Married With A Geeky Man

Married With A Geeky Man
Bab 4


__ADS_3

Bukannya Lin tidak tahu bahwa memang daerah sini sudah sering terjadi kejadian yang sekarang dialaminya. Akhir-akhir ini Lin sering mendengar bahwa beberapa pemuda di desa ini, beberapa kali membuat onar dengan merampok orang-orang kaya yang kebetulan melewati jalan itu.


Selama ini mungkin Lin terbilang beruntung karena tidak pernah mengalami perampokan itu, karena setahu Lin mereka biasanya beraksi saat malam hari. Tapi ini masih sore dan mereka sudah menebarkan perangkap.


“Tapii non, masalahnya ban yang kempes ada dua. Dan ban serep kita hanya satu” kata pak supir dengan gugup karena dia juga khawatir akan majikannya itu.


Sedangkan seperti biasa saat ke tempat pelatihan mereka selalu tidak membawa pengawal. Lin selalu menolak itu, karena memang selama ini selalu aman. Cukup pak supirnya yang menemani. Bukan tanpa alasan, supir Lin juga sering berperan sebagai pengawal. Karena setiap orang yang bekerja pada keluarga Mao harus tahu bela diri.


Mendengar itu, Lin sedikit bingung dengan situasi mereka saat ini. Pada akhirnya Lin memutuskan untuk menghubungi beberapa orangnya agar bisa mengirim bantuan.


“kalau begitu, hubungi Riko dan segera mengirim bantuan” perintahnya pada sang supir.


“baik non, segera” jawab pak supir dan segera melaksanakan tugasnya.


Beberapa menit kemudian, Lin masih setia menunggu bersama supirnya dalam mobil. Orangnya masih dalam perjalanan dan membutuhkan setengah jam paling cepat untuk bisa sampai di posisi mereka sekarang.


Tiba-tiba suara ketukan dari luar mengagetkan mereka berdua dalam mobil. Sang supir dengan sigap langsung mengunci mobil mereka.


“heii keluar, cepat keluarlah!!!” teriak salah satu pemuda dan kemudian mulai berdatangan beberapa pemuda mengerumuni mobil Lin.


Melihat sang supir yang akan keluar, Lin segera mencegahnya.


“Tidak. Tidak usah keluar, biarkan saja mereka” kata Lin kepada sang supir.

__ADS_1


Bukannya tidak percaya pada kemampuan sang supir, tapi Lin melihat situasi yang sedang tidak berpihak padanya. Gerombolan pemuda itu ada sekitar 8 orang dan mereka semua memegang balok kayu. Pastinya akan sulit untuk melawan mereka. Jalan satu-satunya adalah menunggu bantuan datang yakni orang-orang Lin.


“hei, keluarlah!!! Kalau tidak kami akan main kasar” teriak salah satu pemuda.


“Kami hanya mau uang kalian, tidak yang lain. Bekerja samalah dengan baik.” Teriak pemuda yang lain diikuti dengan tawa seolah sedang bercanda.


“kalian pikir aku akan percaya begitu saja. Apalagi kini ada non Lin, mereka bisa saja berbuat macam-macam” batin sang supir sambil melihat ke arah nonanya yang menatap mereka dengan datar, sepertii biasanya.


“Haaah sepertinya tidak ada orang yang bisa membuat non nya itu tersenyum atau berekspresi lain apapun itu.


Semenjak Ayahnya meninggal senyum pun tak pernah terlihat lagi di wajah cantiknya. Supir Lin hanya bisa bergumam dalam hati.


Karena tak kunjung mendapat respon, para pemuda itu pun memukul kaca mobil dengan keras. Namun, ternyata kaca itu tidak mudah pecah. Hal itu semakin menambah semangat mereka karena pastinya mobil ini sangat mahal, dan pastinya pemiliknya pun orang yang sangat kaya.


Setelah beberapa kali berusaha akhirnya kaca itu mulai retak karena mereka melemparkan sebuah batu besar. Lemparan kedua dan ketiga membuat kaca itu pecah.


