Married With A Geeky Man

Married With A Geeky Man
Bab 8


__ADS_3

Lin yang tak bisa berbuat apa-apa hanya menatap pria yang didepannya itu dengan kebencian. Dia bahkan berani membuka kancing kemejanya hingga memperlihatkan tubuh Lin yang putih dan bra-nya yang kini sudah terekspos.


“kau akan tahu apa yang namanya dipermalukan, Melina sayang.. HAHAHA” entah apa yang dilakukan olehnya.


Yang jelas Lin melihat dia sedang merogoh sesuatu dari kantongnya.


Dan ternyata itu adalah ponsel.


Benar saja dugaan Melina, pria ini berniat memotret tubuhnya.


“Kau memang sangat cantik, Melina. Aku jadi menginginkan sesuatu yang lebih” ucap pria itu yang menatap tubuh Lin dengan penuh gairah.


Lin yang melihat tatapan itu merasa dirinya sangat terancam. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi jika sampai pria ini melakukan hal yang lebih gila.


“TOLONG, TOLONG. TOLONG” hal yang bisa dilakukan oleh Lin adalah meminta tolong dan terus berdoa dalam batinnya agar dia terbebas dari laki-laki gila ini.


Tanpa terasa air mata berharganya menetes.


“Waahh wah akhirnya kau bisa merasa takut, dan apa itu kau me-“


Belum sempat pria itu melanjutkan kalimatnya, suara dobrakan pintu yang sangat kuat terdengar di belakangnya. Dilihatnya ada seseorang yang kini berlari kearahnya dan melayangkan kakinya.


Pria itu tersungkur dan meringis kesakitan, saat dirasa tangannya sedang dipatahkan oleh seseorang.


“Aakkhhhhh”


Sakit, sakit sekali. Tangan kanannya kini patah. Dan tak hanya sampai disitu, pria itu juga menghajarnya sampai dia tak sadarkan diri.


“Ge-geza” melihat seorang gadis memanggil namanya dan tatapan mereka bertemu. Geza bisa melihat jelas wajah kekhawatiran dan ketakutan dari gadis itu.


Tanpa banyak berucap, dia segera membuka pakaiannya dan menutupi tubuh bagian atas Lin yang terlihat. Geza segera melepaskan ikatan di pergelangan kaki dan tangannya.

__ADS_1


Geza membantu Lin berdiri dan memeluknya. Bukannya mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi Lin memang membutuhkan kenyamanan untuk saat ini. Dan bisa Geza rasakan tubuhnya bergetar.


“Tenanglah” akhirnya satu kata lolos dari bibir pria itu yang sejak tadi diam saja.


….


***


“Bapak tentu akan bertindak tegas atas kasus ini. Dan bapak juga mohon maaf sebesar besarnya pada nak Melina dan menyesalkan kejadian seperti ini bisa terjadi di lingkungan sekolah kita” Ucap bapak kepala sekolah.


Setelah Melina tenang, Geza memang membawanya ke ruang kepala sekolah langsung. Karena menurutnya lebih privat. Dan untuk kenyamanan korban, pihak sekolah sepakat untuk tidak mengekspos kasus ini dan biarlah diselesaikan secara internal baik pihak sekolah dan keluarga pelaku juga korban.


Pria yang bernama Jovan Matt itu kini sudah dikeluarkan dari sekolah. Keluarganya juga sudah memohon maaf kepada Lin dan akan membawa anak mereka sejauh mungkin, agar tidak mengganggu Lin lagi. Dan kasus ini selesai tanpa mengaitkan pihak kepolisian. Lin juga merasa dia sudah mendapat ganjarannya karena Geza menghajarnya tanpa ampun bahkan sampai mematahkan tangannya.


**


“Terima kasih sudah menolongku” akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Melina. Semenjak dari ruang kepala sekolah mereka memang akan kembali ke kelas. Tapi beda halnya dengan Geza yang melanjutkan pelajarannya, Melina hanya akan mengambil tas-nya lalu pulang.


“Sama-sama” Pria itu membalas tanpa melirik sedikit pun kearah Melina. Itu membuat Melina sedikit kesal.



