
Tak terasa matahari sebentar lagi tenggelam, semburat sinar berwarna orange kemerahan tampak menghiasi langit. Alkam masih berada di kediaman Mariska. Selesai membelikan kruk dan es krim, dia bermaksud pamit pulang.
" Maris...gw pulang dulu ya..bentar lagi malem.." pamitnya
" oke..lo naik apa ?"
" gw order ojek online aja..gampang.."
" oke deh.."
Alkam pun tampak sibuk mengorder via ponselnya namun karena mungkin ini jam pulang kerja, entah kenapa sulit sekali mendapatkan driver. Mariska yang melihat ekspresi sedikit kesal di wajah Alkam pun bertanya
" kenapa? belum dapet?"
" iya nih..susah banget daritadi.."
" hmmm..yaudah, bawa aja mobil gw.."
" hah? enggak usah.."
" ya kalo gak usah trus gak dapet ojek, emang mau nginep sini?"
" what?? nggak lah.."
" yaudah, makanya..bawa aja..lagian kaki gw cedera gini, gak mungkin juga gw keluar bawa mobil.."
Alkam tampak berpikir sebentar. Tak lama terdengar suara teriakan si kembar sembari berlari ke arah mereka berdua. Rupanya keduanya telah mandi.
" anak-anak mommy udah mandi semua?? pinterrrnyaa.. wangiiii.." ucap mariska sembari menciumi mereka satu per persatu.
" mereka udah bisa mandi sendiri?" tanya Alk kagum
" udah..mereka gw ajarin mandiri..gw kan single parent jangan sampailah punya anak manja..dua lagi!! bisa repot entar..." ucapnya sembari tersenyum, Alkam hanya manggut-manggut.
" yaudah, sana gih kalo mau pulang...keburu malem "
" ni beneran gw bawa gapapa?"
" gapapa.."
" percaya? kalo gw kabur bawa mobil mu gimana? "
" ya gw samperin ke cafe lo lah.."
" emang beneran tu cafe milik gw? "
" hmmm..kayaknya sih iya..ah udah deh, bawa aja gak papa, tampang lo bisa dipercaya kok.."
" hahaha...oke lah, kalo gitu siniin nomer lo, biar gw save..."
Mariska pun menyebutkan nomernya kemudian mereka berdua saling menyimpan no ponsel masing-masing.
***
Pagi hari, Mariska terbangun dengan kaki yang masih membengkak. Dia mengernyitkan dahi menahan rasa nyeri. Semalam dia sudah menelepon Mbok nah agar beberapa hari ini menginap dirumahnya. Dan hari ini, dia putuskan si kembar libur sekolah karena tidak ada yang mengantar jemput. Sekalian agar si Ardan tidak perlu menghadapi ejekan teman-temannya.
Tak berapa lama kedua bocah kembar terdengar berlarian menghampirinya di dalam kamar.
" Mommy masih sakit?" tanya Ardan
" sedikit sayang...kalian udah mandi?"
__ADS_1
" udah mom..." aretha menjawab
" udah makan? "
" udah..mbok nah udah selesai masak kok mom.."
" yaudah..kalian hari ini libur dulu ya...sekarang belajar di kamar gih..trus tolong panggilin mbok nah ya.." perintahnya kepada si kembar dan tak berapa lama mereka berdua sudah berlarian keluar kamar.
***
Selesai mandi dan bersiap dibantu oleh mbok Nah, dirinya kini tengah menyantap sarapan sembari memegang ponsel,berusaha membalas pesan yang dikirimkan oleh Kukuh. Untung saja pekerjaannya telah usai ketika dia cedera, sehingga tidak mengganggu pekerjaannya.
Dia melihat kembali pergelangan kakinya yang masih bengkak, namun nyerinya sudah sedikit berkurang. Sedikit. Tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk
morning...gimana kakinya?
Pesan dari Alkam masuk. Mariska tersenyum kemudian membalas.
-Kakinya masih dua, belum nambah
- haishh..udah enakan apa masih sakit?
- hehehe..udah mendingan, masih bengkak cuman nyerinya udah berkurang
- oh syukurlah..trus si kembar sekolah sama siapa?
-gak sekolah, biar di rumah aja dulu..gak ada yang anter jemput ini..
