Malam Berbintang

Malam Berbintang
Episode 6


__ADS_3

Di halaman rumah Meira


Mereka duduk di atas pohon mangga menikmati angin malam dan jagung bakar.


" apakah kita masih orang asing?" ucap Nando memulai pembicaraan


"sekarang kita adalah teman" ucap Meira


"tapi aku ingin kita lebih dari teman" batin Nando


"kenapa? benarkan kita teman?" ucap Meira


"ya, kita teman" ucap Nando


Sementara itu dibawah pohon mangga yang sama ada seorang pria yang bernasib kurang baik.


" woi jangan duduk dan melihatku saja, bantuin!" ucap Rio meninggi


"kami bantuin om lewat do'a saja" ucap Sheila


"iyakan tampan" ucap Sheila pada Fahri sambil terseyum manis


"sayang bagaimana lalau kita nikah minggu depan saja" ucap Fahri tiba-tiba


"kenapa tiba-tiba bahas soal nikah" ucap Sheila sambil menelengkan kepalanya ke kanan


"aku sudah tidak tahan ingin menikah denganmu" ucap Fahri jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam


"heh... mereka malah pacaran" keluh Rio


"kalau tahu teman temannya seperti ini aku tidak akan pernah mengatakan ya walaupun dia memohon padaku tapi tidak mungkin juga dia memohon padaku" batin Rio sambil mangut mangut


"kamu lihat bintang bintang di atas sana" ucap Meira


"ya kenapa?" ucap Nando


"mereka bersinar di malam hari yang gelap aku suka mereka" ucap Meira


"bagaimana dengan bulan?" tanya Nando


"bulan?" ucap Meira


"ya, aku lebih suka bulan karena bulan itu bersinar di malam yang gelap dan juga dia hebat karena dia tak menangis walaupun dia sendirian" ucap Nando


"ya, kamu benar selama ini ternyata aku sudah mengabaikan bulan karena terpesona oleh bintang binatang yang ramai" ucap Meira


"itu karena kamu kesepian" ucap Nando


"bagaimana denganmu kamu juga kesepian bukan? jangan terus menuduhku kesepian padahal dirimu sendiri juga kesepian karena itulah kamu suka bulan yang kesepian" ucap Meira


"Hahaha kamu pikir mereka itu makhluk hidup apa? kesepian apanya" Nando mengalihkan pembicaraan


Mereka bercerita tentang bulan dan bintang bintang di langit lalu mengibaratkan benda benda langit itu sebagai diri mereka sendiri seperti bulan yang kesepian sebagaimana mereka yang kesepian.


 


"Sheila bangun!" ucap Meira

__ADS_1


"jama berapa?" tanya Sheila dengan suara khas habis bangun tidur


"jam setengah enam " jawab Meira


"ooo baru juga jam setengah enam" ucap Meira


"Sheila bangun kamu kamu belum sholat subuhkan" ucap Meira


"baiklah" jawab Sheila lalu duduk melamun


"Sholat! jangan duduk melamun" ucap Meira


"Iya iya" Sheila berdiri dengan perlahan lalu berjalan menuju kamar mandi untuk whudu


Jam enam mereka sudah rapi dengan mengenakan seragam sekolah dan tentunya sudah siapa untuk berangkat sekolah.


"kalian bangun cepat sekali" ucap Rio takjub


"kalau ingin sukses harus bangun lebih pagi dari orang normal om" ucap Meira


"oh jadi kamu kamu bangga jadi orang yang tidak normal begitu" batin Rio


"setiap subuh memang harus bangun untuk sholat subuh" ucap Nando


"lebih cepat bangun lebih cepat pula bertemu dengan Sheila" ucap Fahri


"aku tadi di bangunin sama Meira om" ucap Sheila jujur


"kalian hebat sekali kalau aku dulu waktu masih sekolah, aku tidak akan bangun kalau tidak di bangunin mama" ucap Rio


"oh, iya orang tua kamu kemana? Kalau ayah kamu ngak ada dirumah karena lembur itu biasa tapi kalau ibu bukanya selalu ada di rumah" ucap Rio


"aku sudah selesai makan, aku akan menunggu di mobil" lanjut Meira


"aku juga sudah selesai" ucap Nando lalu menyusul Meira


"apa aku salah bicara?" tanya Rio bingung


"kalau Nando aku tahu ibunya sudah meninggal tapi kalau dia? kenapa kedua orang tuanya sama sekali tidak terlihat" batin Rio


"hei kamu tidak apa-apa" ucap Rio setelah jauh dari meja makan


"emang aku kenapa?" ucap Meira


"kamu terlihat tidak baik-baik saja" ucap Nando


"benarkah?" ucap Meira


"ya"


"sebentar lagi juga aku akan baik-baik saja" ucap Meira


"kenapa begitu?" ucap Nando


"karena waktu membuatku lupa" ucap Meira


"tapi waktu tidak bisa menyembukanmu" ucap Nando

__ADS_1


"aku belum mau berbagi jadi berpura-puralah jadi tolong kalau aku baik baik saja" ucap Meira (memalingkan wajah)


Di sekolah


"Sheila kita makan dikantin lagi dong hari ini" ucap Meira memulai pembicaraan


"iya emang apa masalahmu kalau kita makan di kantin?" ucap Meira


"males aja" ucap Meira


"dasar kamu pemalas" ejek Sheila


"mata pelajaran pertama kita hari ini apa?" tanya Sheila


"matematika" jawab Meira


"ooo"


Beberapa menit kemudian ibuk guru datang memulai pelajaran pagi selama dua jam dan berakhir pada pukul 10 pagi.


Teng.. Teng.... Teng..... (bunyi lonceng keluar main)


"Meira ayo kita ke kantin" ajak Sheila


"aku ngak ke kantin" ucap Meira


"ayolah Meira jangan manja" ucap Sheila


"siapa yang kamu bilang manja? Aku? Hahahaha" batin Meira


"yaudah aku kekantin dulu bay" ucap Sheila


"ok" ucap Meira


Setelah di tinggal oleh Sheila dia melipat tangannya di atas meja lalu meletakkan kepalanya di atas tangannya.


"seperti ini lebih baik" ucap Meira lalu menajamkan matanya


Tak... Tak... Tak... ( Nando datang membawa sepiring nasi goreng)


"kamu tidur" ucap Nando yang baru datang


"ya" jawab Meira


"tidak ada orang tidur yang menjawab ya" ucap Nando


"ada" ucap Meira


"siapa?" ucap Nando


"aku" ucap Meira


"kamu itu tidak tidur tapi ngaku ngaku tidur" ucap Nando kesal


"kamu ngapain ke sini"


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2