Sang supir dengan reflek menendang seorang pemuda yang berusaha masuk lewat kaca depan yang sudah dipecahkan. Beriring dengan itu mereka juga berusaha memecahkan kaca samping sang supir. Sontak saja sang supir terkejut saat kaca itu pecah dan beberapa serpihan menggores tubuh sang supir. Melihat itu, Lin tidak tahu harus melakukan apa, apalagi saat ini supirnya sudah keluar dan mau tidak mau melawan mereka.


Seorang pemuda sudah membuka pintu mobil dan melihat Lin yang duduk di kursi belakang kemudi. Melihat gadis cantik itu, dia berusaha menarik Lin agar keluar dari dalam mobil.


Lin menyingkirkan tangan pemuda itu dengan mudahnya. Lin bisa saja melawan pemuda itu, tapi dia sadar bahwa kemampuannya belum sejago itu untuk melawan mereka semua. Apalagi Lin tidak tahu kemampuan lawannya seperti apa. Dilihatnya sang supir sudah terdesak, bahkan seringkali mendapat pukulan dari orang-orang ini.


BUK! BUK!

__ADS_1


Tiba-tiba seorang pemuda datang dan langsung melayangkan pukulan ke arah perampok-perampok itu. Dia lantas langsung membantu orang yang dikeroyok mereka.


“anda tidak apa-apa? “ Tanya Geza.


Sang supir hanya bisa menganggukkan kepala seraya bersyukur ada yang membantu mereka. Setidaknya nona nya tidak celaka, pikirnya.


Geza langsung memukul mereka dengan membabi buta, apalagi dia melihat ada yang berusaha masuk ke dalam mobil. Setelah dilihatnya ternyata ada seorang gadis di dalam.


Satu persatu ambruk dihajar oleh Geza.


“Cepat pergi kalian, saya akan melaporkan kalian ke pak RT” teriak pak Wasil yang datang agak terlambat. Memang tadi dia dan Geza baru pulang dari kebun. Dalam perjalanan, Geza seperti mendengar suara-suara pecahan kaca. Tak berpikir panjang dia segera berlari ke arah sumber suara dan meninggalkan pak Wasil.


Mendengar itu, para pemuda yang berniat merampok segera lari. Karena mereka takut akan dilaporkan ke pak RT. Apalagi lawan mereka saat ini seperti bukan orang sembarangan. Dengan mudahnya dia menjatuhkan 8 orang yang memegang kayu hanya dengan tangan kosong.


Setelah kepergian mereka Geza menghampiri seorang gadis yang masih di dalam mobil. Geza pikir mungkin saat ini dia tengah ketakutan.


Dia membuka pintu mobil samping Lin dan langsung menatap sosok gadis cantik yang sedang duduk dan menatap balik dirinya dengan datar, tapi ada sedikit kekhawatiran diwajahnya kini. Geza yang melihat itu segera mengulurkan tangannya dan membawa Lin keluar. Sementara itu, Lin yang juga menatap pria didepannya ini dengan heran dan kaget saat dirinya sedikit dipaksa keluar dari mobil.


“ Non, non tidak apa-apa kan?” Tanya sang supir dengan khawatir. Padahal yang semestinya khawatir adalah Lin setelah melihat keadaan supirnya yang memar dimana-mana karena dikeroyok dan dipukul dengan balok kayu. Juga ada beberapa bagian tubuh yang tergores serpihan kaca.


“iya saya tidak apa. Bapak gimana? Ayo kita kerumah sakit” balas Lin. Dia juga khawatir dengan keadaan supirnya itu.


“sudah non saya tidak apa-apa, masih bisa diobati di rumah tanpa perlu ke rumah sakit”

__ADS_1


“emp maaf, bagaimana kalau kalian mampir di rumah saya. Saya bisa mengobati luka bapak ini, sambil itu anak saya bisa meminjam mobil warga untuk membawa kalian ke kota” sela pak Wasil. Dia juga melihat keadaan pak supir yang tidak terlalu parah.


“Baiklah. Terima kasih pak sudah membantu kami” jawab Lin dengan sungkan sekaligus menatap pria disampingnya yang hanya diam saja sejak membawanya keluar mobil.


__ADS_2