-oh...yaudah, aku balikin mobilnya tar sore ya,ini aku kelarin kerjaan dulu
- gak jadi dijual mobilnya?
-hahaha..gak, ntar gw di teror ama cewek galak
-yaudah, gw kerja dulu bye
***
Matahari bersinar terik, si kembar masih tertidur pulas di kamar. Sedangkan Mariska duduk di sofa sembari memangku laptopnya. Mengecek kembali file-file yang akan di butuhkan oleh Kukuh. Mbok nah meminta ijin untuk pulang dan nanti sore kembali lagi.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru kendaraan berhenti di halaman rumahnya. Dan sejurus kemudian, tampak wajah Alkam di depan pintu yang memang dibiarkan terbuka. Mariska mengangkat wajahnya ketika mendengar Alkam mengetuk pintu, kemudian tersenyum
" loh..udah dateng..katanya sore? ini masih siang..masuk deh.."
Alkam melangkahkan kaki sembari menjinjing bungkusan berisi banyak cemilan untuk si kembar.
" kerjaan cepat selesai..jadi gw langsung kesini...hmmm..si kembar kemana?" tanyanya sembari mengedarkan pandangan melihat suasana yang sepi.
" lagi bobok siang...itu bawa buat si kembar?" tanyanya sembari menunjuk bungkusan yang di pegang lelaki itu.
" iya nih...buat mereka..tapi malah tidur.."
" tunggu aja..paling bentar lagi bangun..gw ambilin minum ya " ucap Mariska sembari meletakkan laptop ke atas meja dan berusaha bangun. Namun langsung dicegah oleh Alkam
" eh gak usah..ntar kalo haus gw ambil sendiri..kaki lo gimana?"
" oh oke..udah gak nyeri..cuman masih bengkak.."
" udah lo coba buat jalan?"
" belom sih..takut jatoh.."
__ADS_1
" coba aja..kamu pegangan pundak aku aja..sini..ntar kalo gak buat latian jalan, lama sembuunya loh.." ucapnya sembari mengulurkan kedua tangannya. Mariska tampak berfikir sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Dia membenarkan daster tanpa lengan yang ia kenakan, kemudian menurunkan kedua kakinya perlahan. Kaki kanannya baik-baik saja, karna kaki kirinya yang cedera. Dia memegang kedua tangan Alkam yang membantunya untuk berdiri, dan secara perlahan dia menapakkan kaki kirinya di lantai. Dia tekan kakinya ke arah lantai dan ketika merasa tidak ada rasa nyeri dia berusaha melangkahkan kakinya perlahan.
" eh udah gak sakit..." ujarnya sembari tersenyum senang
" tuh kan..bener kan..harus buat latian jalan...yaudah gw lepas ya.."
Ucap Alkam sembari melepas perlahan kedua tangan Mariska. Namun karena kakinya belum sembuh benar, rasa nyeri kembali menyerang sehingga tubuhnya nyaris ambruk kedepan, namun secepat kilat Alkam menarik pinggang Mariska kedalam pelukan. Sejenak mereka saling bertatapan dengan jarak yang dekat. Alkam memandang dengan jelas wajah Mariska yang polos tanpa polesan make up. Sungguh cantik secara alami. Namun setelah beberapa saat saling memandang, mereka tersadar dan menjauhkan wajah masing-masing
" ah..sori..sori..harusnya jangan gw lepas dulu.." ucapnya sembari membantu Mariska untuk duduk kembali. Mariska hanya terdiam membisu, antara kaget dan malu. Dia tidak pernah saling memandang dalam jarak dekat dengan lelaki selain suaminya. Sehingga kejadian barusan cukup membuat degup jantungnya berdetak lebih cepat.
Ketika suasana canggung itu terjadi tiba-tiba terdengar suara tangis dari dalam kamar.
Mariska menajamkan pendengarannya kemudian tersentak kaget karena mendengar tangis Aretha. Gadis kecil itu jarang sekali menangis, jika sampai menangis pasti ada sesuatu yang terjadi. Mariska berusaha beranjak dari duduknya kemudian di tahan oleh Alkam.
" biar gw liat..kamarnya sebelah mana?"
