Married With A Geeky Man

Married With A Geeky Man
Bab 6


__ADS_3

“Yaa nak, kamu harus sekolah. Urusan kebun, biar bapak yang handle. Kamu gak usah khawatir. Kalau perlu bapak akan menyewa orang untuk membantu” jelas pak Wasil


Geza sebenarnya sangat ingin sekolah. Tapi dia tidak enak membahas itu dengan pak Wasil. Dia sudah banyak merepotkan papa angkatnya itu.


“Sudah ya, besok bapak akan mendaftarkan kamu ke sekolah di Kota. Dan sekalian kita beli motor biar kamu bisa pakai setiap hari ke sekolah”


“Terima kasih paa” kata Geza dan memeluk pak Wasil, satu-satunya orang yang sangat disayanginya di dunia ini.


Entah Geza harus membalas kebaikan pak Wasil dengan apa. Geza pun bertekad untuk selalu melindungi dan menjaga papa angkatnya itu selamanya.


Keesokan harinya,


Lin yang sudah siap akan berangkat ke sekolah. Hari ini Lin meminta supir pengganti dulu untuk sementara. Lin memberikan cuti kepada pak Sam selama seminggu agar dia boleh beristirahat. Selama cuti tentu saja Lin tetap akan menggaji pak Sam.


Hari ini mood-nya cukup baik, setelah kemarin dia mengalami hari yang kurang bagus. Lin mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari sesuatu.


“Dimana dia? “ batin Lin mencari sosok Zaskia yang tumben tidak kelihatan pagi ini. Tapi syukurlah, dia memang malas bertengkar dengan ibu sambungnya itu.


Lin pun memutuskan untuk memulai sarapannya. Setelah kepergian ayahnya, ini kali pertama Lin sarapan di meja makan, yang biasanya dipenuhi oleh tawa dan bahagia saat masih ada sang ayah. Sungguh Lin tak pernah menyangka Zaskia hanya memakai topeng saat ada ayahnya. Dan kini dia sudah menunjukkan sifat aslinya.


Selesai sarapan, Lin memanggil pelayan untuk membersihkan meja makan sekaligus dia akan pamit ke sekolah. Sejak dulu Lin memang selalu menganggap semua pelayan rumahnya itu seperti kerabatnya.


“Bi, saya sudah selesai sarapan dan sekarang akan ke Sekolah” kata Lin pada kepala pelayan yang datang.


“Baik Non, hati-hati di jalan” jawab Bi Nur sambil membungkukkan badannya.


“Ohyah, mama Zaskia mana?” Tanya Lin akhirnya dia penasaran juga karena memang tidak biasanya pagi ini tidak terlihat.


“ Semalam nyonya pergi non, dan belum balik sampai sekarang” kata Bi Nur

__ADS_1


“ Oh baiklah. Saya pergi bii” balas Lin. Dia mencoba untuk tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan oleh ibu tirinya itu.


Di Sekolah…


Lin sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya tadi di taman sekolah. Bapak Roy guru Fisika tadi memang meminta izin kepada para siswa bahwa dia ada urusan keluarga dan hanya akan memberikan tugas untuk dikerjakan selama jam pelajarannya berlangsung, setelah itu dikumpulkan oleh ketua kelas.


Lin yang sementara fokus pada tugasnya dibuyarkan oleh bisik-bisikan para siswi di sekitar taman itu.


“Eeh kalian tahu gak, ada anak culun yang mau masuk ke sekolahan kita lho. Pasti bakal lucu deh” ucap seorang gadis dengan antusias pada teman-temannya.


“oh ya? Wah jadi penasaran deh. Pasti kutu buku” tebak gadis yang lain. Mereka pun tertawa bersama dengan gurauan teman satunya itu.


Tak hanya mereka, beberapa dibelakang Lin juga sedang membicarakan hal yang sama. Dan Lin terganggu karena mereka berisik sekali.


