan, booking sana booking sini, semua masih bisa dilakukannya sendiri.


Namun ketika akan melakukan presentasi ke calon kliennya, dia ditemani oleh kukuh dan ketika sudah deal, selama kegiatan berlangsung,semua kegiatan di handel oleh kukuh. Lelaki berusia 5 tahun lebih tua darinya itu sangat bisa di andalkan. Disisi lain, dia pun memiliki 20 orang crew freelance yang keseluruhannya masih berstatus mahasiswa. Jadi meski menjadi seorang ibu dan single mother, mariska masih memiliki banyak teman yang menemani kesehariannya dalam mencari nafkah untuk anak-anaknya.


Selama 3 tahun mengelola bisnis ini, dia mampu membiaya kebutuhan anak -anaknya lebih dari cukup. Sebuah mobil sport berwarna hitam pun menjadi kendaraannya kemana-mana. Arden dan aretha pun dia sekolahkan di sekolah bergengsi dengan sistem fullday sehingga ketika dia sedang bekerja, anak-anak berada ditempat yang aman.


Semua crew yang bekerja kepadanya selalu menyebutnya dengan sebutan


bos janda kaya. Dan dia pun tidak tersinggung dengan panggilan tersebut, karena memang itu fakta meskipun panggilan itu sungguh menggelikan


***


Siang ini, dia akan membuat proposal untuk ia ajukan ke salah satu kliennya. Untuk pekerjaan ini, dia memilih mengerjakannya diluar rumah. Karena memang dia belum memiliki gedung sendiri untuk kantornya. Semua masih bisa dilakukan di dalam rumahnya yang cukup luas.


Mariska memarkirkan mobil sportnya di halaman sebuah cafe berkonsep industrial. Dia turun dari mobil, memakai dress selutut dan berlengan pendek, menjinjing tas laptopnya kemudian memasuki cafe bertuliskan Brotherhood.


Masuk kedalam,dia disambut sapaan karyawan kafe yang tersenyum ramah padanya. Dia pun membalas senyuman kemudian mengedarkan pandangan mencari tempat yang dirasa nyaman. Setelah menemukannya, dia memesan beberapa menu kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.


Setelah pekerjaan selesai, dia melihat arloji dan beranjak dari duduknya. Ini waktunya Arden dan aretha pulang sekolah. Dia pun berjalan ke arah kasir


" sudah kak? meja nomer berapa?" tanya si kasir ramah bernama Nindy


" udah..nomer 10 mbak..yang di ujung.." ujarnya sembari menunjuk tempat duduknya tadi.


" ini notanya kak..di tunggu kedatangannya kembali kak..." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya. Mariska pun tersenyum dan berjalan menuju pintu, sambil sibuk mencari kunci mobil di dalam tasnya. Karena mencari kunci sambil berjalan dan menunduk, tiba-tiba


bruukkk!!! tubuhnya menabrak seseorang berbadan kekar, sehingga laptop dalam genggamannya terjatuh.


" aahhhhh....duuhh..gimana sih.." ucapnya kesal sembari berjongkok berusaha mengambil laptopnya namun tangan besar di depannya sudah lebih dulu meraih laptop itu.


" ah maaf..maaf..kalo ada yang rusak,biar saya ganti.." ucapnya. Mariska mendongak melihat seorang lelaki tampan bermata sipit yang tak lain tak bukan adalah alkam, pemilik kafe ini.


" gak usah...maaf saya buru-buru.." jawabnya sembari berjalan meninggalkan Alkam yang masih berdiri mematung memandanginya memasuki mobil sport dan kemudian berlalu dari kafe tersebut.


" woiii booss.....kenapa? mbaknya cakep ya?" sapa salah satu karyawannya yang melihat alkam masih berdiri terpaku di depan pintu


" ihh..ngagetin aja lo..!! udah, buruan bersihin tuh meja..keburu ada pelanggan datang.." ucapnya sembari berjalan masuk kedalam kafe


" siapp booss..!!"


