
Gue nelpon Rea adek gue buat nanya apakah yang di katakan Zika itu benar atau ga.
Drettt...drettt...drettt
"Eh, ni bocah panjang umur baru mau gue telpon udah telpon duluan..." Batin Dhita
Rea Cuyung♥️
"....."
"Iya, hallo!"
"....."
"Apa jadi itu bener?"
"....."
"Lah, terus Lo pulangnya gimana?"
"....."
"Iya deh klo gitu, serah lo penting pulang!"
"Awas lo klo keluyuran, gue tampol lu"
"....."
"Apaan sih, ga usah ngaco deh"
"....."
"Lah, malah ketawa nih anak"
"....."
"....."
"Oke, bye Cuyung"
Setelah menelpon Rea dan dikasih tau bahwa yang dikatakan Zika itu emang bener....
__ADS_1
"Gimana, bener kan?" tanya zika senyum.
"Heem, iya bener" jawab gue kesel.
"Ya udah, pulang nanti langsung kerumahnya mama ya!" perintah Zika pada Arindhita Prinses.
*Pulang kuliah*
"Huhh, kenapa hari ini gue sial banget sih?" gerutu Dhita pada dirinya sendiri, karena Zika belum datang dan kebetulan yang didalam mobil hanya ada dia.
"Ga usah gerutu kek gitu dong!" kata Vian.
yang tiba-tiba muncul.
"Astaghfirullah, ish ngagetin aja sih!" pekik gue kesel.
"Hhhhh, emang ga nyadar apa? orang aku dari tadi udah ada disini!" jelas zika sambil tersenyum kearah Dhita.
"Emangnya kita ke rumah mama mau ngapain sih?" tanya Dhita kesel.
"Kamu lupa ya? pernikahan kita tuh tinggal seminggu lagi Arindhita!" kata Zika yang membuat Dhita kaget setengah mati.
"What? seminggu lagi" Teriak Dhita didalam mobil.
"Gue ga nyangka ternyata pernikahan ini bakal tetep berlaku ya!" kata Dhita sangat kesal.
"Lah kan emang berlaku" jawab Zika sambil menyetir mobil Dhita.
"Apa ga bisa diundur lagi?" tanya dan rengek Dhita pada Zika.
"Ga bisa sayang, karena ini udah keputusan orang tua kita!" jelas zika pada Dhita dan itu membuat Dhita semakin kesal dengan Zika.
Zika yang peka dan sudah hafal sangat lebih tepatnya pada sikap Dhita ini, bahwa dia sangat kesal padanya...
*Rumah Keluarga Hirata*
"Assalamualaikum" ucap gue dan Zika bersama.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah" jawab Mama gue yang membukakan pintu.
"Eh, anak mama sama calon menantu mama udah pulang" sambung mama, dan menarik kami untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Mama ngapain sih nyuruh dia jemput aku segala?" tanya gue sama mama.
"Karena kita disini mau bahas tentang pernikahan kamu sayang!" jelas mama dan diangguki oleh semua keluarga yang ada disana.
"Baiklah, karena kita udah kumpul disini semua acara akan dimulai sekarang saja!" kata Papa Zanc.
"Iya, lebih cepat lebih bagus" sambung mama Kya dan nama gue.
"Sekarang tinggal pilih gaun pengantin aja yang belum" ucap mama gue.
"Iya, kalian mau yang kaya gimana gaunnya?" tanya mama Kya sama gue dan Zika.
"Klo aku sih suka yang biru muda!" ucap gue.
"Aku ikut aja sama Dhita, lagi pula bukannya dekorasinya juga biru muda Sama putih juga kan" kata Zika.
"Pilihan yang bagus sayang" kata mama Kya.
"Iya, dekorasi nya emang biru muda dan putih sepertinya cocok" kata papa gue dan di angguki oleh semua keluarga itu.
"Baiklah, karena semua udah selesai kamu ke kamar gih istirahat" suruh mana gue.
"Oh iya, Zika kamu juga ikut Dhita ke kamar ya istirahat klo kamu belum pengen pulang" kata mama, dan di angguki Zika setelah Zika melirik mamanya.
"Apa? mah aku sama dia kan ga muhrim!" ucap gue kaget.
"Dhita ga usah teriak-teriak sekali aja bisa ga sih kamu? lagi pula sebentar lagi juga mahrom kok" kata mama gue.
"Terserah mama deh, aku capek" kata gue kesel sambil menaiki tangga menuju lantai 2 dan menuju kamar gue yang diikuti oleh Zika.
*Kamar Dhita*
"Lo juga kenapa mau aja sih di suruh sama mana gue?" tanya gue ke Zika.
"Ya karena aku ga mau ngecewain mereka" jawab Zika santai dan menuju ke ranjang milik Dhita.
"Lo tuh ya, bener-bener nyebelin banget sih jadi cowok" ucap gue kesel...
"Nyebelin tapi ngangenin iya kan?" goda zika.
"Ish, amit-amit ya!" jawab gue ketus.
__ADS_1