
Tringg.... Suara telpon mengema hingga membuat bara terbangun dari tidur malam nya
Ia perlahan membuka mata nya dan terkejut saat melihat Rena tertidur di dalam pelukan nya tanpa busana
"Hah.." teriak nya dengan reflek menjauh dari Rena hingga terjatuh dari ranjang
Suara dentuman tubuh bara yang terjatuh membuat Rena terbangun. Ia pun terkejut melihat tubuh nya yang sudah tak mengenakan pakaian
"Arghhhh...." Teriak nya sembari menutupi seluruh tubuhnya mengunakan selimut
Bara bergegas memakai handuk yang terletak di dekat nya. Ia pun menghampiri Rena dan menutup mulut nya agar tak mengundang semua orang
"Diam!! Tenang dulu" ujar nya
"Mmmmphhh..." Rena memberontak untuk melepaskan tangan bara yang menutupi mulut nya
Ibu Suki yang menunggu di luar mendengar jeritan putri nya. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk melancarkan aksi nya
"Rena...." Teriak nya sembari berlarian memeluk sang putri
Rena menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ibu Suki. Sedangkan bara mematung saat melihat bercak putih milik nya bertebaran di atas kasur
"Kamu!! Kamu apakan anak ku" ujar ibu Suki meneteskan air mata palsu sembari melayangkan tamparan di pipi bara
Bara hanya diam tak merespon. Ia terduduk di sofa dan berusaha untuk mengingat kembali kejadian semalam
"Oh ya, gue ingat! Kepala gue pusing Abis minum jus jeruk. Terus, gue balik ke kamar dan ... " Ujar nya di dalam hati.
"Iya!! gue ingat, gue masuk kamar nomor 6. Ini kamar gue! Berarti Naya yang salah masuk kamar?" Tambah nya sembari bergegas keluar kamar untuk memeriksa nomor kamar nya
Ia mematung saat melihat pintu kamar bernomor 9. Ibu Suki yang memperhatikan nya pun hanya tersenyum kecil. Sebab, ia telah membalikkan nomor tersebut
Bara melirik Rena yang terus menangis di dalam pelukan ibu nya. Perlahan, ia mendekati Rena dengan Ragu
"Kamu mau bilang apa lagi? Ini sudah jelas! Kamu sudah merenggut kesucian anak saya" ujar nya dengan tegas. Namun, bara hanya diam
__ADS_1
"Jawab!!..." Tambah ibu Suki memegang kedua pundak bara sembari menggoyahkan nya
"Tenang dulu Tan. Saya gak akan lari kok" ujar bara yang berusaha untuk terlihat tenang
"Kamu mau bertanggung jawab kan? Sekarang" ujar nya dengan penuh penekanan sembari menarik tangan bara keluar dari kamar
"Tunggu Tan!!" Ujar Bara menghentikan langkah kakinya
"Saya gak bisa kalo harus nikahin Rena" tambah nya
"Apa kata mu, Gak bisa! Kamu gila ya. Kamu sudah menodai anak saya tapi gak mau nikahin dia" ujar ibu Suki dengan kesal
"Duh, gimana ya? Gak mungkin gue kasih tau mereka kalo papa udah merencanakan pertunangan gue sama Celine untuk keperluan bisnis. Iya sih, cuma keperluan bisnis. Harus nya gapapa! Tapi kalo papa tau gimana? Hidup Rena pasti dipersulit nanti nya" ujar bara di dalam hati
"Bedebah ini! Apa kamu gak kasihan sama Rena. Dia pasti trauma dan merasa gak pantas untuk siapa pun" ujar ibu Suki sembari meneteskan air mata palsu
"Ohh, putri ku yang malang" tambah nya sembari melirik ke arah bara yang hanya terdiam
"Bukan gitu Tan. Tapi saya sama Rena kan masih SMA. Mana boleh nikah" ujar bara sembari tersenyum paksa
