
Rena melirik Bara yang fokus terus menyetir mobil nya. Ia melihat wajah bara yang nampak gelisah
"Sorry bar, gue udah ngerusak hidup Lo" ujar Rena dengan Ragu sembari menundukkan kepalanya
"Kenapa Lo bisa di kamar itu? Jangan bilang Lo sengaja" tanya bara dengan dingin
"Gue gak tau. Malam itu kepala gue pusing banget! Seingat gue, Nyokap gue yang memapah gue ke kamar itu" jawab nya
"Sudah gue duga! Pasti nyokap Lo dalang di balik semua ini" cetus nya
"Gak mungkin lah! Mana ada seorang ibu mau ngerusak hidup anak nya" jawab Rena dengan menaikkan nada bicaranya
"Terus, kenapa dia bisa bawa Lo ke kamar itu?" Ujar bara dengan dingin
"Seharusnya gue yang nanya!! Lo kenapa masuk ke kamar itu" jawab Rena terhenti. Sebab, bayangan dimana ia menyerang bara terngiang di otak nya
"Gue ingat, dan yang gue liat kamar itu nomor 9 ternyata nomor 6. Gue yakin itu pasti di balik! Gak ada yang kebetulan" ujar nya
"Jadi Lo nuduh nyokap gue? Buat apa dia ngelakuin ini semua! Apa lagi menghancurkan anak nya sendiri" ujar Rena yang mulai kesal
"Gue gak nuduh. Tapi kenyataan" jawab bara dengan dingin
Dengan reflek, Rena melemparkan boneka kesayangan nya ke arah bara. Sehingga membuat keseimbangan mobil terganggu dan hampir menabrak pepohonan
"Lo gila ya!" Ujar bara menaikkan nada bicaranya
Rena terdiam dan memandangi jendela mobil Sehingga membelakangi Bara sembari memeluk boneka Teddy bear nya
"Iya, gue tau hal ini gak masuk akal menurut Lo. Tapi gue yakin kalo nyokap Lo dalang di balik semua ini! Terserah mau percaya atau nggak" ujar Nya
"Dan, sorry! Gue gak bermaksud ngebentak Lo" tambah nya. Namun, Rena hanya diam tak merespon
Singkat cerita, mereka telah sampai di kediaman bara. Rena pun melangkahkan kaki Nye dengan Ragu
"Lo tidur di sana" ujar bara sembari menunjuk sebuah ruangan
"Gak ah! Gue mau yang itu" ujar Rena menunjuk ke kamar yang paling besar
"Enak aja! Itu kamar gue. Udah Lo di kamar tamu sana" ujar bara
"ih gak mau. Gue mau nya disana! Lo ngalah ah" ujar Rena dan hendak masuk ke kamar utama
"Ya udah bareng" cetus bara membuat langkah Rena terhenti
__ADS_1
"Dasar mesum! Ya udah sana" jawab Rena sembari pergi ke kamar tamu
Bara tertawa kecil melihat tingkah istri nya itu. Sedangkan Rena terus bergemerutu dengan kesal. Tak lama, Listrik di rumah bara padam.
