Married With A Geeky Man

Married With A Geeky Man
Bab 7


__ADS_3

“Ok baiklah. Sekarang Silahkan masuk” Panggil ibu Ning.


Dan tak menunggu lama, Geza yang sedang berdiri di depan pintu melangkah masuk dan seperti biasa dia hanya memasang muka datar dan cuek.


“Baiklah Geza, sekarang kamu perkenalkan nama kamu” ucap ibu Ning dan diikuti anggukan kepala oleh Geza.


Geza kemudian menatap seluruh siswa yang ada di kelas itu, hingga dia sekilas bersitatap dengan Lin yang menatap dirinya dengan muka tak kalah datarnya.


“Halo, nama saya Geza Prunawan” Ucap Geza memperkenalkan diri


1..


2..


3..


Dan


HAHAH HAHAHAHAHAHA


Pecah sudah tawa anak-anak dalam kelas ketika melihat Geza. Melihat pria dengan kaca mata tebal dan kemeja dan celana yang kelihatan kebesaran, jangan lupakan kemeja nya yang Ia kancing sampai kerak dan rambut yang disisir rapi tapi kemudian dibelah dua. Dan dengan penuh percaya diri memperkenalkan namanya. Hal itu sontak saja membuat semua siswa tertawa.


Mungkin hanya satu yang bagus dari pria di depan mereka ini, yakni tubuhnya yang tinggi dan tegap. Cara berjalan Geza juga sebenarnya sangat cool tapi mereka seolah tidak memperhatikan itu. Mereka hanya fokus pada penampilan Geza.


“Sudah, sudah.. Sekali lagi ibu minta kalian bersikap sopan yaa, jangan suka menilai orang dari fisiknya” Pinta bu Ning.


“ sekarang nak Geza kamu boleh duduk disamping Melina” tambahnya menyuruh Geza duduk disamping Lin yang kebetulan kosong.


Lin hanya melirik sekilas tanpa peduli dengan kejadian pagi ini. Dan yang tidak disangka oleh Lin, dia sekarang satu sekolah bahkan satu kelas dengan Geza. Sama halnya dengan Lin, geza juga berpikir hal yang sama. Geza sama sekali tidak menduga ayahnya akan memilih sekolah yang sama dengan Lin.


__ADS_1


Hari demi hari dilalui oleh Lin dan GeZa, bahkan keduanya terkesan cuek dan dingin. Untuk bertegur sapa pun tak pernah sekalipun sejak kemunculan Geza di sekolahnya.


Bahkan kini keduanya seperti sedang bersaing untuk menjadi yang terbaik dan terpintar di kelas. Lin mengakui kecerdasan pria dengan kaca mata tebal itu saat mereka sering menjadi pusat perhatian karena Geza selalu aktif dalam setiap pelajaran. Tak jarang Geza juga membantah apa yang dijelaskan guru waktu itu, karena diyakininya keliru.


Seperti yang terjadi saat ini. Keduanya tengah berada di depan papan tulis dan mengerjakan soal yang diberikan guru matematika.


Lin hanya melirik sekilas dan beberapa saat kemudian dia telah menyelesaikan soal tersebut dengan baik dan jawaban yang lengkap. Lin mengembalikan spidol kepada bu Monica, hampir bersamaan dengan Geza. Dan jelas saja itu membuat Lin terkejut karena Geza bisa menyelesaikan soal itu dengan cepat pula.


“Kupikir soal itu membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dari menyelesaikan soal yang aku kerjakan, tapi dia cepat juga” batin Lin.


“baiklah terima kasih Melina dan Geza, kalian bisa duduk kembali” ucap bu Monica dan melihat hasil kerja kedua siswa kesayangannya itu.


Ibu Monica sangat puas dengan hasil kerja keduanya.


“ Berikan tepuk tangan untuk Melina dan Geza karena jawaban mereka sangat tepat dan lengkap, ibu suka.”


Terdengarlah riuh tepukan tangan dari seluruh siswa di kelas itu. Sedangkan dua orang yang duduk bersebelahan hanya diam dan seperti biasa dengan wajah datarnya.