"Gimana kalau habis lulusan nanti aja" tambah nya dengan penuh harap
"Bedebah ini pasti mau kabur! Gak bisa. Saya sudah berjalan sejauh ini. Bahkan, saya rela mengorbankan Rena untuk tidur sama dia demi memutus kemiskinan ini. Nggak! Dia gak boleh lolos" gerutu ibu Suki di dalam hati
"Gak bisa!! Kamu harus menikahi anak saya sekarang" ujar nya dengan tegas
"Tapi Tan, saya sama Rena kan masih sekolah" ujar Bara
"Ya sudah! Pernikahan nya secara tertutup. Cukup kita bertiga yang tau" ujar ibu Suki sembari menarik tangan bara
Singkat cerita, Mereka pun kembali lebih cepat dari rombongan nya. Bara dan Rena pun melakukan sumpah pernikahan di gereja secara tertutup yang hanya disaksikan oleh pendeta dan ibu Suki
"Jadi ini rumah Rena? Kok gak sesuai sama gaya nya yang nampak high class" tanya bara di dalam hati saat membantu ibu Suki membawakan beberapa barang
"Inilah rumah kami nak. Emang kecil dan kumuh. Hidup kami benar-benar hancur sejak papa Rena bangkrut dan memilih pergi meninggalkan kami dengan setumpuk hutang" ujar ibu Suki. Bara hanya diam memperhatikan sebuah foto keluarga di dinding
__ADS_1
"Emh Tan, saya" ujar bara terhenti karena di sela oleh ibu Suki
"Kok Tan sih?.." sela nya
"Eh, mah! Saya pulang dulu ya" jawab bara dengan canggung
"Ya udah, bawa Rena sana" ujar ibu Suki
"Emang harus tinggal bareng?" Tanya bara dengan ragu
"Iya lah, kalian kan sudah menikah jadi kudu tinggal bersama" jawab ibu Suki dengan tergesa-gesa mengambil barang Rena di kamar nya
"Rena, cepat kemasi baju kamu" ujar ibu Suki sembari membuka lemari
"Untuk apa?" Tanya Rena yang masih menangis
"Ikut suami kamu lah! Dengan begitu, kamu gak perlu hidup susah sama mama. Udah, stop nangis nya" ujar ibu Suki mendekati putri nya dan menghapus air mata nya
Tak lama, ibu Suki membawa sekoper pakaian di iringi oleh Rena yang bersembunyi di belakang ibu nya
"Cepat sana..." Ujar ibu Suki sembari menarik tangan Rena agar tak bersembunyi di belakang nya
Bara menyambut koper yang di berikan ibu Suki dan membawa nya ke mobil. Sedangkan Rena, dengan ragu melangkahkan kaki nya mendekati bara yang telah menunggu
"Sana-sana!!" Ujar ibu Suki sembari memberikan senyuman hangat ke pada putri nya
Singkat cerita, Bara dan Rena pun pergi. Sedangkan ibu Suki tersenyum puas saat melihat mobil bara dari kejauhan
"Huft!! Akhir nya. Gak sia-sia rencana ku. Ya walaupun aku belum mendapatkan apa pun dari bara" ujar nya sembari bernafas lega dan masuk ke dalam rumah nya
Langkah kaki ibu Suki terhenti saat melihat sebuah kartu dan secarik kertas di bawah vas bunga atas meja
"Apa ini?" Tanya nya sembari membaca kertas yang di tinggalkan bara
"Pin 703892..." Baca nya sembari melihat kartu unlimited yang ia pegang
__ADS_1
"Arghhh.... Ini dia yang ku tunggu-tunggu! Akhirnya, semua rencana ku berbuah manis haha" ujar nya mencium kartu tersebut sembari menari-nari
Disisi lain, Rena menutupi wajah nya mengunakan jaket nya. Sebab, Ia tak berani menatap wajah suami nya yang Terlihat penuh dengan tekanan. Di tambah lagi, ia malu saat mengingat kejadian petaka malam itu. Dimana, ia lah yang lebih dulu menyerang bara hingga kehilangan kesuciannya