"Argh...." Teriak bara terduduk lemas menutupi kedua telinga nya
Rena yang melihat hal tersebut pun mendekat secara perlahan. Tak lama, para pelayan datang membawa lampu lampor menghampiri bara dengan panik
"Tuan!!..." Teriak bik Ana
"Tuan gapapa kan? Maaf tuan, hari ini ada pemeliharaan listrik. Jadi, listrik di kota padam. Tapi tuan tenang saja. Sebentar lagi lampu emergency menyala" ujar pak Doni
Bara terus meringkuk membuat Rena menjadi penasaran. Ia memberanikan diri untuk mendekati bara dan memeriksa nya
"Badannya gemetar dan berkeringat dingin! Segini takut nya dia sama gelap" batin Rena sembari memapah bara masuk ke kamar
Bara pun meminum obat tidur dan langsung terlelap dengan nyenyak. "Maaf mba. Mba siapa ya?" Tanya ana dengan sopan
"Eh, saya bukan siapa-siapa kok. Tapi saya diperbolehkan untuk tidur di kamar tamu malam ini" ujar Rena dengan canggung
"Oh, baik mba. Mari ikut saya" ujar ana menuntun jalan untuk Rena
"Kalau boleh saya tau. Kenapa bara bisa begitu?" Tanya nya selama perjalanan
"Oh, pantes dia sampe kayak gitu! Trauma masa kecil emang susah untuk di lupakan" batin Rena
"Tapi, kalo boleh saya tau. Kenapa dia di siksa dan di kurung?" Tanya nya
"Tuan besar selalu menuntut kesempurnaan dengan hal sekecil apa pun itu. Jadi, kalau tuan muda melakukan kesalahan sedikit saja. Maka beliau akan di pukul dan di kurung" jawab nya
"Mba pasti orang spesial ya? Tuan muda gak pernah bawa siapa pun ke rumah ini" tanya ana sembari tersenyum
"Ah, nggak kok. Saya bukan orang spesial" jawab Rena tersenyum paksa
"Apa pun itu, sepertinya mba sangat di percaya oleh tuan muda. Kalau begitu, apa saya boleh menitipkan obat tuan" ujar ana
"Hah, o-obat?"
"Iya mba, selain memiliki trauma dengan gelap. Beliau juga sering keracunan. Dokter juga Bingung asal muasal racun itu bisa ada di tubuh nya. Sebab, racun nya tak berasal dari makanan" ujar ana
"Maksud nya gimana? Maaf, saya kurang paham"
"Hampir setiap hari tuan muda keracunan. Yang aneh, racun itu selalu menyerang diri nya di jam tertentu. Meskipun ia tidak makan dan tidak melakukan apa pun. Beliau tetap terkena racun. Bahkan dokter bilang kalau ini adalah racun gaib yang tiba-tiba menyerang" ujar ana
__ADS_1
"Ini kamar tamu nya mba. Semoga nyaman ya" tambah ana dengan ramah
"Iya, terimakasih ya" jawab nya
Ana pun meninggalkan Rena untuk beristirahat dan memberikannya sebuah botol kapsul
"Jadi ini obat bara?" Ujar nya sembari memperhatikan kapsul tersebut
"Racun apa sih yang di maksud? Kok aneh gitu ya. Masa ada racun gaib" tanya nya
"Ah bodo amat! Gue capek" ujar nya sembari bersiap untuk tidur
Keesokan hari nya. Rena terbangun di pagi hari, ia bergegas untuk bersiap-siap pergi ke sekolah dan menghampiri bara di kamar nya
"Bar!! Udah bangun belum? Ayo sekolah. Gue nebeng ya" teriak nya sembari mengetuk pintu
"Maaf mba, tuan muda ada di meja makan. Beliau sudah menunggu disana" ujar ana dengan ramah sembari memberikan jalan dan menuntun Rena ke meja makan
"Loh! Kok Lo gak pake seragam?" Tanya Rena yang melihat bara mengunakan baju tidur sembari membaca buku
"Lo mabuk ya? Ini hari Minggu" jawab nya dengan dingin dan tetap fokus pada buku nya
"Oh iya! Goblok banget sih" gerutu nya sembari menepuk kening
"Makan dulu Sana! Kalo gak suka bilang aja sama ana. Ntar di buatin yang lain" ujar bara sembari menutup buku nya
"Nggak! Ini lebih dari cukup kok" ujar Rena sembari tersenyum paksa karena malu
"Tumben? biasa nya nyusahin" ujar bara dengan dingin sembari melahap makanan nya
Rena hendak marah. Namun, ia menahan amarahnya dan fokus menyantap makanan di atas meja
"Bar, Itu apa?" Tanya Rena saat melihat liontin indah tergantung di leher bara
"Kalung dari nyokap gue" ujar nya dengan dingin
"Boleh gue pegang?" Ujar nya penuh harap
"Nggak!!" Cetus nya
"Dih pelit" ujar Rena kembali fokus menyantap makanan nya
Setelah sarapan pagi. Bara mengumpulkan beberapa pelayan terpercaya nya. Ia pun memberitahu tentang pernikahan nya dengan Rena. Pelayan yang mengerti akan maksud dari bara pun segera menganggukkan kepalanya
__ADS_1