
“Aaahhh” teriak seorang pria yang terjatuh.
Dia menatap luka pada kakinya yang tergores dengan aspal jalanan. Perih? Tentu saja, tapi seakan tidak peduli dengan luka yang baru didapatnya itu, pria itu kini terus berlari sejauh mungkin dengan air matanya yang terus menetes.
Ditengah gelapnya malam dan cuaca yang seperti sedang mempermainkannya, suara petir yang terus bergemuruh dan seakan ingin menyambar dirinya menambah kesan betapa menyedihkannya hidup yang dijalaninya saat ini.
Ingin mati? Bunuh diri? Adalah kata-kata yang saat ini memenuhi pikirannya saat ini.
“gakkkk, aku gak boleh mati” tekadnya bahkan tubuhnya semakin bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Saat ini pria itu sedang berlindung di sebuah pohon pisang dan Ia menutupi dirinya dengan daun pisang yang cukup besar. Pria itu terus menutupi dirinya agar tidak kedinginan karena hujan yang lebat dan dinginnya malam.
…
Disamping itu,
Disebuah kediaman keluarga Mao, tampaklah seorang wanita yang sedang tidur meringsuk dan menangis di kasurnya.
Yaa dia adalah Melina Mao atau biasa dipanggil Lin. Sebelumnya dirinya masuk ke kamar, dia harus diperhadapkan dengan ibu tirinya yang terus menerus menekan Lin hanya untuk mendapat harta warisan oleh sang ayah.
Lin memang adalah anak satu-satunya dari alm Maurits Mao dan Sandrina Vous. Ibunya Sandrina sudah meninggal saat dirinya berumur 5 tahun. saat itu tentu sangat membawa dukacita yang mendalam bagi dirinya dan sang ayah. Akan tetapi setelah 4 tahun kemudian, sang ayah memperkenalkan wanita yang akan dijadikannya istri pada Lin yang tak lain adalah Zaskia Firon, sekretaris ayahnya di kantor. Bukan tanpa alasan Maurits berniat untuk menjadikan Zaskia sebagai ibu sambung bagi Lin. Waktu itu pernah Maurits membawa Lin ke perusahaannya dan saat itu Lin kecil sangat suka bermain dengan Zaskia. Dan semenjak hari itu hubungan antara Lin dan Zaskia sudah seperti ibu dan anak karena Zaskia sangat baik dan pintar mengambil hati seorang anak kecil seperti Lin kala itu.
Namun, ibu tiri yang selama ini Lin anggap sudah seperti ibunya sendiri berubah semenjak ayahnya meninggal. Seakan menunjukkan sifat aslinya, Zaskia kini berusaha merebut harta peninggalan Maurits. Setelah kurang lebih 7 tahun menikah, Maurits dan Zaskia tak kunjung dikarunia anak. Pernah sekali Zaskia hamil, tapi kemudian kebahagiaan itu hanya berlangsung 2 bulan saja karena Zaskia keguguran karena terjatuh di tangga. Dan karena itu Lin saat ini adalah anak tunggal dan dirinya adalah pewaris satu-satunya keluarga Mao. Hal itulah yang memicu pertengkaran dengan sang ibu tiri dan pamannya yang ingin merebut perusahaan papanya.
__ADS_1
Lin yang menangis diiringi suara hujan yang lebat dan petir diluar sana seolah menandakan bahwa langit saat ini sedang bersedih dengannya. Lin terus menangis karena merasakan sakit hati setelah Zaskia menamparnya dengan sangat keras tadi. Bukan karena Lin anak yang lemah dan tidak bias membalas, tapi Zaskia sudah Lin anggap sebagai ibu kandung nya sendiri. Selama ini Zaskia memang memperlakukan Lin dengan baik. Dan ini kali pertama Zaskia menampar Lin. Tangis yang awalnya keras, lama kelamaan mengecil bersamaan dengan hujan yang sepertinya akan redah pada malam itu, hingga akhirnya Lin tertidur karena malam yang semakin larut.
…
Keesokan harinya.
“dekk, dekk, bangunnn” panggil seorang bapak yang saat ini melihat adalah seorang pemuda yang tertidur di dekat pohon pisang dan hanya menutup dirinya dengan daun pisang.