" ah ya..itu di belakang aquarium.." ucap Mariska sembari menunjuk aquarium besar yang terdapat di tengah ruangan. Alkam pun melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, membuka pintu kemudian melihat Aretha sedang duduk di lantai sembari meletakkan wajahnya di atas lutut. Gadis kecil itu tampak menangis sesenggukan, di sebelahnya tampak Arden dengan wajah bangun tidurnya, mengelus-elus rambut sang adik.
" kamu kenapa cantik?" tanya Alkam sembari berlutut di depan gadis kecil itu. Aretha mengangkat wajahnya, terlihat hidungnya memerah karena menangis, dahinya pun tampak memerah. Sejurus kemudian tangisnya kembali pecah, gadis kecil itu menghamburkan tubuhnya ke pelukan Alkam.
Alkam menggendong Aretha yang masih menangis sesenggukan keluar kamar. Arden membuntutinya dari belakang. Sesampainya di ruang depan
" abang..si adek kenapa nangis?"
" jatoh dari kasur tadi...kepalanya kejedot.." jelas Arden sembari duduk di sebelah ibunya.
Alkam pun mendudukkan tubuh Aretha ke atas pangkuan Mariska. Kemudian dia memegang dahi gadis kecil itu
" udah biru gini..tadi tidurnya gimana kok bisa jatuh dari kasur? biasanya juga enggak kan sayang..." ucap Mariska lembut.
" tadi..hiks..hiks..tadi..aretha lagi ngimpi berkelahi.." jawabnya sembari menangis sesenggukan.
" lhoo..anak gadis kok ngimpinya gahar gitu.." goda Alkam sembari kembali duduk ke sofa di depan Mariska
" tadi aretha ngimpi, abang lagi di ejekin sama temen-temen.."
" di ejekin apa?"
" ya itulah..yang biasanya..trus aretha marah, aretha pukul mereka..trus tiba-tiba aretha jatuh dari kasur..kepalanya kena lantaii..sakiitt.." dan setelah menceritakan mimpinya, gadis itu kembali menangis. Mariska hanya mengelus elus punggung sang anak. Selama ini, ketika mereka di ejek tidak punya papa, hanya Arden yang menangis. Aretha tampak biasa saja, namun ternyata dugaannya salah. Gadis itu hanya berpura-pura baik-baik saja. Kesedihannya sampai masuk ke dalam mimpi. Ini artinya dia benar-benar harus mengunjungi sekolah dan membicarakan hal ini kepada pihak sekolah.
Tiba-tiba Arden berlari ke arah dapur kemudian kembali lagi membawa segelas air putih.
" minum dulu dek..nangisnya udahan ya..jidatnya masih sakit?" tanyanya penuh perhatian. Aretha mengambil gelas dalam genggaman sang kakak kemudian meneguknya sampai habis.
" iya..makasih bang...adek gak bakal nangis lagi..biar abang aja yang cengeng..adek gak usah.." kelakarnya membuat semua orang tertawa.
" yaudah..sekarang kalian mandi gih..nanti balik sini lagi..tuh om Alkam beliin kalian jajan.." ucap Mariska sembari menunjukkan bungkusan di atas meja. Mereka berdua pun mengerjapkan mata dengan bahagia kemudian berlarian masuk ke kamar untuk mandi.
Alkam dan Mariska tersenyum melihat tingkah kedua anak tersebut. Namun ketika kedua anaknya menghilang dari pandangan, tiba-tiba senyum di wajah Mariska memudar.
Dia menghela nafas panjang kemudian memijit dahinya perlahan
" kenapa? ada yang mengganggu pikiran ?"
" sedikit...kayaknya gw harus ke sekolah si kembar deh..."
" buat? "
" si kembar selalu di bully sama temen-temen..selama ini Arden selalu menangis , tapi Aretha enggak..aku pikir karena memang ardhen cengeng..tapi ternyata.. barusan Aretha sampai mimpi dan menangis, artinya dia juga ikut terganggu.."
" memangnya di bully kenapa?" tanya Alkam tak mengerti
__ADS_1
" hufhh..ya gitu lah..tentang status mereka yang gak punya seorang ayah..mereka selalu di kata-katain..ya gitu lah anak-anak..." terang Mariska dengan enggan. Sepertinya dia pun malas membahas itu. Alkam pun hanya mengangguk-angguk, bingung mau berkomentar apa