Lin berjalan kearah taman tempat biasa yang selalu dikunjunginya. Dia bahkan punya tempat duduk yang sering didudukinya. Namun saat berada di salah satu bangku taman itu, dia melihat ada sebungkus cokelat yang di hiasi dengan pita pink dan seperti diperuntukkan untuk seseorang yang spesial. Sebelum menyentuh cokelat itu, Lin terlebih dulu melihat kekanan dan kekiri mungkin saja ini punya seseorang atau mau diberikan ke seseorang yang pasti bukan dirinya.


Namun kosong, di sekitar situ tidak ada seorang pun. Hanya ada beberapa siswi yang sedang berbincang tapi cukup jauh dari keberadaannya.


Dalam bungkusan cokelat itu ada secarik kertas yang secara tidak langsung menarik perhatian Lin. Setelah dibaca ternyata cokelat itu untuknya dari seseorang yang entah siapa.


“HAi, aku sudah lama menyukaimu Melina. Terimalah cokelat ini dan aku akan selalu melindungimu.” Kira-kira seperti itu yang tertulis dalam secarik kertas yang dibacanya.


Lin hanya mampu menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. Hal seperti ini selalu saja terjadi dan membuatnya kesal. Dia menyingkirkan cokelat itu tanpa berniat mengambilnya. Lin melanjutkan tujuannya datang kesini yakni untuk membaca dengan tenang.


Tanpa disadarinya ada seorang pria yang sedang kesal dan marah. Dia hanya mampu mengepalkan tangannya sekuat mungkin saat melihat Lin.


Beberapa menit kemudian terdengarlah bunyi suara menyampaikan bahwa waktu istirahat telah usai. Lin menutup bukunya dan bergegas masuk ke kelas.

__ADS_1


Belum sempat Lin memmapaki anak tangga yang menghubungkan gedung sekolah dengan taman, serasa ada seseorang yang tiba-tiba melingkarkan tangannya di perut Lin dan sebelah tangannya lagi membekap mulut hingga ke hidung dengan kain. Lin terlonjak kaget tapi tubuhnya seakan ditarik ke belakang dan bau menyengat yang dihirupnya membuat Lin berusaha berontak tapi sia-sia karena sepersekian detik kemudian pandangannya mengabur dan gelap.


Lin tak sadarkan diri.


Sementara itu, di dalam kelas pak Tomo sudah memulai pelajarannya. Geza yang notabennya adalah orang yang cuek kini tak bisa mengacuhkan keberadaan kursi Lin yang kosong.


Geza berpikir mungkin Lin ada urusan penting di luar atau mungkin sedang di toilet sehingga terlambat masuk kelas.


***


Lin mengerjapkan matanya, dia melihat sekelilingnya dan baru menyadari tangan dan kakinya kini diikat dan dia tengah berbaring di sebuah kasur yang sudah usang dan rusak.


“Cepat juga ternyata sadarnya” terdengarlah suara seseorang yang berhasil menarik pandangan Lin untuk melihat ke sumber suara.


“siapa kamu? Apa yang kamu lakukan ini? Kurang ajar. “ Lin sangat tidak menyukai apa yang dilakukan oleh laki-laki yang berada didepannya itu.


“Astaga kau bahkan tidak mengenalku. Padahal aku sangat mengenalmu dan justru begitu menyukaimu. Tapi kau selalu tidak pernah melirikku sedikit pun tidak” teriak pria itu dengan amaarah yang memuncah


“Memangnya untuk apa aku mengenal orang sepertimu?” Tanya Lin dengan datarnya. Disituasi seperti ini dia sama sekali tidak ingin menunjukkan ketakutannya.


HAHAHAH AHAHAHA


“Astaga kau sangat lucu. Pantas saja aku begitu tergila-gila padamu. Kau bahkan tidak kenal takut dan aku semakin menyukai itu” pria itu mendekat kearah Lin dan menarik paksa pakaian Lin.


Deg,,


Lin yang terkejutnya bukan main berusaha memberontak dan berteriak


“MAU APA KAU, SIALANN !!”


“Baru takut juga kamu” Tapi teriakan Lin tidak berpengaruh apapun padanya. Dia tetap melanjutkan aksinya.

__ADS_1


__ADS_2