Awalnya bapak itu mengira dia melihat mayat di kebunnya, tapi setelah mendekat ternyata orang itu masih bernapas. Akhirnya dia memutuskan untuk membangunkan pemuda itu.
Suara bapak itu menyadarkan Geza dan akhirnya dia membuka matanya. Yaa pemuda itu tak lain adalah Geza Ziagar yang semalam lari ketakutan dari rumahnya. Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi pada pemuda 16 tahun itu.
Bapak itu terlihat bingung dan kasihan kepada anak laki-laki yang ada di depannya saat ini. Dia mengamati penampilan Geza yang acak acakan, kakinya tergores seperti bekas terjatuh dan mukanya yang pucat.
“kamu ngapain tidur disini dek?” Tanya bapak itu. Namun, bukannya mendapat jawaban, justru tangisan yang keluar dari mulut pemuda ini. Bapak nya jadi bingung, kenapa pemuda ini menangis, batinnya.
Karena tak kunjung berhenti menangis, bapak itu memutuskan membawa pemuda itu kerumahnya yang kebetulan tidak jauh dari kebun miliknya itu.
Geza yang saat ini pikirannya sedang kacau dan sedih memikirkan keadaan keluarganya tak lagi memikirkan dirinya yang saat ini berada sebuah kamar yang tampak sederhana tapi bersih dan rapi.
Bapak yang tadi menemukan Geza di kebunnya itu kini sedang asik membuat bubur untuk tamunya yang Ia baringkan dikamarnya saat ini. Geza juga sudah ia gantikan bajunya dengan baju yang sudah agak kecil dan tidak muat untuk tubuhnya dan seolah yakin bahwa itu akan pas dipakai oleh pemuda tadi.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, bubur yang dibuat oleh bapak Wasil sudah siap untuk dihidangkan, akhirnya pak wasil membawa bubur buatannya ke dalam kamar untuk diberikan pada anak laki-laki yang baru ditemuinya pagi ini.
“nakk bangun,. Makan dulu ya, setelah itu baru adek tidur lagi,, isitirahat tidak apa-apa” kata bapak Wasil membangunkan Geza.
Geza yang kini keadaannya sudah agak mendingan pun terbangun dan duduk mengikuti arahan seorang bapak yang ada di depannya saat ini.
“ saya ada dirumah bapak?” Tanya Geza
“ iya nak, kamu dirumah bapak sekarang. Kamu makan dulu ya, habis itu kamu tidur lagi” jawab bapak Wasil.
“ terimakasih sudah mau membantu saya pak, saya gak enak”
“ huss, sudah gak apa-apa. Saya senang bisa membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Dan saya ikhlas, jadi adek tidak usah merasa gak enak sama saya.” Kata pak Wasil sambil tersenyum menatap pemuda didepannya. Ada rasa terharu yang tidak bisa dipungkiri oleh pak Wasil, karena dirinya juga seorang duda dan tidak memiliki anak. Istrinya meninggal 2 tahun yang lalu karena sakit. Pak Wasil sudah mencoba berbagai cara untuk istrinya itu, namun takdir berkata lain. Tuhan lebih sayang kepada istrinya, dan itu diluar kemampuan umat Manusia. Pak wasil hanya bisa berserah dan menjalani hari-harinya tanpa sang istri dengan berkebun.
“oh ya, nama adek siapa? “ lanjut pak Wasil, sambil mengaduk aduk bubur yang sudah disiapkannya agar tidak terlalu panas.
“ nama saya Geza pak” jawab Geza.
“oh nak Geza. Sudah? Cuma itu saja namanya, marganya apa?”
“ emp, sa-saya tidak memiliki marga pak. Ma-ma-maaf” jawab Geza sambil menunduk. Bukannya geza tidak memiliki marga, dia hanya punya alasan tersendiri untuk menjaga identitasnya saat ini. Termasuk kepada bapak yang sudah menolongnya. Saat ini Geza bertekad untuk menjaga identitasnya dengan baik dan menuruti apa yag dikatan sang ayah semalam.
__ADS_1