***


Beberapa hari kemudian, selepas mengantarkan si kembar ke sekolah, mariska melajukan mobil sportnya ke kukuh. Untuk membicarakan perihal klien yang akan mereka temui. Kukuh sendiri sudah berkeluarga, memiliki dua orang anak dan seorang istri yang baik hati.

__ADS_1


Sebenarnya dia akan mengajak bertemu diluar rumah namun ketika di hubungi, Kukuh mengatakan jika dirinya sedang tidak enak badan. Jadi disinilah dia pagi ini


" katanya suami lo sakit mbak?" tanyanya ketika istri kukuh,wulan namanya, membukakan pintu dan mempersilakannya masuk.


" iya..cuman meriang aja sih..bentar aku panggilin dulu ya.." ujarnya disambut anggukan kepala Mariska.


Tak berapa lama, Kukuh masuk kedalam ruang tamu dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Wajahnya tampak sedikit pucat


" bisa sakit juga lo bang.." tanya mariska sambil tersenyum tipis.


" ya biar sama kayak orang normal lah..masa iya sehat terus.." kelakarnya


" haishh..sakit beneran tau rasa lo.."


" haha..enggak lah..gimana? proposalnya udah lo bikin?"


" udah..coba cek deh.."


Ucapnya sembari mengeluarkan laptop dari dalam tas. Ketika selesai membuat proposal, Mariska selalu mendiskusikannya dengan kukuh, segala persiapan selalu mereka lakukan berdua namun ketika acara berlangsung, semua kendali ada di tangan Kulih. Untuk hal ini, Mariska belum bisa mengambil alih semuanya karena dia perempuan dan juga memiliki dua orang anak yang tidak bisa dia tinggal.


" hmmm..oke sih..cuman menurut gw bagian dananya ini, kurang rinci ya..coba kamu bikin yang lebih minimalis namun tetep kita gak rugi..bisa gak?"


" bisa sih...ini emang kemarin gw sengaja Up agak banyakan bang.."


" kenapa gitu? "


" ya biar gak terlalu mepet aja sih..kan tetep nanti ada budget unprecditable yang tetep keluar kan? nah cuman buat jaga-jaga aja sih bang..gimana?"


" iyalah..dia yang dipikirin cuman hasilnya aja,biar bisa buat pacaran.." jawabnya dengan tatapan sendu dan ini sukses membuat kukuh merasa bersalah.


" yaahh..elah..sori..sori..gw gak bermaksud..."


" hahha..gapapa kali bang, gw udah biasa..udah move on...santai laahh.."


" hmm..baguslah...kalo gitu udah punya pacar donk?" godanya


" belum lah..eh enggak lah..mana ada yang mau sama janda anak dua bang.."


" ehh..banyak kali! apalagi jandanya kayak lo.."


Belum sempat Mariska menjawab,tiba-tiba Wulan menyahut


" janda kan semakin di depan ris.." ucapnya sembari membawa secangkir teh dan meletakkannya di depan Mariska.


" ah..bisa aja.." ucapnya sembari tersipu malu


" udah 3 tahun semenjak suami lo meninggal..udah saatnya kan si kembar punya papa baru..cari gih.." saran Wulan


" hufhh..tar lah mbak..tar kalo udah waktunya juga dateng sendiri mbak..gw sih gak ada niat nikah lagi..cuman kalo inget si kembar...hufhh..ah gak tau lah.."

__ADS_1


Sepasang suami istri itu hanya tersenyum melihat Mariska merenung. Mereka berdua sudah menganggap Mariska seperti adik mereka sendiri.


***


Setelah mengunjungi Kukuh, mariska melajukan kendaraannya menuju cafe Brotherhood. Sejauh ini kafe yang terletak di pusat kota itu membuatnya sangat nyaman. Dia bermaksud merevisi proposal disana sembari menunggu si kembar pulang sekolah.