“Kalau kalian lihat ngakak banget, PARAH! Tadi tuh si cowok culun lagi digandeng sama bapaknya. Kayak anak SD aja”


“truss tadi rambutnya, oh yaampunn, dibelah dua gitu. Pokoknya cupuh banget deh”


Lin yang terganggu dengan obrolan mereka memutuskan berpindah tempat. Dia memutuskan pergi ke kantin. Dalam perjalanan, Lin tidak sengaja seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Tapi kemudian dia melanjutkan kembali langkahnya menuju kantin.



DING, DING, DING DING .. JAM PELAJARAN TELAH SELESAI, WAKTUNYA PULANG KE RUMAH DAN KEMBALI BESOK DENGAN SEMANGAT YANG BARU


Terdengar suara wanita dari pengeras suara yang sudah terprogram secara otomatis dan itu menandakan waktunya pulang sekolah. Selang beberapa menit guru-guru terlihat keluar dari kelasnya masing-masing diikuti puluhan siswa yang akan kembali ke rumah mereka.


Hari ini Lin tidak ada les piano ataupun latihan bela diri. Dia hanya akan les di hari-hari tertentu, tidak setiap hari. Seperti sekarang, Lin berencana pergi ke toko buku. Ada beberapa buku yang diperlukan Lin.


“Nak gimana? Kamu suka yang ini?” Tanya pak Wasil pada sang anak yang tak lain Geza. Mereka kini berada di showroom dan sementara memilih motor yang disukai Geza. Pak Wasil tidak pernah mengingkari janjinya apalagi kepada sang anak. Jarak rumah mereka ke sekolah cukup jauh, maka dari itu pak Wasil memutuskan membeli motor untuk Geza.

__ADS_1


Sebuah motor terlihat sudah keluar dari showroom itu, dan saat ini mereka sedang menuju rumah pak Wasil untuk mengantarkan motor tersebut.


Sementara Geza dia sudah bisa membawa motor sejak dulu. Memang Geza belum memiliki SIM karena usianya belum 17 tahun. Tapi pihak sekolah memperbolehkan para siswa membawa kendaraan dengan jaminan pertanggungjawaban dari orang tua mereka masing-masing.



Pagi yang cerah, secerah hati Geza saat ini. Dia bahagia bisa sekolah lagi. Dan dia sangat bersyukur bertemu dengan papanya yang sekarang, pak Wasil. Orang yang menyayanginya seperti anaknya sendiri.


Geza sudah siap berangkat ke sekolah dengar motor barunya. Pak Wasil turut mengantarkan Geza ke depan. Keduanya terlihat sangat bahagia seperti ayah dan anak pada umumnya. Jangan ditanyakan lagi bagaiman perasaan pak Wasil saat ini. Hal yang dia pikir tidak akan pernah dirasakannya semenjak istrinya meninggal, tapi kini dia jadi tahu bagaimana rasanya mengantarkan anak untuk ke sekolah. Sungguh betapa bahagianya hatinya saat ini.


“Paa, Geza berangkat dulu” Pamit Geza sambil mencium punggung tangan pak Wasil. Itu sudah menjadi kewajibannya saat ini.


“Iya hati-hati nak. Sekolah yang rajin dan semangat belajarnya”


Geza pun pergi meninggalkan ayahnya yang kini sedang melambaikan tangan ke arahnya. Geza berangkat sangat pagi, karena dia tidak mau terlambat.


TAK, TAK, TAK


KLEK!


Ibu Ning berjalan dengan anggunnya masuk ke dalam kelas 11 IPA 1. Seperti biasa anak-anak langsung terdiam setelah melihat ibu Ning yang adalah perwalian kelas mereka.


“Baiklah anak-anak saat ini kelas kita kedatangan siswa baru. Dan ibu harap kalian terbuka dan mau merangkul teman baru kalian ini yaa” Jelas ibu Ning dengan suara lantang dan menggelegar di dalam kelas.


“Iyaa bu” kompak mereka menjawab. Setelah itu terdengar bisik bisik dari beberapa siswi


“Mungkin si culun kemarin kali mau masuk kelas kita yaa, bisa aja kan?!!”


“Iya yaa.. wah makin asik dong kerjainnya. Dia satu kelas ama kita, hihihi ” jawab temannya yang berniat jahat.

__ADS_1


__ADS_2