Lin meninggalkan sekolah dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi.


“Apa langsung pulang, Non?” Tanya pak Sam, yang hari ini sudah mulai masuk kerja seusai mendapat cuti seminggu.


“Tidak pak, kita tunggu sebentar” jawab Lin yang telah duduk tenang di kursi belakang.


Pak Sam yang hanyalah seorang supir tak mau terlalu banyak bertanya dan hanya bisa menurut. Entah apa atau siapa yang mereka tunggu. Dia hanya sesekali melirik ke belakang dan mendapati Non-nya itu sedang melamun.


30 menit berlalu..

__ADS_1


Pak sam makin gelisah dalam duduknya. Dia takut bertanya tapi juga bingung harus berbuat apa. Sudah setengah jam mereka di parkiran sekolah entah menunggu apa, sementara majikannya hanya sibuk melamun sambil beberapa kali melihat kearah pintu masuk.


Tak lama beberapa siswa terlihat keluar dari pintu itu. Dua manusia yang masih dalam pikirannya masing-masing sontak melihat kearah sekolah, dan bisa dipastikan kalau sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Pak sam mengulas senyum setipis mungkin agar tidak ketahuan majikannya. Dia menduga Non-nya itu pasti menunggu seseorang, dan pastinya sebentar lagi orang itu akan keluar.


Sebuah motor matic tampak keluar dari halaman parker sekolah. Lin yang melihat itu segera tersadar.


“Pak, kita ikuti motor itu” Pak sam yang mendengar itu langsung saja tancap gas karena memang sedari tadi inilah yang ditunggu-tunggu olehnya.


“Kita salip pak” Pinta Lin dan membuat pak Sam terkejut. Baru kali ini selama mengantar kemana pun majikannya, dia mendapat perintah menyalip pengendara lain.


“Ba-baik Non” apalah arti seorang supir. Lagi dan lagi pak Sam hanya bisa menurut tanpa berkomentar apapun.


Motor yang sedang melaju membelah jalanan terpaksa harus berhenti ketika melihat sebuah mobil mewah sedang menghadangnya.


Lin keluar dari mobil dan menghampiri Geza.


Yap, tentu saja dia adalah Geza, yang secara tidak langsung telah menarik perhatian seorang Melina Mao.


“Hai, maaf mengagetkan. Aku hanya ingin mengajakmu makan atau ngopi bareng jika kamu mau. Ini sebagai bentuk terima kasih aku ke kamu” jelas Lin panjang kali lebar pada pria culun didepannya itu.


Geza mengernyitkan dahinya kala mendengar perkataan Lin. Dia menyalip orang hanya untuk mengajaknya makan atau sekedar ngopi bareng. Sungguh aneh, tapi nyata. Pikir Geza.


“Lain kali kalau hanya ingin berterima kasih tidak perlu sampai menyalip orang di jalan seperti ini. Dan maaf aku tidak bisa, aku ada urusan dengan ayahku.” Jawab Geza dan segera mengenakan helmnya kembali kemudian pergi melajukan motornya.


Lin melongo di tempatnya berdiri saat ini. Tak bisa berucap apapun. Percuma juga dia bicara, lawan bicaranya sudah pergi setelah menolak ajakannya.


“Apakah aku sedang bermimpi?! Apa ini nyata,, ASTAGAA. Hei Melina, kau baru saja ditolak oleh seorang pria” Lin hanya mampu berteriak dalam hati setelah kejadian memalukan ini terjadi lagi dan mirisnya pula dengan orang yang sama.


Seolah ada yang runtuh tapi bukan bangunan, begitulah harga diri Melina saat ini. Seorang Melina yang banyak digilai kaum pria di sekolahnya, harus menahan malu didepan pria cupuh yang selalu mengacuhkannya. Begitu banyak pria-pria diluar sana yang mengantri agar bisa makan bareng atau sekedar jalan bersama Lin. Tapi Geza, dia menolak itu dan terkesan tidak peduli dengan ajakannya. Pria yang unik.


*******

__ADS_1


__ADS_2