Setelah memarkirkan kendaraannya, dia melangkahkan kaki menuju kafe yang belum begitu ramai. Karena belum waktunya makan siang. Dia membetulkan mini dress hitam selutut yang ia kenakan,merapikan rambut pendeknya dan menjinjing tas laptopnya. Langkah kakinya yang dibalut dengan flatshoes berwarna merah berayun dengan santai.


Sesampainya di dalam, dia mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang nyaman. Senyumnya terbit setelah melihat ada sofa nyaman di sudut ruangan yang tampak kosong. Dia pun melangkahkan kaki menuju tempat yang ia tuju. Setelah menjatuhkan tubuhnya, dia mengedarkan pandangan dan tidak menemukan satu pun karyawan cafe tersebut.


" laahh..ini mas mbaknya pada kemana ih.." gumamnya. Ketika dia sedang kebingungan, sejurus kemudian pintu sebuah ruangan tak jauh dari tempatnya duduk, terbuka. Di bagian daun pintu terdapat papan bertuliskan OFFICE. Dan setelah pintu terbuka lebar, beberapa karyawan tampak keluar dari ruangan tersebut. Wajahnya langsung sumringah dan melambaikan tangan ke salah satu pelayan yang memandangnya.


" maaf kak...lama nunggu ya? kita abis briefing..kebetulan 2 orang gak masuk, jadi ketika semua ikut briefing,gak ada yang jaga di depan.." jelas pelayan ber tag name Gina di dada, menjelaskan.


" gak papa kok mbak, aku juga baru dateng.." jawab mariska dengan senyum manisnya.


" makasih buat pengertiannya....oke, mau pesan apa? aku ambilin menunya dulu ya kak.."


" gak usah, aku udah hafal menunya disini..."


" ah iyaa..kunjungan kesekian kalinya kesini pastinya..."


Mariska hanya tersenyum kemudian menyebutkan pesanannya. Setelahnya pelayan tersebut berpamitan untuk membuatkan pesanannya.


***


Alkam selesai memberikan briefing singkat kepada seluruh karyawan, minus dua orang yang ijin karena sakit. Dia memang selalu memberikan briefing setiap hari, gunanya untuk selalu mengontrol karyawannya agar mampu memberikan pelayanan yang terbaik untuk semua customernya.


Ketika keluar dari ruangan, dia melihat ada sesosok gadis yang sedang fokus di depan laptop. Dia mengernyitkan dahi mengingat-ingat dimana pernah melihat gadis itu. Dia terpaku melihat Mariska yang sedang konsentrasi di depan layar laptop tanpa menyadari ada seseorang yang memandanginya. Dari samping, gadis itu tampak cantik. Hidungnya yang mancung,kulit putih bersih dan rambut yang terjuntai kedepan karena dia sedikit membungkukkan tubuhnya membuat siluet gadis itu tampak sempurna. Kebetulan dia duduk di sudut ruangan, berdekatan dengan jendela kaca sehingga sinar matahari dari arah luar tampak membuatnya sedikit bersinar, namun pastinya dia tidak kepanasan karena ruangan ini ber AC.


" ngelamun aja bos.." sapa karyawannya sembari menengok apa yang sedari tadi membuat bosnya terdiam .


" ah lo bon..hobinya ngagetin.."


" oh..masih liat mbaknya itu.? itu kan yang kemarin bos tabrak di depan pintu itu.." ujarnya mengingatkan,sembari ikut memandangi mariska.


" ahhh..itu ya. ? yang aku jatuhin laptopnya?" kini Alkam teringat karena Boni mengingatkannya


" nah betul!! cantik ya bos? gimana mau disamperin gak?"


" ngapain?"


" ya kan bos jatuhin laptopnya..ya tanya donk..rusak apa gak.."


" lah itu laptopnya dipake...artinya gak rusak.."


" ya kan basa basi bos, biar bisa kenalan..."


" ih..itu mah elo yang pengen..udah ah, sana kerja..kerja..gw mau ngecek pembukuan "

__ADS_1


ujar Alkam sembari melangkahkan kaki ke arah meja kasir.


__ADS_2